
“Jadi, kenapa tulang belulang Cayden tidak terbakar?”
“Karena akulah orang pertama yang berhasil mengaktifkan Sinar UV berlevel tinggi di sana,”
“Jika tidak ingin kapal buatannya dikendalikan lalu kenapa dia tetap menyimpan gulungan petunjuk dan pengaturan sistem kapal?” Tanya Zili yang saat itu tengah terbaring miring di atas kasur, menghadap ke arah Putra Mahkota yang juga berbaring miring ke arah gadis itu.
Di dalam kamar Kapal Induk yang luas dengan sebuah lampu berwarna kuning yang menerangi ruangan tersebut dan di atas kasur busa yang lembut, Putra Mahkota tampak sedang mengelus rambut Zili yang sedari menggenggam satu tangan laki-laki tersebut dengan kedua telapak tangannya. “Karena itu adalah tulisan terakhir Claya sebelum kematiannya.”
Mata Zili terbelalak, Ia menghela nafas berat karena baru mengetahui cerita lain yang tak tertuliskan di dalam novel, “Jadi Claya juga sangat kejam kepada Cayden, ya? Aku sungguh mengerti rasanya jadi Claya yang selalu ingin memberikan semua miliknya untuk orang yang dicintai, tapi tetap saja, tidak seharusnya dia menggunakan tinta jus lemon hanya untuk membocorkan rahasia pengendalian kapal karena itu adalah Rahasia persahabatannya dengan Cayden sejak mereka masih kecil.” Wajah gadis itu mulai terlihat sedih ketika membayangkan bahwa dirinya sendiri sangat mirip dengan Claya di masa lalu.
“Hm..” Tangan Putra Mahkota terhenti, lalu mulai bergerak kembali ke arah punggung Zili kemudian dengan segera ia mendekap wanita miliknya tersebut. “Cayden sangat mencintai Claya. Meskipun dia tahu bahwa Claya telah berkhianat, Cayden hanya bisa memaafkannya saja dan menyimpan gulungan tersebut sebelum jatuh ke tangan Louise, tetapi..” Semakin mengeratkan pelukan hingga melepaskan genggaman tangan Zili dan meletakan kepala gadis itu di atas lengan atasnya, “Louise malah membunuh Claya karena gagal memberikan gulungan petunjuk pengendalian kapal yang telah dia salin dari buku panduan milik Cayden hingga Cayden membakar buku panduan tersebut dan membuat Louise marah lalu kemarahannya berakhir dengan kematian Claya.” Lanjut laki-laki tersebut bercerita,
Entah mengapa tangannya terlihat gemetaran, tapi sepertinya ia sangat takut kehilangan Zili saat itu.
“Louise, Kenapa bisa begitu kejam dia membunuh Claya?” Tanya Zili mulai mengangkat kepala dan memandang wajah Putra Mahkota lekat hingga membuat laki-laki tersebut terpaksa memendamkan kepala gadis itu kembali ke dalam pelukan dadanya.
“Karena Claya begitu kejam menghancurkan hidup wanita yang ia cintai,” Jawab Putra Mahkota mengejutkan Zili, lagi-lagi cerita tersebut tidak ada di dalam novel yang ia baca. Mungkin Putra Mahkota telah mengetahui cerita sesungguhnya dari kapal induk di sana, Pikir gadis tersebut.
“Claya yang begitu cerdas bahkan sampai harus menghancurkan hidup seseorang?”
__ADS_1
“Faktanya, di masa lalu, orang yang cerdas dan kaya hanya ingin mencintai orang dengan status yang sama, setidaknya kalaupun tidak kaya, maka orang tersebut harus terkenal dan juga memiliki kedudukan yang setara.” Jelas Putra Mahkota sembari merenggangkan pelukannya hanya untuk menatap wajah wanita yang ia rindukan. “Mereka tidak ingin mendekati orang dengan kedudukan yang jauh lebih rendah maka dari itu perasaan cinta tidak akan pernah muncul karena hati mereka memang telah diteguhkan untuk tidak mencintai orang biasa seperti Claya.”
“Itu artinya Claya..”
“Hm,” Putra Mahkota tersenyum getir, ia bahkan mulai membenci dirinya sendiri. “Claya hanyalah orang biasa sampai suatu hari, Cayden, yang juga orang biasa menjadi terkenal karena penemuannya yang luar biasa maka dari sanalah Kecerdasan Claya mulai terakui, tetapi sayangnya, Claya malah bertemu dengan Louise yang telah mencintai wanita lain namun tetap mendekati Claya hanya untuk mendapatkan ide-ide dari penemuan hebat Cayden. Sedikit demi sedikit, hati Claya mulai mencintai Louise karena Cayden sangat jarang bersamanya lagi. Claya bahkan sampai menyingkirkan wanita manapun yang mendekati dan mencintai Louise termasuk wanita yang dicintai Louise, Karena wanita yang di cintai Louise tidak lagi memiliki kedudukan yang setara dan status yang tinggi seperti Louise, maka Louise menikahi Claya dan akan mencintainya dengan Syarat, Claya harus bisa mendapatkan buku panduan pengendali kapal induk ini.” Lanjut Putra Mahkota, menceritakan isi dari buku-buku catatan milik Claya yang tersimpan rapi di pusat pengendalian kapal.
“Shisou, Aku bukan Claya.” Tubuh gadis itu mulai gemetaran, ia sangat takut bahwa Putra Mahkota akan menganggapnya sebagai seorang Claya hanya karena wajah mereka yang sangat mirip.
“Aku tahu,” Jawab Putra Mahkota menyadari keadaan gadis tersebut dari getaran tubuhnya. “Kau adalah kau, tidak ada kau lainnya, baik itu di masa lalu ataupun di masa depan setelah kematianmu. Kau dan Claya hanya memiliki wajah yang sama layaknya saudara kembar seperti Shin Ji dan Shin Jo, Maka ketika kau melihat orang yang mirip denganku nanti, percayalah itu bukan aku, karena aku adalah aku. Tidak ada aku di masa lalu maupun jauh di masa depan setelah kematianku.” Lanjut Putra Mahkota mulai duduk di ikuti oleh Zili, “Zili, Maukah kau bertahan satu hal untukku?” Pinta laki-laki itu tiba-tiba, permintaannya sedikit mengejutkan gadis itu karena tidak biasanya laki-laki tersebut meminta sesuatu hal kepadanya.
“Hmm, “ Angguk gadis itu cepat, “Aku akan bertahan untukmu Shishou.” Lanjutnya lagi tersenyum bahagia karena hari itu merasa bisa berguna untuk laki-laki yang sangat ia cintai.
“Membuktikan?” Tanya Zili kebingungan bersamaan dengan wajah Putra Mahkota yang telah mendekati wajah gadis itu.
“Bukti bahwa aku telah menikmatimu.”
Zili menelan Salivanya, jantungnya bahkan mulai berdegup semakin kencang hingga keringat dingin mulai jatuh bercucuran, “Shi... Shi.. “ Memejamkan mata hingga hampir membuat Putra Mahkota Tertawa, “ Shisou, tidak masalah bukan,? Meskipun usia kita masih belum 18 tahun. Ahh benar..” Gadis itu mulai membuka mata kembali lalu memberanikan diri untuk menatap mata Putra Mahkota, “Shisou, Selamat Ulang Tahun.” Ucapan Zili sontak menghentikan wajah Putra Mahkota mendekati wajah gadis itu.
“Ulang Tahun?”
__ADS_1
“Bukankah 3 hari yang lalu adalah Ulang Tahunmu?, Maaf aku tidak bisa mempersiapkan hadiah karena sangat sibuk menguasai texchi pisau dan juga mengerjakan tugas-tugasmu.”
“Hm itu saja sudah cukup sebagai hadiah ulang tahunku.” Jawab Putra Mahkota yang tidak peduli dengan hari ulang tahunnya sendiri. “Lalu dimana hadiah ulang tahunmu dariku?, kenapa kau tidak memakainya?” Laki- laki itu mulai bertanya dengan tubuhnya yang telah kembali tegak setelah sebelumnya sedikit membungkuk mendekati wajah wanita miliknya tersebut.
“Aku menyimpannya, aku sungguh tidak ingin kehilangan kalung itu ketika sedang bertugas, “Jawab Zili sembari menundukan kepala dan berusaha keras mengendalikan jantungnya yang masih berdegup kencang. “ Shisou...
“ di zaman Yunani Kuno, usia pernikahan legal adalah 14 dan 15 tahun baik itu laki-laki maupun wanita, pada abad 530 sebelum masehi, di Zaman Romawi kuno, Usia legal pernikahan wanita bahkan hanya 12 tahun dan laki-laki 14 tahun sama halnya di Zaman Mesir Kuno, di eropa juga sama, hanya saja usia pernikahan laki-laki legalnya adalah 17 Tahun, Lalu kenapa kita harus menunggu usia 18 tahun?” Jelas Putra Mahkota membuat Zili tak lagi bisa berbicara saking beratnya suasana panas di dalam ruangan tersebut ia rasakan, “Seorang laki-laki yang telah mampu berpikir dewasa serta dapat membedakan kebenaran dan kesalahan, dan seorang wanita yang telah menstruasi, Bukankah hal yang wajar bagi mereka untuk saling berhubungan terlebih lagi usiamu sekarang sudah 16 tahun dan usiaku sudah 17 tahun?, Aku juga sudah memiliki pekerjaan yang tetap, Bukan kedudukan sebagai seorang Putra Mahkota merupakan Pekerjaan bagiku?” Tambah laki-laki tersebut dengan senyuman nakal yang menghiasi bibir saking senangnya ia melihat wajah pucat gadis di hadapannya. “Jadi Zili, Bagaimana menurutmu?”
“Kau .. kau.. “ Menghapus keringat di wajah, lalu segera mendekati Putra Mahkota, “ Kau boleh melakukan apapun yang kau mau terhadapku, Shisou.” Ucap gadis itu dengan nada cepat sembari memeluk leher Putra Mahkota dengan erat.
“Hahahaha..” Putra Mahkota tidak lagi mampu menahan tawanya, suaranya bahkan sampai menggema terdengar keluar pintu di sana, “Tenang saja, aku tidak akan melakukannya,” Jawab Putra Mahkota mulai melepaskan pelukan Zili dari lehernya, “Aku memiliki aturan untuk diriku sendiri, meskipun begitu, aku perlu membuktikan kepada mereka untuk menyelesaikan rencana yang telah kubuat.” Suara laki-laki itu mulai terdengar pelan setelah ia melihat wajah Zili dan membalas tatapan mata gadis itu.
“Shisou..”
“Maafkan aku,” Ucap laki-laki itu mulai membuka dua kancing Seragam Militer berwarna Putih yang Zili kenakan lalu meraih leher belakang gadis itu dengan sigapnya dan mencium perlahan-lahan bibir gadis tersebut kembali di hari yang sama.
“Haa..ha..” Hingga nafas gadis itu terasa berat ketika laki-laki yang ia cintai mulai menurunkan wajah ke lehernya dan berkali-kali membuat tanda merah hingga sampai ke dada gadis tersebut yang tampak terbuka.
Puluhan tanda merah telah terlihat, Putra Mahkota mulai membaringkan tubuh Zili dan memeluknya erat, menahan diri untuk tidak melakukan hal lebih pada sore hari itu.
__ADS_1