Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
menerima peringatan


__ADS_3

Suara kerumunan siswa membisingkan suasana.


Kadang berteriak, kadang tertawa, kadang menangis dan kadang berbicara.


Pagi telah berlalu, siang mulai datang.


Seperti biasa, hari-hari Zili ketika istirahat tiba, selalu saja menyendiri.


Meskipun tersenyum cerah, tetap saja percuma, karena tidak seorangpun siswa ataupun siswi Sekolah peternakan yang akan mendekatinya atau bahkan hanya sekedar menyapa.


Mereka sangat tidak menyukai Zili, mereka menganggap gadis itu sangat merepotkan.


Pikir mereka, mendekatipun percuma, tidak ada sedikitpun manfaat yang mungkin mereka akan dapatkan atau malah yang lebih parah, mereka mungkin akan mendapati kesialan jika bersama dengannya.


Sayup-sayup angin menerbangkan rambut Zili yang kini telah duduk diatas bangku panjang ditaman depan sekolah. Bangku empat kaki yang tidak ada tempat penyandar untuk punggungnya.


Kelopak bunga kertas jatuh tergugur dan terbang melewatinya.


Suara kebisingan tiba-tiba semakin mengeras, bahkan Zili tidak lagi mampu berkonsentrasi menghafal setiap huruf dalam kamus bahasa ann.


“Astaga tampan sekali....


“Sungguh, benarkah yang aku lihat saat ini?”


“Bahkan mengambil gambar acak pun tetap saja hasilnya sangat bagus karena memang dia sangat tampan”


“Apa yang dilakukan pangeran istana disini? Waahhh sungguh beruntung sekali bisa melihatnya secara langsung.”


Zili mengernyitkan dahi.


Pangeran istana.


Begitulah gumamnya ketika mendengar gelar laki-laki tersebut diucapkan.


Siang itu, zili mengira bahwa mungkin pangeran istana memiliki keperluan tersendiri mengunjungi sekolah.


Terlebih lagi, mendengar ucapan yang dilontarkan laki-laki tersebut tadi pagi, semakin meyakinkan Zili bahwa pangera istana tidak mungkin datang menghampirinya.


Biarlah.


Gumamnya lagi dalam hati lalu melanjutkan bacaannya.


Terus memperhatikan setiap kata,


Tiba-tiba dua orang tentara kerajaan datang meletakkan meja bulat berkaki satu dan sebuah kursi ukir tunggal dihadapannya.


“Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu”

__ADS_1


Suara seseorang mengejutkan Zili.


Ia telah duduk melipat kaki diatas kursi yang baru saja tiba.


Aroma teh hijau tercium, secangkir dari teh tersebut telah berada diatas meja.


Seorang pelayan laki-laki mulai meletakkan kue-kue kering dan bahkan ada beberapa piring kue sejenis tiramisu dengan sendok kecil diatasnya.


Dia pergi setelah menyelesaikan tugas bersamaan dengan pangeran istana yang telah menatap zili lekat.


Siku menyandar digagang kursi, kepalan tangan menopang pipi kanan. Pangeran istana kini telah duduk dihadapan Zili sembari membaca lembaran dokumen yang harus ia tanda tangani dengan tangan yang lain.


Sesekali ia tersenyum lucu melihat zili yang tampaknya tidak nyaman karena murid-murid Sekolah Peternakan memandangi mereka.


Semakin merasa tidak nyaman, akhirnya ia berdiri, mulai melangkah kaki untuk pergi.


“Haaaa....


Zili mulai mendesah “kau bilang tidak akan menggangguku” keluhnya ketika pangeran istana telah berdiri menghalangi jalan gadis tersebut.


Pangeran istana tersenyum nakal, semua murid-murid yang melihat senyumannya bahkan sampai mabuk kepayang karena tak kuasa menyaksikan ketampanan luar biasa pangeran istana yang sangat mirip dengan raja mereka.


Kecuali Zili yang langsung mendesah, tampaknya semua siswi sekarang sedang mengambil foto mereka berdua, bukan...


Tujuan mereka sebenarnya hanyalah pangeran istana, tetapi karena terdapat zili didalam kamera, mau tidak mau, mereka harus menerima bahwa gambar gadis itu berada diponsel mereka.


Setelah diperbaiki, mungkin saja mereka akan mendapatkan foto pangeran istana tanpa putri mahkota lagi.


Mereka tidak mengizinkan seorang pun mendekati mereka.


“Bukankah kau sudah berjanji akan menemani waktu istirahatku?” tagih pangeran istana, senyuman nakalnya pun semakin mempesona.


Zili menghela nafas berat lalu kembali ke bangku panjang. Duduk dengan tenang, meletakkan buku diatas kedua kaki yang ia rapatkan.


Matanya mulai membesar ketika pangeran istana duduk disampingnya lalu menyandarkan kepala disana sembari memejamkan mata “sh.. shin’A?..


Sontak ia mendorong tubuh pangeran istana menjauh. “apa yang kau lakukan?” tanyanya sembari melihat kesekeliling dan terkejut karena tidak melihat seorangpun murid berdiri ditaman lagi.


Mungkin, itu semua atas perintah pangeran istana yang berkuasa. Walaubagaimanapun pangeran istana adalah putra raja yang dihormati di negara NC.


Pangeran istana menegakkan tubuhnya “aku ingin istirahat” ucapnya “aku sangat lelah” ia meletakkan kepalanya kembali kebahu Zili “tenang saja, tidak akan ada yang berpikiran buruk tentang kita” lanjutnya menenangkan Zili yang masih mencoba mendorong tubuh pangeran istana menjauh. Setelahnya, dengan cepat gadis itu mulai berdiri.


Satu langkah kaki kedepan, pangeran istana telah menarik tangannya, Memaksa dia untuk duduk kembali. “bukankah kau berjanji akan menemani sampai aku tertidur?” tagihnya lagi yang terpaksa harus Zili tepati.


Gadis itu menggigit bibir bawah geram, semua pengawal yang berjaga, membelakangi mereka dari kejauhan.


Hembusan angin semakin kencang, menggugurkan dedaunan dan kelopak bunga-bunga kertas yang tumbuh tak jauh dari tempat mereka berada.

__ADS_1


Kepala pangeran istana telah berada diatas bahu zili, ia mulai memejamkan matanya.


Zili menghela nafas berat, ia mulai membaca kamus ditangannya kembali.


Haaa......


Suatu cairan jatuh kelengan tangannya,


Ia melihat tetesan air mata disana.


“Shin’A...


Ucapnya, namun tampaknya pangeran istana telah jatuh kedalam alam bawah sadarnya.


********


Suara bell tanda istirahat telah selesai, berbunyi.


Perlahan-lahan pangeran istana membuka mata. Ia tersenyum tenang karena merasa lega gadis yang ada disampingnya tidak menghilang.


Masih dengan cekatan membaca tiap kata dan menghafalnya, wajah zili yang tertunduk terlihat menggetarkan hati pangeran istana yang melihatnya dari sisi samping.


Sesekali gadis itu menyingkap helaian rambut kebelakang telinga, masih dengan membaca. perilakunya tersebut semakin menggetarkan hati pangeran istana hingga tertegun dan menegakkan tubuh.


Zili menoleh kesamping menatap mata pangeran istana yang secara spontan terpaksa membuang wajah karena tiba-tiba merasa gugup dipandang gadis itu “aku sudah memenuhi janjiku” ucapnya lalu berdiri dan berniat pergi.


Zili memejamkan matanya sejenak, lagi, tangan pangeran istana dengan cepat menahan tangannya “aku ingin masuk kekelasku” ucap Zili lemah karena tidak mampu melawan putra raja negara dan juga putra dari ratu penguasa mutlak pemegang kendali tertinggi dinegara NC.


Suara kekaguman siswa-siswi terdengar berteriak kembali, kali ini yang terdengar kebanyakkan berasal dari suara kaum laki-laki.


Hembusan angin menerbangkan rambut bergelombang yang tampaknya baru saja di bentuk, Karena rambut gadis berusia 15 tahun yang kini telah memasuki taman sekolah itu, biasanya adalah lurus.


“Shin’A...


Panggilnya mengejutkan pangeran istana yang langsung melepaskan tangannya dari tangan Zili.


“Ayya...


Balas panggil pangeran istana.


Menyadari bahwa tangannya telah dilepas, Zili dengan segera melangkah pergi meninggalkan pangeran istana melewati putri Klan Lu, putri Kecantikan negara NC dan telah diakui dunia.


“Kau...


Suara gadis itu menghentikan langkah Zili yang kini berada tak jauh dari punggung putri klan Lu yang telah berbalik.


Melihatnya berbalik, Zili juga ikut membalikan tubuh “aku?” tanya gadis yang sedang memeluk kamus besar ditangan.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkanmu merebut Shin’A dariku” peringatnya mengejutkan Zili dan pangeran istana. Gadis itu tersenyum lembut, senyumannya bahkan mampu membuat banyak laki-laki tergila-gila, “jadi berhentilah menggoda Shin’A” ucapnya dengan nada ancaman yang menggetarkan hati Zili.


Hampir menggigil, Zili membalas senyuman Gadis itu “Aku tidak menyukainya” ucapnya memberanikan diri “pangeran istana” diamnya sejenak “dia hanya menyukaimu saja” lanjutnya lagi, lalu berbalik, melangkah kaki meninggalkan taman sekolah.


__ADS_2