
Tatapan yang tadinya tajam kini telah berubah penuh dengan kekhawatiran.
Putra Mahkota menghela nafas berat sembari melepaskan lipatan tangan.
Dia tampak diam dan berpikir, mengabaikan setiap orang yang melewati dan memberi hormat dengan teramat sopan kepadanya.
“Kau terlihat sangat ketakutan.”
Suara seseorang membuat laki-laki itu tersenyum tipis.
“Biarkan aku mendengar permasalahanmu dengannya!” Pinta laki-laki yang telah masuk ke dalam ruangan, mengikuti langkah Putra Mahkota yang telah masuk terlebih dahulu dan kini kedua laki-laki tersebut telah duduk di atas sofa.
“Dia mengetahuinya, bukan hanya itu, dia bahkan terus-menerus mencari tahu. Hm,” Putra Mahkota tersenyum pahit, memikirkan keputusannya sendiri, “Lucu sekali, Aku. Aku begitu takut Zili bertemu dengannya, lalu tanpa berpikir lagi aku memaksa Zili untuk melanjutkan tugas meskipun aku tahu keadaan dia sedang tidak baik saat ini.” Jelas Putra Mahkota sembari menghela nafas berat, duduk membungkukan tubuh dengan tatapan kosongnya yang menatap lantai keramik di sana.
Kedua tangan menyatu, dia menggenggamnya erat tidak begitu lama lalu melepas dan mengangkat tangan kiri kemudian memijat ujung dahi.
“Kau, mungkinkah kau akan mengambil resiko kali ini?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Shen Shi Yun. Dia terlihat duduk membungkuk sembari menoleh ke arah Putra Mahkota di sampingnya.
“Huh, Ya.”
Putra Mahkota menghentikan pijatan di dahi lalu menghempaskan tubuh pada penyanggah sofa dengan menengadah kepala, menatap langit-langit ruangan sembari terus-menerus menghela nafas berat. “ Dibanding mendengar dari orang lain, lebih baik aku yang akan memberitahukannya secara langsung.” Lanjutnya terlihat begitu pasrah dengan senyuman pahit yang sangat tipis dan mata yang berkaca-kaca. “Aku akan memikirkan cara. Apapun itu, Kupastikan, dia akan memaafkan semua kesalahanku selama ini.”
**********
Pintu terbuka,
Pangeran Istana mulai memasuki Villa pribadinya pada sebuah bukit di bagian barat daya negara NC.
Suasana ketenangan terlihat jelas pada malam menjelang pagi hari itu.
WUuuuzzzzz...
__ADS_1
Angin yang membawa embun berhembus masuk ke dalam, mengikuti langkah laki-laki itu.
Villa berwarna jingga dengan warna abu-abu di sisi lainnya memperindah bangunan megah dan mewah yang sepertinya terbuat dari pembakaran batu bata yang tertutupi semen pilihan terbaik pada bangunan besar bertingkat dua tersebut. Di atap bangunan, terlihat beberapa tanaman yang berdiri tegak maupun menggantung di atas pagar-pagar berkawat yang mengelilingi tempat itu.
Langkah Pangeran Istana seketika terhenti.
Pintu yang tadinya terbuka juga telah tertutup.
Semua pelayan keluar dari bangunan tersebut.
Dan di dalam bangunan itu, hanya tersisa dua orang yang saling berhadapan. Saling berhadapan di dalam ruang tamu yang hanya memiliki beberapa sofa lembut dan sebuah jam dinding besar serta lampu yang menyinari kedua orang di tempat tersebut.
“Kakek!”
Panggil Pangeran Istana, menatap seorang laki-laki tua yang tubuhnya lebih tinggi sedikit saja dari Pangeran Istana negara NC.
“Kau juga,” Takkkk... laki-laki tua menyalakan sebuah mancis, Api dari benda tersebut keluar kemudian membakar ujung sebuah rokok lalu laki-laki tua segera menghisap ujung lain benda tersebut. “ Mungkinkah tidak menyetujui permintaan Yu’a dan Yuhan?” tanya laki-laki tua itu bersamaan dengan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Kedipan mata hingga bulu mata yang panjang dan lentik menyentuh bawah mata berkali-kali, menambah keresahan di dalam hati Pangeran Istana saat itu.
“Aku setuju, tapi,” Pangeran Istana mulai melangkah, mengikuti arah laki-laki tua yang mungkin saat itu akan menuju ke atap bangunan karena ia ingin leluasa merokok di sana, “aku yang akan membawanya.”
“He.. hm hm.. hahahaha..” Laki-laki tua tertawa tepat di atas anak tangga. “Jangan bilang kau menyukainya juga?, Shin’A, bukankah dulu kau sangat membencinya? Kau bahkan mungkin mengetahui, tetapi membiarkan Xu’i melakukannya. Aku melihat tapi aku tetap diam dan Xu’i tidak mengetahui bahwa kau mengetahui tindakannya. Aku pikir saat itu kau benar-benar ingin sekali membuang dan juga menyingkirkannya dari kehidupanmu maka dari itu kau tetap diam, dan aku tetap diam lalu Xu’i yang melakukannya. Jangan bilang karena Xu’i menyukainya maka kau juga ikut menyukainya?”
Laki-laki tua mulai melangkah kembali menaiki anak tangga, tetapi Pangeran Istana masih tetap berdiri dan belum juga mengikuti langkah kakeknya tersebut.
“Hm, konyol mana mungkin.”
“Lalu kenapa kau ingin membawanya?” tanya laki-laki tua yang telah berhenti, kini ia mulai membalikan tubuh, memandang Pangeran Istana yang berada di bawah laki-laki tua tersebut.
“Aku,” Pangeran Istana menundukan kepala, “huh,” dia tertegun lalu menghela nafas berat. ”Aku hanya merasa nyaman dekat dengannya, tidak ada perasaan lain kecuali hanya kenyamanan saja.”
__ADS_1
“Itulah yang disebut dengan menyukai,” jawab cepat laki-laki tua itu mulai berbalik kembali lalu bergerak dengan cepat, mungkin ia sangat ingin membuang ****** rokoknya yang telah tersisa sedikit itu.
Pangeran Istana tersenyum pahit, lalu mulai melangkah kaki naik sebelum ia tertinggal. “ Aku tidak peduli apapun itu sebutannya. Yang jelas, aku hanya ingin membawa dia pergi bersamaku.”
“Kau mulai tidak tahu malu, kau membuangnya lalu setelah ia menjadi lebih baik, tiba-tiba kau menginginkannya. Tapi walaubegitu aku ikut senang, dia memang harus disingkirkan karena Xu’i,” wuuuuuzzzzz....
Pintu atap telah terbuka, angin kencang berhembus masuk dan menerpa tubuh kedua laki-laki yang telah berdiri berdampingan, “tidak boleh dikendalikan oleh siapapun. Dia adalah raja yang akan memimpin dunia. Seorang pemimpin tidak memerlukan cinta atau dia akan menjadi lemah.”
***********
Di dalam ruangan itu masih ramai, namun satu persatu orang-orang di sana kini mulai pergi dan keluar dari sana meninggalkan beberapa orang yang diperintahkan untuk melanjutkan tugas dari Putra Mahkota negara NC.
“Kau memiliki waktu 2 jam, jadi tidurlah sebelum melanjutkan tugasmu!” Menteri Keuangan melepaskan jas kerja yang ia kenakan lalu meletakannya di atas lantai, melentangkannya agar putri semata wayang laki-laki dewasa tersebut, tidur di sana.
“Hm,” Zili yang duduk di samping ayahnya menganggukkan kepala, mengiyakan. Mereka berdua terlihat berada di sisi dinding dan keduanya tampak bersandar pada sisi dinding yang sama.
Mata masih terbuka tetapi tubuhnya telah terbaring miring dan kepalanya berada di atas pangkuan Menteri Keuangan yang duduk dengan kedua kakinya yang lurus.
“Ayah, terima kasih sudah datang.” Gumam Zili pelan tak terdengar dan mulai menutup mata.
Kegelapan telah memenuhi bola mata, entah apa yang ia mimpikan, tapi tiba-tiba, “bangunlah!” suara seorang laki-laki terdengar begitu cepat menggantikan suara ayahnya. “kau sudah tidur selama 4jam lamanya.” Suara laki-laki itu memang sangat dia kenal hingga dengan segera Zili membuka mata.
Padahal baru saja ia menutup mata, menurutnya.
Mengapa bisa waktu berputar begitu cepat?, dia bertanya-tanya di dalam hati.
“Ah, Ruan!, dimana ayahku?” tanya Zili yang telah terbangun dan menyadari bahwa tubuhnya telah berada di atas punggung Penasihat Pangeran Istana.
Segera ia melompat ketika Penasihat Pangeran Istana menghentikan langkah kaki, “ perhatikan sekitarmu!, lihatlah baik-baik kita ada dimana saat ini!” Penasihat Pangeran Istana memberi perintah. Setelah Zili turun dari punggungnya ia mulai melakukan gerakan senam kecil, memperbaiki otot-otot belakangnya.
“Kau mendapatkannya?” Suara seseorang terdengar tak jauh dari tempat ia berada.
__ADS_1
“Ki... kita, ada dimana?”