
Langkah kaki terhenti karena memang tidak menemukan Jalan lagi untuk melanjutkannya.
Suara Kancing tekan (poopers) milik pangeran istana berbunyi berkali-kali, tampak nya laki-laki pengena Kemeja Katun lembut edisi terbatas buatan designer terbaik negara, mulai menutup kembali kemeja yang tadinya terbuka.
Panas,
Gerah,
Ruangan rahasia yang baru saja Zili masuki terlihat sangat sempit dan tidak terdapat apapun didalamnya, bahkan hanya sekedar AC atau Kipas angin sekalipun kecuali tombol keyboard yang menyatu didalam dinding karena penutupnya baru saja terbuka setelah pangeran istana meletakan IDcard pemimpin musuh dikotak pemeriksa identitas.
Mulai memainkan jari-jari tangan diatas keyboard yang sedikit masuk kedalam, sebuah layar tiba-tiba muncul didinding tepat diatas keyboard yang sedang digunakan pangeran istana.
“Siaaall...” kaluh kesal laki-laki itu. “mungkin hanya Xu’i dan Kakek Shu saja yang bisa mengetahui cara membuka pintu lainnya” laki-laki tersebut mulai membenci dirinya sendiri karena kurangnya pengetahuan ia dalam bidang ilmu teknologi.
Masih merasa gerah, Zili yang sedang berdiri dibelakang pangeran istana dengan Texchi tongkat yang melayang secara Vertikal diudara samping kanan gadis itu, mulai memahami situasi yang terjadi.
Dia menyentuh jam tangan miliknya lalu memanggil ketua Klan Co, meraih Headset dari dalam kantung jas yang ia kenakan kemudian meletakannya ditelinga “kakek..” panggil gadis itu.
“Kau baik-baik saja..?” tanya ketua Klan Co terdengar sangat khawatir.
“Wall display, bagaimana menggunakannya..?”tanya Zili yang memang pernah membaca sedikit tentang layar dinding tetapi belum pernah mempraktekannya karena memang disekolah Co sendiri, untuk belajar penggunaan layar dinding harus memiliki izin terlebih dahulu dari putra mahkota selaku putra dari donatur terbesar serta pemilik saham tertinggi dari laboratorium tersebut.
“Ctr + F4 + A23478... tekan secara cepat” Ucap laki-laki tersebut membuat Zili sontak menyingkirkan pangeran istana dari posisi yang tadinya berdiri didepan layar dinding.
Bergegas melakukan arahan dengan mengambil alih kendali Keyboard dari tangan pangeran istana, Zili mulai menekan tombol petunjuk.
LOCK UP
“Kakek, kata Lock up muncul dilayarnya..” ucap Zili, mengernyitkan dahi pangeran istana yang saat itu mungkin sedang penasaran dengan siapa gadis itu berbicara.
Dia bahkan sampai teringat perkataan yang dilontarkan Zili tentang jurus Guru putra mahkota.
“Bukankah terdapat gambar kunci gembok diatasnya...?” tanya Ketua klan Co dari balik headset miliknya.
__ADS_1
“Benar..” jawab Zili cepat ketika menemukan Gambar tersebut berada diatas kata yang tertera dilayar dinding.
Menghela nafas berat karena mungkin akan berbahaya bagi Gadis itu “geser Gembok hingga pangkalnya terbuka dan berhati-hatilah” ucap laki-laki tua yang langsung dianggukan Gadis itu, lalu panggilan terputus.
“Kau menemukannya..?” pangeran istana mulai mendekati Zili yang sedang mengangkat tangan, mulai menyentuh layar dinding.
“Hmm..” angguk Zili sebelum ia menggeser pangkal gembok.
Teeeetttt teeeeett..
Sontak kedua orang tersebut terkejut ketika Lampu ruangan yang tadinya putih berubah menjadi merah.
LOG IN.
“Masuk...” ucap Zili menoleh kearah pangeran istana yang juga membalasnya ketika mereka melihat Kata tersebut tiba-tiba muncul dilayar dinding tetapi tidak memperlihatkan sebuah pintu baru terbuka didinding lainnya.
“Itu artinya...
“Aaaaaahhhh”
“S-texchif” teriak Zili meraih pertengahan Tongkatnya yang terbang dengan satu tangan dan menggenggam erat tangan pangeran istana yang telah terjatuh lebih dulu darinya dipintu Lantai yang tiba-tiba terbuka. “kau sungguh berat sekali” keluh Zili masih menahan tubuh pangeran istana yang telah jatuh kebawah didalam lorong yang sama dengannya.
Beruntungnya texchi milik Zili mampu menahan berat tubuh kedua orang tersebut “lemparkan texchimu bodoh” teriak pangeran istana dari bawah “biar aku saja yang menahan berat tubuhmu” lanjut laki-laki tersebut ketika tangannya hampir terlepas dari tangan Zili.
“Tapi texchi...”
‘”Cepatlah...” perintah keras pangeran istana yang terpaksa harus Zili turuti.
Mulai melempar tongkat kebawah, dan berakhir turun dengan cepat, pangeran istana berhasil meraih tangan Zili lalu menariknya naik dan memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangan dan menahan tubuh mereka berdua menggunakan texchi tongkat dengan tangan yang lainnya.
Berpikir ingin menduduki texchi tersebut tetapi dia mulai menyadari bahwa ia menggunakan celana jogger berkaret putih yang licin serta keseimbangan tubuh mereka berdua jauh berbeda, hingga akan membuat texchi miring sebelah dan Hal tersebut tentu saja akan lebih membahayakan bagi keselamatan mereka.
Texchi perlahan-lahan turun kebawah “kenapa kau tidak bilang texchimu berbakteri..?” bentak pangeran istana kesal karena harus menahan rasa gatal ditangannya.
__ADS_1
“Tadi sudah akan kukatakan hanya saja kau memaksa meminta texchiku.” ucap Zili sembari merogoh kantung jas mencari sesuatu didalamnya.
Keringat dingin bercucuran, menahan rasa gatal yang mulai menyiksa “Antibiotik” bentak pangeran istana kesal.
“Iya, ini sedang kuambil” Zili mulai mengeluarkan Sebuah botol Putih kecil “bukan ini” dia memasukannya kembali dan mencoba mengambil botol lainnya.
“Kau ini benar-benar lambat sekali”
“Disaat kesusahan seperti inipun kau masih mengeluh dan meminta orang untuk bergerak cepat” maki Zili saking kesalnya mendengar amarah pangeran istana sedari tadi “buka mulutmu” perintahnya lalu memasukan sebuah pil ketika mulut pangeran istana mulai terbuka.
HAaa...
Lemas,
Pangeran istana yang tidak kuat lagi memegang texchi mulai melemah “hooi..” teriak Zili terpaksa membuang obatnya lalu meraih Texchi dengan kedua tangannya saat kedua tangan pangeran istana memeluk pinggang gadis itu dan menyandarkan kepala diperutnya.
“Gatal sekali bodoh” maki pelan pangeran istana.
“Rambut palsumu jatuh” teriak Zili ketika rambut palsu berwarna pirang milik putra mahkota terbang melayang dengan cepat menuruni lorong.
Masih bergulat dengan rasa gatal “disaat seperti inipun kau masih memikirkan rambut palsu, dasar bodoh” maki pangeran istana lagi, merasa lemah dan terus mengeratkan pelukannya.
“Ya mau bagaimana lagi” tangan Zili mulai mengilu “kalau tidak ada rambut itu, kau pasti tidak akan bisa menyamar lagi” ucap gadis itu mulai melepaskan satu tangan karena tidak lagi kuasa menahan berat tubuh mereka.
“Apa yang kau lakukan bodoh..?” tanya pangeran istana ketika Mengetahui Zili melepaskan satu tangannya dari pergerakan gadis itu yang tiba-tiba tak lagi seimbang.
“Ayo kita mati bersama” ucap gadis itu lemah, tangannya yang memegang tongkat tak seimbang perlahan-lahan membuat benda tersebut miring, hingga tangan Zili mulai terlepas dari genggamannya.
Pangeran istana mulai menengadah “sayang sekali,” dia menjulurkan tangannya “aku tidak ingin mati konyol bersamamu” mengeluarkan tali benang pancing dari jam tangan miliknya lalu meraih kembali tubuh Zili yang telah melemah dengan satu tangannya.
Tali mulai berputar dipertengahan tongkat mengikat kencang lalu memanjang dan menuruni lorong luas serta gelap tak berdinding, menghilang dari cahaya merah diatas mereka.
Terus menurun hingga kaki mulai mendarat diatas lantai lorong bawah tanah yang begitu jauh dari permukaan.
__ADS_1
“Haaa...”
Pangeran istana menjatuhkan tubuhnya saking lelahnya ia, terbaring telentang dengan Zili yang tengah memejamkan mata diatas tubuhnya “hoooiii” panggil laki-laki tersebut namun gadis itu hanya diam, mungkin saking lelahnya, Zili bahkan tanpa sadar telah tertidur diatas tubuh pangeran istana yang mulai menyingkirkan tubuh gadis itu kesampingnya. “Dia tidur..?” tanya laki-laki tersebut pada dirinya sendiri lalu menghidupkan lampu dijam tangan bersamaan dengan texchi Zili yang mulai mendarat turun kebawah, Memeriksa kondisi keadaan Zili, lalu laki-laki tersebut mulai menghela nafas lega, dan berbaring kembali setelah mematikan lampu dijam tangannya kemudian menutup mata untuk istirahat, menghilangkan rasa lelah yang saat itu menyelimuti tubuhnya.