Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
mendaftarkan diri


__ADS_3

Melangkah kaki keluar laboratorium komputer dengan membaca buku dan membawa beberapa buku lain ditangan lainnya, Langkah kaki zili mulai terhenti ketika tiga orang siswi menghalanginya.


“Zili..”panggil seorang dari mereka tampak telah terbiasa dekat dengan gadis itu “kau benar-benar tidak ingin bergabung keacara pesta ya” ucap sedih gadis itu berharap Zili berubah pikiran.


Zili menutup buku ditangannya “maafkan aku,” jawab gadis yang memang telah menghabiskan waktunya untuk belajar dan berlatih selama dua minggu belakangan ini “aku sungguh tidak memiliki banyak waktu untuk bermain” lanjutnya lagi memandang ketiga siswi didepannya begitu amat memelas.


“Ya sudahlah” ucap seorang lainnya “jangan memaksanya lagi” lanjutnya lagi kepada temannya.


“Bersemangatlah Zili” ucap seorang yang sedari tadi diam, lalu mulai melangkah meninggalkan Zili, mengikuti kedua temannya yang telah melangkah maju melewati gadis itu, meninggalkan dia dengan perasaan kecewa karena telah berkali-kali gagal mengajak untuk bergabung dan bermain bersama.


Mulai membuka buku kembali sembari melangkah kaki menuju ruangan berlatih, Zili memandang sejenak keatas langit sebelum melanjutkan bacaannya.


“Shisou...” panggilnya penuh dengan kerinduan yang teramat mendalam.


*********


“S-texchies”


Dua buah tongkat yang tadinya berdiri disudut ruangan kosong tiba-tiba bergerak terbang mendatangi Zili.


Diruangan kosong yang hanya terdapat televisi besar menggantung didinding, Zili yang mengenakan Seragam Olahraga berwarna Hitam mulai meraih salah satu tongkat texchi miliknya.


Rambut panjang yang diikat satu ikatan kebelakang mulai bergerak tak beraturan karena gerakan tubuh Zili yang sedang mengikuti gerakan Laki-laki tua didalam Layar televisi.


Menyaksikan dengan seksama setiap Gerakan hingga mulai memegang kedua texchi diatas sisi kepala menggunakan kedua tangannya lalu melompat dan berputar.


Beberapa saat kemudian dia mulai Meraih salah satu tongkat dan memutarnya didepan setelah kaki gadis itu mendarat diatas lantai.


Terrrttt terrrttt..


“Milady, ada lowongan kerja” suara Karakter Virtualnya terdengar hingga menghentikan Gerakan tubuh Zili yang tadi sedang berlatih.


Menghentikan Video didalam layar televisi menggunakan remote yang menggantung disamping televisi tersebut lalu menunduk melihat jam tangannya “apa yang mereka butuhkan..?” tanya gadis itu ke Virtualnya yang tampak terlihat di Layar jam tangan pemberian ketua Klan Co.


“Programer” jawab Virtual kelinci bersayap milik gadis itu.


Zili tersenyum senang, “Zi-Xu, daftarkan aku segera” perintahnya kekarakter virtual sempurna yang telah berhasil ia rancang dengan bantuan ketua Klan Co dan juga presiden sekolah.


“Yes milady”

__ADS_1


Setelah karakter virtualnya menghilang, Zili mulai meraih Headset bluetooth yang menjepit dikerah leher seragam olahraganya, dengan cepat ia meletakan benda kecil berwarna putih tersebut ditelinga, lalu mulai menggeser jam tangan miliknya dan menghubungi seseorang.


“tidak biasanya kau menghubungiku diwaktu-waktu seperti “ suara laki-laki tua terdengar ketika panggilan zili diterima.


Mulai mempersiapkan diri terkena amarah “kakek, aku sudah bergabung menjadi anggota Blue-sprayer”


“Kau bilang apa..?”.


Tampak sangat terkejut hingga dengan cepat laki-laki tua bertanya tidak terima “kau bilang apa barusan..?” bentak laki-laki tua dari balik headset.


Meneguhkan hati mulai mencari alasan “kakek, kau mau aku dibunuh ya karena ketahuan menyusup keMarkas musuh”


“Zili...” bentak laki-laki tua tampak sangat tidak terima.


“Mau tidak mau kau harus membantuku kakek, atau..”


“Zili...” masih membentak tidak terima.


“Mereka akan membunuhku karena berani keluar dari kelompok mereka” ucap gadis itu tampak telah mempersiapkan diri menerima makian dari Guru teknologinya.


*******


Tetap berdiri menerima amarah yang terucap berkali-kali, kadang gadis itu menghela nafas berat karena semakin lama telinganya semakin memanas.


“Kau ingin membunuhku juga ya..”Bentak ketua Klan Co teramat marah hingga matanya pun ikut memerah. “kalau keluarga kerajaan tahu kebodohanmu, bukan hanya aku saja yang akan mati, semua warga desa Co pun akan menjadi Gila karena musuh akan menghentikan penjualan obatnya jika mereka tahu kau...” geram bahkan sampai menendang meja komputer diruangan laboratorium “ .. adalah salah satu anggota keluarga kerajaan” masih membentak hingga nafasnya tidak beraturan ketua Klan Co bahkan sampai melempar kacamatanya sendiri hingga jatuh keatas lantai, beruntungnya karena terbuat dari bahan berkualitas tinggi, kacanya masih utuh dan tidak pecah.


“Lebih baik aku dan kau saja yang mati” mulai berani membuka suara dan mengangkat kepala “aku hanya ingin mencari resep obat antigila dan setelah itu pergi dari kelompok mereka dengan sempurna” jawab gadis itu terang-terangan menjelaskan rencananya.


“Kau...”


Geram hingga mengangkat jari telunjuk kedepan wajah Zili “berhentilah berpikir kau mampu melakukannya” ucap laki-laki tua tersebut meremehkan rencana Zili.


“Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu kakek” masih dengan santai menjawab, zili bahkan sampai berani menyingkirkan Jari telunjuk ketua Klan Co.


“Aaahhh kau ini sungguh merepotkan saja”


“Maafkan aku merepotkanmu”


“Kau juga membebaniku”

__ADS_1


“Maafkan aku membebanimu”


“Kau memang tidak berguna”


Diam sejenak mendengarkan ucapan yang menyakitkan “maafkan aku yang belum berguna ini” jawab gadis itu penuh kepiluhan dan kesedihan.


Melihat reaksi wajah Zili yang mulai menunduk dan bersedih, amarah Ketua Klan Co seketika menghilang dengan sendirinya. “kapan kau mulai bekerja..?”


“Tiga hari lagi.” Jawab Zili mulai percaya diri.


Ketua Klan Co mulai melangkah kaki pergi “jangan hubungi aku dua hari ini” ucapnya memberi perintah sebelum meninggalkan zili dan presiden sekolah.


“Baiklah kakek” jawab zili menghela nafas lega karena telah mendapatkan persetujuan dari Guru teknologinya.


Presiden sekolah yang sedari tadi berdiri menyaksikan kemarahan ketua Klannya mulai melangkah menghampiri zili yang telah duduk diatas kursi sembari menghela nafas berkali-kali “kau benar-benar sangat nekad” ucap laki-laki tersebut mulai duduk dihadapan Zili yang sedang menunduk.


“Mau bagaimana lagi, hanya akulah yang mungkin tidak mereka awasi dan juga..” tersenyum sedikit senang karena merasa dibutuhkan “hanya aku satu-satunya yang mungkin menjadi harapan para warga lorong bawah tanah” dia mulai mengangkat kepala memandang mata presiden sekolah.


Presiden sekolah tersenyum lembut “aku yakin kau pasti bisa melakukannya dan juga...” dia menghela nafas sejenak “ diam-diam aku akan membantumu dari Belakang,”


“Suho...”


Tampak tidak ingin Membuat laki-laki didepan matanya dalam bahaya “jangan lakukan itu”


“Tenang saja..”


Laki-laki tersebut mencoba menenangkan Zili “kakakku pasti tidak akan membiarkan aku dalam bahaya”


“Kakakmu....?”


“Co rein, dia adalah kakakku”


Jawab Presiden sekolah menyentakan hati Zili yang teramat terkejut dan tidak menyangka.


“Ilmuwan kebanggaan negara, dia....”


“Aku harap kau merahasiakannya dari keluarga kerajaan bahwa kakakku adalah salah satu mata-mata musuh” laki-laki tersebut memandang Mata Zili penuh dengan harapan,


Zili tersenyum lembut mencoba meyakinkannya “tenang saja, aku sangat paham apa yang terjadi pada kalian semua” jawab gadis itu melegakan hati presiden sekolah “aku akan merahasiakan segalanya, percayalah padaku” pinta gadis itu kemudian.

__ADS_1


“Tentu saja aku mempercayaimu, bukankah kita adalah teman”


Zili tersenyum senang mendengar kalimat presiden sekolah “terima kasih sudah mau menjadi temanku” ucap gadis itu begitu terharu dan bahagia.


__ADS_2