
Melipat kedua tangan diatas meja,
Meletakan dagu diatas lipatan tangan tersebut.
Menelan ludah berkali-kali,
Karena Aroma sedap Kue didepan matanya.
Mulai Menyembunyikan kepala karena menahan keinginan hati untuk mencobanya.
Mencoba kue sejenis red velvet berwarna merah bertabur kacang almond dibagian atas yang terlihat telah terpotong beberapa bagian dan membentuk Segitiga serta telah terbungkus rapi didalam plastik bening dan juga berada didalam dua buah mangkok kaca berbentuk persegi.
“Sedikit saja...” putra mahkota datang menghampiri, lalu meletakan beberapa potongan Kecil kue buatannya tersebut yang berada di atas sebuah nampan, diatas meja tempat Zili berada.
Diatas potongan kue kecil tersebut tampak sebuah garpu plastik kecil yang bisa digunakan untuk mengambil dan memasukan kue kedalam mulut tanpa harus menggunakan tangan.
Haaa...
Mulai menegakan tubuh “benarkah..?” tanya Zili kegirangan karena setelah sekian lama menunggu, akhirnya ia diperbolehkan untuk mencicipi kue yang aromanya saja bahkan mampu menarik perhatian orang untuk mencobanya.
Meraih garpu, lalu mengangkat kue.
Haaaappp..
Astaga
Luar biasa,
Inikah keahlian Klan sun yang sebenarnya.. ?
Gumam gadis itu sangat bahagia telah menikmati kue terlezat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Mulai meraih satu garpu kecil lagi “kubilang sedikit saja...” suara putra mahkota yang telah membereskan semua perlengkapan dapur, menghentikan tangan Zili untuk meraih Sepotong kue percobaan didepan matanya, Kue percobaan yang berfungsi untuk memberitahukan rasa makanan sebelum pelanggan membeli makanan tersebut.
__ADS_1
Merasa sedih, Zili mulai meraih kotak dihadapannya lalu meletakan dikeranjang makanan “Setidaknya tuan,...” dia mulai memandang putra mahkota yang telah melangkah menuju pintu keluar sembari memegang ponsel dengan posisi menyamping untuk memulai bisnis berdagang dipinggir jalan. “bisakah anda memberikan resep dan cara pembuatannya kepadaku nanti..?” pinta gadis itu lalu menutup nampan potongan kecil kue dengan sebuah mangkok plastik berwarna putih.
Menghentikan langkah, mulai memasukan email dan kata sandi sebuah akun yang ia telah ingat kedalam Aplikasi game “aku hanya akan memberikan resep dan pembuatannya kepada Zili saja..” jawab laki-laki tersebut mulai melangkah kembali sembari memainkan Akun Hero milik orang lain diponsel miliknya dan mengenakan earphone ditelinga.
Tapi aku Zili
Jawab gadis itu mulai berjalan membawa keranjang ditangannya setelah meletakan nampan yang ia telah tutup kedalam keranjang tersebut.
*********
“Kue kue kue... kuuuuuuuuuueeeeeeeeeee”,
“Nona, apa yang anda lakukan..?” tanya seorang pejalan kaki yang melihat Zili sedang berdiri dipinggir jalan sembari memegang keranjang yang telah kosong dan tak tersisa lagi makanan dagangannya.
Memandang kesal pejalan kaki dihadapannya “tentu saja berjualan kue..” jawab Zili lalu membalikan tubuh, meninggalkan si pejalan kaki dan kerumunan orang-orang yang telah membawa Kue dagangannya pergi tanpa menyisahkan satu potongpun untuk ia konsumsi.
Mendekati putra mahkota yang tampak sedang santai berbaring diatas kursi taman kota yang tak jauh dari tempat ia berdagang “tuan, dagangan anda telah habis,” laporkannya “ini bahkan belum sampai 10 menit berlalu, tetapi satu potong kue pun tak tersisa lagi untukku” keluh gadis itu mengeluarkan seluruh uang hasil dagangannya ketika putra mahkota mengulurkan tangan meminta. “Tuan, bukankah sebaiknya uang ini diberikan saja kepadaku untuk melunasi hutangmu..?” tanya Zili ragu-ragu memberikan uang ketangan putra mahkota.
Hari kedua.
“kue kue kuuuuueeeeee”
“Memang masih ada ya nona...?” tanya seorang pelanggan yang baru saja datang memghampiri Zili.
Memandang penuh kekesalan, karena tidak bisa mencicipi kue buatan tangan putra mahkota “ada...”
“Baiklah aku akan memborong semu...
“Tapi dalam mimpi” ucap Zili seenaknya lalu berbalik meninggalkan pelanggan yang terlihat kecewa dengan ucapannya.
Terus melangkah kaki mendekati putra mahkota yang berada dikursi taman seperti sehari sebelumnya “tuan...” panggil gadis itu mulai duduk dibawah tekukan satu kaki yang menopang kaki lainnya diatas lutut. Kaki milik laki-laki yang terlihat sedang berbaring dikursi sembari bermain game “kue mu sangatlah laris,” lanjut gadis itu “kenapa tidak membuat lebih banyak saja..?”
Mulai bangkit dari duduknya “kalau aku membuat lebih ..” masih memainkan jari-jari tangan dilayar ponsel “berapa banyak dagangan para pedagang kecil yang akan rugi karena para pembeli lebih memilih membeli kue buatanku dibandingkan dengan kue buatan mereka..?” lanjut laki-laki tersebut mengejutkan Zili.
__ADS_1
Gadis itu mulai sadar bahwa ucapan laki-laki yang duduk disebelahnya adalah benar.
Tersenyum lembut “anda memang hebat tuan..” puji gadis tersebut pelan.
Hari ketiga.
Masih memegang keranjang dilipatan siku tangan, hari itu, Zili terlihat tengah menghindari seorang laki-laki dewasa dengan setelan Jas hitam.
Memberikan kartu nama deengan paksa padahal Zili telah menolaknya berkali-kali “sudah dibilang bukan saya yang membuat kue ini, tuan..” Jawab Zili mulai melangkah pergi tetapi dihalangi laki-laki dewasa tersebut.
“Saya akan menambah gaji nona menjadi 20ribu neceri, bagaimana..?” tawar laki-laki tersebut yang tampaknya sangat menginginkan Zili untuk bekerja direstoran miliknya.
Menghela nafas berat “percuma saja tuan, yang membuat kue ini bahkan bisa menghasilkan 60ribu neceri lebih dalam sebulan..” jawab gadis itu mencoba meyakinkan.
“60 ribu neceri bagaimana,..?” masih belum mempercayai Zili “kalau bisa mendapatkan begitu banyak uang, untuk apa lagi nona berjualan kue..?” jawab laki-laki tersebut mulai memaksa Zili kembali untuk menerima tawaran kerjanya.
“sayapun tidak tahu,” jawab Zili “mungkin dia hanya ingin memanfaatkanku untuk menambahkan hasil pendapatannya” gumamnya mulai kesal.
“nona sedari tadi mengatakan dia,..” laki-laki dewasa tersebut mulai penasaran “bisakah nona memberitahukan kepadaku siapa orangnya.. ?” pintanya memaksa.
Memandang dengan perasaan tidak nyaman, karena sedari tadi laki-laki dewasa tersebut belum melepaskannya pergi juga “maaf..” jawabnya yang memang telah diberitahu bahwa putra mahkota tidak ingin diganggu orang lain“saya tidak bisa memberitahukannya tuan” tolaknya mulai melangkah tetapi lengan tangannya berhasil digenggam.
“Tolong lah nona,..” pinta laki-laki dewasa itu masih memaksa bahkan tidak ingin melepaskan tangan zili.
Mencoba melepaskan tangan tetapi digenggam erat “saya bilang tidak bisa, jadi...” gadis tersebut tampak kesusahan melepaskan tangannya. “mohon mengertilah tuan..”
“Kalau begitu aku akan membawa paksa nona saja biar dia mendatangi restoranku secara langsung” ucap laki-laki tersebut mulai menarik tangan Zili yang tampak geram hingga ingin menghentikannya dengan melukai wajah laki-laki tersebut menggunakan tamparan tangan.
“Kau...”
Suara seseorang yang sangat dikenal mengejutkan Zili, tangan seseorang tersebut mulai meraih tangan laki-laki dewasa yang menggenggam tangan Zili lalu melepaskannya tangan tersebut secara paksa dari genggamnya, terus bergerak hingga terpelintir kebelakang punggung, membuat tubuh laki-laki dewasa tersebut membungkuk serta meringkih kesakitan “berani sekali kau menyentuh wanitaku..” maki seseorang yang baru saja tiba tersebut dan mulai menendang bokong laki-laki dewasa didepannya hingga dia jatuh tersungkur keatas Trotoar jalan dan lari ketakutan.
Mulai menoleh kepala kearah Zili yang telah menengadah dan menolehkan kepala melihatnya sedari tadi “akhirnya ketemu..” ucap pangeran istana tersenyum lembut lalu memeluk tubuh Zili yang sedang kebingungan dengan segera.
__ADS_1