
“Kenapa pintu masuknya jauh sekali dari desa?”
Yu’a tampak kesal karena telah lama berjalan dijalanan setapak kecil tetapi belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan desa ann 64.
Disampingnya, pangeran Xu berkali-kali menarik nafas merasa lelah mendengarkan keluhan dari Keponakannya. Cucu dari orang tuanya.
“Aku lelah” Yu’A duduk diatas sebuah batu besar pinggir kolam kecil tengah hutan. Cahaya bulan dimalam hari menerangi Kedua orang yang diam-diam pergi tanpa seizin pihak Keluarga kerajaan.
Pangeran Xu menurunkan Tas ransel hiking yang sedari tadi berada dipunggungnya “bagaimana kalau kita bermalam disini saja sebelum melanjutkan perjalanan”
“Tidak mau, aku ingin segera bertemu Xu’i”
“Mau bagaimana lagi, karena kita pergi tanpa izin, tentu saja harus melalui jalur darat yang sangat jauh dari desa”
“Bagaimana jika tas itu dibuang, dan paman menggendong aku”
Pangeran Xu mendesah, dia bahkan hingga menggeleng kepala mendengar permintaan Yu’A. “kau mau mati kelaparan dan kedinginan tanpa barang-barang didalam tas ini ya”
“Iya juga, tapi paman..
“Yu’a bersabarlah”
“Baiklah, baiklah paman, kita bermalam disini saja”
********
Raja bayangan menggertakan gigi geram berada diatas takhta kerjaaan. Begitupula dengan Ratu bayangan ou nana. Didepan Pejabat tinggi militer negara yang sedang menunggu keputusan darinya.
Mereka yang telah merencanakan untuk pergi ke desa terisolasi, dikejutkan dengan menghilangnya raja negara dan ratu negara yang tiba-tiba pergi tanpa berpamitan.
Terasa sangat malas mengambil alih kepemimpinan tanpa mengetahui waktu yang ditentukan. Mereka berkali-kali menarik nafas dengan kepalan tangan dipipi yang secara bersamaan dilakukan.
Bahkan laporan kerajaan diabaikan, hingga ucapan penasihat raja tidak didengarkan.
“idris, bagaimana keputusanmu?”
“Keputusan apa?” raja bayangan malah berbalik tanya karena dia sama sekali tidak mempedulikan perkataan sahabatnya.
“Pencarian shin lah bodoh”
“Untuk apa dicari, biarkan saja mereka mati disana”
__ADS_1
Penasihat raja memejamkan mata sejenak, sebenarnya ia juga merasa kesal dengan kepergian raja negara tanpa pemberitahuan kepadanya. Tapi, sebagai orang yang dipercaya menjaga kendali kerajaan.
Dia hanya bisa pasrah.
“Nana”
“Jangan tanya aku natto”
“Kau sama saja”
“Kau juga sama saja, tidak bisakah sekali saja kau panggil aku kakak, aku ini adalah kakakmu, bicaralah sopan sedikit” emosi nana bercampur aduk karena rasa kesalnya terhadap raja dan ratu negara.
Dalam hatinya berkata bahwa seharusnya mereka lah yang pergi kesana. Menghabiskan waktu berdua dengan suami yang dia cinta didalam kesunyian desa mati merupakan impiannya yang belum terpenuhi.
“Minggir, biar aku saja yang menduduki takhta, kalian berdua pergilah” penasihat raja sudah tidak dapat lagi menahan kekesalannya.
Idris tersentak, ia belum pernah melihat sahabatnya semarah itu sebelumnya. Terlebih lagi, dia adalah Ou natto, orang cerdik yang diam-diam pandai dalam menyusun siasat.
Begitupula dengan nana yang sontak bangun dari kemalasannya.
“Siapkan penjagaan diperbatasan desa” perintah idris tidak lagi ingin membuat Penasihat raja marah.
NAtto menghela nafas lega, akhirnya kebodohan sahabatnya telah berakhir.
“Siap laksanakan”
*******
Putra mahkota mengambil foto terakhir melalui ponselnya. Dia bahkan mulai membuka galeri didalamnya. Menggeser perlahan-lahan foto-foto yang telah ambil.
ZIli tidak sedikitpun memiliki keberanian untuk sekedar meminta putra mahkota membagi penglihatannya. Ia hanya diam berdiri disamping laki-laki yang ia cintai.
“Kenapa jauh sekali jaraknya?”
Putra mahkota tampak kecewa dengan hasil jepretan yang ia ambil. Dia bahkan tidak menyukai hasilnya. “ayo kita ambil beberapa lagi sebelum istirahat” putra mahkota menarik pinggang Zili mendekat kearahnya.
Sontak zili terkejut. Ia bahkan tidak mampu lagi mengatur Tarikan nafasnya karena secara tiba-tiba mendapati pelukan dari putra mahkota.
Cekriiik.
Putra mahkota melihat kembali isi galerinya “hm, seperti ini sudah bagus,” dia tersenyum senang, bahkan senyumannya terlihat sangat jelas tidak seperti biasa.
__ADS_1
Zili sontak semakin dibuat terpesona, bahkan jantungnya semakin berdegup kencang terdengar ditelinga.
“Kau mau melihat?”
“Hm”angguk Zili berkali-kali.
“Ayo” putra mahkota menarik tangan Zili menuju teras depan rumah.
Teras berlantaikan papan kayu didepan pintu.
“Kalau tahu akan berfoto, harusnya aku membawa kamera” gumam Putra mahkota kepada dirinya sendiri terdengar ditelinga Zili yang telah duduk agak jauh disampingnya. “Mendekatlah” putra mahkota menepuk-nepuk lantai kayu yang berada disampingnya karena melihat Zili berada agak jauh darinya.
“Hm” angguk zili memberanikan diri mendekat.
“Ada apa denganmu, kenapa masih saja jauh” putra mahkota masih melihat cela disisinya, ia yang tidak menyukainya. Lalu menggeser tubuh hingga bersentuhan dengan Zili. “kau bisa melihatnya?”
“Hm” angguk Zili lagi.
“Kenapa kau pendiam sekali” putra mahkota menggeleng kepala menoleh kepala kewajah Zili. Sontak Zili juga menoleh kepala memandang wajah putra mahkota.
Cahaya aurora menyelimuti mereka yang saling memandang dalam jangka waktu lama. Merasakan perasaan masing-masing didalam hati yang tidak saling mengetahui.
*******
haruskah aku pergi?, mengapa perasaanku tiba-tiba sangat kacau?. Apakah aku mengkhawatirkannya?
Benar, aku memang harus pergi.
Pangeran istana berjalan keluar rumah pribadi miliknya diwilayah barat daya. Ia membuka pintu, seketika semua penjaganya berhamburan keluar menghadap dan memberi hormat kepadanya.
“Yang mulia,” ucap mereka bersamaan.
******
lagi badmood.
authornya dirumah aja gara2 lockdown.
di kota batam udah zona merah sih.
oke salam ya kalian semua. saya dari batam
__ADS_1
hehehehhe
ngasih tau aja