Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, MY Majesty 36


__ADS_3

Awan hitam menyelimuti Langit, suara gemuruh terkadang berbunyi diiringi kilatan kecil sambaran petir. Angin berhembus kencang menggerakkan pepohonan tidak beraturan.


Dedauanan berjatuhan, buah buahan matang juga kadang ikut menyertainya. Angin menghapus dedauanan tersebut berterbangan tak tentu arah.


Suasana Mendung disore hari mempercepat siapapun yang berada dijalanan untuk segera kembali kerumah ataupun sampai pada ketujuan mereka.


Sebuah bangunan Istana megah bertingkat dua telah berdiri di desa Xu1 yang telah menjelma menjadi area perkotaan negara NC.


Istana dengan bangunan bercatkan warna merah maron hampir menyerupai warna pohon jati terdapat beberapa pintu yang terletak hampir diseluruh sisi bangunan tersebut.


Empat tiang besar berdiri dan ada juga sebuah taman elok nan rupawan dengan kolam yang diisi banyak ikan serta tiang bendera dengan kibaran bendera diatasnya terhembus angin berkelok kelok kian kemari.


Sebuah air pancuran didalam taman juga semakin menambah keelokan bangunan istana tersebut.


Tidak jauh dari istana, terdapat sebuah desa kecil yang masih terjaga keutuhan suasana pedesaannya. Desa yang dulunya merupakan tempat kenangan kehidupan antara raja Shin dan ratu yuanna.


Didesa tersebut, berdirilah sebuah rumah sederhana, Rumah tidak bertingkat yang dindingnya masih terbuat dari kayu papan.


Meskipun demikian, keelokan rumah masih terjaga keutuhannya. Dinding yang terlihat baru saja diganti bahan bakunya semakin memperkuat kesan keindahan rumah tersebut.


Atap yang masih terbuah dari bahan seng aluminium juga terlihat baru saja diganti. Rumah tersebut merupakan rumah pribadi Keluarga Raja.


Rumah yang sesekali dikunjungi raja dan ratu untuk sekedar beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.


Tidak tampak adanya kemegahan dalam rumah tersebut, meskipun sang raja terkenal dengan kekayaannya begitu juga sang ratu yang bahkan memiliki saudara orang yang paling kaya dinegara NC.


Mereka menyebutnya, Rumah kenangan. Rumah yang tidak mungkin di hilangkan begitu saja. Rumah yang begitu berarti bagi mereka meskipun mereka saat itu harus menentap dan tinggal didalam diistana kerajaan.


Didalam rumah tersebut, suara isak tangis seorang anak perempuan terdengar sangat menyedihkan. Seorang anak laki laki sedang berdiri memandang saudaranya yang sedang terbaring telungkup menangis menutup wajah dikamar kecil kesayangannya.


Anak laki laki tersebut mengepalkan tangan. Mengingat waktu telah berlalu dan malam akan segera tiba, sementara ibu yang dinanti nanti kedatangannya untuk segera bersiap siap mengadakan pesta ulang tahun diistana malam hari belum juga tiba.


Dia marah, penuh kekesalan. Hari itu adalah hari ulang tahun kelima dia dan saudaranya dilahirkan kedunia. Selama 4 tahun pula lah ibunya tidak pernah menemani mereka dihari kebahagiaan tersebut.


Bahkan dipesta ulang tahun, mereka selalu ditemani kedua nenek dari ayah mereka. Salah satu nenek tersebut adalah ibu kandung ayah mereka, dan nenek lainnya adalah ibu tiri ayah mereka.


Bahkan ayah mereka terkadang hanya datang sebentar untuk menemani mereka, tidak bertahan lama setelah itu, ia pergi menjemput ibu mereka yang sedang bekerja menjadi seorang pelayan.


Kesal tidak terkira, dia tidak menyalahkan ibunya sama sekali. Dan tidak pernah menyalahkannya sedikitpun. Yang dia salahkan adalah seorang anak perempuan kecil yang telah mengambil penuh perhatian ibu mereka.


Anak perempuan yang selalu disayang serta dibanggakan ibunya, bahkan ibunya, yang adalah seorang ratu negara rela berpura pura menjadi seorang pelayan biasa hanya untuk menjaga dan mengurus anak perempuan yang bukan merupakan anak kandungnya sendiri.


Sayang, ibunya sangat menyayangi anak perempuan itu. Sehingga semakin membuat kebencian didalam hati anak laki laki yang sedang memandang saudaranya tersebut.


Dia tersenyum kecut, sedikit kesal karena mengetahui Sikap egois ayahnya yang membiarkan ibunya mengurus anak perempuan tersebut dan membiarkan anak anaknya diurus oleh kedua ibunya.


"Ring... riiiiiinnnnnng...." suara ponsel berbunyi.


Anak laki laki itu sudah dapat menebaknya. Sekali lagi, itu adalah ibunya.


Seorang wanita tua memasuki kamar, memberikan ponsel kepada cucunya.


"Itu ibumu"


"Aku tahu nek" jawab Shin'A dengan senyuman lembut kepada ibu tiri ayahnya. Wanita tua mendekati cucu perempuannya. Mengatakan bahwa ayahnya segera datang menjemput mereka.


"Shin'A...." suara wanita dibalik ponsel terdengar khawatir.


"Ibu, aku tahu..."


"Hmmm.. kau memang anak yang baik shin'A"


"Tenang saja ibu, Selama Zili bisa sembuh, tidak masalah bagiku kalau ibu tidak datang malam ini, dan lagi, zili kan calon istriku, sudah sepantasnya, ibu menemaninya dirumah sakit"


"iya, sabar ya sayang. Tahun ini, adalah tahun terakhir. Setelah ini mungkin Virus dalam tubuhnya tidak akan muncul kembali"


"Iya ibu, tidak masalah, tenang saja, aku akan merayu Yu'A agar bisa mengerti keadaan ibu"


"Iya, tenang saja, karena usia Zili sudah 5 tahun jadi dia sudah diperbolehkan minum obat klan Xu. Untuk tahun berikutnya, ibu pasti akan datang dipesta ulang tahun kalian."


"Hm, aku percaya kepadamu, ibu"


Ponsel telah dimatikan, Shin'A tersenyum pahit. Mengingat wajah anak perempuan yang telah terbaring lemah hampir selama 5 tahun diatas kasurnya.


Dia sangat membencinya, "mengapa harus ibuku yang menjagamu, kemana ibu mu sendiri?" gumamnya dalam hati masih mengepalkan tangan.


"Shin'A, kau kenapa?" tanya wanita tua lain yang telah masuk kedalam kamar.


"Cepat shin'A, Ayahmu sudah menunggu didalam mobil" seru ibu tiri ayahnya.


"Iya nenek," dia berjalan menggenggam tangan wanita tua yang tak lain adalah ibu kandung ayahnya. Ia menatap punggung ibu tiri ayahnya yang sedang berjalan menggendong yu'A, saudara kembarnya.


Tiba tiba ia menghentikan langkah kakinya, penasaran akan sesuatu hal " nenek,"


"Kenapa lagi shin'A?"


"Benarkan nek, anak perempuan yang dijaga ibuku tidak akan menganggapnya sebagai ibu dia sendiri"


"tenang saja, setelah virusnya hilang, dia akan diberi obat penghilang ingatan klan Xu, karena dia masih kecil, tentu saja dia akan dengan mudah melupakan keberadaan ibumu selama ini disisinya"


"Nenek tidak bohongkan?"


"Iya, tenang saja" wanita tua itu lalu menggendong Shin'A agar putranya tidak lagi menunggu lama.


****


Zili berdiri didepan jendela kaca besar, diperhatikan olehnya jendela tersebut dengan seksama.


Dia kesal, menemukan pengait jendela terpasang kunci kecil, yang bisa ia lakukan hanyalah menggertak gigi. Memandang sebuah balkon cantik dengan pagar kecil berwarna putih berbentuk melengkuk memagari balkon tersebut.


"Bagaimana caranya lari?" gumamnya dalam hati merasa kesal telah jatuh ketangan Shin'A.


Pintu terbuka, suara langkah kaki masuk kedalam, zili tidak peduli. Dia sudah mengetahui siapa yang datang.

__ADS_1


"Kau... putri paman lian"


Sontak Zili terkejut, membalikan badannya, tebakannya selama ini benar bahwa Sebelumnya Shin'A belum mengetahui identitas dia yang sebenarnya.


"Kau baru tahu"


"Pantas saja..."


"Pantas saja aku bisa menikah dengan putra mahkota, iya kan?"


"Wanita licik, kau pasti menggunakan ibuku"


"Untuk apa juga aku menggunakan ibumu, toh putra mahkota sendiri yang mau menikah denganku"


"Omong kosong.."


"Bukan kah semua orang mengetahui aku adalah wanita dambaan putra mahkota, jadi untuk apalagi kau bawa nama ibumu untuk menghakimi ku"


"hah.. hahahahaha" tawa shin'A menggelega " tepat sekali kalau itu kau"


"Tidak usah tertawa, kalau kau sudah tahu jadi jangan berharap aku mau jadi milikmu"


"Kau wajib mau"


"Kenapa harus wajib? jangan bicara hal konyol"


"Karena itu hutang budimu"


"Hutang budi apanya" mata Zili membelalak merah, dia ingin sekali menangis, bahkan setelah Shin'A mengetahui identitas dia yang sebenarnya pun, remaja laki laki tersebut masih tidak ingin melepaskan dia.


Shin'A berjalan cepat menghampiri Zili. Gadis itu kebingungan sendiri. Tubuhnya masih gemetaran sejak Shin'A masuk kembali kedalam kamar.


Dia masih berusaha menguatkan diri. Di ambil langkahnya untuk segera berlari mendekati pintu.


"Akh"


Tangan nya tergenggam erat. Sangat kuat, ia bahkan merasa kesakitan.


Shin'A menghempaskan tubuh Zili ke jendela kaca tebal. Ia telah berhasil mendekatinya.


Wajahnya nya mendekat ke wajah zili, sangat dekat. Ia mengalihkan kepalanya kedaun telinga gadis itu.


"Hutang budi karena kau telah mengambil waktu kebersamaan ibuku bersama ku selama ini"


"Omong kosong, mana pern...."


"Kau tidak ingat,.. itulah mengapa aku sangat membencimu"


"Dia ini ngomong apa sih" gumam zili dalam hati mencoba melepaskan diri dari shin'A. Namun tangan Shin'A terlebih dahulu menggenggam kedua lengan atas gadis itu. Tidak membiarkannya pergi menjauh sedikitpun. "kalau benci, seharusnya kau pergi jauh sana" teriak zili, air matanya perlahan menetes jatuh kepipi.


"Karena aku benci, seharusnya kau tahu diri?"


"apa maksudmu, ?" Tanyanya mencoba menahan tangis namun sayang Shin'A tidak kenal belas kasih.


"Kau kira aku mampu!"


"Kau bilang tidak mampu?" Dengan geram Shin'A memukul lagi pipi kanannya zili dengan punggung telapak tangannya.


"Akh" zili memegang Pipinya yang bertambah sakit.


"Selama ini ibuku menjadi pelayanmu masih tidak mampu mengenalinya. Muak sekali melihat kebodohanmu" Zili tercengang, ia terpaku membisu tidak percaya.


Dalam ingatannya, sungguh pelayan yang mengurusnya sama sekali tidak tampak seperti ratu. Wajah mereka terlihat tidak sama.


ZIli sadar, dia tidak terlalu peduli menatap wajah orang, terlebih lagi ayahnya yang selalu mengatakan bahwa dia tidak boleh bergantung dengan pelayannya apalagi menyusahkannya.


Gadis itu sontak tersadar atas alasan ayahnya selalu berkata demikian.


"Aaaaaahhhh... hiks hiks hiks '" zili terduduk menyandar. Dia menangis tidak tahan. Merasa semua orang selalu menyembunyikan segala sesuatu darinya.


"Kenapa hanya aku yang tidak tahu" teriaknya keras menangis tak tertahankan.


"Kau sudah sadar,?" Shin'A meraih dagu zili yang masih menangis. Mengangkat wajahnya lalu menatap tajam kearahnya.


"Shisou" tatapan Shin'A mengingatkan zili kepada putra mahkota.


"Shisou?"


Zili menghempaskan tangan Shin'A berusaha berdiri untuk berlari keluar kamar. Namun salah satu bahunya ditekan remaja laki laki itu untuk tetap duduk berada diposisinya.


"Sebenarnya maumu apa?" teriak Zili membalas tatap tajam Shin'A dengan tetesan mata jatuh dari wajah.


"Mintalah Xu'i menceraikanmu?"


"Kau gila ya, mana mungkin aku melakukannya, kenapa kau malah mengurusi rumah tangga orang?"


"kau tidak pantas untuknya"


"Akupun tahu itu"


"Kalau tahu maka mintalah dia menceraikanmu"


"Mana mungkin aku sanggup melakukannya. Segala keputusan ada ditangan Shisou"


"Shisou? Hahahaha jadi kau panggil dia shisou?"


"Bukan urusan mu, minggirlah" Zili mencoba mendorong tubuh Shin'A tapi tidak mampu.


"Kau mampu jika jadi wanitaku, katakan saja kau mencintaiku"


"Heh, sampai matipun aku tidak akan mencintaimu"


"Pakk" kali ini tamparan mendarat dipipi kiri Zili.

__ADS_1


"Dengar, kau hanya beruntung menikahi Xu'i, ada banyak orang yang bahkan telah mati matian berusaha agar bisa berada disampingnya dan kau... kau hanya bermodalkan dekat dengan ibuku seenaknya saja mengambil Xu'i dari mereka"


Zili tertegun, merasa kebingungan mendengar perkataan Shin'A.


"Kau.. kau sadar tidak, sudah punya kekasih?.. kau masih belum puas melihatku menderita ya haa"


"aku akan menjamin keselamatanmu asalkan kau dan Xu'i becerai"


"Gila, kau mau aku berpisah dengan shisou hanya karena wanita. Ku kira Seyin setia ternyata..." zili tersenyum meremehkan.


"Itu bukan Seyin, jadi jangan asal bicara."


"Bukan seyin" gumam Zili dalam hati. Itu berarti "Yu'A sendiri yang meno...."


"Itu juga bukan Yu'A"


"Aku tidak peduli siapa itu, dan tetap saja aku tidak mau menja...."


"Kau mau main main denganku" bentak Shin'A sangat emosi, dengan cepat ia menarik tangan Zili membawanya keatas kasur.


"Heeei.. kau mau apaa...?" Zili terhempas diatas kasur.


Dengan cepat Shin'a membuka kancing kemeja putihnya.." Jangan lakukan itu brengsek" teriak Zili tidak menyangka Shin'A akan berbuat nekad. Dia berusaha lari namun shin'A dengan cepat menangkapnya.


Menarik tubuhnya untuk jatuh kepelukan remaja laki laki itu.


"Tok tok tok.. " suara ketukan pintu mengganggu Shin'A, ia yang sudah emosi semakin bertambah emosi. "yang mulia, nona Ayya memanggil anda sedari tadi"


"Ayya" Shin'A tersenyum lembut, senang mendengar nama seseorang yang ditunggu tunggu menghubunginya.


Dia berjalan melepaskan Zili yang sudah merasa lega karena kepergiannya. Zili segera bergerak meninggalkan kasur mencari cari cara agar dirinya bisa selamat.


Ia teringat nama seseorang yang mereka bicarakan, "Ayya, bukankah itu..." ia lalu menggelengkan kepala, mencoba memfokuskan diri untuk terlepas dari genggaman Shin'A.


****


Shin'A mengunci pintu, diambil olehnya ponsel dari tangan pelayan laki laki yang tengah berdiri di depan pintu tersebut.


"Jaga"


"Hm" angguk pelayannya


SHin'A berjalan menjauh sedikit, ia lalu meletakkan ponsel ditelinga.


"Kau menghancurkan rencanaku?" teriak Suara wanita didalam ponsel.


"Bibi"


"Aish, kenapa terus terusan manggil bibi, kitakan seumuran"


"Hehe.. gimana lagi, kau kan anak dari nenekku"


"Ayya ayya ayyya.. panggil aku ayya"


"Iya iya ayya manis,"


"Sekarang jawab, kenapa kau menghancurkan rencanaku?"


"Ayya, Kau tahu rencanamu telah melibatkan tunanganmu didalamnya"


"Tunangan, maksudmu rein?"


"Hm. Jika rein tahu bahwa Huan diperintahkan olehmu, kau pasti dalam masalah besar"


"Mengapa dia ada disana?"


"Ayya, wanita itu, dia dulunya adalah bekas wanita yang dijodohkan oleh ibuku"


"Astaga,..."


"Kau kaget juga ya?"


"Ini akan sangat sulit, shin'A , bagaimana ini, aku tidak mau Xu'i sampai mencintainya. SHin'a..."


"Tenang lah ayya, tenang saja, wanita itu sudah berada ditanganku, aku pastikan dia dan Xu'i segera bercerai, dan Xu'i akan datang melamarmu"


"Benarkan Shin'A,? Kau akan membantuku kan?"


"Tenang saja Ayya, Xu'i akan jadi milikmu, aku tahu kau sudah berusaha keras sampai sejauh ini untuk nya"


"Iya, kau tahu, mendengar dia berinisiatif menikahi wanita lain saja sangat membuatku marah. Awalnya aku sangat bersyukur dia tidak jadi menikahi Yu'a tapi malah tidak menyangka dia memilih wanita lain yang bahkan bukan dari anggota keluarga kerjaan"


"Sudah tenang saj...."


"Praaaankkkk" suara pecahan kaca terdengar keras hingga ketelinga shin'A yang sontak terkejut hingga tanpa sadar menjatuhkan ponselnya.


******


dear reader.


open request jadwal update selanjutnya.


kamu mau hari apa?


selasa rabu kamis jum'at atau hari ini juga?


silahkan beritahu jawabannya dikolom komentar ya?


jangan lupa bagi likenya. dan


lihat juga novel terbaruku.


yes my bos

__ADS_1


__ADS_2