
Hembusan angin dimalam menjelang pagi saat itu menerpa kulit,
Dingin,
Udara dingin terjadi karena tidak banyak lagi kendaraan berlalu lalang disana.
Tidak seperti Desa Co dengan uapan Panas dari asap pabrik, panas didesa Xu Lebih cenderung pada asap kendaraan yang berlalu lalang setiap hari.
Dan juga, rata-rata mata pencaharian di Desa Xu hanyalah pegawai biasa ataupun para pejabat negara, tidak banyak dari mereka yang memproduksi barang hingga jarang sekali adanya Limbah pabrik disana, kecuali Limbah rumah tangga.
Sepoi-sepoi angin masih berhembus, menggerakan setiap helaian rambut gadis yang sedari tadi mencoba melepaskan diri dengan menginjak kaki putra mahkota.
Sungguh,
Gadis itu teramat kesal karena laki-laki dihadapannya selalu saja memeluk erat tanpa memikirkan keadaannya yang saat itu sempat kesulitan bernafas.
Menghela nafas berat, dia mulai menengadah kepala, memandang wajah putra mahkota dari bawah. hatinya mulai gelisah ketika melihat tatapan Kesal laki-laki tersebut ketika memandang Pangeran istana.
Mungkin pijakan kakinya juga tak terasa sakit bagi laki-laki tersebut, jadi ia menghentikan gerakan karena menganggap percuma jika terus melakukannya.
“Masih belum mau pergi juga ya..?” sungguh, laki-laki tersebut memang berniat sekali mengusir pangeran istana dari hadapannya.
Tersenyum kecut “kau...” membalas tatapan kesal putra mahkota dengan tatapan tidak menyukai. “bukankah kau hanyalah pengawal rahasia Xu’i...?” pangeran istana kelihatannya telah mencari tahu tentang Pemilik wajah yang saat itu sedang digunakan putra mahkota.
“Lalu..” jawab putra mahkota mulai merenggangkan pelukannya ketika Zili memukuli punggung laki-laki tersebut pelan.
Mengantungi kedua tangan, merasa gerah melihat Zili terus menerus didalam dekapan putra mahkota “kau kira bisa menyenangkan hatinya dengan pendapatanmu yang tak seberapa..” ucapnya begitu sombong,
Ya,
__ADS_1
Tentu saja,
Pangeran istana merupakan remaja laki-laki yang sangat kaya, ia bahkan bisa menghasilkan uang sendiri dengan mudah jika ia mau, kecerdasannya juga tidak diragukan lagi jadi wajar saja jika ia menyombongkan diri.
Tersenyum kecut mulai berbicara tetapi mulutnya tertahan karena tangan Zili menutupnya.
Terkejut hingga ingin marah. “Cukup,..” mulai membuka suara “ Lebih baik hidupku Cukup saja dibandingkan menjadi Kaya..” lanjut Zili lagi, mulai melepaskan pelukan tangan putra mahkota dan juga menarik tangan dari mulut laki-laki tersebut “Aku sudah puas dengan semua yang dia berikan padaku, dan tidak ingin menambahnya lagi..” tambahnya mulai memeluk lengan putra mahkota “kau tahu...” memandang pangeran istana begitu lekat hingga membuat Putra mahkota hampir saja meledak marah karena cemburu, hal itu terlihat jelas dari Gertakan gigi didalam mulut laki-laki tersebut. “Jika aku menambah kepuasanku, belum tentu hidupku saat itu bisa lebih bahagia dibandingkan dengan hidupku saat ini” dia mulai menarik tangan putra mahkota untuk melangkah pergi. “Semakin tinggi aku berada, semakin berat beban yang akan aku tanggung nantinya..”
“Aku bisa menjamin kau akan lebih bahagia saat hidup bersamaku” sepertinya pangeran istana tidak ingin melepaskan Zili begitu saja, mungkin laki-laki tersebut memang sangat menginginkannya.
Menutup mulut putra mahkota lagi saat laki-laki itu akan bicara, “ck.” Gadis itu mulai berdecik dan menghentikan langkah kaki “bahagia apanya..” jawab cepat gadis itu mulai melepaskan tangan dari mulut putra mahkota yang tampak geram melirik kearahnya. Memandang sejenak lirikan putra mahkota, gadis itu tertegun lalu tersenyum lembut mencoba menenangkan hati laki-laki tersebut “kau tidak ingat ya...” ucap Zili mulai memandang kembali kearah pangeran istana “hampir saja, hampir saja aku dipenjara karena dikira merebutmu dari Putri kecantikan..” ingatkan gadis itu “kubilang padamu..” menggertakan gigi geram “aku ini bukanlah perebut kekasih orang” ucapnya sedikit keras lalu berjalan menarik tangan putra mahkota tetapi langkahnya dihentikan pangeran istana yang terlihat berusaha menghalangi mereka.
“Bukankah kau mencintai Xu’i..?” masih mengantungi Celana, pangeran istana mengingat ucapan Zili saat berada dimarkas musuh bersamanya “dan juga, aku sudah mencari tahu semua tentangmu..” ucapan laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili, membuatnya takut hingga kakinya mulai gemetaran dan hal itu disadari oleh putra mahkota.
“Hmm” tersenyum kecut “bagaimana mungkin seorang pangeran begitu berusaha untuk mencuri Istri orang lain...?” Putra mahkota mulai berbicara kembali “benar-benar tidak tahu diri..” hina laki-laki tersebut.
Melempar sebuah lipatan kertas kearah Zili. “memangnya kenapa kalau aku berasal dari Klan Campuran..?” tanya Zili teramat geram, lalu berjongkok mengambil lipatan kertas dari pangeran istana yang jatuh diatas trotoar.
“Sombong sekali..” hina putra mahkota lagi bersamaan dengan Zili yang telah membuka lipatan kertas, memandang foto wajah yang saat itu sedang ia gunakan sebagai penyamaran.
Lin yura,
Gumamnya lalu membaca identitas perempuan yang ada didalam kertas tersebut kemudian tersenyum kecut ketika mengetahui bahwa perempuan didalam kertas tersebut masih belum menikah.
“Pangeran dinegara ini memang sangat Sombong hingga semua keinginannya harus ia dapatkan.” Lanjut putra mahkota lagi “meskipun harus menghancurkan hubungan Persaudaraan sekalipun..” sindir laki-laki tersebut “baginya tidak masalah asalkan semua keinginannya terpenuhi” lanjut sindir putra mahkota begitu marah mengingat masa lalu.
“Kau.....”
“Tentu saja aku tahu karena aku adalah pengawal rahasia dari laki-laki yang telah kau hancurkan kehidupan masa lalunya” Tambah putra mahkota lagi menyindir hingga membuat pangeran istana terdiam.
__ADS_1
Mulai memandang ke arah Zili, putra mahkota Tersenyum tipis melihat wajah terkejut gadis itu yang telah melepaskan kertas dari tangannya hingga jatuh kembali keatas trotoar jalan. “benarkah..?” tanya Zili memandang putra mahkota, terlihat sekali ia menginginkan penjelasan dari laki-laki tersebut. “Putra mahkota memiliki kehidupan pahit juga ya..” tersenyum getir, mata gadis itu tampak berkaca-kaca.
“Aku akan menemuimu kembali nanti” kelihatannya pangeran istana benar-benar terpukul dengan ucapan putra mahkota hingga ia berhenti berdebat lalu melompati pagar, menundukan kepala sedih kemudian memasuki mobilnya kembali.
Menyadari situasi Canggung yang telah ia ciptakan sendiri, putra mahkota tersenyum pahit menggenggam tangan Zili “ayo kita pulang “ ajaknya menarik tangan gadis itu tapi gadis tersebut menolak mengikutinya.
“Benarkah yang kau ucapkan barusan..?” tanya Zili begitu penasaran.
Menghela nafas berat “mana mungkin,” jawab putra mahkota berkilah “aku hanya sembarangan bicara ” Lanjut laki-laki tersebut, ucapannya membuat Zili membuang wajah, melepaskan tangan dari laki-laki tersebut, lalu berjalan sendiri.
“Aku..” meninggalkan putra mahkota “bisakah kau meninggalkan aku sendirian dulu..?” Pinta gadis itu membelakangi putra mahkota yang tampak memandangi punggungnya.
“Maafkan aku..” ucap putra mahkota merasa bersalah.
Berbalik badan, lalu menangis “kau tahu ucapanmu barusan sungguh keterlaluan..” teriak Zili dari jauh “Shin’A, pasti saat ini sedang kesakitan mengingat masa lalunya” lanjut gadis itu sontak mengejutkan Putra mahkota hingga mata laki-laki tersebut memerah karena marah.
“Jadi kau marah padaku karena Shin’A..” terlihat sangat kesal hingga mengepalkan tangannya erat. “jadi kau menyukai Shin’A dibandingkan Xu’i..?” lanjutnya lagi teramat kesal hingga menggertakan gigi geram.
“Aku menyukai putra mahkota lebih dari siapapun didunia ini, hanya saja kau harus tahu...” teriak Zili masih marah “saat ini Shin’A sedang berusaha keras untuk memperbaiki kesalahannya kepada Putra mahkota tetapi putra mahkota selalu menolaknya”
“Itu karena dia memang tidak pantas untuk dimaafkan..” jawab cepat putra mahkota, memandang lekat kearah Zili.
“Seseorang memiliki kesalahan dimasa lalu, lalu ingin memperbaikinya kenapa tidak sedikitpun memberi kesemp.....”
“Terus mengulang kesalahan yang sama berkali-kali, kau kira orang seperti itu pantas untuk dimaafkan...” Sela putra mahkota sebelum Zili melanjutkan perkataannya. “kau...” geram sekali “ memangnya kau tahu apa tentang masa lalu mereka..” bentak putra mahkota hingga membuat Zili terkejut dan merasa takut.
“Aku...”
“Kalau tidak tahu apapun lebih baik kau diam saja” tambah laki-laki tersebut mulai melangkah kaki, menghela nafas berat, mengendalikan emosi. “ayo pulang” menggenggam tangan Zili, membawanya pergi lalu memanggil taxi.
__ADS_1