
Memandang keatas,
Bergabung diantara kerumunan orang-orang yang terlihat begitu hormat kepada calon pemimpin negaranya.
Lontaran kata pujian dan kekaguman terdengar masuk kedalam rongga telinga. Putra mahkota yang sangat jarang sekali muncul didepan mata hari itu memporak-porandakan Ruangan bawah tanah penduduk desa Lu dipadang rerumputan Luas.
Tidak tahu apa penyebabnya,
Mereka mengira memang Tempat tersebut sengaja dihancurkan pihak kerajaan, mengingat dua orang pejabat tinggi negara lainnya juga terbang didekat Junjungan mereka.
“Gagal..” suara seorang laki-laki dewasa mulai menghindari kerumunan Orang-orang disana.
Lalapan api mulai dipadamkan para petugas pemadam kebakaran yang telah sampai ditempat tersebut. “bagaimana dengan rencana selanjutnya...?” tanya seorang dari balik headset milik laki-laki yang tadinya memandang putra mahkota dari bawah.
“akan sangat sulit dilakukan..” jawab laki-laki dewasa tersebut yang kini telah menutup kepala menggunakan jaket hoodie miliknya, memakai Headset berkabel, dia terlihat seperti seoraang laki-laki yang sedang mendengarkan musik “ Hentikan saja dulu “ larangnya terus berjalan hingga langkahnya terhenti ketika melihat seorang laki-laki berdiri, tersenyum remeh kearahnya “pasti, Xu’i sudah menyadarinya” lanjutnya sembari menekan tombol dikabel Headset, memutuskan panggilan.
“Ou bagus..” panggil laki-laki tersebut memandang laki-laki yang telah mendekat kearahnya.
Menepuk bahu “pasti...” ucap laki-laki yang kini berada disamping laki-laki dewasa tersebut “ aku ataupun Xu’i, pilih saja diantara kami berdua yang akan membunuhmu nanti..?”
“Jadi kau akan bergabung ke dalam kelompok militer kembali ...?” tanya laki-laki dewasa tersebut membalikan tubuhnya memandang punggung Pengusaha berbakat kebanggaan negara yang telah berjalan menuju kerumunan orang-orang yang melihat kebakaran api disana.
“Mana mungkin..” jawab laki-laki dewasa tersebut menghentikan langkah kaki pengusaha kebanggaan negara. , “aku hanya akan membunuhmu setelah menyiksamu nanti didalam penjara bawah tanah Klan Xu.”
“Mimpimu terlalu tinggi..” jawab laki-laki dewasa tersebut bersamaan dengan Pengusaha berbakat yang telah memasuki kerumunan orang-orang sembari mengantungi kedua telapak tangan didalam jaket hoodie yang telah menutupi kepalanya sedari tadi.
Memandang kelangit, tempat putra mahkota berada, “Xu’i..” panggilnya masih memandang putra mahkota yang telah berlalu pergi dari tempat tersebut.
*********
“Akhirnya bangun juga..”
Perlahan-lahan mata Zili terbuka,
Belum sepenuhnya sadar, samar-samar gadis itu memandang Langit-langit atap apartemennya. Mengedipkan matanya berkali-kali lalu memandang kearah samping.
“Tuan....” panggil gadis itu kepada putra mahkota yang terlihat sedang duduk dikursi samping kasurnya.
Menutup buku lalu membuang gagang permen keluar jendela.
Taaaakk..
Gagang permen mendarat tepat didalam sebuah Tong sampah besar yang berada dibawah bangunan.
__ADS_1
Kenapa bisa demikian...?
Ntahlah, mungkin saja laki-laki tersebut telah memperkirakan bahwa tepat dibawah jendela, tong sampah tersebut berada.
“kenapa kau tiba-tiba tertidur saat bertemu ayahmu..?” tanya putra mahkota sebelum Zili melontarkan pertanyaan.
“Benarkan aku tertidur, bukankah kau...
“Memang tertidur,” jawab cepat putra mahkota.
Mengernyitkan dahi kebingungan “tetapi kenapa aku merasakan pukulan ditubuhku saat itu.....?”
“Pukulan..” tersenyum tipis “jadi kau mengira aku tega memukul wanita yang kucintai, begitukah...?” pertanyaan putra mahkota sontak membuat Zili tidak enak hati untuk melanjutkan ingatannya saat itu. “ayahmu menunggu diruang tamu..” mengalihkan pembicaraan “dia sangat khawatir padamu jadi ..” tersenyum nakal namun tipis memandang Zili yang telah bangkit dan duduk ketika mendengar kabar ayahnya “jangan bahas kejadian di lorong bawah tanah kepadanya agar dia tidak lagi memikirkan keadaanmu” paksa putra mahkota dengan cara yang lembut, sepertinya laki-laki tersebut sangat mewaspadai jika saja Mentri keuangan akan mengungkapkan identitas laki-laki tersebut yang sebenarnya.
Mulai berdiri, menggenggam tangan putra mahkota yang tiba-tiba memeluk pinggangnya “hm” angguk gadis itu memandang sejenak kearah putra mahkota, lalu menundukan kepala malu.
Mulai berjalan, perlahan-lahan meninggalkan putra mahkota, menuju kearah pintu keluar yang tertutup.
Memandang kebelakang saat berada dipertengahan jalan “kenapa kau tidak mengikutiku...?” tanya Zili keheranan karena putra mahkota terlihat berdiri diam diposisinya.
“Lebih baik aku disini saja dulu..” jawab putra mahkota tersenyum lembut “pergilah..” perintahnya,
Ragu-ragu mulai melangkah kembali setelah melepaskan pandangan dari putra mahkota menuju kearah depan. “ayah..” panggil gadis itu mulai merindukan ayahnya.
Terkejut,
Air mata nya bercucuran deras membasahi pipi.
Tak tertahankan,
Berdiri gemetaran memandang seorang wanita yang telah berjalan cepat menghampirinya.
“Yang mul...
“Yang mulia...?” ucap wanita dewasa itu kepada Zili “bisakah kau memanggilku ibu mulai dari sekarang..?” pinta wanita dewasa itu mulai memeluk Zili.
“Maaf..” Tolak gadis itu “maafkan aku bibi..” lanjutnya menangis dipelukan wanita dewasa yang sedikit kecewa namun memahami maksud gadis didalam pelukannya.
“hmmm.” Wanita dewasa yang tak lain adalah ratu negara mengelengkan kepala “tidak masalah..” jawab Wanita itu “kau pasti merasa tidak enak kepada Shin’A dan Yu’A bukan..?” tanyanya memahami perasaan Zili yang sangat tidak ingin menimbulkan kebencian didalam hati putra dan putri ratu negara.
“Maafkan aku...” pintanya membalas pelukan ratu negara, sejujurnya dia juga sangat ingin menganggap wanita dihadapannya seperti ibunya sendiri tapi sayang sekali, ia tidak bisa melakukannya.
“Ibumu sudah datang..” ucap Ratu negara melepaskan pelukan Zili, ucapannya sontak mengejutkan gadis itu.
__ADS_1
“Ibu...”
“Yuanna brengsek..”
Pintu terbuka,
Terlihat raut wajah kesal seorang wanita dewasa yang telah membuka pintu dengan paksa.
“Kau...?” memandang kearah Zili yang masih mengenakan topeng “belum bisa dilepas ya..?” tanya wanita dewasa tersebut lalu berjalan menghampiri gadis itu, wajah kesalnya berubah menjadi Bahagia.
“Haaa hiks..” menangis memeluknya “kenapa tidak mengatakan bahwa kau adalah putriku..?” ucap Wanita dewasa tersebut memeluk erat gadis dihadapannya.
“Maafkan aku ibu..” ucap gadis itu kepada ratu bayangan ou nana yang masih menangis memeluknya.
Berjalan perlahan-lahan, melangkah kaki menjauhi Zili.
Rasanya sangat perih ketika mendengar Zili memanggil Istri saudaranya dengan kata yang sangat dia inginkan.
Tapi mau bagaimana lagi..!
Dia sangat memahami maksud gadis itu.
“Ibu..”
Panggil seorang gadis yang telah memasuki ruangan disana.
“Yu’A..” wanita dewasa tersebut terkejut ketika memandang putrinya telah bergerak cepat memeluknya.
Menangis memeluk ibunya sendiri “kenapa kau selalu menyembunyikan perasaanmu sendiri..?” tanya gadis itu menangis terisak-isak memeluk ibunya.
“Kau ini bicara apa..?” tanya Ratu negara tidak memahami perkataan putrinya.
“Harusnya bilang saja kalau kau merindukan kami..?” ungkap Putri istana kepada ibunya “aku juga ingin dekat denganmu..” ungkapan gadis itu mengejutkan ratu negara “aku ingin sekali dekat denganmu, tapi nenek selalu bilang kau sangat sibuk..” lanjut gadis itu lagi membuat ratu negara menitihkan air matanya kembali “kenapa semua orang menjauhkan kita berdua..?” tanya gadis itu terang-terangan “kenapa kau diam saja semua orang memisahkan kita..?” ungkapnya lagi menghentikan tangisan Ratu bayangan dan juga Zili yang mendengarkannya.
“Yu’a, kau ini bicara apa...?”
“Berhentilah berpura-pura yuanna..” ucap Ratu bayangan yang telah melepaskan pelukannya kepada Zili.
Melepaskan pelukan ratu negara, “panggil ibuku dengan panggilan ibu..” pinta putri istana kepada Zili, mengejutkan semua orang didalam ruangan termasuk Zili yang keheranan “aku mohon anggap saja dia seperti ibumu sendiri..” pintanya kepada Zili yang mulai meneteskan air mata kembali.
“Bolehkah aku melakukannya..?” tanya Zili yang mulai jatuh menangis.
“Aku tidak menyukainya tapi ...” berdiri menghadap Zili “tapi kalau bukan karena kau, mungkin ibuku akan selalu menderita merindukan kami selama hidupnya.” Lanjut Putri istana “jadi mulai sekarang, kau harus memanggilnya ibu, kau mengerti...?” tegas putri istana kepada Zili yang masih menangis sesunggukan didalam pelukan ratu bayangan yang telah duduk mengikutinya.
__ADS_1