
Shisou...
Langkah kaki memasuki panggung acara.
Pandangan mata tidak lagi berbinar-binar.
untuk kedua kalinya, Zili berada diacara besar milik negara setelah sebelumnya berada di acara seperti itu pada saat pesta perayaan pernikahannya dengan putra mahkota.
Jejeran pejabat tinggi terlihat sedang duduk saling berhadapan dengan jarak jauh yang memisahkan, sementara raja dan ratu negara serta kedua putra putrinya berada ditengah-tengah mereka, membelakangi Jejeran ketua Klan yang juga ikut menyaksikan pertunjukan dan peragakan acara kemeriahan ulang tahun Putra-putri Raja mereka.
Perlahan-lahan ia mulai melangkah, meninggalkan dua pelayan yang tadi menjaganya.
Harapannya sirna,
Berias secantik mungkin pun menurutnya percuma.
Karena laki-laki yang dicinta tidak berada disana.
Dan lagi, pikirnya, kenapa dia yang bukan termasuk bagian dari ruang lingkup keluarga raja negara diharuskan untuk ikut serta naik keatas panggung mewah.
Hal itu sungguh sangat membebaninya, apalagi ketika ia tidak melihat ayah dan ibu mertuanya disana terlebih lagi suaminya.
Rambut panjangnya terurai indah dihiasi pita berpola cantik disela-sela poni panjang menyampingnya. Gaun berwarna hijau pemberian pangeran istana terpaksa ia gunakan atas perintah pemilik acara tersebut.
Siapa lagi pemilik acara kalau bukan pangeran istana dan juga saudarinya.
Bulu mata lentik menghiasi bola mata berwarna hijau, meskipun warna hijau dibola matanya adalah sebuah lensa tetap saja ia lebih nyaman menggunakan lensa berwarna hitam dibandingkan menggunakan warna lainnya.
Mau bagaimana lagi,
Memang dari awalnya Zili adalah gadis pengguna kacamata, tentu saja, dia harus memakai lensa setelah menikah dan menjadi putri mahkota. meskipun sebenarnya dia tidak menyukai untuk menggunakannya.
Langkahnya terhenti ketika pangeran istana menghampiri.
Didepan perhatian banyak pejabat tinggi, ia merasa sangat canggung berada didepan pangeran istana.
Pikirnya lagi,
Hal itu pasti akan membuat mereka salahpaham kepada dirinya.
Sudah mendapatkan putra mahkota kini menggoda pangeran istana lagi.
begitulah kira-kira yang ada didalam hatinya.
Beberapa pejabat mulai melirik tajam ketika pangeran istana mulai menarik tangan Gadis itu, membawanya maju kekursi yang memang telah disiapkan khusus untuk Zili, yang lebih parahnya, kursi tersebut berada tepat disamping pangeran istana.
Astaga
Ucapnya dalam hati.
Dia merasa bahwa dia akan cepat gila jika terus menerus bersama dengan pangeran istana.
Telah melangkah hingga kekursinya, ratu negara terlihat menyapa, begitu pula dengan raja negara yang terlihat sangat malas bergabung disuasana pesta. Putri istana terlihat bahagia, sepertinya ia menunggu hadiah dari putra mahkota.
Pangeran istana melepaskan tangan yang menggenggam pergelangan tangan zili, memang harus dilepaskan agar dia bisa bebas menyapa setiap orang akan datang memberikan hadiah ulang tahun kepadanya.
Sepanjang acara dipenuhi dengan keistimewahan, disepanjang acara itu pula lah zili tidak melihat keberadaan putra mahkota.
Telah usai semua pertunjukan, setiap pejabat tinggi saat ini diperbolehkan untuk mendekati putra dan putri raja untuk memberikan hadiah.
Satu per satu hadiah diterima, banyak diantara mereka yang tidak menyukai Zili berada disamping pangeran istana.
“Hmmmm..
Suara gadis cantik membawa payung tak mengembang terdengar meremehkan setelah memberi hadiah kepada pangeran istana, “aku pasti ....
Senyumnya nakal ditelinga zili “akan mendapatkan suamimu” lanjutnya berbisik tiba-tiba, mengejutkan Zili yang sontak tertegun karena perilakunya yang tidak biasa.
Dia berlalu pergi setelah menyaksikan wajah tertekan Zili. Senyuman remeh menghiasi hingga ia mengembangkan payung miliknya dan menuruni anak tangga meninggalkan panggung.
__ADS_1
Lagi, beberapa orang yang dikenal tampak sangat tidak menyukai gadis itu, apalagi ketika ia melihat saudaranya sendiri, Zin ziya, putri Kebanggaan klan Zin dan Zin zihen yang melewatinya dengan mata penuh kebencian.
Apa salahku.
Itulah pikirnya,
Kenapa semua orang sangat membenciku.
Begitulah kata hatinya, Merasa begitu piluh karena dari dulu selalu menerima pandangan kebencian, terutama dari pendudukan Klan nya sendiri.
Padahal ketika ia masih kecil, kakeknya masih mau mengunjungi gadis itu tetapi setelah menikah dengan putra mahkota, dia telah berubah menjadi orang asing yang entah mengapa terlihat sangat membencinya.
BAaaaaaammmm......
Duaaaaaaarrrrrrr....
Suara kericuhan terdengar dari empat atap gedung yang mengelilingi tempat acara.
“Texchi...
“Texchi....
“Texchi....
1
2
3
4
Ada 11 texchi terlihat terbang diudara.
Payung, kupu-kupu, ikan hiu, belalang, burung rajawali, burung elang, ular piton, Buaya.
Pangeran istana tersenyum lembut memandang Zili lalu mengulurkan tangan dan mengeluarkan tali dijam tangan miliknya, dengan segera ia melompat naik ke texchi Ular Naga yang telah terbang diatas 8 texchi milik Pejabat tinggi yang telah memenangkan pertandingan Antarklan tahun lalu mengikuti Putri istana yang telah berada diatas texchi burung merak miliknya.
10 peringkat teratas pemenang pertandingan antarklan dengan hadiah Texchi buatan tangan mereka sendiri terlihat terbang diudara.
Luar biasa.
Sungguh, Zili bahkan tidak bisa membayangkan jika ia bisa memiliki satu saja texchi miliknya sendiri.
Jauh diatas langit,
Sebuah texchi mulai menuruni udara secara perlahan-lahan.
Siapa lagi kalau bukan putra mahkota bersama hacker kepercayaaannya.
Dia telah berdiri dengan Ratusan texchi pisau yang berada dikedua sisi samping, belakang, dan atasnya, membentuk sebuah sayap yang bahkan terlihat mengkilau dan bercahaya.
Baaaaakkk...
“Sial...
Raja negara berhasil menerima tendangan, ia mulai tersenyum kecut memandang orang yang telah berada didepan matanya.
“SHin...
Teriak ratu negara ketika melihat suaminya telah menuruni panggung mengejar Seseorang pria berjubah hitam.
Suasana yang meriah tiba-tiba berubah menjadi menegangkan.
Beberapa pejabat tinggi mulai berjatuhan dari atas panggung karena tidak memiliki kemampuan bela diri.
Pejabat kemiliteran mulai melawan puluhaan musuh yang tiba-tiba datang dari balik panggung dan melindungi para pejabat tinggi formalitas.
Ratu negara mulai berlari menuruni tangga menarik Zili ikut bersamanya.
__ADS_1
Tapi sayang, langkahnya terhenti,
“Yuanna...
Pandangan mata membelalak, jantung berdegup kencang ketakutan, gigilan tubuh terasa sangat kuat, tangan Zili yang digenggamnya pun ikut merasakan gigilan ratu negara, perut Mulai mual hingga ratu negara harus menahan deengan tangannya.
“Yang mulia...
Dua orang laki-laki tua, bertubuh kekar dan berjubah merah telah berada didepan mata. Seorang darinya membuka topi yang menutup kepala dan berhasil mengguncang kejiwaan ratu negara.
“Aku belum mau mati..
Ucap ratu negara jatuh terduduk menopang tubuh dengan kedua lipatan kaki kebelakang.”aku belum mau mati Yuan.” Teriaknya ketakutan hingga menundukkan kepala dan memeganginya.
“Bu... a... ya....
“Aaaaaakkkhhhh.... hiks.... hiks.. tidak mau, aku tidak akan memberitahukan letak petanya padamu hiks hiks.. haaa... “
Teriak ratu negara penuh dengan rasa takut karena Ucapan seorang dari mereka semakin mengguncang kejiwaannya.
“Yang mulia,..
Zili berusaha sekuat tenaga memeluk ratunya. “bibi hiks... bibi...
Ucap Zili dengan tubuhnya yang juga ikut menggigil.
********
Pandang mata berkaca-kaca.
Rasa sakit kian menyiksa,
Berdiri tepat didepan ayahnya,
Raja bayangan Xu idris terlihat sangat marah.
“Sami...
“Mau bagaimana lagi, tugas ku hanyalah menghalangimu mendekati yuanna”
Ucap laki-laki yang kini telah berada dijalanan masuk acara pesta.
“Kau pikir bisa menghalangiku” geram, raja bayangan mulai mengepalkan tangannya yang langsung ditenangkan oleh istri disampingnya.
“tentu saja...
Ucap ayah raja bayangan begitu santai.
“Idris..
Seorang keluar dari mobil, berjalan perlahan-lahan dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu....
Air mata raja bayangan mulai jatuh mengalir, teramat geram bercampur sedih, itulah yang ia rasakan saat ini.
********
Penasihat raja, mentri keuangan dan pelindung raja terlihat sangat sibuk dengan banyaknya musuh yang menghalangi jalan mereka menuju ketempat acara pesta.
“Kau ini tidak berguna sekali, lian...
Ucap Penasihat raja ou natto kesal sembari berkali-kali menembakan pistolnya.
“Mau bagaimana lagi, aku kan hanya seorang aktor dimasa lalu, bukan seperti kelompok elite ataupun pencari peta” keluh Mentri keuangan yang telah bersembunyi dibelakang temannya.
“Kalian berdua berhentilah bertengkar,..
Teriak Pelindung raja kesal dengan perdebatan kedua temannya yang sedari tadi tidak berhenti.
__ADS_1