Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Di atas kapal


__ADS_3

Sebuah pipa besi besar di ujung kapal terlihat bergerak naik ke udara, setiap kali bergerak naik, setiap kali pula pipa besi yang lain terlihat muncul di pertengahan bawah dan atas pipa besi berwarna hitam dan tebal tersebut. Di ujung pipa, tampak sebuah pintu besi yang tiba-tiba terbuka menggeser ke samping, masih dengan terus bergerak naik hingga menjulang tinggi ke atas langit. Lalu perlahan-lahan sebuah Lift mulai muncul di dalam pintu besi yang terbuka tersebut dan pintu Lift tersebut juga ikut terbuka kemudian gerakan naik pipa besi mulai terhenti.


Nafasnya berhembus teratur, hingga angin kencang mulai menerpa tubuh.


Tidur lelapnya mulai terganggu, baru saja ia memejamkan mata, gadis tersebut terpaksa harus membukanya kembali.


Pelukan erat menghangatkan tubuhnya, mata yang terbuka melihat ke kemeja di bagian dada.


Ia mulai bisa merasakan sebuah tangan tegap memeluk pinggangnya, “Shisou.”Panggilnya merasa aneh karena dia ternyata telah tidur sembari berdiri di pelukan Putra Mahkota.


“Kau sudah bangun?”Putra Mahkota merenggangkan pelukannya, satu tangan lain tampak sedang memegang remote berbentuk ponsel dan memainkannya.


Dari atas Pipa besi, tempat Lift berada, gadis itu mulai memandang ke arah bawah.


Matanya terbelalak ketika melihat kapal induk musuh kini berada jauh di bawahnya dan tampak lebih kecil.


“Xu’i,” Panggilan seseorang mengejutkan Zili,


“Shi Yun,” Gadis itu melihat Shen Shi Yun tengah berada di atas texchi bangau milik Zili dan terbang di atas langit mendekati mereka.


Tangan kuat Putra Mahkota kembali memeluk erat pinggang Zili, “Berakhir,” Ucap laki-laki itu mulai mengulurkan tangannya memperlihat sebuah jam yang telah mengeluarkan tali dan mengikat erat di leher Texchi Bangau milik Zili.


Dari jauh sebuah helikopter mulai datang mendekati.


Duaaaaammmmmm....


Duaaaaamm... remote di tangan Putra Mahkota bergerak menuruni udara setelah Putra Mahkota membuangnya.


Mata Zili terbelalak melebar,


Api besar tampak berkobar di kapal induk yang telah meledak, perlahan-lahan besi yang memanjang naik menjulang tinggi mulai runtuh dan hancur terlalap api begitu pula dengan remote yang telah masuk ke dalam kobaran api besar di bawah.


“Tenanglah, jangan banyak bergerak.” Bisik Putra Mahkota yang telah membawa Zili melompat ke udara, meninggalkan Lift yang telah jatuh ke bawah dan masuk ke dalam Api yang melalap Kapal hingga Ombak-ombak lautan menerjang tinggi bak sebuah tsunami dahsyat yang menggulung tinggi berkilo-kilometer jaraknya.


Duaaaammmm...


Ledakan demi ledakan terjadi.


Kapal yang begitu besar kini di selimuti Api.


Sementara itu, Zili hanya terus menyaksikan kengerian di bawahnya sembari memeluk erat leher Putra Mahkota.


Angin berhembus kencang di udara, mengganggu keseimbangan tubuh Putra Mahkota yang terus menahan tubuh Zili dengan satu tangannya dan tangan lain terangkat naik menahan beban tubuh mereka berdua dengan menggunakan tali.


Wuuuuuzzzzzz..


Duaaaammmm....

__ADS_1


“Itu?” Lagi dan lagi mata Zili terbelalak ketika melihat seseorang tampak melambaikan tangan di atas kobaran api namun tak terlihat jelas bentuk rupanya di bawah sana.


Duaaammm.. Angin laut yang kencang semakin memperbesar kobaran api berwarna kuning yang terkadang berubah menjadi biru pada bagian ujungnya. Sangat tinggi api tersebut menyala-nyala, beruntungnya mereka berdua berada jauh di atas udara.


Dari udara juga tampak kapal-kapal perang Negara NC yang berada jauh meninggalkan kapal induk yang meledak tersebut. Kapal-kapal tersebut tampak mengarungi lautan dengan berbaris rapi menuju kembali ke Negara mereka.


Ledakan demi ledakan terdengar menggema dan membuat Ombak besar yang menerjang permukaan air hingga beberapa ikan laut besar terlihat melompat di atas air.


“Misteri,” Jawab Putra Mahkota, drudukdrudukdurudk.. bersamaan dengan sebuah helikopter yang hampir mendekati mereka, “Mungkin yang di namakan Arwah itu pada kenyataannya memang benar adanya.”Jawab Putra Mahkota yang memandang jauh ke bawah, “Menurut kepercayaan pembuat kapal, Orang yang hidup dan orang yang telah mati akan dipertemukan lewat mimpi, dari sanalah mereka akan berkomunikasi, tetapi Entahlah, di dunia ini masih terlalu banyak hal aneh yang masih belum dimengerti.” Jelas Putra Mahkota bersamaan dengan tubuh Zili yang telah ditarik masuk ke dalam helikopter oleh dua orang Tentara Militer Negara NC lalu setelahnya, laki-laki tersebut memegang gagang pintu dan melepaskan tali dari leher texchi bangau kemudian masuk ke dalam disambut hormat oleh semua Tentara yang berada di sana.


Duaaaammmmmmm...


Guncangan hebat di lautan samudra pasifik masih terjadi, dari udara pemandangan tersebut tampak begitu mengerikan dan juga menggetarkan hati, hingga bulu kudu bagian belakang gadis itu mulai berdirian, membuatnya sontak merasa sedikit merinding ketakutan.


Zili yang berdiri mulai datang mendekat setelah Putra Mahkota duduk di kursi kendaraan udara tersebut, “Shisou, mungkinkah selama tinggal di kapal itu, kau bertemu dengan pembuatnya?” Tanya Zili begitu penasaran dengan kata misteri yang diucapkan Putra Mahkota.


“Dia tidak berbicara, sama sekali tidak berbicara,” Jawab Putra Mahkota sembari memperbaiki jam tangan pemberiannya untuk Zili yang telah duduk di samping laki-laki tersebut sementara prajurit di sana terlihat masih berdiri, menunggu perintah duduk dari Junjungan mereka. “Setiap hari aku memimpikannya, yang dia tunjukan hanyalah foto Claya saja. Mungkin dia ingin aku menjaga Claya, dan mungkin juga Claya yang dia maksud adalah dirimu tapi aku tidak peduli dengan mimpi itu, karena kau bukanlah Claya dan aku tidak berkewajiban untuk mematuhinya.”


Duuuaaammmmmm... Lanjut Putra Mahkota bersamaan dengan suara ledakan kapal yang terdengar menggema hingga ke atas sana. “Duduklah!” Ucap Putra Mahkota memberi Izin lalu melepaskan jam tangan dan memberikannya kepada Zili.


Duaaaaammmmm.....


*********


“Hooooormmmmmaaaaaatttt, Mulai!”


Cuuuupppp..


Cuuuppppp...


Doooooorrrr...


Suara peluru yang di tembakan ke atas langit terdengar menggema, sebagai peringatan keras bagi siapapun agar tetap berlaku hormat dan juga sebagai isyarat pengancaman bagi siapapun yang berani menentang dan menolak memberikan hormat kepada pemimpin mereka, peluru-peluru tersebut akan segera dilesatkan untuknya.


Drudduurududduruudkkk..


Perlahan-lahan Helikopter mulai mendarat,


Puluhan pejabat tinggi membungkuk memberi hormat begitupula dengan semua para Putri Negara yang di utus setiap Klan ketika Putra Mahkota dan Zili keluar dari sana diikuti dengan Shen Shi Yun yang telah mendaratkan Texchi bangau milik Zili.


Penasihat Raja mulai bergerak menghampiri, “ Selamat datang kembali, Xu’i.” Sambut laki-laki dewasa tersebut kepada Putra Mahkota yang telah menapakan kaki di lantai geladak utama kapal induk di sana.


Ketepaaaakkk...


Ombak air laut dari ledakan kapal masih terasa mengguncang hingga sampai ke tempat tersebut, kadang-kadang guncangan tersebut mampu membuat kapal bergerak tak seimbang.


“Putar arah ke Timur!” Putra Mahkota mulai membuka suara memberikan perintah, ia terlihat sedang berjalan menuju ke pintu masuk kapal sembari menggenggam tangan Zili yang juga mulai berjalan beriringan dengannya diikuti oleh Penasihat Raja, Jendral tinggi Angkatan Laut yang bertugas, Shen Shi yun, Dewa Kemenangan dan juga Pelindung Putra Mahkota, Shin Jo.

__ADS_1


“Putar kapal Ke arah timur!” Suara teriakan kapten kapal terdengar melaksanakan perintah.


Masih terus berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan, “Kenapa berputar?” Tanya Penasihat Raja kepada keponakannya yang telah duduk di salah satu meja makan Kapal Induk Negara tersebut.


Seorang tentara yang berasal dari Klan Sun secara langsung mendekati Putra Mahkota bersamaan dengan Zili yang telah duduk, menahan lapar di sana.


“Paman sandi dan Anna masih tertinggal di sana.” Jawab Putra Mahkota, “Sup sayur, potongan apel, pilih bahan terbaik!” lalu memberikan Perintah kepada Tentara tersebut. Tentara yang bertugas untuk menyediakan dan menyiapkan makanan sehat dan nikmat bagi Pejabat Tinggi Militer di sana, segera bergegas melaksanakan perintah.


Poooommmmm Pooommmm...


Suara kapal lain terdengar mendekati kapal induk yang telah berputar arah tersebut.


Suara Penghormatan juga terdengar di luar kapal,


Putra Mahkota menghela nafas sejenak bersamaan dengan kedatangan semangkuk sayuran berwarna hijau yang telah berada di depan Zili. “Makanlah!” Perintah Putra Mahkota mulai berdiri diikuti oleh semua orang yang duduk di sekitarnya hingga membuat Zili menghentikan makannya dan ikut berdiri, “Makan saja!” Perintah Putra Mahkota lagi sembari menoleh kepala sejenak ke arah Zili.


“Hm..” Angguk gadis itu ragu-ragu lalu duduk kembali.


“Yo Xu’i,”


“Hito,” Sapa balik Putra Mahkota sembari berjalan menyambut kedatangan laki-laki terhormat, meninggalkan Zili yang berusaha keras memakan kembali sup sayur di hadapannya meskipun perutnya tidak lagi lapar karena melihat orang terhormat memasuki ruangan tersebut dan dijaga ketat oleh beberapa Militer Negaranya.


Setelah saling bersalaman, Putra Mahkota membawa Pangeran Negeri Sakura tersebut untuk duduk di meja makan mereka, “Sepertinya kapal ini berputar arah?” Tanya laki-laki yang telah memasuki usia dewasa tersebut setelah duduk tepat di hadapan Zili yang berusaha cepat menghabiskan makanannya, “Ehhh..” Laki-laki itu tersenyum lucu memandang Zili yang hanya bisa menundukan kepala, “Wanitamu cepat sekali menghabiskan makanannya.” Ucap laki-laki tersebut antara menyindir ataupun memuji, Zili bahkan ragu mengartikan maksud ucapannya tersebut.


“Berhentilah mengganggunya!” Suara bernada tekanan dari Putra Mahkota mengejutkan laki-laki yang belum pernah sekalipun mendapati perasaan tidak suka dari Putra Mahkota sebelumnya.


“Keluarga kami masih tertinggal di sana.” Jawab Penasihat Raja mencairkan ketegangan saat itu bersamaan dengan teh hijau yang telah berada di depan Putra Mahkota yang langsung menghirupnya.


“Ah maaf maaf, Aku tidak tahu ternyata membicarakan wanitamu ini bisa menyinggung perasaanmu.” Ucap Laki-laki tersebut mulai berhati-hati dalam membicarakan tentang Zili, “ Bagaimana kalau dengan kapalku saja, Bukankah Paman Natto harus bergegas kembali untuk memberikan laporan?” Tawar laki-laki tersebut kemudian, bersamaan dengan mangkuk Zili yang telah kosong.


“Lupakanlah! Aku hanya kurang nyaman saat ini.”Jawab Putra Mahkota lalu wajahnya mulai mendekati telinga Zili.”Pergilah ke kapalnya! Aku akan segera menyusulmu nanti.” Ucap laki-laki itu ke telinga Istrinya yang langsung menganggukan kepala dan berdiri.


Memahami maksud gerakan Zili, Pangeran Negeri Sakura segera memerintahkan pengawalnya untuk membawa gadis itu masuk ke dalam kapalnya bersamaan dengan Pelindung Putra Mahkota yang telah datang keruangan tersebut. “Shin Ji.. “Gumam Zili pelan memandang wajah laki-laki yang masih dipenuhi memar dan luka sembari terus berjalan perlahan-lahan mengikuti para penjaga yang mengawalnya.


“Waktu itu maafkan aku.” Ucap Putra Mahkota bersamaan dengan Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang telah menghentikan langkah tepat di samping Zili dan menepuk bahu gadis itu.


“Terima kasih.” Bisik laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili hingga gadis itu menoleh kepala ke arah laki-laki yang kini telah berjalan kembali dan duduk di kursi tempat ia berada sebelumnya, tepat di samping Putra Mahkota.”Aku tahu kau hanya melakukan tugasmu saja, dan aku sangat senang bisa membantumu.” Lanjut laki-laki tersebut menjawab Putra Mahkota dan mulai memanggil Tentara pembuat makanan untuk memesan sesuatu.


Gadis itu terus berjalan meninggalkan para bangsawan tinggi menuju ke sebuah Kapal Pesiar yang lebih besar dari Kapal Induk Negara mengikuti langkah pengawal yang menjaganya sembari menerima begitu banyak penghormatan dari setiap Tentara yang melihatnya.


Terus berjalan melewati tangga naik yang tampak mendarat di lantai geladak atas kapal induk Negara menuju atap kapal pesiar lalu setelah sampai di sana, langkahnya terhenti ketika melihat Pangeran Istana berdiri.


Hembusan angin kencang menyerakan rambut laki-laki tersebut dan juga rambut Zili yang mulai terurai karena tali karet yang mengikat tiba-tiba terputus.


Mata yang saling beradu membuat gadis itu tidak lagi nyaman untuk tetap memandang, ia mulai menunduk lalu terus berjalan namun langkahnya lagi-lagi terhenti karena Pangeran Istana menghalanginya.


Segera para pengawal menghindari tempat yang tidak nyaman tersebut begitupula dengan orang-orang di sekitar mereka. “Itu?” Pangeran Istana menunjuk ke arah tanda merah yang memenuhi leher Zili hingga gadis itu mulai memandang laki-laki itu kembali.” Siapa lagi orang yang telah membuatnya?” Tanya laki-laki tersebut dengan emosi yang masih tertahankan.

__ADS_1


__ADS_2