
“Hah.. Haaah.. Haaah hiks, Bagus, sakit sekali.”
“Kau sengaja membuka pintu karena melihat kami duduk di sini, benarkan?, kau marah dengan kami karena menyerahkan tugas sulit itu kepadamu lalu menyerang kami, begitukan?, cepat jawab!,” Pengusaha Kebanggaan Negara berdiri, ia bahkan melangkah kaki dengan cepat mendekati Zili.
Buuukkkk...
Dan memukul dinding tepat di samping kepala gadis itu hingga tangannya berdarah dan dinding besi itu sedikit retak.
“Aku..haah, Aku tidak melakukannya,” menekan rasa takut yang menggerogoti jiwa, Zili bahkan berani memandang bola mata berapi-api milik Pengusaha Berbakat Negara yang menatap ke arahnya dari atas.
“Omong kosong apa yang kau ucapkan?, tanganmu saja berada di tombol, jika bukan kau yang dekat dengan tombol itu, menurutmu siapa lagi yang akan melakukannya jika kau benar?” gertakan gigi terlihat jelas begitu geram, Sepertinya Pengusaha Berbakat Negara sangat ingin memukul wajah Zili saat itu.
Suasana yang tadinya sedikit santai saat itu berubah menjadi menegangkan.
Penasihat Pangeran Istana sekalipun tidak dapat memikirkan cara untuk menolong Zili yang saat itu terlihat menengadah kepala, berusaha keras meyakinkan Pengusaha Kebanggaan Negara bahwa bukan dialah pelaku yang sebenarnya.
“Aku bilang aku tidak melakukannya, dan aku yakin seseorang pasti sedang menjebakku saat ini.” Tegas Zili, masih membalas tatapan penuh amarah dari laki-laki di pandangan matanya tersebut.
“Menjebak kau bilang?,Hm, Konyol sekali.” Pengusaha Kebanggaan Negara meraih kedua pipi Zili lalu menekan sekerasnya, “Katakan!, jika yang kau katakan benar maka katakan!, katakan siapa yang menjebakmu dan bagaimana dia melakukannya?” paksa laki-laki tersebut sembari terus menekan pipi Zili hingga mencekung masuk ke dalam.
Tidak dapat menjawab, tetapi dirinya sangat yakin bahwa sedikitpun tangannya tidak menekan tombol pembuka pintu saat itu, Zili hanya bisa terdiam dan berpikir. “He.. tidak bisa menjawab?” Penguasa Kebanggaan Negara terlihat semakin geram, tangan yang tadinya ia pukulkan ke dinding, ia tarik kembali hingga tetesan darah pada luka yang terbentuk, terlihat membasahi lantai ruangan lift di sana.
Suasana semakin bertambah tegang saat itu, “Berhentilah!,” tangan Penasihat Pangeran Istana meraih pergelangan tangan Pengusaha Kebanggaan negara yang menekan erat pipi Zili. “Bukankah tombak itu hanya mengenai sedikit saja bahu wanitamu itu?, kau tidak perlu berlebihan terhadapnya.” Lanjut laki-laki yang mulai mengeratkan genggaman tangan karena Pengusaha Kebanggaan Negara terlihat menolak keras untuk melepaskan tangannya dari pipi Zili.
Taaaakk..
Haaaaa....
“Brengsek!”
Baaaaakkkkk....
TAkkkkkk...
“Zili!”
Buuukkkk...
“Hm, tidak masalah bagiku dihukum mati sekalipun asalkan aku melihatnya mati hari ini.”
Baaaaakkkk...
“Aaahhh..”
__ADS_1
Ilmuwan berbakat mengeluh kesal, ia terpaksa berdiri dari posisi nyamannya ketika Penasihat Pangeran Istana jatuh terbaring di samping laki-laki tersebut setelah menerima pukulan keras Pengusaha Kebanggaan Negara yang telah ia pukul terlebih dahulu karena tindakan berbahayanya.
Laki-laki itu memang dengan sengaja menekan tombol pembuka pintu lalu menghempaskan tubuh Zili ke pertengahan ruangan sebelum menerima pukulan keras dari Penasihat Pangeran Istana tadinya.
Beruntungnya, tangan Mantan Presiden Sekolah Teknologi lebih sigap meraih tombol sehingga pintu yang akan terbuka seketika tertutup kembali sebelum tombak-tombak jebakan masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Kau kira bisa melawanku?” Baaakkk ,,
“Uhuk uhuk..” Penasihat Pangeran Istana terhempas keras menabrak sisi pintu lain di depan pintu yang tadinya hampir terbuka setelah menerima tendangan lutut kaki dari laki-laki yang saat ini sedang dipenuhi dengan amarah.
Mata Zili terbelalak, ia memandang ke sekitarnya setelah tadinya tubuh gadis itu terhempas jatuh ke lantai lalu berdiri, dan tidak menyangka bahwa Ilmuwan berbakat serta Putri Kelincahan hanya diam, membiarkan Pengusaha Kebanggaan Negara memukuli Penasihat Pangeran Istana yang tidak mampu melawan kekuatan laki-laki tersebut.
“Hentikan!” tidak tahan dengan tindakan kejam yang tak kenal kata ampun dari Pengusaha Kebanggaan Negara, bergegas Zili datang mendekati tetapi tangan Mantan Presiden Teknologi terlihat sedang menahan pergerakannya.
“Kau, Huh, jangan mendekatinya!, atau kau akan mati.” Ucap laki-laki yang terlihat sedang memegang lengan atas Zili, menghalangi langkahnya untuk menghentikan pukulan Pengusaha Kebanggaan Negara kepada sesama anggota Klan Zin tersebut.
“Suho!” semakin dibuat tidak menyangka, temannya tersebut bahkan tidak mempedulikan kekejaman yang terjadi tepat di mata. “Jangan hentikan aku!, tenang saja, aku pastikan kau akan baik-baik saja.” Zili meraih tangan Mantan Presiden Sekolah Teknologi lalu menyingkirkannya dari lengan gadis itu kemudian bergerak cepat menghampiri punggung Pengusaha Kebanggaan Negara yang masih dengan emosi memukuli Penasihat Pangeran Istana di sana.
Deeeeggg...
“Zili!” gumam pelan Mantan Presiden Sekolah Teknologi, laki-laki itu mulai menyadari sesuatu lalu melirik ke arah saudaranya yang tampak sedang duduk santai dengan laptop di atas pangkuannya. “ Yang Mulia!” ingatannya mulai kembali di saat sebelum ia datang dan bergabung bersama dengan regu Zero.
Benar,
Dia datang ke tempat tersebut dengan janji yang pasti kepada Putra Mahkota Negara NC.
“Kau,,” Pengusaha Kebanggaan Negara segera berbalik dan melepaskan tubuh Penasihat Pangeran Istana yang telah terluka lumayan parah namun sepertinya laki-laki tersebut masih bisa mengembangkan senyuman kecut,” sudah mengakui kesalahanmu?” bentak keras laki-laki yang telah berbalik tersebut sembari mencekik leher Zili dan mengangkat tubuh gadis itu sedikit naik ke atas, menghadapkan mata gadis tersebut dengan matanya agar saling beradu.
“Ah.. ihhh,,,ihkkk.. Ak.. Akk..”
“Akui kubilang!”
Paksa Pengusaha Kebanggaan Negara yang tidak juga melepaskan cengkraman tangannya pada leher Zili.
“Akk.. ihkk.. haaa.. Aku tidak melakukannya.” Jawab Zili dengan tetesan air mata yang tiba-tiba keluar tanpa ia sadari serta rasa sakit pada leher yang mulai menyiksa.
“Matilah!, kau.” Segera Pengusaha Kebanggaan Negara mendekati pintu di depannya.
Tindakannya sontak mengejutkan semua orang di sana.
“Bagussss!” teriak keras Penasihat Pangeran Istana dengan sisa tenaga yang ia miliki. Laki-laki itu bahkan tak lagi kuasa untuk berdiri karena lemas dan membutuhkan sedikit waktu untuk memulihkan tenaga.
“Bagus, apa yang kau lakukan?”
__ADS_1
Baaaakkkk...
Bahkan teriakan Putri Kelincahan tidak dipedulikan, gadis yang tadinya berusaha menghalangi Pengusaha Kebanggaan Negara untuk mendekati tombol pembuka pintu itupun kini telah jatuh terbaring di atas lantai, karena tidak kuasa menahan tenaga kuat laki-laki tersebut.
“Akkhhh.. Ikkkhh..” Kedua tangan Zili berusaha keras untuk melepaskan tangan Pengusaha Kebanggaan Negara yang mencengkram lehernya, kakinya juga ia usahakan untuk bisa memukul perut laki-laki tersebut namun sayang, tenaganya tidak sekuat itu karena persendian tubuh pada bagian leher dibuat lemas.
“Ikhhh akkkhhh Shi.. Shii.. Shisou.” Panggil gadis itu pelan, sungguh sangat merindukan Putra Mahkota saat itu, sangat merindukan hingga membuat air matanya kini jatuh mengalir deras membasahi pipi.
“Bagusss!” Tangan Pengusaha Kebanggaan Negara kini telah terangkat, jari telunjuknya bahkan telah mendekati tombol di dinding.
Laki-laki itu kini sedang bersiap-siap untuk melemparkan Zili kepertengahan ruangan.
Taaakkk.
“AKkkhhhh”
“Aku.. Aku yang menjebaknya.” Teriakan keras terdengar menggema.
Taaaakkk..
Tubuh Zili kini telah terlepas dari cengkraman laki-laki yang telah memasuki usia dewasa tersebut.
Gadis itu duduk, bersandar di dinding dengan tubuhnya yang semakin gemetaran dan kedua tangan yang menyentuh leher.
Mata Ilmuwan berbakat terbelalak, dia yang tadinya duduk santai, saat itu berdiri tanpa mempedulikan laptopnya yang kini telah terjatuh keras.
“Suho!”
“Suho!”
Panggil Zili dan Ilmuwan berbakat secara bersamaan.
Pintu yang hampir terbuka kini tertutup kembali.
Pandangan mata memerah kini beralih arah.
“Tidak mungkin, Bagus, adikku tidak mungkin melakukannya.” Sela Ilmuwan Berbakat berusaha keras meyakinkan.
“Hikss hikss,, Bukan, Suho tidak melakukannya,akulah yang...”
“Benar, Putri Mahkota yang telah melakukannya dan aku melihat sendiri dia menekan tombol lift.” Sela cepat Ilmuwan negara, mengiyakan perkataan Zili.
“Aku membencimu yang telah mengalahkan kakakku dalam pertandingan antarklan 5 tahun yang lalu.”
__ADS_1
Tegas Mantan Presiden Sekolah Teknologi tanpa ragu membalas tatapan tajam Pengusaha Kebanggaan Negara.
“Suho!” Bentak keras Ilmuwan Negara, begitu marah dengan ucapan yang dilontarkan saudaranya tersebut.