
Sunyinya malam menenangkan jiwa.
Jarum jam telah menunjukkan angka dua.
Suara jangkrik semakin lama terdengar semakin menghilang, sesekali suara batuk dari seorang tentara penjaga diluar rumah terdengar.
Pangeran istana tersenyum lembut memandang dengan seksama wajah Zili yang tengah tertidur dari bawah.
Masih mengelus kulit wajah lembut gadis itu, tangannya mulai bergerak kemata yang tertutup “cantiknya...
Ucapnya menyentuh bulu mata “kenapa baru sekarang aku menyadarinya?” ia bangkit, duduk lalu berbalik menghadap ketubuh zili.
Hembusan nafas gadis itu terdengar beraturan, ia terlihat begitu lelap jatuh kedalam mimpinya.
Masih mengembangkan senyumannya menatap wajah gadis itu,kini pangeran istana telah memegang kedua lutut bagian bawah dan juga punggungnya, berdiri mengangkat tubuh gadis itu dengan sangat mudah “kenapa kau kurus sekali?” gumamnya masih memandang lekat lalu mulai melangkah menuju kekamar yang biasa ditempati zili.
*********
Mulai melangkah memasuki kamar, wajah pangeran istana terlihat sedikit sedih. Ntah apa yang terjadi, tetapi tampaknya, ia masih sangat ingin melihat zili dipandangan matanya.
Berdiri didepan kasur, dengan terpaksa ia meletakan tubuh kurus zili diatasnya, menutup tubuh dengan selimut lalu berbalik dan melangkah kaki.
Beberapa saat kemudian ia berhenti, menghela nafas berat, lalu berbalik kembali.
Berjalan Menghampiri Zili yang masih tertidur lelap. “Apa yang kulakukan?” ucapnya lalu berbalik lagi. Beberapa detik berikutnya, ia berbalik lagi menatap Zili.
Pangeran istana tersenyum, ia mulai mendekati wajah Zili dan memegang pipi gadis itu dengan tangannya.
Ceeeekkkkriiiiikkk
Suara jepretan kamera ponsel terdengar mengejutkan pangeran istana.
“Waahhhh....
Ia membelalak mata ketika melihat putra mahkota yang sedang menyamar menjadi Sun shin Sa’i duduk diatas sebuah kursi dekat dengan jendela.
Melipat kaki, lalu menahan salah satu tangan dengan meja belajar empat kaki disampingnya sembari memutar ponsel berkali-kali dengan tangannya. “jelas sekali terlihat pangeran istana ingin melecehkan putri mahkota” ucapnya membuat geram pangeran istana yang telah bersiap menyerangnya.
Cepat...
Pangeran istana berlari cepat.
Tetapi sayang,
Putra mahkota jauh lebih cepat.
Baaaaaakkkk...
Punggung pangeran istana tertendang kaki hingga jatuh menatap kursi yang tadinya disinggahi putra mahkota.
Pangeran istana berdiri, lalu berbalik “kau...
__ADS_1
Dia tampak terkejut menemukan orang lain yang tak dikenal bisa bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengannya.
“aku bahkan belum menggunakan setengah dari tenaga ku, kau malah sudah terpelanting jatuh” ucap putra mahkota remeh masih memutar ponsel dengan salah satu tangannya.
Dia berdiri tepat disamping tempat tidur zili yang kini telah bangun.
Pangeran istana semakin dibuat geram “berikan” ucapnya lalu mengeluarkan pistol berwarna emas dari seragam kerjanya.
Hal tersebut sontak membuat Zili membebelak mata.
Dooooor...
Suara tembakan menegangkan suasana, mengejutkan semua penjaga yang langsung berhamburan lari menuju kesumber suara.
Benar saja.
Pangeran istana tidak pernah ragu-ragu menembak siapapun yang ia anggap salah “Glock 20, kecepatan tembakan perdetik lumayan tinggi” putra mahkota menganggukan kepala “1600 kaki,” ucap laki-laki itu memandang remeh kearah saudaranya. “Ini mudah....
Lanjut putra mahkota lagi yang telah berhasil menangkap peluru dengan kedua jari tangan dan menghempaskannya keluar jendela.
Semakin terkejut.
Tubuh zili bahkan sampai menggigil dengan ketegangan yang ada didalam kamarnya.
Geram,
Pangeran istana tampaknya tidak menyerah begitu saja dengan satu tembakan.
“Aku mohon...
Bagaimana tidak?
Gadis itu kini telah berada didepan putra mahkota, melentangkan tangannya untuk melarang pangeran istana menembak lagi. “Jangan tembak dia” teriaknya mengejutkan semua tentara penjaga yang kini telah memasuki ruangan kamarnya.
“Minggir...
Perintah pangeran istana geram.
“Tidak mau,” tolak Zili “aku tidak mau minggir” tambahnya lagi.
“Kau...
“aku mohon cukup aku saja hiks hiks.....
Air mata Zili mulai mengalir deras “cukup aku saja yang kau siksa selama ini” pintanya memelas “jangan menyiksa orang yang berharga bagiku juga, aku mohon ...hiks...
Tangisan nya memecahkan suasana ketegangan. Menegun pangeran istana serta mengejut putra mahkota.
“Foto ini” putra mahkota menunjukan gambar pangeran istana yang sedang akan memegang wajah Zili “akan ku kirim kedalam aplikasi media sosial NC” ancamnya lalu mendekati ibu jari ke tombol kirim yang layarnya disaksikan pangeran istana.
“Berani sekali kau...
__ADS_1
“Tangkap saja sebelum aplikasi memproses data” lanjut putra mahkota melempar ponsel kesamping kanannya “gunakan keahlian klan Zinmu jika kau tidak mau foto ini terkirim” tambah laki-laki tersebut dengan remehnya lalu mengangkat tubuh Zili dan membawanya pergi.
Detak jantung tak karuan, pangeran istana yang telah menghitung kecepatan dorongan kakinya dengan sigap menangkap ponsel.
“Sial” ucapnya geram “aku tertipu” ia melihat foto tersebut belum terkirim diaplikasi media sosial negara NC. “kejar mereka” teriaknya kepada tentara penjaga yang masih terpaku diam membisu melihat kecepatan lompatan dan langkah lari putra mahkota yang telah menghilang dari jendela kamar zili.
*******
Melewati kandang Kambing.
Terlihat puluhan hewan tersebut sedang terbaring, sesekali dari mereka juga memakan rerumputan.
Terus berlari,
Zili tampak lega memandang wajah putra mahkota yang sedang menyamar dari bawah.
Wajahnya merah. Mungkin dia sangat malu, gadis itu mulai menunduk.
Beberapa saat kemudian, terasa ayunan diudara.
Dengan mudahnya putra mahkota melepaskan salah satu tangannya dari tubuh Zili, lalu memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangan lain tanpa mendaratkan kaki nya ditanah.
Haaaa.....
Sungguh pemandangan yang luar biasa menegangkan. Dibawah langit yang penuh bintang, tubuh mereka berayun menuruni bukit perlahan.
Sesekali tali terlepas, gaya membawa mereka turun cepat, lagi, kecepatan menurun telah berhenti setelah putra mahkota meraih dahan pohon dengan talinya kembali.
Berayun-ayun diudara, memandang malu wajah putra mahkota yang tersenyum memandangnya.
Terus memperpanjang tali menuruni bukit. Kini mereka berdua telah berada ditambak ikan.
Cahaya lampu kuning mulai menerangi kegelapan.
Terlihat jelas wajah putra mahkota setelah kaki mereka berdua mendarat diatas tanah.
Putra mahkota menarik kembali talinya memasukan kedalam jam. Memperbaiki jam beberapa kali dengan memutar kekiri dan kekanan lalu memandang Zili yang telah lepas dari pelukannya.
“tu... tu...
“Aku merindukanmu” ucap putra mahkota malu-malu dengan senyuman lembut menggetarkan jantung zili yang langsung berdegup kencang.
Malu-malu Zili memandang putra mahkota, begitu pula putra mahkota yang langsung menghadapkan tubuhnya kesisi kirinya.
Memandang kolam-kolam ikan air tawar dan sebuah pondok kecil serta tiang-tiang kayu yang berdiri dengan lampu-lampu menggantung diatasnya.
Zili menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal, melirik kearah putra mahkota yang sedang memegang leher belakangnya malu dengan salah satu tangan.
“Tuan...
Mendengar panggilan, putra mahkota mulai menoleh kepala kearah Zili. “itu.....
__ADS_1
Ragu-ragu Zili mendekat, gerakannya yang mendekati putra mahkota semakin membuat laki-laki itu tampak gugup “kenapa anda membawa saya kemari?” tanya Zili mendongak wajah memandang putra mahkota yang kini telah menghadapkan tubuh kembali kearahnya.
Putra mahkota tersenyum “bukan kah aku sudah bilang, aku merindukanmu”lalu dengan sigap meraih kepala gadis itu dan memeluknya “aku sungguh sangat merindukanmu, jadi terpaksa membawamu kemari” lanjutnya lagi semakin membuat degup jantung Zili berdetak tak karuan.