Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
perubahan sikap


__ADS_3

“Tuan...” memandang lekat kearah putra mahkota yang terlihat sedang duduk disamping dan memotongkan Daging Sapi panggang untuknya “apakah kau sedang sakit jiwa..?” Tanya gadis itu tidak memahami perilaku laki-laki tersebut yang saat itu tiba-tiba berubah.


Tersenyum lembut memberikan piring yang telah terisi dengan potongan kecil daging Kehadapan Zili, lalu meraih piring lain dan memotong daging miliknya sendiri “mungkin.” Jawab laki-laki tersebut mulai memasukan potongan daging kedalam mulutnya. “Mulai sekarang anggap saja aku sedang sakit jiwa..” lanjut laki-laki tersebut mengejutkan Zili hingga gadis itu mengurungkan Niat untuk memasukan Potongan daging kedalam mulutnya.


*********


“Benarkah kau sedang sakit jiwa tuan...?” tanya Zili yang saat itu kebingungan ketika seorang pelayan tiba-tiba datang dan membersihkan ruangan Apartemennya.


“Sudah kubilang,” menghentikan Bacaan lalu menoleh kearah Zili yang saat itu duduk diatas sofa tepat disampingnya. “anggap saja aku sedang Sakit jiwa mulai dari sekarang..” tersenyum geli memandang wajah terkejut Zili yang telah melepaskan Permen dari tangannya, kemudian putra mahkota mulai membaca Bukunya kembali.


*********


Hanya sebentar saja.


Gumam Zili dalam hati.


Setelah ini, mungkin tidak akan bisa dekat lagi dengannya.


Lanjut gumam gadis itu didalam hati sembari Berjalan menelusuri trotoar jalanan kota, mengikuti langkah putra mahkota yang terlihat sedang memegang payung untuk melindungi mereka dari tetesan hujan sore itu.


Memegang telapak tangan putra mahkota dengan kedua tangannya, menghentikan langkah kakinya dan juga langkah kaki putra mahkota disana “tuan..”


Memandang Zili yang sedang berdiri menyamping menghadapnya, menengadah kepala. Perilakunya sontak membuat putra mahkota menghadap tubuh kearahnya.


terkejut hingga memperlebar sedikit kelopak mata ketika telapak tangan Zili tiba-tiba berada diatas dahinya. “apa yang kau lakukan..?” tanya laki-laki itu ketika tangan gadis itu kini telah berada diatas dahinya sendiri.

__ADS_1


Menghela nafas lega “aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak sedang sakit saat ini”


“Hmm” tersenyum nakal lalu menarik pinggang gadis itu mendekati tubuhnya “kenapa tidak bilang saja dari tadi biar aku melepaskan pakaianku untuk memastikan kesehatanku padamu..?” ucapan laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili yang langsung melepaskan tangan putra mahkota dari pinggangnya.


Berbalik arah, menghadap kedepan kembali “kau ini bicara apa..?” gadis itu terlihat gugup, perilakunya mampu disadari putra mahkota hingga ia tertawa geli melihatnya, “hanya..” menundukan kepala “aku merasa Sangat aneh melihat perubahanmu....”


Meraih tangan Zili lalu menggenggamnya “apakah kau lupa..?” pertanyaan putra mahkota membuat Zili kebingungan “bahwa Aku sudah menganggapmu sebagai Zili..” lanjut laki-laki tersebut sontak menyadarkan gadis itu. “karena kau adalah Zili bagiku” menghadap kearah depan kembali, “tentu saja aku akan selalu berbuat baik padamu mulai dari sekarang..” dia mulai menarik tangan gadis itu, melanjutkan langkah kaki menuju ke halte Bus yang tak lagi jauh dari tempat mereka berada.


Terus melangkah kaki hingga menapaki Lantai Halte bus, putra mahkota menutup payungnya, lalu mengunci kemudian menyandarkannya ditiang penyanggah atap, menoleh kearah Zili yang masih berdiri disampingnya dan terlihat tidak ingin Menjauh, “duduklah..” perintah laki-laki tersebut menyerukan gadis itu untuk duduk diatas kursi tunggu.


Menggelengkan kepala karena kursi tersebut terlihat penuh dengan orang-orang yang berteduh serta pejalan kaki hingga menyisahkan sedikit tempat yang mungkin hanya cukup untuk menampung seorang saja “tidak mau..” tolak gadis itu lebih memilih untuk berdiri bersama putra mahkota.


Menyadari perilaku Zili, putra mahkota tersenyum senang lalu membuka Jaket hoodie miliknya, meraih tubuh Zili lalu menghadapkan kearahnya “masukan tanganmu” ucapnya melentangkan jaketnya dibelakang Gadis itu.


Perilaku putra mahkota sontak mengejutkan gadis itu hingga membuatnya mengeluarkan air mata “shi.. shou..”


Mulai membersihkan air mata, “hmmm” geleng gadis itu “aku kira kau mengingatkanku pada seseorang..”


Tersenyum tipis, menutup jaket Zili ketika kedua tangan gadis itu telah masuk kedalam lengan jaket tersebut “benarkah...?” tanya laki-laki tersebut “mungkinkah Xu’i...?” Uji putra mahkota, mencoba membuat Zili mengakui identitasnya.


“Hahaaha..” tertawa paksa “mana mungkin..” jawab gadis itu cepat.


Tersenyum lembut menegakan kembali tubuh yang tadinya membungkuk, “benar juga..” Ucap laki-laki tersebut menghadap tubuh kejalanan kota, melirik sedikit kearah Zili yang masih berdiri menghadapnya, menunduk kepala menggenggam tangan laki-laki tersebut dengan kedua tangannya “mana mungkin orang biasa sepertimu memilki kenangan bersama Xu’i, iya kan..?”


Menggenggam erat tangan putra mahkota dengan kedua tangannya, mulai menghapus air mata “benar sekali” jawab gadis itu, Lalu menyandarkan kepala dilengan atas laki-laki dihadapannya lalu mengeluarkan tangisan rindu, menyembunyikan wajah dihadapan banyaknya orang yang berdiri disana.

__ADS_1


Menutup topi hoodie keatas kepala Zili, putra mahkota membiarkan gadis tersebut terus menangis dilengan tangannya.


*********


Didalam mobil bus yang terus melaju dengan suasana keramaian yang membisingkan telinga, diantara goncangan yang kadang tiba-tiba muncul, Zili terlihat sedang memegang Mie cup ditangannya.


Memakannya dengan lahap setelah putra mahkota meniupkan Panas untuknya “jangan banyak-banyak” perintah laki-laki tersebut “kau akan sakit jika berlebihan” lanjut laki-laki tersebut mulai menarik Mie cup dari tangan Zili dan meletakannya ditong sampah yang berada disamping laki-laki tersebut.


“Tapi aku baru makan dua suap saja.” Ucap Zili sedikit kesal tetapi tertahankan.


Memandang Marah sejenak, hingga membuat Zili tidak bisa melawannya “ dua suap saja sudah cukup untuk menahan rasa lapar hingga kita sampai ke restoran Keluarga kerajaan nanti.” Jelas putra mahkota lalu meraih kepala Zili agar bersandar dibahunya “sekarang tidurlah dulu..”


Menolak bersandar, meraih tangan putra mahkota agar menghentikan kegiatannya memaksa tidur Zili diPetang hari dengan suasana Hujan yang masih deras saat itu “restoran keluarga kerajaan..?” Tersenyum kecut “mungkinkah Tuan bisa masuk kesana..?”


“Kenapa tidak..?” tanya putra mahkota melepaskan tangannya lalu memaksa kepala Zili untuk bersandar dibahunya kembali “aku adalah keluarga kerajaan, tentu saja aku bebas makan disana.” Jawab putra mahkota, memeluk punggung belakang zili lalu tersenyum lembut ketika gadis itu menuruti perintahnya sembari mulai membaca majalah yang ia dapatkan dari kantung Belakang kursi dihadapannya dengan satu tangan.


Mengernyitkan dahi “bukankah tuan adalah anak yang tidak diakui..?” tanya gadis itu mulai menggeser kepala sedikit, merasakan kenyamanan bahu putra mahkota “mungkinkah anak yang tidak diakui bisa masuk kesana.?” Lanjut tanya gadis itu.


“Aku adalah anak spesial yang tidak diakui.” Tersenyum geli, melirik sedikit kearah Zili yang terlihat kebingungan dengan ucapan laki-laki tersebut.


Menegakan kembali tubuhnya menghadap putra mahkota, perilakunya tersebut sontak membuat putra mahkota juga ikut menghadapkan diri kearahnya.


Kembali meletakan kepala, kali ini kebahu depan laki-laki tersebut karena merasa Malu dan tidak sanggup untuk memandangnya “mungkinkah bisa begitu..?”


Meraih pinggang Zili untuk mendekatkan gadis itu kesisinya “tentu saja bisa..” jawab putra mahkota, kembali menghadap keposisi semula “jadi tahanlah sebentar saja hingga kita sampai disana..” Lanjut laki-laki tersebut mulai mencium Kepala gadis itu hingga membuat Gadis tersebut terkejut.

__ADS_1


“Baiklah” jawab gadis tersebut mulai memejamkan mata.


Detak jantung yang tak kunjung berhenti berdegup kencang membuatnya tidak bisa tertidur hingga Bus berhenti dan sampai pada tujuan mereka.


__ADS_2