Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 47


__ADS_3

Ruang sepi senyap hanya terdengar suara guru yang terkadang membalikan lembaran buku setelah memberikan tugas kepada murid murid kelas spesial sekolah shen.


Sesekali zili memandang kursi disampingnya yang telah kosong tidak berpenghuni. Mata gadis itu berkaca kaca, ia melanjutkan pekerjaannya.


Rasa sedih kian menyelimuti hati, ia tidak lagi melihat Sa’i sejak dua hari terakhir. Bahkan ketika bertanya kepada penjaga asrama putra. Mereka menjawab tidak pernah mendapati Sun Shin Sa’i tinggal didisana.


Sesekali zili tersenyum pahit, mengingat ucapan sembrono malam digudang lapangan kuda.


Jika ia mengetahui tidak akan lagi berjumpa dengan Sa’i seharusnya ia mengatakan terima kasih karena telah mengajarkan gadis tersebut cara mengolah makanan.


Waktu berlalu begitu lambat baginya, ia merasa kesepian luar biasa menyelimuti hati dibandingkan hari hari sebelumnya. Sepi setelah keramaian mengisi lebih berat terasa dibandingkan ketika sudah terbiasa sendirian.


Jam makan siang telah tiba, zili kembali seperti biasa tetap duduk diruang kelas makan bekal buatan tangannya sampai waktu habis.


Berkali kali ia melirik ke arah samping, kesepian didalam jiwa menyakiti hatinya sampai ingin menangis karena tidak menemukan sa’i yang biasanya duduk disamping membaca buku dan mencuri makanannya.


Tidak ada rasa lapar, zili menutup kembali kotak bekal. Padahal didalam kotak bekal tersebut terdapat makanan yang mengunggah selera, makanan yang diajarkan Sa’i cara membuatnya.


Zili menutup wajah bersandar diatas meja dengan kedua tangannya. Menyingkirkan kotak bekal disudut atas meja.


Matanya mulai tertutup, rasa sepi membangkitkan kantuk.


“Lumayan” suara seseorang mengejutkan zili hingga ia spontan menengok kearah samping.


“Sa’i”


“Hm, sa’i”


“Ha...” mata zili berkaca kaca, kerinduan mendalam telah terobati “ shisou “ ucapnya ingin menangis menatap putra mahkota disebelah.


“Hm, “ putra mahkota meletakan kotak bekal yang tak tersisa “ ada lagi”


“Hm” zili menggeleng kepala masih memandang wajah putra mahkota. Terasa sekali kekosongan hatinya mulai terisi.


Tapi gadis itu merasa ada perubahan dari gurunya semenjak terakhir kali mereka bertemu.


“Shisou”


“Hm” putra mahkota selesai meneguk botol air mineral milik Zili, memutar tutup botol, mengembalikan keatas meja.


“Shisou sedang sakit ya?” Zili mendapati suara serak dari putra mahkota. Sesekali ia mendengar suara mendehem putra mahkota, merasa tidak nyaman dengan tenggorokannya.


“Tenang saja, aku baik baik saja, mungkin efek banyaknya obat yang kuminum.”


“Hm” angguk zili perlahan, merasa lega akan kekhawatiran. Dia teramat senang dapat melihat kembali gurunya, saking senangnya bahkan lupa dengan ketidak beradaan Sa’i lagi yang sebelumnya menjadi pusat kesedihan.

__ADS_1


“aku akan melatihmu”


“Maksudnya shisou?”


“Mulai besok tidak perlu masuk kelas lagi, aku yang akan mengajarimu langsung, “


“Haa, hm, baiklah shisou” zili kegirangan, dia merasa senang tidak harus lagi sendirian.


“Tapi dengar, kau harus memperhatikan baik baik semua yang aku ajarkan”


“Baiklah shisou”


Sehari dua hari tiga hari hingga sebulan telah berlalu, dibawah bimbingan putra mahkota, zili semakin hari semakin berubah.


Ia selalu datang kesekolah tetapi tidak pernah memasuki kelas. Ia selalu menunggu putra mahkota diatap gedung sekolah.


Menembak, Bela diri, bahkan sudah mulai terbiasa mendapati makian. Zili tersenyum kecut, semua yang diperintahkan gurunya, ia turuti.


Apapun itu, bahkan merubah cara pola wajah dan cara mata memandang.


“Awas” teriak Shi ra yang selalu membututi Zili diam diam ketika ia melihat pot bunga berada diudara tepat diatas kepalanya.


“Kau mau apa?”


Sontak Shi ra terkejut, melihat perbedaan Zili hari itu. Zili melirik keatas begitu pula dengan shi ra.


Shi ra memang selalu mengawasi Zili, namun saat gadis itu bersama putra mahkota, ia terpaksa harus meninggalkannya atas perintah remaja laki laki tersebut.


“Zili”


“Yang mulia, panggil aku yang mulia. Harusnya kau sadar bahwa aku calon ratu negara ini” Perintah Zili memandang tajam kemata Shi ra.


“Yang mulia”


*****


Ruangan remang remang penuh dengan tumpukan kertas diatas meja. Kursi kayu antik buatan klan Lu tampak sedang diduduk seorang pria tua menautkan kedua tangan , meletakan dagu diatasnya.


Dihadapannya, seorang pria separuh baya berdiri dengan mengepalkan erat kedua tangannya. Kesal, marah. Emosi tidak terbendung memandang Pria tua yang tidak lain adalah ayahnya.


“Ketua Ann menolak Zili untuk datang ke Wilayah utara”


“Kenapa?”


“Zili telah banyak mempermalukan klan shen, mereka takut klan Ann akan terkena imbasnya”

__ADS_1


“Omong kosong, bagaimana mungkin Zili yang lemah mampu mempermalukan Klan Shen”


“Lian, kenapa kau selalu saja melawan perintahku?”


“Lalu, kenapa ayah selalu membedakan Zili dengan cucu ayah yang lainnya”


“Kau....” pria tua melempar gelas kosong yang ada diatas meja kearah lian. Laki laki itu menghindarkan kepalanya, gelas pecah menabrak dinding “ kau sadar tidak dia memiliki darah klan campuran” bentak pria tua marah.


“Tapi darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah klan Zin”


“ Dasar anak tidak tahu diri, karena kau menikahi klan campuran, aku sebagai ketua klan malu memiliki anak sepertimu”


“Zili tidak ada hubungannya dengan klan campuran ayah” balas bentak lian penuh emosi. “zili harus berlatih menjadi ratu kuat seperti yuanna, sampai kapan kau mau dia lemah?”


“Baiklah, satu syarat, klan ann meminta satu syarat untuk menjaga keselamatan mereka”


“Katakan syaratnya, aku tidak mau zili tetap lemah karena kau selalu... selalu saja membatasinya bahkan terus menerus melarang untuk membawanya kewilayah timur”


“Katakan pada pihak kerajaan, zili, tidak lagi diperbolehkan untuk dilindungi”


“Ayah....kau mau zili mati ya” maki lian penuh emosi tak terkendali.


*****


Pelatihan di wilayah barat laut telah berakhir, zili bersiap siap pergi meninggalkan Asrama putri. Ia telah berada dipintu gerbang menunggu kedatangan para utusan.


Hari itu, zili diperintahkan untuk menuju Wilayah Utara klan Ann berada. Tidak ada perpisahan, tidak ada yang mengantar kepergiannya. Bahkan Shen shi ra yang diam diam melindunginya pun tidak tampak lagi di sekitar gadis itu.


Zili terdiam, memikirkan perkataan putra mahkota yang baru saja pergi meninggalkannya. Memberikan pesan terakhir bahwa dia tidak perlu khawatir selama Putra mahkota masih hidup, maka, sudah bisa dipastikan, zili akan tetap hidup.


Shin ji ditugaskan menjaga kembali putra mahkota, ia tidak diberikan izin untuk menjaga zili lagi, begitupula Shin jo yang telah kembali bertugas.


Mereka meninggalkan Zili didepan pintu gerbang sendirian. Mengatakan bahwa akan ada orang yang menjemput Zili mengantar pergi menuju utara.


Sebuah mobil hitam panjang lambang kerajaan berhenti tepat disebelah Zili yang telah membawa koper kecil ditangan.


Seseorang telah membuka pintu belakang mobil, dia adalah seorang laki laki bertubuh tinggi melebihi putra mahkota. Tubuhnya kurus dengan kacamata putih diwajah.


Ia mengenakan jas putih panjang selutut kaki, dengan kemeja hitam serta celana polos layaknya seorang dokter.


“Yang mulia”


“Siapa?”


“Panggil saya Sensei yang mulia, mulai sekarang, saya Ann So’A bertugas untuk mengajarkan anda keahlian Klan ann”

__ADS_1


Zili memandang tajam laki laki yang terlihat telah matang didepannya. Ia tersenyum kecut karena kali itu, tidak akan ada lagi putra mahkota disampingnya.


__ADS_2