
Cahaya Lampu dibawah langit langit atap menerangi seisi ruangan Luas. Lampu yang berada disebuah kap cantik, anggun dan menawan berwarna emas dengan kreasi mangkok seperti bunga besar menghiasai serta menambah pesona ruangan tersebut.
Suara televisi terdengar ricuh ditelinga setiap orang yang memperhatikannya. Tujuh Orang telah duduk selama beberapa menit yang lalu disofa ruangan menyaksikan tontonan menarik yang terkadang memicu ketegangan.
4 orang diantara mereka mengenakan seragam kerajaan, seorang lagi mengenakan gaun anggun khas kerajaan, seorang lagi mengenakan kemeja berwarna putih tanpa dasi yang melingkar dikerah nya dan seorang lagi tampak mengenakan gaun polos selutut kaki.
Diatas meja, beberapa bungkus makanan ringan tampak berserakan. Beberapa dari bungkus tersebut telah terbuka dan sesekali dari mereka mengambil makanan yang ada didalamnya.
“Brengsek Xu’i, Aku mau pergi kesana”
Yuanna yang tadinya mengambil makanan, dengan geram menggenggam plastik yang membungkus makanan ringan lalu melemparkannya kearah televisi. Pembungkus jatuh kelantai, makanan berserakan.
Dengan penuh kekesalan, Yuanna berdiri masih dengan Menyaksikan Siaran televisi yang sedang berlangsung. Semua orang yang berada disana tampak sangat memaklumi keadaan Wanita separuh baya yang telah berlalu pergi dari Ruangan tersebut.
*****
Sebuah drone berwarna hitam berbentuk pesawat telah dipersiapkan. Drone sengaja dipasang untuk mengawasi jalannya sebuah pertandingan lari yang tengah dipertaruhkan oleh putra mahkota dengan para petinggi Klan shen.
Tidak tanggung tanggung, syarat dari pertaruhan sangatlah memberatkan semua pihak. Meskipun demikian tampaknya Putra mahkota masih sangat santai dalam menghadapai pertaruhan yang akan dilaksanakan oleh muridnya.
Suara Keramaian Serta kericuhan bergabung menjadi satu. Di sebuah jalan bertanah lebar berwarna merah tanpa adanya bebatuan yang sengaja disingkirkan, banyak sekali orang orang dari desa desa Shen datang berbondong bonding berdiri berjejeran dipinggir jalan.
Mereka ingin menyaksikan secara langsung tanpa melalui televisi, pertandingan yang mempertaruhkan seluruh harga diri klan shen saat itu.
Matahari bersinar cerah masih terlihat jauh dari bagiat barat. Cahaya nya bahkan terpantul dari sebuah lambang berbintang emas yang terletak di bahu putra mahkota yang saat itu tengah memakai pakaian seragam kebanggaannya.
Seragam Dari Klan Xu, berwarna merah dengan selendang berwarna hijau dihiasi 8 buah pin dan juga kantung lambang putra mahkota serta sebilah Pedang yang tertutup sarung dipinggang kanannya.
Seragam yang sangat menawan, mempesona mata untuk memilikinya, seragam tersebut bahkan dilengkapi kantung kantung pada bagian dalamnya.
NTah bagaimana, namun kecerdasan klan Lu dalam mendesain beragam pakaian memang sangat terkenal diseluruh belahan dunia pada masa itu.
Putra mahkota bahkan selalu mempersiapkan senjata terbaik yang bahkan dibuat oleh tangannya sendiri dibagian Timur laut negara, tempat para klan Co berkumpul.
Klan bagi para penemu barang barang canggih bahkan senjatapun mereka mampu membuat menjadi yang terbaik diantara yang terbaik pada masa itu.
Suara kuda berwarna coklat tua terdengar meringkik ketika putri latih tiada tanding mulai naik menungganginya.
Tampaknya waktu pertandingan hampir dimulai. Di bagian perbatasan Desa Shen 2 dan 3, sebuah jalan lintas Penghubung yang digunakan untuk mempersingkat waktu perjalan telah di Buat.
Jalanan alternatif sengaja dibuat oleh klan shen menuju desa desa shen lainnya untuk melatih para pelajar sekolah militer dari klan shen.
Diatas jalan tersebut, telah berdiri seorang gadis berwajah mungil, berbentuk bulat dengan rambut sepunggung yang diikat satu ikatan kebelakang.
Mata Lebar dengan bola mata kecil namun bulu mata lentik naik keatas. Alis mata gadis itu tidak terlalu tebal tetapi juga tidak tipis. Wajahnya yang sedikit cekung kadang terlihat kurus saat gadis itu sedang menggigit kuat bibir kecil bawahnya menahan jantung yang berdegup kencang.
ZIli, dia lah gadis tersebut, gadis yang tengah berdiri didepan Putra mahkota yang saat itu berada dibelakangnya. Sesekali gadis itu menutup mata.
Saat itu, zili sedang berjuang keras melawan Putri latih tiada tanding yang sangat terkenal kemampuannya.
Zili bekali kali mengambil nafas. Dalam hatinya, ingin sekali dia menangis. Beban dipundaknya sangat lah berat apalagi yang dia pertaruhkan saat itu adalah kehormatan dari putra mahkota.
Disebelahnya, seorang Gadis yang lebih tua 3 tahun darinya tengah duduk diatas kuda menunggu waktu pertandingan dimulai.
Suara sorak sorakan masyarakat terdengar hanya mendukung putri latih tiada tanding saat itu.
Tidak ada yang mendukungnya, namun gadis tersebut tidak peduli. Yang ada didalam pikirannya hanyalah cara agar dapat memenangkan pertandingan.
Nafasnya mendesah. Ia lebih takut dengan pertandingan yang saat ini tengah diadakan dibanding dengan putra mahkota yang berada tepat dibelakangnya. Sedikit saja bergerak kedepan, tubuh remaja laki laki itu mungkin akan bersentuhan dengan punggung Zili.
SHin ji dengan Memakai seragam pelindung putra mahkota dan Lambang bintang 4 dibahunya tengah berdiri menghela nafas sembari melipat kedua tangan kebelakang dan kaki melebar.
Di sampingnya, Sandi yang mengenakan kacamata mengenakan pakaian kemeja Putih, sesekali Memperbaiki kacamatanya tengah memandang zili dengan keadaan penuh kekhawatiran.
Penasihat putra mahkota yang telah ditunjuk oleh raja shin secara langsung tersebut bahkan tidak pernah membayangkan bahwa Teman nya akan membuat keputusan yang membahayakan kehormatannya sendiri.
“Dengar aku..” putra mahkota mendekap Zili. Ia menyentuh punggung gadis itu dari belakang.
Semua mata memandang aneh menyaksikan tingkah putra mahkota yang sangat berada diluar pikiran mereka.
Mereka melihat, saat itu, Putra mahkota tengah meletakkan tangan kirinya melingkar didada atas zili. Lalu telapak tangan kanannya menyentuh sebagian atas wajah zili. Jari telunjuknya bahkan ia letakan tepat ditengah tengah kedua alis mata gadis yang sedang kebingungan dengan sikap putra mahkota.
Kepala putra mahkota telah tertunduk, mendekat ketelinga kiri Zili. Jari telunjuknya ia tekan agak kedalam dahi gadis tersebut.
Tiba tiba suara bisikan Putra mahkota ditelinga Zili terdengar mengejutkan gadis tersebut.
Zili, ia tengah dikendalikan dengan hipnotis yang di pelajari putra mahkota melalui gurunya Ou yatto.
Tidak tanggung tanggung. Putra mahkota bahkan mengeluarkan kemampuan khususnya agar Zili mampu memenangkan pertandingan.
“Gelap,,”
sontak zili terkejut karena pandangannya tiba tiba berubah menjadi gelap.
“Hanya ada cahaya bulan”
Zili yang tengah memejamkan mata saat itu sedang membayangkan bahwa ia tengah melihat bulan diatas langit.
“Hutan”
Tiba tiba zili merasa telah berpindah didalam hutan.
“Gerbang rumah terkunci”
Ingatannya kembali saat ia berada didepan gerbang rumah kediaman Xu.
“Srigala..”
Zili melihat srigala tengah mendekatinya..
“Bukan hanya satu, yang paling besar ada disampingmu”
__ADS_1
Gadis itu mulai melihat srigala lain berdatangan dari gelapnya hutan. Zili melihat kuda milik putri seolah olah adalah seekor srigala yang sedang berdiri disamping nya saat itu. Memandang dia dengan tatapan penuh kelaparan.
“Lari jika kau tidak ingin dimakan oleh mereka..kubilang lari sekencang kencangnya karena gurumu saat ini sedang tidak ada”
“Bersiap siap
1
2
3 “
“Priiit prrittt mulai” suara peluit tanda pertandingan lari berbunyi.
Seketika,tanpa ada nya persiapan, Zili langsung berlari menggunakan seluruh tenaganya dengan sangat cepat, ia terus berlari menelusuri jalanan tanah yang ada didepannya untuk menghindari Kejaran sekumpulan serigala.
“Tolong.. hiksss “ air matanya mengalir “tolong aku...hikss” terus mengalir membasahi pipi. Zili berlari sekencang kencangnya bahkan larinya mampu menyaingi lari kuda yang tengah dikendalikan oleh putri latih tiada tanding.
Semua mata tercengang. Terpaku membisu memandang keanehan yang terjadi kepada Zili karena ucapan permintaan tolong yang selalu disebut sebut olehnya.
Dalam pikiran mereka bukan lagi merasa kagum dengan kehebatan Zili dalam menyaingi kuda kebanggan putri latih tiada tanding namun rasa kasihan melihat keadaan gadis yang terus menerus menangis meminta pertolongan.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, mereka dengan segera mengeluarkan suara teriakan mendukung putri latih tiada tanding.
“Antar aku ke perbatasan shen 4 dengan shen 5” perintah putra mahkota kepada supir pribadinya sesaat setelah ia menatap punggung zili yang tengah menangis meminta pertolongan.
“Kau tidak ingin mengawasinya?”
Shin ji merasa aneh dengan sikap tidak peduli Temannya yang lebih memilih pergi ke garis final dibanding mengawasi drone yang disiarkan disebuah televisi besar yang berdiri diatas penyanggahnya terletak di sebelah kiri jalur lintas pertandingan.
Putra mahkota tidak menjawab, dia terus berjalan menuju mobil diikuti oleh sandi yang sekilas memandang Shin ji sembari mendesah.
Melihat sikap temannya, Shin ji tersenyum kecut lalu menuju kearah podium tempat para pengawas pertandingan duduk. Saat itu, lebih baik ia ikut serta mengawasi Keadaan zili meskipun putra mahkota tidak memerintahkannya secara langsung.
*****
Sebuah drone tengah melaju cepat mengikuti alur kecepatan lari kuda diudara. Seekor kuda berlari kencang, sesekali Bagian belakangnya dipukul menggunakan sebuah cemeti oleh penunggangnya karena tidak ingin kecepatan kuda berkurang.
Zili, masih dengan tangisannya terus berlari diatas jalanan tanah, kecepatan larinya mampu mengimbangi lari kuda.
Dalam pandangannya, yang ia lihat hanyalah lingkungan hutan gelap dengan kesunyian malam. Dengan pepohonan tinggi disekitarnya. Saat itu ia merasa sedang dikejar kejar oleh sekumpulan srigala, bahkan ia terus berlari untuk menghindari srigala yang berada disampingnya. Srigala yang juga sedang berlari mengimbanginya.
“Aaakkkhh hikss. Sakit sekali..hiksss tolong”
Beberapa bola tiba tiba muncul menggelinding dihadapannya, Menghalangi larinya dan membuatnya sontak jatuh tersungkur diatas tanah.
Darah keluar dari dagu dan kedua lutut zili, dia mulai merasakan kesakitan, lelah tidak lagi mampu ia rasakan. Air mata yang jatuh kepipi mengalir hingga ke luka didagu yang baru saja ia dapatkan menambah rasa sakit yang tengah ia rasakan.
Zili menyingkirkan bola tersebut, ia merasa aneh dan bertanya tanya dari mana datangnya bola ditengah hutan yang gelap saat itu.
Terus bertanya tapi tidak menemukan jawabannya. Gadis malang lalu memandaang lurus. Ia melihat seekor kuda berlari meninggalkannya.
Dengan cepat ia berdiri lalu mengejar kuda tersebut, berharap orang yang menungganginya mau menolong keadaan dirinya yang masih merasa sedang dikejar sekumpulan srigala.
Semua orang merasa kasihan mengingat pertandingan yang tidak cukup adil karena kedatangan bola yang tiba tiba sengaja digelindingkan oleh beberapa anak anak dipinggir jalan.
Ntah datang dari mana mereka yang tiba tiba membawa bola lalu melepaskan bola dari tangan mereka. Yang lebih parah, bola hanya menggelinding disebelah kanan jalan, Sisi Dimana tempat Zili berlari .
“Tunggu,, haaa..haaa...haaa.tunggu” teriak zili terus berlari mengejar kuda tersebut.
Putri latih tiada tanding mendengar teriakan Zili, ia merasa sangat kasihan melihat keadaan gadis dengan aliran darah di dagu dan lututnya.
Ia berpikir untuk menyerah tapi saat itu nasib klan shen ada ditangannya. Dengan terpaksa Gadis yang baru saja lulus SMA, terus mengendalikan kuda nya menuju kegaris akhir.
Putra mahkota berdiri menyandar sebuah pohon mangga tinggi dipinggir jalan. Ia melipat kedua tangan didepan dada, memejamkan mata mendengarkan suara keramaian dengan sebelah kaki sedikit terlipat kebelakang.
Remaja laki laki itu sedang menunggu kedatangan muridnya digaris akhir. Dia sama sekali tidak peduli dengan sikap orang orang disekitarnya yang sedari tadi memandangnya dan bahkan sampai mengambil foto remaja laki laki tersebut.
Meskipun memiliki foto putra mahkota, mereka sama sekali tidak berani untuk mengunggahnya kemedia sosial karena adanya peraturan yang melarang hal tersebut.
Mereka dengan senang hati menyimpan foto tersebut untuk mereka sendiri, bahkan ada juga yang langsung menjadikannya sebagai wallpaper ponsel mereka.
Sandi berada di atas jalanan tanah, sebuah tali pita berwarna Biru melintang ditengah jalan. Tali pita tersebut di pegang oleh dua orang yang saling berhadapan menunggu kedatangan para peserta lari.
Dari kejauhan, mereka melihat kedua peserta sedang berlari beriringan, satu menunggangi kuda dan satu lagi melambaikan tangan berlari disampingnya.
“Tolong tolong aku,, ada srigala” teriak zili terdengar sampai ketelinga mereka.
Putri latih tiada tanding menggigit bibir bawah. menahan rasa iba yang tak terhingga. Tanpa peduli ia terus mengendalikan kuda.
“Aku harus menghentikan dia dari depan” gumam zili dalam hati. Ia terus berlari untuk melampaui kuda.
Semakin dekat ia menuju ke garis akhir. Zili terus berlari hingga mampu berada disebelah kepala kuda. Putri latih tiada tanding sampai terkejut, tidak menyangka.
Dalam hatinya, saat itu ia mengakui kehebatan lari putri mahkota, tapi tetap saja ia tidak boleh menyerah.
“Tolong aku ,, hikssss hiksss” zili memohon sembari memandang wajah gadis diatas kuda yang sedang membuang muka.
Garis akhir telah sangat dekat. Zili berlari terus hingga menyentuh pita beriringan dengan moncong kuda saat itu. Bahkan semua orang tidak tahu, siapa pemenangnya
Tidak peduli dengan apapun. Zili melentangkan kedua tangannya didepan kuda. Ia sangat berharap memperoleh pertolongan saat itu.
Putri latih tiada tanding segera turun dari kudanya untuk mendekati Zili.
“Tolong..hikss..tolong aku mohon” teriak nya keras dengan air mata bercucuran.
Mata Zili tiba tiba membelalak, memandang gurunya tiba tiba muncul tepat didepan mata. Begitu juga dengan putri latih tiada tanding yang langsung menghentikan langkah kakinya.
“Shisou” suara tangisnya “shisou tolong tolong aku..tolongg aku..hikss.tolong aku” teriaknya sembari memeluk putra mahkota yang disambut langung oleh remaja laki laki tersebut.
“Tenang saja, semua srigalanya telah mati kubunuh”
__ADS_1
“shisou, benarkan benarkan, jangan bohong...shisou, tadi saja mereka masih mengejarku”
“Kapan aku pernah berbohong padamu?”
“hiks..shisou.. sakit sekali.. hikss..tolong aku,, takut sekali shisou..aku mohon lindungi aku”
“tentu saja saat ini aku sedang melindungimu, sekarang tidurlah” bisik putra sembari memukul pelan leher Zili, yang secara spontan membuat gadis itu jatuh terlelap dipelukan gurunya.
Sandi berjalan mendekat, “berikan dia padaku, biar aku saja yang membawanya ke asrama”
“Tidak perlu” tolak putra mahkota sembari mengangkat tubuh muridnya.
Saat itu sandi tengah menebak apa yang sedang dipikirkan temannya namun Sangat sulit baginya untuk mengetahui perasaan yang tengah dirasakan orang yang dimasa depan akan menjadi Rajanya.
“Yang mulia, putri mahkota telah kalah”
ketua klan menunjukan bukti kekalahan putri mahkota, sebuah video yang diperbesar dimana moncong kuda lebih dulu menggapai tali pita.
“Kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi!”
“Apa maksud anda yang mulia”
“Tunjukan buktinya” tiba tiba seorang muncul melompat turun dari atas pohon.
Sontak ketua klan dan rombongannya terkejut melihat laki laki berpakaian ninja berwarna merah “kelompok elite” gumam Ketua klan dalam hati.
Ia tidak menyangka, putra mahkota secara langsung mempekerjakan kelompok elite untuk mengawasi jalannya pertandingan.
Kelompok elite merupakan kelompok gelap negara yang diakui sebagai kelompok terkuat karena dikendalikan secara langsung oleh Raja bayangan xu idris.
Ketua klan tertegun. Sebuah Gambar dilempar kehadapannya.
“Bagaimana caramu mengedit video,? Kau mau membodohiku” remaja laki laki itu mulai menatap tajam kearah ketua klan “ jelas yang menang adalah putri mahkota, tidak bisa kau lihat foto itu” pandang remeh putra mahkota masih dengan Zili diatas kedua tangannya.
“Yang mulia, mohon maaf, tapi pertandingan ini sungguh tidak adil”
“Tidak adil lagi yang kau bilang” remaja laki laki itu mulai emosi.
“Yang mulia, tidakkah kau lihat, cucu ku bahkan tidak mampu berpikir jernih karena melihat tangisan putri mahkota, sungguh dia merasa sangat kasihan”
“Kakek, aku...”
“Diamlah kau anak bodoh, “ bentak ketua klan.
Ia sedang berusaha agar cucunya tidak jatuh ketangan putri mahkota.
“Akui kekalahan mu bangsat” bentak Putra mahkota sembari menggertakan gigi menahan geram.
“Yang mulia, sungguh sangat tidak adil menghipnotis putri mahkota untuk memenangkan pertandingan”
“Kau juga tidak adil memerintahkan anak anak klan shen menggelindingkan bola dihadapan putri mahkota”
“Yang mulia, sungguh itu bukan atas perintah kami”
“Diam mulutmu brengsek, akui saja kekalahan kalian”
“Yang mulia, ...” belum lagi ia melanjutkan kata katanya putra mahkota telah berjalan menghampirinya untuk menendang kaki ketua klan agar jatuh berlutut dihadapannya.
“Yang mulia, jika anda memukul saya ,maka reputasi anda akan menjadi buruk”
“Siapa yang peduli reputasi brengsek,” geram putra mahkota yang telah menjatuhkan kedua lutut ketua klan.
Ia lalu bersiap siap untuk menendang wajah ketua klan yanh ada di bawahnya agar dia mau mengakui kekalahan cucunya.
“Akui brengsek” bentaknya sembari mulai mengangkat kaki.
Ketua klan tersenyum licik. Saat itu ia ingin membuktikan kepada semua masyarakat Negara NC bahwa putra mahkota mereka saat ini tengah gila dikarenakan seorang wanita.
Ketua klan berencana memisahkan Putri mahkota dengan putra mahkota karena menganggap putri mahkota telah meracuni otak calon raja mereka.
“Xu’i jangan lakukan itu” teriak Sandi melarang.
Dia sudah menebak bahwa saat itu ketua klan sedang merencanakan hal buruk kepada temannya.
KRudukrudukrudukrudukrudkurkudkrkudkdudkduk
Suara helikopter terdengar ditelinga, mata semua orang memandang keatas. Melihat seorang wanita separuh baya sedang berdiri memandang kebawah, wanita itu menatap tajam memandang kearah ketua klan shen yang saat itu tengah tertegun menatap kearahnya.
Rambut panjang serta gaun bagian bawah yang mengembang, mengibar terkena angin. Sesekali wanita itu menyingkirkan rambut yang menutupi mata.
“Yoooo Xu’i” teriak yuanna sembari melompat kebawah ketika helikopter hampir selesai mendarat.
“Salam hormat yang mulia ratu” semua orang terduduk memberikan hormat.
“Tidak perlu, kalian semua para bajingan klan shen” maki yuanna sembari terus berjalan mendekati Ketua klan shen.
“Ngapain kau datang?” Putra mahkota tersenyum kecut tidak ingin memandang.
“Kenapa kau tidak jadi menendangnya”
“Yang mulia, mohon jagalah reputa...”
“Reputasi sialan, siapa juga yang peduli” yuanna mengangkat kaki menendang ketua klan hingga jatuh tersungkur diatas tanah.
Semua orang tertegun memandang yuanna, mereka sangat kenal dengan ratu gila mereka yang bisa kapan saja sesuka hati menghukum orang bahkan jikapun orang yang dihukum tersebut tidak tahu kesalahan mereka sendiri.
********
YAhooo .. maaf ya Lama update nya.
Dan terima kasih masih mau menunggu kelanjutan cerita dari saja.
__ADS_1
Saya usahakan deh, kalau bisa akan update setiap hari kalau viewernya sudah naik ke angka 20k.
Maka dari itu. Mohon dukungan like dan Commentnya agar angka viewer juga cepat naik.