
Ruangan yang indah,
Interior dan Desainnya terlihat begitu mewah.
Lantai yang terbuat dari parket kayu Asli terlihat begitu elegan dengan corak warna abu-abu keputih-putihan.
Dindingnya juga tampak terbuat dari bebatuan alami. andesit, sepertinya bebatuan tersebut yang menjadi pelindung kokoh rumah itu. meskipun demikian, nyatanya dinding tersebut menyimpan beberapa rahasia.
Rahasia yang pasti telah diketahui oleh putra mahkota.
Berjalan memasuki rumah, terus melangkah menapaki kaki dilantai parket kayu disana.
Tidak ada seorang pun terlihat diruangan tersebut, tadinya.
Baaaaaaakkkkk.
Brruuukk..
Tapi setelah putra mahkota menendang sebuah pintu baja yang kokok dan berhasil merobohkannya hingga terlepas dari Pengaitnya.
Beberapa orang terlihat terkejut lalu membalikan tubuh mereka.
Bukan beberapa orang.
Ternyata ada puluhan orang yang berada diruangan tersebut.
Puluhan orang tersebut juga telah berdatangan masuk keruangan tempat putra mahkota dan Zili berada setelah sebelumnya mereka berada diruangan lain.
Mungkin, karena mendengar Suara pintu roboh, mereka yang berada diruangan tempat lain berhamburan masuk keruangan utama tersebut.
Tersenyum kecut,
__ADS_1
Putra mahkota tidak menyenangi mereka,
“mungkinkah kau datang untuk menyelamatkan kami...?” tanya seorang dari mereka yang saat itu telah beranjak berdiri dari komputer dihadapannya.
YA, diruangan tersebut terlihat ada belasan komputer, sepertinya diruangan lain juga sama.
“Menyelamatkan...?” tersenyum remeh, pasti,
Ia ingin sekali tertawa Lepas, namun, menimbang bahwa ada wanita yang dia sukai, tentu saja putra mahkota menahannya, “dibanding menyelamatkan, aku lebih senang membunuh pengkhianat seperti kalian..” Jawaban putra mahkota membuat semua orang sontak ketakutan dan duduk menopang tubuh dengan lipatan kaki.
“Tuan,..” kelihatannya tidak ada seorangpun yang mengenal putra mahkota disana,”sungguh, bukan berniat Menjadi pengkhianat.” Seorang lain mulai membuka suara, raut wajahnya begitu meenyedihkan “kami hanya ingin hidup.” Lanjutnya lagi “mereka menangkap kami lalu memaksa kami bekerja untuk mereka, “ tambahnya lagi, “mengunci kami dipintu baja, dan hanya memberikan komputer serta ruangan kamar untuk kami” mulai menjelaskan “mereka bahkan tidak akan memberikan kami makan jika kami tidak bekerja untuk mereka.”
“Maka tidak perlu makan.” Jawab putra mahkota cepat “daripada menyusahkan negara lebih baik kalian mati saja..” lanjut putra mahkota “berapa banyak orang yang akan menderita karena pengkhianatan kalian” marah, terlihat jelas dari raut wajah putra mahkota dan juga mata merahnya “aku katakan kepada kalian..” memandang takut serta menggigil, ucapan putra mahkota mulai menekan semua orang yang ada disana “pengkhianat itu lebih mengerikan dibandingkan musuh..” mulai mengambil pistol emas yang ada dibalik kemeja laki-laki tersebut, menarik pelatuk “pengkhianat memang pantas mati..” tersenyum senang, mulai mengacungkan pistol ke arah seorang dari mereka.
“Tuan..”
Panggilan Zili mengejutkan putra mahkota, Tubuh gadis itu kini telah berada didepan putra mahkota, menghalangi laki-laki tersebut untuk membunuh para Pengkhianat negara disana.
“Mana mungkin aku mengkhianati negara..” meraih pergelangan tangan putra mahkota, lalu menurunkan tangan laki-laki tersebut “bukankah tujuan utama kita mencari putra mahkota..?” memandang lekat kemata putra mahkota yang sedang marah “untuk apa tuan berlelah-lelah mengotori tangan membunuh para pengkhianat ini.” Lanjut gadis itu menenangkan kemarahan “tuan,..” berhasil meraih pistol, ddoooooorrrr.. ,lalu menembakannya kelangit-langit ruangan “tangan tuan begitu lembut untuk dikotori dengan darah, jadi biarkan saja negara yang menghukum mereka..” lanjut gadis itu lagi, memberikan pistol ketangan putra mahkota kembali lalu mulai melangkah mendekati meja komputer.
“Kau pasti akan menyesali membiarkan mereka hidup..” ucap putra mahkota menyimpan kembali pistol dan mulai meraih Headset dikantung celana lalu memasangkannya ketelinga “pengkhianat, sekali berkhianat, selamanya tidak akan takut untuk berkhianat kembali..” Lanjut laki-laki tersebut mulai menghubungi seseorang untuk membawa para Musuh berlalu dari pandangan matanya.
Benar sungguh, putra mahkota pasti sangat tidak ingin melihat mereka. “masuklah..” perintah putra mahkota ketika panggilan diterima salah satu temannya. Mungkinkah penasihatnya ataukah pelindungnya yang sedang dihubungi..?, yang mana saja, keduanya juga berada diteras rumah saat ini.
Menghentikan tangan sejenak memegang keyboard komputer “tuan, aku adalah pengkhianat..” ucapan Zili mengejutkan putra mahkota “sudah punya suami tapi mencintai orang lain, sudah punya suami tapi malah senang dekat dengan orang lain, sudah punya suami, sekarang malah bahagia tinggal bersama orang lain,” raut wajah Zili begitu sedih hingga ia terlihat tidak berniat lagi mengoperasikan komputer dihadapannya “mungkinkah Suamiku akan membenciku seperti tuan membenci mereka..?” tanya Zili menundukan kepala.
Tidak menjawab, putra mahkota mengabaikan ucapan Zili begitu saja.
Melangkah mendekati gadis itu, lalu menarik kursi rodanya, mengambil kursi yang baru, mulai memainkan jari-jari tangan diatas keyboard komputer.
“Aku akan menemukan suamiku..” gadis itu mulai membuka suara lagi “setelah menemukannya, aku akan pergi darinya dengan cara yang baik”
__ADS_1
“Aku akan membawamu pergi..” masih memainkan jari-jari tangan diatas keyboard, putra mahkota mulai membuka suara “meninggalkan negara ini, dan pergi kemanapun untuk membahagiakanmu” lanjutnya lagi mulai terlihat banyaknya data yang terakses dilayar monitor.
Beberapa tentara yang bertugas Di wilayah Tersebut mulai datang memasuki ruangan putra mahkota bersamaan dengan sebuah dinding yang terbuka menyamping,
Dinding yang terbuka mengingatkan Zili pada Misi pertamanya bersama pangeran istana “aku adalah pengkhianat, sekali berkhianat, maka selamanya tidak akan takut untuk berkhianat kembali.” Jawab gadis itu mengejutkan putra mahkota kembali hingga terdengar jelas Suara hembusan nafasnya “hari ini mengkhianati suamiku, suatu hari pasti akan mengkhianati Tuan.” Ungkapnya begitu menyakiti dirinya sendiri “orang sepertiku ..” tersenyum getir “mana mungkin layak untuk dicintai..”
“Kecuali kau...” mulai berdiri meraih tangan Zili “aku membenci siapapun yang berkhianat...” lanjutnya mulai melangkah, membawa Zili menuju ruangan rahasia dibalik dinding setelah menggeser dua buah meja komputer untuk memberikan mereka jalur Lewat, karena Dinding tersebut memang terletak dibelakang Jajaran meja komputer sebelumnya.
Menghentikan langkah kaki sejenak “karena kau belum melihatku berkhianat, makanya masih bisa bicara begitu..” melepaskan tangan dari putra mahkota, zili mulai berbalik arah.
Haaa..
“Aku yang membuatmu mencintaiku, bukan..?” tangannya diraih kembali dengan cepat, tubuh gadis itu berbalik arah kembali keposisi semula “maka dari itu, aku harus bertanggung jawab..” lanjutnya lagi menarik tangan Zili memasuki ruangan disana, pintu tertutup kembali setelah mereka memasuki ruangan sempit dan kecil tersebut.
Ruangan yang sama percis dengan ruangan saat ia bersama pangeran istana ketika mencari resep obat antigila.
Mudah saja,
Melepaskan tangan Zili lalu membuka laci dinding, dimana terdapat keyboard komputer berada,
Putra mahkota mulai mengaktifkan layar Dinding kemudian meraih tangan Zili kembali.
“Aaaahhh..”
Memeluk gadis yang telah ia tutup mulutnya, “tenanglah, ada aku bersamamu.” Ucap putra mahkota melepaskan tangannya dari Zili yang saat itu mulai menggigil karena ia dan putra mahkota sedang melayang diudara.
“Tuan,..” memandang putra mahkota yang memeluknya diudara “inikah yang kau sebut akan membawaku pergi kemanapun Untuk membahagiakanku..?” tanya Zili terang-terangan.
“Hmm..” mengernyitkan dahi kebingungan “ maksudmu..?” tanya putra mahkota tidak mengerti.
“Kau akan membawaku mati bersamamu, bukan..?” lanjut gadis tersebut, mengingat bahwa tidak ada lagi texchi yang akan menolong mereka mendarat dengan baik keatas tanah nanti.
__ADS_1