Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
dingin nya malam kian menerpa


__ADS_3

Menyeramkan, itu lah yang saat ini dirasakan oleh gadis malang yang sedang berbaring sendirian di sebuah tenda kecil ditengah tengah hutan malam itu,


Didalam tenda hanya ada lampu senter berbatrai buatan tangan klan Co menyinari ruangan tenda yang terbuat dari bahan kain plastik,, Selimut yang tidak terlalu tebal membuat Cuaca malam yang dingin ditengah hutan menembus kulit putih gadis malang tersebut.. Sesekali ia menggigil kedinginan saat tiba tiba ada angin berhembus masuk kedalam tenda yang dia sendiri bahkan tidak tahu angin tersebut masuk lewat lubang mana.


Kegelapan tengah hutan memaksa gadis itu untuk tetap memejamkan mata,, saat itu ia benar benar tidak ingin melihat kearah luar yang tembus pandang karena tenda yang hanya berbahan kain plastik biasa..


Belum lagi suara Kicauan burung hantu menambah kengerian suasana malam ditengah hutan tersebut,, kadang bahkan ia mendengar suara tangisan musang yang membuat bulu kudu nya merinding seketika..


Haus dan lapar,, itulah yang dirasakan gadis malang yang saat itu sedang menggigil kedinginan. Ia yang hanya makan Seekor ikan gabus bakar disore hari tiba tiba merasa kelaparan.. ditambah lagi kelupaannya mengambil sebotol air mineral di jok belakang mobil untuk berjaga jaga didalam tenda..


Zili,, ia juga merasa sangat takut untuk hanya sekedar memandang rumah kosong yang gelap tidak berlampu dan bahkan dikerubungi Rerumputan dan lumut didepan tendanya.. menambah keseraman setiap orang yang memandang.


Saat itu dia sangat menyesali kebodohannya karena setelah mandi disungai ia hanya mengenakan kaos biasa dengan celana kulot polos berwarna abu abu tanpa mengambil jaket didalam koper yang berada di Jok mobil karena selimut yang ia kenakan tidak mampu lagi menahannya untuk merasakan kedinginan malam yang menerpa masuk menusuk tulang.


“Ngik ngik ngik ngik ngik ngik” suara seekor hewan terdengar sangat dekat ditelinga Zili yang saat itu mencoba untuk menutup mata berharap ia cepat masuk kedalam alam bawah sadarnya agar rasa takut yang menyiksa segera hilang. Semakin lama suara tersebut semakin mendekat dan bahkan gadis malang itu merasakan Bahwa tendanya berkali kali bergoyang goyang.


“Hiks,, tolong aku tolong aku“ lirih nya berkali kali membalikan tubuh tengkurap untuk menahan rasa takut sembari menutup wajah diatas bantal..Dia yang belum pernah sekalipun tinggal ditengah hutan saat itu merasakan takut yang tiada tara.


“Kau sudah tidur” suara putra mahkota dari pintu tenda terdengar menenangkan hati gadis malang yang sedari tadi sedang ketakutan, dengan cepat tanpa pikir panjang ia lalu membuka resleting Tenda.


“Belum..” Zili menatap wajah Putra mahkota yang telah berjongkok didepan tenda menunggu gadis malang itu membuka pintu.. Mata nya berkaca kaca menahan tangis karena rasa takut yang tidak dapat ia ia tahan..


“Matamu merah,, ada apa dengan mu?” Xu’i terlihat khawatir melihat keadaan Zili, wajah nya sangat pucat dan tubuhnya gemetaran..” kau demam?” tanya laki laki itu sembari Memegang Dahi zili.


“Tidak,, aku hanya lapar dan kedinginan” jawabnya dengan nada lemah penuh kesedihan.


“tubuhmu panas sekali” Xu’i sontak terkejut setelah mengetahui keadaan zili “belum juga sehari disini, kau sudah sakit” dia segera pergi mengambil Selimut menuju tenda yang berdekatan dengan dengan tenda milik Zili.


Zili memandang punggung Xu’i yang telah pergi dari tendanya sembari memeluk tubuh dengan kedua tangannya, seketika ia merasa rasa takutnya telah hilang berganti dengan rasa tenang meskipun saat itu ia sedang kelaparan.


“Pakai” Xu’i yang telah kembali lalu menyelimuti Zili yang sedang duduk bersila didepan pintu tenda, laki laki remaja itu lalu masuk kedalam tenda milik zili untuk mengambil selimut miliknya untuk kemudian menambahkan Selimut tersebut menutupi tubuh gadis malang yang sedang sakit malam itu.


“Shisou” suara lemah gadis malang itu memandang kearah wajah Xu’i yang sedang menambahkan Selimut ketubuhnya. Hatinya merasa bahagia mendapatkan perlakuan hangat dari Guru yang bahkan ia tidak pernah mendapatkan Perlakuan tersebut kepada siapapun sebelumnya, karena ia selalu mengurus dirinya sendiri ketika sakit dimasa lalu.


“Aku menemukan Tupai disamping tenda mu,” Xu’i menunjukan kepada Zili sebuah tupaiyang telah tergeletak Di samping tendanya, tupai tersebut telah terikat oleh tali plastik Hitam. “kau lapar bukan?” tanya nya kepada gadis berwajah pucat dihadapannya.


“Hm” angguk Zili merasa lega karena akan memperoleh makanan yang dapat mengisi perut keroncongannya.


“Kalau begitu tunggulah disini, aku akan menyembelih tupai tersebut dan membersihkannya disungai setelah itu aku akan memanggangnya untukmu”


“Shisou, aku takut sendiri hiks” zili meneteskan air mata tertunduk yang mengejutkan laki laki itu seketika.


“Kau demam, bagaimana mungkin aku membawamu kesungai”

__ADS_1


“Shisou”


“Tunggulah. Aku akan segera kembali, tidurlah dulu”


“Shisou” zili memandang Xu’i telah berdiri menuju Seekor tupai lalu meninggalkan Zili yang masih merasa sedih ditolak laki laki itu untuk pergi mengikutinya, pandangan mata yang berkaca kaca. Malam itu zili merasa sangat hampa tidak seperti ia yang biasanya, gadis malang itu merasa sangat tidak ingin ditinggalkan walau sebentar oleh laki laki yang telah menghilang dikegelapan malam.


Karena sudah tidak dapat melihat Xu’i lagi yang telah pergi, zili menutup kembali pintu tendanya. Ia tersenyum kecut harus kembali merasakan takut tapi dia juga cukup bersyukur karena tubuhnya telah hangat dengan dua buah selimut yang menghalangi dinginnya malam menembus kulit gadis malang tersebut.


Aroma Panggangan Daging tercium dihidung gadis yang sedang terlelap tidur, dalam mimpinya, sebuah piring penuh daging ayam berada diatas meja makan. Dengan bergegas gadis yang tengah merasa kelaparan mengambil potongan daging, ia memakan dengan sangat lahap tapi sontak gadis itu terkejut karena apa yang ia makan tidak memiliki rasa ditambah lagi ia juga belum merasa kenyang walau berkali kali mengambil potongan daging dan mengunyah didalam mulutnya


“Bangun lah.. “ suara Seseorang mengejutkan Gadis itu, ia berdiri menolehkan kepala kian kemari tapi tidak menemukan siapapun didalam ruang makan rumahnya, perutnya berkali kali berbunyi meskipun ia telah memegang paha ayam ditangan kanannya. “susah sekali membangunkanmu” lagi, suara yang sama terdengar di telinganya, dengan segera ia keluar ruangan untuk mencari sumber suara yang ia tebak berada diluar rumah. “Hei” dengan geram xu’i mengangkat leher Zili, mendudukan wanita itu agar segera bangun dari tidurnya.


Laki laki remaja itu telah kembali ketenda dan bahkan telah selesai memanggang Daging tupai diluar tenda sendirian, ia juga telah masuk kedalam tenda Zili tanpa seizin gadis itu karena telah merasa lelah memanggilnya namun tidak kunjung membuka suara.


“Shisou” Zili perlahan membuka mata, ia menemukan Gurunya sedang memandang wajahnya duduk berada disebelah.


“Akhirnya bangun juga” Xu’i menghela nafas lega melihat gadis itu baik baik saja.


“Shisou aku sangat lapar” keluh Zili tidak tahan lagi untuk mengadu, ia sangat sedih karena Gurunya membangunkan ia yang saat itu sedang bermimpi memakan daging ayam panggang


“ya sudah makan itu” Xu’i menunjukan potongan daging tupai diatas daun yang tergeletak di Sampingnya. Karena tidak dapat menahan rasa lapar lagi, dengan segera Zili mengambil potongan daging lalu memakannya. Air mata menetes tak tertahankan jatuh dipipi gadis malang itu, ia merasa sangat bersyukur akhirnya bisa mengisi kekosongan didalam perutnya.


“Cengeng sekali, gimana bisa kuat kalau menahan lapar saja tidak bisa”


“Maafkan aku shisou” jawab gadis malang itu sembari menghapus Air mata dipipinya.


“Shisou, darimana shisou dapatkan obat ini”


“Sudah jangan banyak tanya, habiskan saja makananmu lalu minum obat”


“Hm” angguk Zili menuruti perkataan laki laki yang berada disebelahnya. “Shisou tidak makan?” tanya gadis itu penasaran mengingat Xu’i tidak makan ikan yang ia peroleh dari sungai sore tadi.


“Aku sudah makan ketika kau mandi tadi”


“shisou, menyembunyikan makanan lagi kepadaku ya”


“Bukan begitu, seseorang sudah membawakan aku makanan tadi sore”


“kenapa kau tidak membagikannya denganku” Zili mulai merasa geram Dengan sikap Xu’i.


“kan kau sudah makan ikan bakar tadi”


“Tapi tetap saja kurang”

__ADS_1


“Hm” Xu’i menghela nafas. Senyuman lembut mengembang memandang wajah Zili yang penuh dengan Kesedihan. “sudahlah, yang pentingkan sekarang kau sudah makan”


“Iya sih, apa kedepannya aku bakalan seperti ini juga ya shisou?” Tanya gadis malang itu sembari memegang daging terakhir yang masih tersisa setelah menghabiskan seekor daging tupai panggang.


“Tidak akan lagi, tenang saja. “ jawab laki laki remaja itu tampak merasa bersalah karena telah membuat gadis malang yang ada dihadapannya sakit.


Malam penuh dengan kesunyian, hembusan angin kadang menerpa masuk kedalam tenda,kadang kadang terdengar suara auman srigala semakin menambah kengerian tengah hutan di tengah malam. Gadis malang yang telah menyelesaikan makanan pengisi perut keroncongannya telah menelan sebutir pil obat demam lalu meneguk sebotol air mineral.


Perasaannya tidak lagi takut, ia kembali berbaring berharap pagi cepat berlalu, tubuhnya panas namun ia merasa dingin, keringat mulai bercucuran membasahi wajah karena dua selimut yang menutupi seluruh tubuh gadis malang tersebut.


“Shisou mau kemana?, aku takut sendirian” Zili bangun dari baringannya ketika melihat Laki laki disebelahnya bergegas pergi meninggalkan tenda yang ia gunakan saat itu, hatinya mulai kembali merasa takut. Dia yang telah tertidur tadinya juga merasa khawatir tidak akan dapat tertidur lagi.


“Tenang saja, aku akan menemanimu malam ini. Aku hanya ingin mengambil bukuku, air serta handuk di Mobil”


“Handuk!”


“Hm” dia kembali tersenyum lembut lagi memandang kearah Gadis malang yang telah duduk disebelahnya.“Bisa bahaya bagiku, jika ratu negara tahu kau sakit”


“Ahhh benar, shisou baik denganku karena ratu, bodohnya aku salah paham dengan kebaikan shisou” gumam Gadis malang itu dalam hati, kecewa kepada dirinya sendiri. Di dalam benaknya selalu bertanya tanya alasan ratu selalu berbuat baik kepadanya dan lagi tidak ada alasan bagi ratu untuk menyukai ayahnya menimbang penguasa mutlak sangat mencintai ratu yuanna.


“Berbaringlah, aku akan segera kembali”


“Hm” angguk Zili menerima perintah dari guru nya, ia memandang punggung Xu’i yang telah Keluar dari tenda lalu kembali menghempaskan tubuh nya dengan dua selimut diatas tikar. Saat itu dia benar benar berharap malam cepat berlalu agar rasa takutnya hilang. Matanya tiba tiba terasa berat, rasa kantuk menerpa gadis malang itu karena efek samping dari obat buatan asli dari perusahaan Xu. Perusahaan yang berkembang dibidang farmasi dan obat obat tersebut telah menghasilkan jutaaan jenis obat dinegara NC yang bahkan diekspor keberbagai negeri diseluruh dunia.


Malam telah berlalu, Terik matahari menembus dicela cela lubang tenda Tempat Zili sedang tertidur lelas saat itu. Kesunyian malam telah berganti dengan kokokan ayam, nyanyian berbagai burung menambah ketenangan hati setiap orang yang mendengarnya.


Zili, dengan menyingkap selimut karena merasa tubuhnya sangat gerah perlahan mulai membuka mata. Pandangannya tertuju pada langit langit tenda. Saat itu ia merasa ada sesuatu yang menyentuh Dahi kepalanya. Salah satu tangan gadis itu bergerak mengambil benda lembab tersebut.


“Handuk” ia memandang sebuah handuk ditangan. matanya mulai menelusuri keseluruh wilayah dalam tenda, ia tidak menemukan siapapun berada didalamnya kecuali hanya sebuah mangkuk Aluminium berisi air yang digunakan untuk mengompres dahinya. “kemana shisou” gadis yang saat itu telah sehat mulai bertanya tanya tentang keberadaan Gurunya. Ia bangun dari pembaringannya menuju keluar tenda.


Gadis itu sontak terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihag. Hanya dalam waktu semalam semua keadaan sekitar telah berubah drastis. Rumput liar yang menyemaki Halaman rumah telah terpotong rapi, rambatan tumbuhan yang menutup memenuhi rumah besar telah hilang tidak tersisa sedikitpun, cat yang memudar telah berganti warna menjadi abu abu. Bahkan sampai rumput dipagar pun telah habis tersapu bersih.


Ia melihat ada sangat banyak pelayan berlalu lalang membersihkan rumah. Pandangan matanya mulai tertuju kepada Sekumpulan orang di depan mobil. Ia melihat laki laki bertumbuh tinggi dengan mata tajam dan berkulit putih bersih terkena sinar matahari sedang berdiri berhadapan dengan dua laki laki tinggi berwajah mirip hanya berbeda dibagian Tahi lalat samping mata. Rambut mereka yang berwarna hitam tampak berkilau karena pantulan cahaya matahari. Wajah tampan ketiga laki laki itu tidak dapat diragukan lagi.


Lalu pandangan matanya mulai beralih ke seseorang laki laki tua, ia mengira bahkan sangat tua tapi tubuh laki laki tua itu terlihat masih sangat sehat. Ia sedang berada disebelah Gurunya yang berdiri mengobrol dengan mereka.


“Shin jo” suara teriakan perempuan mengejutkan Zili. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis cantik berkulit Putih dan berambut pirang. Wajahnya kecil tapi tubuhnya tinggi, bahkan tingginya hampir mendekati telinga si kembar shin jo dan shin ji. Perempuan itu tampak sangat asing dimata Zili, dia sudah bisa menebak bahwa perempuan yang saat itu berjalan menghampiri kerumunan laki laki adalah murid kelas spesial disekolah yang berasal dari luar negeri.


“Kenapa kau mengikuti?” Shin jo terlihat kesal melihat kedatangan murid perempuan yang masih mengenakan seragam Sekolah high raise.


“Aku hanya ingin selalu dekat denganmu” jawab Perempuan tersebut setelah dekat dengan kerumunan laki laki yang berada didepan mobil Xu’i diparkirkan.


“aaah.. tampaknya kau telah membuat masalah jo” Shin ji terlihat kesal melihat kedatangan perempuan yang selalu mengikuti saudaranya selama ini. Pandangan laki laki itu tanpa sengaja melihat kearah zili yang sedang berdiri didepan tenda.

__ADS_1


“Kau sudah sehat?” senyum lembut mengembang dipipi laki laki itu. Sontak Zili terkejut karena melihat Xu’i membalikan tubuh mendengar ucapannya.


“Kau sudah sehat?” tanya Laki laki Bermata tajam tersebut kepada Zili.


__ADS_2