Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
hati yang mulai kesepian


__ADS_3

“Aku pernah melihat tatapan itu sebelumnya.” Pelindung Putra Mahkota mulai mengangkat tangan sembari memijat kedua sisi dahi dengan kedua ibu jari dan jari tengah hingga telapak tangannya tampak menutupi bagian mata. “Tatapan membunuh.” Lanjut laki-laki yang telah duduk di kursi mobil pada bagian belakang bersama Putri Keagungan dan seorang tentara militer yang terlihat sedang mengemudikan kendaraan itu untuknya.


“Pantas saja kau sangat ketakutan tadi, karena itu aku jadi ikut ketakutan.” Perlahan-lahan mobil telah melaju meninggalkan bandara dengan hiruk pikuk ketegangan yang masih tersisa setelah mereka menyelesaikan permasalahan yang terjadi dan memerintahkan para polisi membawa para pengacau ke ruang tahanan sebelum melakukan interogasi.


“Waktu itu, aku melihat sendiri pelayan itu hampir mati karena tidak sengaja membunuh kucing kesayangan Xu’i, kalau saja tadi Zili tidak berhasil menghalangi Xu’i, mungkin aku akan menyaksikan kembali cara kejam Xu’i menyiksa orang hingga mati di sana.” Ungkap laki-laki itu sembari menghela nafas berkali-kali, menenangkan hati yang masih merasa takut.


“Itu artinya, ada seseorang yang berniat membuat Xu’i membunuh orang lain di tempat ramai?” Tebak Putri Keagungan sembari mengerutkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Xu’i sangat menyayangi Zili, dan itu kelemahannya saat ini. Hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui sifat Xu’i ketika telah menyayangi sesuatu, kalau bukan keluarga kerajaan maka...” Laki-laki itu tertegun sembari menegakan tubuh yang tadinya bersandar. Kalimatnya yang terputus tersebut sungguh membuat Putri Keagungan mulai penasaran.


“Siapa lagi?“ Tanya gadis itu memandang wajah laki-laki yang kini mulai duduk membungkuk dengan meletakan kedua tangan yang mengepal menyatu di pertengahan kedua kaki yang terbuka lebar.


“Pelayan yang hampir mati di tangan Xu’i waktu itu.” Jawab Pelindung Putra Mahkota Shin Ji terus berpikir di tengah-tengah kepanikan hatinya. “Mungkinkah dia datang untuk membalas dendam dengan bergabung dengan Yuan?” Tanyanya masih terus berpikir.


“Bukankah mereka tadi terlihat ingin sekali membunuh Xu’i?, Padahal Yuan sangat menginginkan Xu’i bekerja sama dengannya. “ Ungkap Putri Keagungan melontarkan pemikirannya.


“Benar juga, Itu artinya mereka bukan kelompok yang sama.” Jawab Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang telah meraih ponsel dan menerima pesan masuk di Akun Militer miliknya.


“Hari itu aku berpikir bahwa Shin’A lah yang sengaja membunuh kucing kesayangan Xu’i dengan memerintahkan pelayan yang hampir mati itu untuk melakukannya tapi saat aku melihat dia melempar koper tadi,..”Sembari membuka pesan, Laki-laki tersebut terlihat merasa sedikit bersalah. “Aku pikir, Shin’A memang tidak tahu segala hal yang terjadi terhadap kematian kucing itu, ditambah lagi kematian aneh murid rusia yang katanya bunuh diri, dia juga pasti bukan pelakunya. Mungkinkah kejadian kucing dan wanita rusia itu sebenarnya saling berkaitan?” Tanya Laki-laki tersebut melanjutkan kalimat kepada tunangan yang dianggapnya sangat cerdas selama ini.


“Aku tidak tahu pasti, “ Jawab gadis itu terlihat berpikir keras di dalam mobil yang melaju kencang menuju ke Istana negara NC. “Tapi bukankah dulu Shin’A pernah berniat untuk membunuh Zili? Aku pikir, Shin’A mungkin ada kaitannya dengan masalah kali ini seperti perbuatannya di masa lalu.” Lanjut gadis tersebut melontarkan pemikirannya.


“Begitu ya?, “ Laki-laki itu menghela nafas berat kembali, kali ini sembari menolehkan kepala memandang keluar jendela kaca mobil. ”Andai saja dulu Zili tidak memaafkan Shin’A, mungkin saat ini Shin’A telah mati di hukum negara.” Gumamnya pelan mengingat masa lalu.


“Masalah di bandara kali ini mungkin Shin’A tidak ikut andil tetapi menurutku, orang-orang yang membantunya di masa lalu lah yang mungkin menyebabkan kekacauan tadi terjadi.” Tebak Putri Keagungan sembari menoleh ke arah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang juga telah menoleh ke arahnya hingga pandangan mereka saling beradu dan wajah keduanya memerah karena malu.


“Ahh lelah sekali.” Ucap Pelindung Putra Mahkota tiba-tiba sembari menyandarkan tubuh di kursi dan menutup mata, membiarkan Putri Keagungan salah tingkah dengan meraih koran di kantung belakang kursi dan berpura-pura membacanya.


*******


Mobil yang mengantar kepulangan Putra Mahkota dan Istrinya telah berhenti tepat di depan rumah.


Masih dengan lincah menggeser tangannya di atas layar ponsel salah seorang tentara militer yang ia pinjam karena tidak sempat membeli ponsel yang baru, lalu mengangkat panggilan masuk.“Turunlah!, Mungkin aku tidak bisa pulang selama tiga hari ke depan jadi tetap tunggu aku dan jangan pergi kemanapun!” Putra Mahkota segera memberikan perintah untuk Istrinya yang terus diam memperhatikan kesibukan laki-laki tersebut sepanjang perjalanan, lalu mulai mendengar suara dari balik ponsel yang ia genggam.


“Hmm.” Angguk Zili mengerti lalu keluar ketika pintu mobil telah terbuka.


“Berapa banyak?” Tanya Putra Mahkota setelah panggilan ia terima. “Hm baiklah, aku akan segera ke laboratorium.” Lanjut laki-laki tersebut mulai membuka jendela kaca mobil. “Tetap waspada, jangan pergi kemanapun sebelum mengatakannya kepadaku!” Lanjut laki-laki tersebut kali ini tertuju untuk Zili yang tadinya sedang berjalan masuk, lalu terpaksa berbalik, menghadap ke arah Putra Mahkota.


“Baiklah Shisou.” Jawab gadis itu bersamaan dengan mobil Putra Mahkota yang telah berlalu.


Hampa,


Sangat sakit hatinya ketika melihat Putra Mahkota pergi hari itu.


Mungkin karena beberapa hari mereka telah bersama dan kini dia harus ditinggalkan.

__ADS_1


Dia masih berdiri, rasa sakit di kaki perlahan-lahan menghilang bersama dengan mobil Putra Mahkota yang tak terlihat lagi oleh pandangan mata.


Dia menggertakan gigi, menahan kesepian hati.


Lalu melangkah kaki memasuki rumah.


Wuuuuzzzzz...


Hati hampa kini tiba-tiba berubah nyeri, ia mulai menghela nafas lalu menghapus air mata di pipi.


Rasa rindu terhadap Putra Mahkota begitu cepat menusuk jiwa terlebih lagi selama 3 hari ke depan mereka tak akan saling bertemu.


Sangat lama baginya, sungguh sangat lama menunggu 3 hari berlalu.


Langkahnya terhenti di depan ruang pribadi Putra Mahkota.


Seorang pelayan datang memberikan kunci pintu kepadanya.


Dia melangkah kembali, masuk ke dalam dengan meminta pelayan menyiapkan barang-barang serta makanan yang dibutuhkannya ketika belajar di ruangan yang diisi ribuan buku.


Segera pelayan pergi, segera pula gadis itu masuk ke dalam ruangan pribadi Putra Mahkota.


Siang berganti sore, sore berganti malam, malam semakin larut dan dia masih berada di dalam ruangan tersebut, belajar, mengetik, memahami, menandai yang tidak ia ketahui, membuat pertanyaan lalu mencari jawabannya sendiri, dan sesekali menggigit sandwich serta meneguk segelas susu yang kadang juga berganti dengan air mineral.


Doooorrrr...


Terkejut.


Gadis itu sontak terperanjat ketika mendengar suara tembakan dari luar ruangan di sana,


Segera ia berlari menuju ke sumber suara.


Ucapan Putra Mahkota terus terngiang di kepalanya.


Benar, dia harus tetap berwaspada karena musuh pasti sedang mengincarnya.


Matanya terbelalak ketika melihat tubuh seorang tentara militer penjaga tergeletak lemah, bersimbah darah.


“Yang Mulia, larilah!” Teriak kepala pelayan yang terlihat berdiri dengan acungan pistol tepat di kepala.


“Yo Putri Mahkota.” Sapa seseorang yang tidak dikenali gadis itu, dia mulai melangkah memasuki rumah yang telah diisi begitu banyak orang-orang dengan wajah tak di kenali bahkan pakaian mereka juga tidak berlambangkan apapun hanya saja, semua orang di sana terlihat memakai baju dengan warna yang sama, yaitu warna Hitam.


“Aku, bukan?” Tanya gadis itu memastikan, berusaha tetap tenang seperti yang selama ini dilakukan Putra Mahkota dalam pandangannya.


“Yang Mulia, larilah..” Bakkkkk... “Akkhh..” Seorang Pelayan wanita yang berusaha mendekati Zili tertendang melayang hingga bermuntahkan darah lalu tergeletak lemah di atas lantai.

__ADS_1


“Tentu saja.” Jawab laki-laki yang mungkin adalah pemimpin kelompok penculik itu.


Bakkkk..


Bukkkkk.....


Kepala Pelayan memukul tangan musuh yang memegang pistol hingga terlepas.


Mungkin dia merupakan salah seorang anggota militer yang telah pensiun sebelumnya.


Doooorrr...


Peluru melesat, melewatinya.


Bakkk..


Tetapi sayang, terlalu banyak musuh di sana hingga ia terlihat kesulitan untuk bergerak menuju Zili lalu memberi Isyarat kepada seorang pelayan militer wanita yang lain untuk membawa Zili keluar rumah melalui pintu belakang.


Bakkk..


Musuh-musuh mulai menyerang laki-laki tua itu secara bergerombol.


Sekitar 7 orang telah mengelilinginya dan semua terlihat memiliki keahlian seni bela diri yang cukup tinggi.


Baakkk..


Bukkkk..


“Yang Mul...


Bakkkk...


Belum sempat pelayan militer wanita mendekati Zili, langkah cepat hingga tak mampu di sadari kehadirannya telah mendekati wanita itu dan memukulnya hingga ia bergerak mundur semakin menjauhi Zili.


Doooorr.


Ahhhhh...


Suara erangan kesakitan kepala pelayan terdengar, dengan mata kepalanya, gadis itu melihat bahu laki-laki tua di sana terkena tembakan peluru namun ia masih tetap berusaha untuk tenang dan memikirkan sesuatu.


“Kalau itu aku, maka lepaskanlah mereka!”


“Yang Mulia, “Bakkkkk... teriakan di balas dengan tendangan hingga laki-laki tua yang tidak sanggup melawan begitu banyak orang, terpental jatuh ke atas lantai setelah menabrak dinding.


“ Kalau begitu, ikutilah aku!” Perintah Pemimpin musuh di sana, memaksa.

__ADS_1


__ADS_2