
Wajah marahnya tak terlihat jelas karena ruangan yang remang-remang.
Meskipun demikian, Suasana ketegangan terasa jelas menusuk hati gadis yang sedang berdiri itu.
Bagaimana lagi?
Katanya dalam hati.
Mungkin karena tujuan awalnya yang salah, selalu memanfaatkan laki-laki di depan matanya untuk melindungi dirinya sendiri dari perlakuan keterlaluan keluarganya, maka dari itu, ia tidak pernah mendapatkan perasaan tulus dari seorang laki-laki yang ia sukai.
Laki-laki di hadapannya berdiri, tidak terlihat sedikitpun rasa sakit di kaki seperti ia yang biasa hingga mengejutkan gadis itu. “Bukankah buktinya sudah jelas?” Laki-laki itu mendekat, semakin mendekat hingga wajah gadis di hadapannya terlihat jelas. Matanya mulai memerah karena marah, gadis itu hanya menunduk tidak mengerti alasan kemarahan laki-laki itu tiba-tiba muncul sebegitu parah. “Bukankah kau selalu mengaku sebagai istri Xu’i setiap kali bangsawan luar negeri mendekatinya?, Benarkan?, Jawablah, benarkan? Haah..”Laki-laki itu mulai gerah, bahkan nada suaranya yang terpaksa ia pelankan karena berusaha menahan emosi, membuatnya muak pada dirinya sendiri. “Kubilang padamu, aku tidak sudi menikahi wanita yang mencintai orang lain, Aku lebih menyukai dicintai dibandingkan harus mencintai karena hatiku sudah sepenuhnya kuberikan untuk Keluarga, Negara dan juga teman-temanku maka dari itu aku butuh menerima cinta dan tidak butuh memberikannya, kau paham?” Tegas laki-laki tersebut berbalik dan melangkah meninggal gadis yang hanya diam mengepalkan tangannya.
“Tapi aku bisa mencintaimu”
“Tapi kau akan membagi hatimu untuk Xu’i, dan aku tidak butuh wanita seperti itu.” Jawab cepat laki-laki itu semakin gerah, ia bahkan ingin pergi namun terhalangi jeruji besi.
“Bukankah kau pernah bilang kalau aku bisa berguna bagi Xu’i, kau akan mempertimbangkan pernikahan ki...”
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, gadis itu dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang berkaos hitam dengan gambar percikan tetesan air di bagian depan dan juga di bagian belakang kaos yang mereka kenakan.
Taaaaakkk...
Jarum yang dilumuri bubuk obat tidur mendarat di kulit terbuka kedua orang di dalam jeruji besi secara tiba-tiba.
Keduanya jatuh lemas karena dosis obat yang tinggi hingga berakhir memejamkan mata.
********
Laki-laki tua itu berdiri di koridor Apartemen. Apartemen pribadi yang hanya dihuni oleh orang-orang kepercayaannya saja.
Satu tangan terlihat mengantungi celana, ia tersenyum sinis dengan seringai kemenangan ketika melihat sebuah siaran Video secara langsung dari dalam layar Tablet yang ia pegang. “hahahaha” Tawanya menggelega hingga mengejutkan dua orang yang mengejarnya.
Seorang laki-laki tua namun berusia jauh lebih muda dibandingkan laki-laki tua yang memegang Tablet di tangan tersebut datang dengan helaan nafas tak percaya. “ Kau senang, Ayah?” Ucapnya setelah mengetahui situasi yang sedang terjadi di Negara tempat kelahirannya.
“Hahaha Ya Sami, tentu saja Aku senang hahahaha.” Jawabnya kali ini mulai tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya yang sakit. “Begitu bodohnya gadis itu hingga terpancing makanan yang kuberikan hahhaaha.”Lagi tawanya semakin menggelega namun tidak seorangpun dari penghuni ruangan tersebut merasa senang dengan keberhasilan yang segera akan di capai kecuali seorang wanita tua dengan wajah kegirangan di depan pintu.
“Diahu.” Gumam laki-laki tua lainnya ketika melihat air mata bahagia wanita tua di sampingnya jatuh membasahi pipi.
“Akhirnya Game Berakhir.” Teriakan kegirangan bercampur seringai kepuasan tampak jelas. “Lalu game baru akan segera dimulai.” Lanjutnya lagi mulai tenang dari kegirangannya. “Istana tanpa penjagaan, kekkekh kekekhh kekekhhh.. Gadis itu memang masih sangat labil kekkeehh hahahaha, Gadis bodoh, mengirim pesan diam-diam sekalipun percuma, mana mungkin orang tak berpengalaman bisa mengalahkan orang sehebat diriku kekeekekhh haha hhhaha.” Dia mulai diam dengan cepat, wajah kebahagiaannya secepat kilat berubah menjadi wajah serius. Semua orang tak lagi terkejut melihat perubahan tersebut karena memang sudah terbiasa melihat keanehan sifat laki-laki tua yang gemar berternak buaya itu. “Kuasai Istana sekarang juga!” Perintah laki-laki tua tersebut mulai berjalan cepat meninggalkan koridor di sana diikuti oleh Orang-orang kepercayaan yang sedari tadi hanya berdiri diam di sekitarnya.
*********
Stinger,
Sebuah Peluru kendali darat ke udara yang mampu menghancur leburkan tempat sasaran dengan mudah telah di genggaman tangan.
Sangat berat namun ia telah berusaha keras untuk menggunakan Senjata besi yang terisi beberapa Misil penghancur itu dengan baik.
__ADS_1
Puluhan Tentara Militer dari Klan Zin tampak sedang mengudara dengan Texchi-texchi milik mereka.
Angin yang kencang semakin memperberat benda yang mereka bawa di atas bahu tersebut meskipun demikian, mereka telah dilatih untuk tidak mudah menyerah selama ini.
Sebuah Headset tampak terpasang di masing-masing telinga mereka. “Zili.” Dewa Kemenangan yang ditugaskan untuk memimpin penyerangan hari itu tampak sangat khawatir, Suara kekhawatirannya mampu disadari oleh Zili dari balik headset gadis itu.
“Percayalah padaku.” Pinta gadis itu kepada Pemimpinnya saat itu.
Helaan nafas terdengar dari balik headset namun segera menghilang terbawa angin kencang. Mata gadis itu mulai fokus pada target yang ditujukan.
Jam tangan tampak melingkar di kedua pergelangan tangan gadis itu, Satu jam tangan merupakan pemberian guru teknologinya dan jam tangan lainnya merupakan pemberian dari Putra Mahkota.
“Target’s Locked,” Zili menarik pelatuk, Cuuuuuppppp..
Duaaaammmmm... “ Titik pusat, 48 kuadrat” Ucap Zili memberitahukan hasilnya kepada Dewa Kemenangan setelah Misil yang ia tembakan berhasil meretakan atap kaca kapal induk yang ditumpangi Putra Mahkota saat itu.
“Fokuskan tembakan ke titik sasaran!” Perintah Dewa Kemenangan kepada para prajurit militer Klan Zin dari udara.
Cuuuppp.. duaaaammm
Satu persatu secara bergantian Misil di arahkan ke titik Pusat yang telah berhasil di retakan oleh Zili.
Cuuppp duaaaammm..
Taaaarrrr...
Satu Atap terpecah, Zili memulai tembakan barunya pada atap lain di balik atap kaca yang telah pecah.
“Tembak.” Perintah Dewa Kemenangan dari jauh, setelahnya misil-misil lain mulai mengikuti Misil yang ditembakan oleh Zili,
Taaaaaarrrrr.. duaaaammm...
Angin kencang dan beratnya beban tidak sedikitpun menghalangi dirinya untuk tetap menghancurkan atap-atap Kapal di sana, hingga atap-atap tersebut dengan sendirinya terbuka.
“Mereka membukanya!”
Cuuuuppp...
Misil balasan terlihat mengudara, menuju ke arahnya.
Memejamkan mata lalu menghitung jarak serta posisi dengan keahlian Klan Zin miliknya.
“uh..” Cuuupppp duaaaaarrrr...
Misil saling beradu di udara hingga terjadi ledakan di sana.
Puluhan misil berdatangan, puluhan misil juga di tembakan hingga saling beradu dan meledak memenuhi langit.
__ADS_1
Membuang Senjata berat yang tak terisi lagi dengan misil tepat di atas atap kapal hingga membuat para tentara militer yang bersiaga dan menunggu perintah, berlarian menghindar,
Tanggg....taaaangggg..
Benda tersebut jatuh terpental dan berhenti menabrak dinding kapal bersamaan dengan texchi Zili yang terlihat bergerak cepat menuju ke arah kota di atas kapal induk,
Cuuupppp menghindari misil dengan cepat,
Lalu melompati texchi miliknya.
“Mulai!” Perintah gadis itu kepada Dewa Kemenangan yang mulai memberikan perintah.
Baaaaakkk bukkk...
AKhhhh...
Satu persatu musuh Negara yang menembakan misil dari atap kapal jatuh tak sadarkan diri, menerima serangan cepat dari Zili dan juga Pelindung Putra Mahkota Shin Jo yang telah mendaratkan kaki di sana.
“Zili.”
“Bunuh saja Shi ra, kalau memang harus dilakukan.” Ucap gadis itu ketika Pelindung wanitanya telah mendaratkan kaki di kota tersebut.
Baaaaakkk..
Drururururur...
Bukkk...
Ratusan tentara militer klan Shen mulai memasuki Kota,
Satu persatu musuh Negara berhasil dijatuhkan.
Lari gadis itu sangat cepat, ia sangat mengetahui dimana posisi laki-laki yang ia cintai berada.
Dua Pistol berada di tangannya,
Doooorrr...
Doooorrr..
Sebelum tembakan melesat ke arahnya, dia menarik pelatuknya lebih cepat.
Naik ke atas pohon lalu bangunan dengan kedua jam tangan yang ia kenakan lalu ..
Baaaaakkkk..
Bukkk...
__ADS_1
Berdiri tepat di depan seseorang yang berhasil memukul mundur gadis tersebut tepat di jalanan aspal depan gedung berkubah.
Lalu menghapus Air mata. “Shi Yun.”