Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
permasalahan warga


__ADS_3

"aku ingin menciummu.."


geram "hentikan omong kosongmu, brengsek" maki Zili yang tarus berjalan.


"aku sungguh ingin menciummu"


berbalik "astaga, kau ini benar-benar tidak tahu malu" lanjut maki Zili.


hari ini adalah hari pertamanya menjadi Seorang penagih hutang,


Awalnya ia terkejut karena pekerjaannya mungkin akan sangat sulit dilakukan,


setelah putra mahkota mengantarkannya pergi kebank negara Cabang Zin,


dengan cepat, pegawai bank memberikan barang-barang yang dibutuhkan,setelah itu pegawai tersebut menjelaskan peta Wilayah Desa zin kepada Zili, karena hal tersebut, kini gadis itu telah merasa percaya diri.


mulai berbalik, raut wajah Zili mulai berbeda, dia tidak terlihat marah, padahal ucapannya tadi terdengar begitu emosi.


"Zili.." panggil putra mahkota, "hmm" lanjut laki-laki tersebut terus melangkahkan kaki mengikuti gadis didepannya sembari tersenyum bahagia.


"jangan ikuti aku.." larang Zili terus melangkah.


"tidak mau" jawab cepat putra mahkota.


Berjalan dibawah panasnya terik matahari,


Menggenggam buku Tagihan hutang sembari tersenyum tipis karena hatinya memang sedang senang,

__ADS_1


Mulai berbalik lagi memperbaiki raut wajah dan menghentikan langkah “sudah kubilang, jangan ikuti aku..” Bentak Zili memandang putra mahkota yang sedari tadi mengikuti langkahnya.


Tersenyum nakal, melepaskan Kedua tangan yang tadinya berada dibelakang kepala, sembari memainkan Permen lolipop dimulut “kau ini pelit sekali..” ucap putra mahkota turut menghentikan langkah.


Menghela nafas berat karena berusaha keras menyembunyikan senyuman senaangnya “kenapa kau selalu mengikutiku..?” tanya Zili mulai berbalik lagi melanjutkan langkah sembari tersenyum menundukan kepala.


“Tentu saja karena aku sedang mengejar cintanya putri mahkota.” Ucapan putra mahkota menyentakan hati Zili, membuat perasaan bersalah gadis itu muncul kembali, menghentikan langkah lagi lalu berbalik.


“hoooii..” panggil gadis itu menghentikan langkah kaki putra mahkota dan memandang gadis itu penuh dengan senyuman nakal “sadarlah aku sudah punya suami..” ucap Zili keras sembari meraih kerah kemeja putra mahkota “sadarlah sadarlah sadarlah..”


"wahhh bagaimana ini,..?" jawab putra mahkota meraih salah satu tangan Zili yang berada dikerah kemejanya "sepertinya aku tidak akan pernah sadar." Lanjut jawab laki-laki tersebut sembari mengembangkan senyuman nakalnya.


"kau tidak tahu malu ya..?" tanya Zili menghempaskan tangan putra mahkota, lalu berbalik lagi.


mulai melangkah kembali setelah membuang gagang permen ditong sampah terdekat, ketika wanita miliknya telah berbalik dan melangkahkan kaki kembali "karena aku mencintaimu, aku jadi tidak tahu malu" jawab putra mahkota lagi membuat Zili tersenyum senang sejenak saja, setelah itu memperbaiki raut wajahnya kembali.


mengetuk pintu "permisi.." panggil Zili namun tak seorangpun yang menyahut. "permisi.." ulang gadis itu lagi, namun sayang, tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya.


"dobrak saja pintunya" suara seseorang mengejutkan putra mahkota dan Zili yang langsung berbalik mengarah kesumber suara.


menatap kesal "kenapa aku harus mendobraknya..?" tanya Zili tidak menyukai ucapan seorang warga laki-laki yang berdiri dipintu belakang rumahnya.


memang, Pemilik rumah yang berhutang kepada Bank tersebut terletak dipertengahan rumah-rumah penduduk warga lainnya, untuk memasukinya saja Zili dan putra mahkota harus melewati gang sempit.


"karena rumahnya juga akan segera disita oleh bank, .." jawab santai warga laki-laki itu, mulai menutup pintu belakang rumah "mereka orang miskin, hanya bisa menyusahkan saja" lanjutnya lagi lalu pintu tertutup rapat.


"miskin...?" ucap putra mahkota bertanya-tanya,

__ADS_1


mungkin tidak seperti perkiraannya bahwa penduduk negara NC selama ini selalu berkecukupan dan tidak kekurangan.


perlahan-lahan pintu terbuka "kenapa kalian tidak mendobraknya..?" seorang wanita dewasa bertubuh kurus dan berwajah cekung terlihat berdiri didepan pintu "bukankah kalian para debt collector biasa mendobrak pintu rumahku....?" tanyanya lagi, raut wajahnya terlihat begitu sedih.


tidak tanggung-tanggung "kenapa kau bisa menjadi Miskin...?" putra mahkota terang-terangan bertanya, perilaku laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili yang tidak menyenangi Dia untuk berkata menyakitkan.


"hooii"


ucap zili, mulai menarik tangan putra mahkota pergi tetapi laki-laki tersebut tidak bergerak dari posisinya.


menundukan kepala "tidak masalah" jawab Wanita dewasa itu "aku akan menjawabnya.." lanjutnya lagi. "dimana putri mahkota...?" pertanyaan Wanita itu mengejutkan Zili hingga gadis dengan Gulungan rambut kebelakang, membelalak mata "bukankah dia berasal dari Klan Zin..?" lanjut wanita tersebut lagi "kenapa sesama klan, dia tidak pernah memikirkan nasib kami yang miskin ini,...? , padahal dia tahu bahwa kebanyakan Penduduk Klannya adalah orang-oramg yang susah" tambah wanita itu menggetarkan Zili yang memang tidak tahu menahu karena selama ini, ia tidak pernah pergi kedesa Zin, bahkan Untuk sekedar berkunjungpun, kakeknya tidak mengizinkannya, begitu juga dengan ayahnya.


"jadi kau menyalahkan putri mahkota atas kesulitanmu...?" senyum remeh putra mahkota, sungguh tidak menyenangi ucapan wanita dewasa dihadapannya.


"bagaimana tidak menyalahkan...?" menunduk begitu bersedih hati "hanya dialah satu-satunya harapan kami.." lanjut wanita itu membuat Zili menahan tangis dengan menggenggam erat tangan putra mahkota, dan disadari oleh laki-laki itu. "tidak banyak perusahaan yang mau memperkerjakan wanita dewasa sepertiku, ." jelaskannya masih menundukan kepala "dan juga kadang, karena beberapa orang saja yang berbuat Curang, nama baik Seluruh klan Zin jadi terseret dan terbawa maka dari itu.."menggigit bibir bawah merasakan kepedihan "tidak banyak perusahaan mau mempekerjakan para orang miskin seperti kami yang mereka kira akan mencuri uang mereka." tambah wanita tersebut berusaha meyakinkan.


"konyol.." ucap putra mahkota tidak menyangka "begitu bodohkah kalian tidak melapor kepada pejabat Formalitas..?" tanya keras putra mahkota marah "jadi kalian kira pejabat formalitas Tidak bisa dipercaya ya..?" lanjut laki-laki tersebut lagi.


"memang kenyataannya tidak bisa dipercaya.." jawab cepat wanita dewasa tersebut sembari mengangkat kepala memandang putra mahkota "setiap kali keluarga kerajaan datang, mereka selalu mengatakan bahwa Orang lain miskin, padahal orang lain tersebut adalah keluarga mereka sendiri.." tegas wanita tersebut mencengangkan putra mahkota "mereka juga sebenarnya tidak miskin, mereka yang tidak miskin terus mendapatkan bantuan hingga harta kekayaan mereka semakin bertambah." lanjutnya lagi mulai memperpelan suara "harusnya keluarga kerajaan melihat langsung keadaan penduduknya tanpa Harus diketahui banyak orang ketika mereka datang.." jelas wanita dewasa itu lagi "harusnya mereka datang dengan cara sembunyi-sembunyi agar mereka bisa tahu mana warga yang benar-benar susah dan mana warga yang hanya berpura-pura susah" mulai menoleh kepala, wanita dewasa itu mungkin sedang menahan tangisannya.


"jadi kau kira keluarga kerajaan hidup begitu santai hingga harus mengurusi kalian yang hanya bisa mengeluh...?" tanya putra mahkota mulai sedikit kesal,


bukan,


sebenarnya dia sangat kesal pada dirinya sendiri karena merasa sangat tidak baik dalam mengurusi Negaranya.


"maka dari itu kami sungguh membutuhkan putri mahkota.." jawab wanita dewasa itu mulai menitihkan mata "bukan mengeluh.." lanjutnya lagi "kami juga sudah berusaha namun tidak ada hasilnya" tambahnya lagi begitu piluh mengingat masa lalu "mulai dari menanam Sayuran, tetapi ketika dijual, hasil tanaman kami tidak laku dipasaran karena kualitasnya tidak sebaik hasil tanaman klan Ou, " ucapnya menjelaskan "kami juga sudah berternak, dan hasilnya, ternak kami tidak sebagus Kualitas ternak Klan Ann, "menghapus air mata "bekerja sebagai kasir, tidak banyak perusahaan yang membutuhkan Kami, mereka lebih memilih anak-anak remaja dibandingkan orang dewasa" aliran matanya mulai terlihat deras "jadi kami harus bagaimana Tuan...?" Tanyanya begitu piluh "kami sudah terlanjur berhutang untuk usaha ternak dan bertanam, namun hasilnya sia-sia." sungguh, Kalimat gadis itu mampu menekan batin Zili dan juga putra mahkota hari itu.

__ADS_1


__ADS_2