Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Anggota baru


__ADS_3

Mongolia adalah Sebuah Negara yang terdapat di bagian Timur benua Asia. Negara itu berada dipertengahan negara Rusia dan juga Republik Rakyat Tiongkok.


Ibu kota dari negara tersebut adalah Ulan Bator masih sama dengan 300tahun lebih yang lalu di masa itu.


Di Kota yang kini sedang berada pada musim dingin tersebut terlihat butiran salju yang turun dan melayang di udara meskipun demikian, salju yang turun tidak sebanyak dan setebal di negara-negara bersalju pada umumnya. Putihnya salju terkadang mencair dan tidak meninggalkan jejak kecuali hanya kedinginan yang mampu menusuk hingga masuk ke dalam tulang tubuh.


Di Pusat kota itu, terdapat sebuah gedung Apartemen menjulang tinggi dan memiliki puluhan lantai sepertinya.


Semua Apartemen di setiap lantai telah dimiliki oleh para penduduk di sana hingga tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk dibeli.


Tetapi, ada satu Apartemen yang sengaja dikosongkan pemiliknya secara khusus untuk tempat tinggal Putra Mahkota dan para rekan kerjanya agar musuh tidak mencurigai kedatangan mereka.


Mungkin, Apartemen tersebut adalah milik dari seorang Pengaman Kepala Negara.


Panorama kota Ulan Bator terlihat begitu menakjubkan melalui jendela kaca yang belum tertutup gorden malam itu.


Ruangan mewah berlantaikan karpet berwarna krem sangat nyaman untuk bekerja, mereka yang duduk di atasnya sembari bersila bahkan bisa lebih fokus bekerja di bandingkan dengan duduk di atas kursi biasa.


Meja panjang pendek yang terbuat dari kayu jati tampak tertutupi alas meja. Di atasnya terdapat dua buah laptop yang terlihat masih terus menyala.


Suara cepat ketikan keyboard terdengar menggema di kesunyian ruangan hingga masuk ke dalam telinga padahal di salah satu telinga pada dua orang yang berdiri di depan laptop itu, tertutupi oleh sebuah headset berwarna putih.


Headset yang terhubung pada sebuah ponsel yang berada pada mode tertutup di pertengahan kedua laptop di atas meja sana. Mungkin headset-headset itu sedang terhubung dengan beberapa orang lain yang tidak berada di ruangan tersebut.


Di salah satu layar laptop dipenuhi dengan gambar-gambar bangunan, terkadang juga berita-berita koran, beberapa kali sebuah pesan masuk ke dalam sebuah Akun Aplikasi di layar laptop sana, terkadang Aplikasi dengan kotak layar berwarna hitam yang terisi begitu banyak data juga terlihat.


Tidak ada jam tangan,


Mereka semua memang sengaja tidak membawa jam tangan khusus militer buatan negara NC untuk berjaga-jaga agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh musuh.


Berkali-kali seorang gadis terlihat menggelengkan kepala menahan kantuk di kedinginan ruangan padahal AC yang menyala berada pada Mode Hangat/ Heat Mode.

__ADS_1


Sepertinya kehangatan udara yang dikeluarkan AC di sana tidak mampu menghangatkan ruangan tersebut pada musim dingin di negara tersebut, sepenuhnya.


“huh..” Pusing sekali kepalanya terasa karena rasa kantuk yang begitu berat hingga mampu menyebabkan perutnya juga ikut merasa mual. Rasa pusing semakin bertambah karena berada terus menerus di depan layar laptop meskipun ia telah mengenakan kacamata anti radiasi.


Buukkk...


Kepalanya terjatuh di atas keyboard laptop tanpa ia sadari. Perilakunya tersebut sontak mengejutkan laki-laki yang duduk bersila di sampingnya, hingga laki-laki yang tadinya masih terfokus pada layar laptop segera menoleh ke arahnya dan menghentikan gerakan jari-jari tangan.


“Ahh, maaf Shisou.” Ucap Zili merasa bersalah, segera ia mengangkat kepala lalu membuka kembali Aplikasi yang tadinya tertutup karena tekanan kepala pada tombol-tombol keyboard.


“Tidurlah!” Perintah Putra Mahkota sembari melontarkan senyuman manisnya.


Gadis itu semakin merasa bersalah.” Hmm.” Tolaknya dengan menggelengkan kepala, “Saat ini Shin Ji dan Shin’A sedang bekerja di luar, Rasa kantuk mereka pasti lebih berat dibanding denganku, Aura juga telah bekerja keras menyiapkan makanan serta menata barang-barang kita. Meskipun dia telah tidur tetapi dia sudah bekerja keras karena kita tidak mungkin memiliki seorang pelayan di sini, jadi biarkan aku tetap bekerja, Shisou.” Pinta gadis itu mulai meraih sekaleng kopi lalu meneguknya, setelahnya ia kembali menggerakan jari-jari tangan di atas keyboard laptop di depannya.


Putra Mahkota mulai berdiri dari posisinya.


Tanpa menjawab pertanyaan Zili yang kini telah kembali fokus ke layar laptop, laki-laki tersebut tampak berjalan dengan langkah lebar menuju ke ruang kamar, tempat dia dan Pelindung Putra Mahkota beristirahat nantinya.


“Tidurlah!” Perintah ulang Putra Mahkota yang telah meletakan bantal dekat dengan salah satu kakinya yang telah bersila lalu membuka lipatan selimut.


“Shisou, aku...


“Kau akan menghambat pekerjaan kita jika terus menerus menahan kantuk. Kemungkinan besar, kau juga akan melakukan kesalahan dalam pengerjaan, jadi tidurlah!” Perintah Putra Mahkota lagi sembari meraih lengan atas gadis itu dan membawa kepalanya jatuh ke atas bantal lalu memberikan selimut ke tubuh Zili.


“Tapi pekerjaan kita masih sangat banyak.” Gumam gadis itu merasa berat untuk meninggalkan pekerjaannya.


“Setelah tidur, kau bisa mengerjakan tugasmu kembali. Sepertinya kita membutuhkan ahli teknologi seorang lagi.” Ucap Putra Mahkota mulai memikirkan untuk membawa anggota baru mengingat Putri Keagungan yang tidak terlalu ahli dalam bidang teknologi dan Pangeran Istana yang tidak mungkin akan menuruti perintahnya, ditambah lagi, Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang harus bekerja memeriksa tempat-tempat yang diduga sebagai markas musuh, membuatnya semakin yakin untuk menambahkan seorang anggota ahli teknologi masuk ke dalam kelompoknya saat itu.


“Hmm,”Angguk Zili yang telah terbaring di atas lantai karpet ruangan tersebut, “ada begitu banyak berita kriminal yang belum aku periksa, kita juga harus mengecek satu persatu CCTV kota, Shisou kau juga harus istirahat maka dari itu kita membutuhkan seorang anggota lagi.” Tambah Zili berusaha meyakinkan agar Putra Mahkota memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.


Memainkan jari-jari tangannya kembali setelah membersihkan kacamata bening yang ia kenakan, “Baiklah, aku akan minta bantuan profesor untuk mencarikannya nanti, sekarang tidurlah!” Ucap Laki-laki yang mulai memfokuskan diri kembali di layar laptop.

__ADS_1


“Selamat malam, Shisou.” Ucap Zili lalu perlahan-lahan menutup mata.


*********


Setelah kembali untuk beristirahat sejenak dan memakan makanan buatan tunangannya bersama, Pelindung Putra Mahkota Shin Ji mulai kembali lagi bekerja dengan membawa data-data yang telah di berikan oleh Putra Mahkota.


Kali itu ia tidak lagi sendirian seperti hari pertama bekerja. Putra Mahkota telah memerintahkan Putri Keagungan untuk membantunya di hari ketiga mereka tinggal di negara Mongolia.


Pangeran Istana yang bertugas mencari informasi dari Penduduk kota karena hanya dialah satu-satunya orang yang tersisa fasih dalam berbahasa Mongol sementara Putra Mahkota harus bekerja di depan layar laptop, terlihat masih dengan santai duduk di depan meja makan sembari membaca koran harian negara Mongolia.


“Hm, Baiklah.” Suara Putra Mahkota terdengar menjawab panggilan dari balik headset yang ia kenakan sembari tetap menggerakan jari-jari tangan sementara pagi itu ia masih belum sarapan. “Tapi benarkah kau sudah memastikan bahwa dia benar-benar ahli, Profesor?” Lanjutnya bertanya sembari membuka beberapa Aplikasi baru hingga dua buah kotak berwarna hitam dan putih berada di dalam layar laptop secara bersamaan. “Hm, Baiklah kalau begitu.” Lanjut laki-laki tersebut setelah mendengar jawaban dari balik headset miliknya lalu menekan tombol kecil pada benda tersebut dan panggilan tertutup.


Tuuuuutttt..


Tuuuuttt...


Suara bel pintu terdengar,


Segera Putra Mahkota berdiri untuk menemui anggotanya yang baru saja datang untuk bergabung bersama mereka tetapi Zili yang tadinya sedang mencuci piring di dapur dan masih mengenakan celemek di depan tubuh dengan cepat mendekati pintu tersebut dan membukanya.


Mata saling beradu,


Putra Mahkota yang berdiri di belakang Zili mulai terlihat mengerutkan dahi.


Pangeran Istana yang tadinya berniat membuka pintu, juga tampak berdiri di belakang Zili tetapi di sisi lain dari tempat Putra Mahkota berada.


“Suho.” Panggil Zili kegirangan, begitu senang melihat kedatangan teman lama yang dulunya pergi tanpa sedikitpun kabar.


Tangisan bahagia mengalir tanpa ia sadari, hingga dengan segera gadis itu menghapusnya.


“Apa kabar, Zili?” Senyuman senang yang dibalas dengan senyuman ceria Zili untuk laki-laki tersebut sontak menimbulkan kemarahan tersendiri di dalam hati Putra Mahkota dan Pangeran Istana yang melihat kedekatan mereka berdua.

__ADS_1


“Aku, hiks, aku baik-baik saja, sungguh aku sangat merindukanmu, kenapa kau tidak pernah memberi kabar kepadaku selama ini?” Ucapan Zili semakin menambah kecemburuan di dalam hati kedua laki-laki yang berada di belakang gadis itu, hingga keduanya tampak memandang Mantan Presiden Sekolah Teknologi dengan tatapan tajam. Tatapan mereka tersebut sontak mengejutkan laki-laki yang tadinya berniat untuk menyapa mereka berdua.


__ADS_2