Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Ruangan mengerikan


__ADS_3

Senyuman manis menghiasi.


Berjalan menelusuri Lorong bercahayakan lampu putih, lorong panjang yang tiada habisnya, meskipun demikian, sungguh, mereka yang sedang bersama saat itu tidak menyadari bahwa mereka telah berjalan berjam-jam lamanya.


Ah,


Terdengar desahan berat putra mahkota.


Kali ini mereka telah menemukan pintu Masuk lainnya.


Tidak tertutup,


Tetapi kegelapan menyelimuti ruangan disana.


Menoleh kebelakang kearah Wanita miliknya, “hampir sampai..” ucap laki-laki tersebut memandang wajah malu Zili yang sedari tadi menundukan kepala.


Lelah,


Tidak sedikitpun terpikirkan untuk merasa lelah,


Hauspun tidak lagi terasa.


Sungguh, memang luar biasa efek dari yang namanya Cinta.


Mampu menguatkan perasaan tetapi juga mampu membuat perasaan hancur tak tersisa.


Tetesan keringat tanpa disadari telah membasahi pakaian mereka, terlebih lagi pakaian Zili yang telah mengenakan Dua helai ditubuhnya.


Kaos yang robek, ditambah dengan kemeja besar Yang berlebihan menutupi tubuhnya.


Terlihat seperti orang-orangan sawah, meskipun demikian, sungguh, bukan wajah ataupun fisik yang menentukan perasaan hati putra mahkota untuknya.


“Jadi dia disana ya..?” pikir gadis itu, laki-laki yang sangat dicintainya berada dibalik Pintu tak bercahaya.


Kacau,


Perasaan itu mulai menyelimuti hatinya ketika ia mengingat akan bertemu Putra mahkota padahal putra mahkota yang sebenarnya ada didepan mata.


Terus berjalan, hingga berdiri tepat didepan pintu. “Ayahmu yang ada disana...” jawaban putra mahkota mengejutkan Zili.


Terlepas tangannya “ayah...” teriak gadis itu mengejutkan putra mahkota, berlari kencang karena dia sangat mengetahui bahwa ayahnya, Mentri keuangan bukanlah orang yang pandai dalam seni bela diri.


Sungguh lama tidak bertemu, dia sangat merindukan Ayahnya sendiri.


“Hati-hati...” teriak putra mahkota berlari kencang.


Wuusss..


Haaaa...


Benar saja,


JEBAKAN.


Hampir saja, hampir saja Zili terperangkap jaring jika putra mahkota tidak cepat meraih tubuhnya “Ceroboh sekali...” bentak kesal putra mahkota, terbaring diatas Lumpur yang menyelimuti tempat tersebut.


“Maafkan aku..” Panik memang menjadi alasan tersendiri bagi orang untuk bersikap ceroboh. Sama halnya dengan Zili yang begitu mengkhawatirkan keadaan ayahnya hingga perasaan tersebut muncul didalam hatinya.


Kotor sekali,


Pakaian mereka sangat kotor.


Sungguh tempat tersebut dipenuhi Lumpur yang memberatkan orang untuk berjalan melangkahkan kaki disana.


Mengangkat tubuh Zili bersamanya “tuan..” panggil gadis itu ketika telah berada diatas kedua tangan putra mahkota.


“Diam saja..” ucap putra mahkota “jangan merepotkanku lebih dari ini” lanjut laki-laki tersebut terang-terangan agar Zili memahami situasi dan keadaan laki-laki tersebut saat ini.


Walau bagaimanapun, hanya dia lah satu-satunya yang akan berjalan tanpa kesulitan didalam lumpur disana.


Dan hanya dialah yang mengetahui titik-titik dimana jebakan diletakan.


Putra mahkota memang sangat hebat, sungguh instingnya dalam pertarungan tidak lagi diragukan.


11 tahun lamanya berlatih dan berkali-kali memasuki Area Kemiliteran negara bahkan terkadang, diusia yang sangat muda mampu mengikuti pelacakan para mafia narkoba dan penyelundupan senjata dari negara Luar yang diam-diam masuk kenegaranya. laki-laki tersebut memang tumbuh menjadi remaja yang memiliki bakat luar biasa didalam pertarungan.


Jalan begitu mudah, namun waspada.


Terkadang melompat keudara, berputar membawa waanita miliknya dengan mudah.


Menuju kearea dinding, lampu senter jam tangan mulai dinyalakan kembali setelah sebelumnya dimatikan.


Haa..


Gadis itu mulai menyadari, sungguh perkataan Penasihat dan pelindung putra mahkota memang benar adanya.


Menyusahkan dan merepotkan.

__ADS_1


Itulah yang ada dipikiran Zili, karena terus menerus tidak bisa melakukan sesuatu sementara putra mahkota harus terbebani dengan membawa tubuhnya.


Takkk...


Satu dua tiga...


Lampu-lampu mulai menyala setelah putra mahkota menurunkan Zili dan mengotak-atik kontak listrik didepannya.


Jejeran tiang lampu terlihat jelas berada dipertengahan ruangan.


Menggigil, mual, muntah.


Terlihat beberapa penjara yang berisi beberapa mayat yang tergantung disana.


Sungguh mengerikan,


“Ayah.. hiks..”mulai menitihkan air mata, sangat takut jika ayahnya termasuk kedalam bagian dari orang-orang yang terlihat menggantung didalam penjara.


Tidaak ada lagi tersisa tetesan darah, hanya darah yang mengering menodai pakaian yang mereka kenakan didalam penjara.


Mengangkat tubuh Zili kembali.


Bergerak mendekati sebuah pintu dinding yang tertutup,


Pasti, ada sebuah layar dinding disana yang mampu membuka pintu.


Sudah tidak diragukan lagi, memang putra mahkota sangatlah Cerdas.


Terus melangkah, mudah saja baginya menemukan letak Laci dinding keyboard komputer yang sedikit jauh dari pintu dinding disana.


“Naiklah kepunggungku..” pinta putra mahkota tidak membiarkan Zili turun kebawah, menapakan kaki diatas lumpur.


Tidak ragu melaksanakannya, karena tidak ingin lagi merepotkan putra mahkota.


Memegang kedua bahu laki-laki tersebut, mulai beranjak kebelakang punggungnya.


Menekan bagian dinding,


Terbuka,


tepat didepan dada putra mahkota telah terbuka sebuah laci dinding yang terdapat keyboard komputer didalamnya.


A W Z ..


Mana saja huruf-huruf dalam keyboard telah ditekan laki-laki tersebut.


Sungguh, musuh telah mengetahui dengan pasti bahwa putra mahkota memasuki wilayah mereka.


Hanya saja, tidak seorangpun dari mereka yang berani memperlihatkan diri.


Takut mati.


Mau bagaimana lagi, Berapa banyak orang yang akan dikerahkanpun percuma untuk menangkap laki-laki tersebut.


Hanya kecerdasan optimal lah yang mungkin saat itu mereka sedang andalkan.


Bergelut melawan musuh didalam layar dinding.


Jari-jari tangan putra mahkota begitu Lincah menekan tombol keyboard disana.


Memang,


11 tahun lamanya, disaat waktu luang, setelah berlatih sekalipun putra mahkota masih saja membaca buku dan kadang mempraktekannya.


Bergelut dibidang teknologi, tidak dipermasalahkannya, sangat beruntung, otaknya yang mampu mengingat cepat, mempermudahkan ia belajar hingga menguasai Ilmu begitu mudah hanya dalam hitungan menit saja.


PASSED.


Ingin tertawa, karena merasa Lucu, namun sayang, ia menahannya karena ada zili bersamanya.


Pikir laki-laki tersebut,


Bagaimana mungkin Seorang Bapak teknologi negara NC bisa dikalahkan dengan begitu mudah Oleh seorang pria remaja..?


Iya,


menimbang bahwa Belajar dari kecil seperti mengukir diatas Batu,


Tentu saja mereka yang berpengalaman sekalipun akan tetap kalah dengan mereka yang rajin berusaha.


Yang rajin dan bersabar menekuni Kegiatannya sungguh memiliki pengalaman lebih banyak karena kegagalan yang terus mereka dapatkan ketika berusaha.


BAaaaammmm...


Layar dinding pecah,


Diledakan.

__ADS_1


Tetapi putra mahkota masih bisa tersenyum karena pintu terbuka.


Pintu terbuka lalu perlahan-lahan menutup kembali.


DUuuaaaaaarrrr...


Ledakan terjadi disebrang pintu.


Terus meledak,


Memang,


Ranjau yang dipasang musuh begitu canggih.


Hingga tanpa diinjak sekalipun mampu diledakan oleh mereka.


Meraih tubuh Zili, lalu tersenyum senang “tuan..” gadis itu mulai meneteskan kembali air matanya setelah sebelumnya berhenti menangis.


Mengangkat tubuh Zili keatas udara.


Duuuuaaammmm “ tuan tidak mau..” tolak Zili mengetahui dengan pasti bahwa putra mahkota akan melemparnya masuk kedalam pintu yang akan tertutup.


“Selamatkan ayahmu..”


Pinta putra mahkota mulai menghitung angka dalam pikirannya.


Menggunakan Keahlian Klan Zin untuk melempar wanita miliknya.


Menggeleng kepala “hiks tidak mau..” tolak Zili, tapi sayang, penolakannya tidak diterima.


“Tuaaaannn.....”


Teriak gadis itu melayang diudara.


“Jangan merepotkanku” ucap putra mahkota memandang Zili yang telah terbang diudara.


“Tuuuuuuaaaaan....”


dUaaaaaammmmmmmm


Pintu dinding tertutup.


Zili telah masuk kedalamnya, mendarat dengan sempurna.


“Bukaa... bukaa...bukaa...” teriak gadis itu, berlari lalu menggedor-gedor pintu dinding yang tertutup.


“Siapa kau...?” Tidak mempedulikan pertanyaan penasihat raja yang terlihat terkejut dengan kedatangan Zili


“Bukaaaaa.....” gadis itu terus berteriak memohon pintu untuk terbuka.


“Suaramu..?” sepertinya Mentri keuangan mengenali suara Zili yang tidak lagi berubah karena tidak meminum obat pengubah suara.


“Bukaaaa...”


“Zili...” panggil ayahnya.


Berbalik arah, memandang ayahnya didalam penjara “aku mohon buka pintunya ayah..hiks hiks..”gadis itu jatuh menangis teramat memohon. “Aku mohon buka pintunya...hiks hiks” pintanya berulang kali.


Duuuuuaaammmm...


Kraaaaaakkkkkkk


Kraaaaaakkkk kraaaaaakkk...


Haaaa..


Berbalik,


Kraaaaaakkkk


Dinding hancur,


Roboh,


Kaki putra mahkota terlihat jelas dipandangan mata. “dinding sampah.”


“Hiks..


Duaaaaammmmm...


Ledakan ranjau terakhir telah berhenti.


Putra mahkota mulai memasuki Pintu dinding yang ia robohkan dengan Tendangan kakinya.


“Tuan..”


Panggil Zili begitu lega hingga air matanya semakin deras keluar.

__ADS_1


“Kenapa kau menangis..?” tanya putra mahkota yang telah masuk kedalam ruangan melalui Lubang dari dinding yang ia hancurkan.


__ADS_2