
Suara nafas terdengar tak beraturan. Kelopak mata sedikitpun tidak mampu berkedip. Saling beradu tatapan bahkan teramat dalam.
Rasanya sangat menyakitkan, kerinduan yang sangat memuncak tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya.
Emmmmoooooooooooookkkk
Suara raungan sapi terdengar, menyadarkan Zili yang masih menatap mata laki-laki didepannya. Laki-laki yang sedang tersenyum tipis, ntah mengapa gadis tersebut merasa sangat familiar terhadapnya hanya saja dia tidak mampu mengingat dimana ia pernah bertemu dengan laki-laki tersebut.
Beberapa detik setelah Zili melepaskan pandangannya, tiba-tiba saja tubuhnya tak mampu bergerak “ingat Aku” ucap laki-laki yang wajahnya kini telah berada tepat ditelinga kanan zili.
Dia meraih tangan Zili, memberikan sebuah botol kaca berwarna Coklat lalu gagang payung ketangan zili lainnya.
Mundur...
Dia mundur agak menjauh lalu memegang dadanya. “aaaahhhh... putri mahkota sangatlah kuat uhuk uhuk” ucapnya berpura-pura batuk.
Tiba-tiba seseorang turun dari atas tembok mendekati Laki-laki berjubah tersebut “benarkah?” tanyanya, “ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melawannya” lanjutnya lagi membuat Zili sontak merasa keheranan. Dipandang sekelilingnya, tampak jelas mata para penduduk desa berbinar-binar menatap kearah Zili.
Laki-laki berbaju hitam melentangkan salah satu tangannya “jangan, dia sangat hebat, bahkan penawar racun saja berhasil didapatkannya” larangnya sembari menahan senyuman lucu memandang wajah Zili yang sangat kebingungan.
Gadis itu tetap diam memegang payung, tubuhnya memang tidak bisa digerakan, entah apa yang terjadi, tetapi dia hanya dapat melihat kepura-puraan didepan matanya.
Laki-laki tersebut dengan cepat melangkah maju mendekati Zili untuk kedua kalinya.
“Hey, kau mau kemana?” tanya temannya berpura-pura.
“Aku harus mengambil kembali penawar racunnya” jawabnya dari kejauhan.
Kini dia telah mendekat lagi, payung yang sedang digenggam Zili, ia turunkan lebih kebawah “Louise, namaku” dia tersenyum sangat lembut sampai membuat Zili terpesona akan ketampanan wajahnya.
Segera dia menutup tubuh mereka berdua dengan payung yang mengembang, meraih wajah gadis yang ada dihadapannya lalu mencium bibir mungilnya.
Detak jantung tak lagi dapat dikendalikan, bahkan air mata Zili mulai mengalir begitu derasnya. Laki-laki tersebut segera melepaskan bibirnya.
Beberapa detik kemudian, lagi, wajahnya telah berada ditelinga Zili “aku anggap ini sebagai hadiah” bisiknya, menarik tubuhnya menjauh masih tetap memandang zili. Sejenak berhenti, tiba-tiba dia mengedipkan mata, perilakunya bahkan sampai membuat keterkejutan sendiri bagi Zili yang saat ini mencoba sekuat tenaga mengendalikan detak jantungnya.
Setelah dirasa puas menatap Zili, ia berlalu pergi begitu cepat diikuti oleh temannya. Meninggalkan sisa-sisa keterkejutan yang sangat mendalam dihati Zili yang kini telah mampu bergerak kembali.
Tidak jauh dari sana, tampak jelas dua orang laki-laki sedang berjongkok diatas pohon. “Benarkah itu temanmu?” tanya seorang dari mereka.
“Ntahlah,”jawab seorang dari mereka yang masih memandang tidak percaya “aku belum pernah punya teman seperti dia” lanjutnya lagi masih terpaku diam membisu memandang perbuatan temannya yang belum pernah sekalipun ia lihat selama berada disisinya.
********
Gemetaran,
__ADS_1
Bahkan kakinya menggigil.
Payung ditangan terlepas lalu terbang terkena angin.
Gadis itu terduduk penuh dengan penyesalan. Air matanya mengalir deras tak terbendung “aku.. haaaa... hikkss... selingkuh” ucapnya menahan rasa sakit didalam dirinya sendiri sembari menggenggam botol kecil ditangannya.
“Yang mulia...
POkpokpokpokpokpokpokpok
Gemuruh suara tepuk tangan terdengar hingga Zili menghentikan tangisannya. Air matanya masih mengalir menatap kedatangan sekerumunan orang mendekatinya.
“Hei bocah, terima kasih” suara pemimpin desa terdengar sangat bahagia, menenangkan hati Zili yang masih terduduk diatas tanah.
“Terima kasih, kau sungguh hebat” ucap seorang anak laki-laki yang telah turun dari tangan pelindung putri mahkota Mendekati Gadis itu.
Zili sangat kebingungan, hal ini seperti mimpi baginya. Semua orang tersenyum bahagia menatapnya. “Berdirilah” seorang wanita separuh baya membantu Zili berdiri.
“Yang mul.....
Pemimpin desa menghadang Pelindung putri mahkota mendekati Zili “aku akan membawanya masuk kedalam desa”
“Kalau begitu aku juga...
“Maaf, kami hanya menerima putra mahkota dan keluarganya” tolak pemimpin desa lalu berjalan meninggalkan Pelindung putri mahkota yang terpaksa mengikhlaskan kepergian tuannya.
Dia memandang orang-orang yang telah berhenti melangkah kaki dan memandangnya “menerimaku?” tanya nya penuh dengan harapan.
Seorang wanita yang masih berjalan mengiringi Zili menghela nafas “kau ini bicara apa?” Tanya nya “tentu saja, kau kan putri mahkota negara yang dipilih putra mahkota kami” lanjutnya menggetarkan Hati Zili.
“Tenang saja jangan khawatir”
“Anggap saja desa mu sendiri”
“Kami adalah bagian dari rakyatmu”
“Kami juga mencintaimu seperti kami mencintai putra mahkota”
Suara penduduk desa sontak membuat gadis tersebut terharu. Air matanya lagi-lagi berlinang mengalir deras karena tidak menyangka bahwa akan ada Rakyat NC yang mengakuinya.
“Hey bocah, berapa usiamu?” tanya pemimpin desa yang baru saja tiba, semua orang sontak mengelilingi zili ingin mendengarkan jawabannya.
“Li..lima belas tahun..
“Astaga, Xu’i menikahi anak kecil..
__ADS_1
“Kau ini bicara apa, Xu’i saja baru berusia enam belas tahun...
“Ckckck otak Xu’i tidak sesuai dengan usianya...
Perdebatan demi perdebatan terjadi. Hal yang belum pernah dialami zili seumur hidupnya pun tidak menyangka akan terjadi.
Bahagia...
Sungguh sangat bahagia, semua orang tersenyum kepadanya. Padahal sebelum pergi, gadis tersebut telah mempersiapkan diri karena mengira ia akan dibenci ataupun ditolak secara kasar oleh penduduk desa ann 51.
Pelindung putri mahkota tersenyum memandang Zili dari kejauhan. Tatapan mata gadis itu penuh dengan kebahagiaan ketika satu persatu penduduk desa menanyainya.
Sesekali gadis itu mengangguk, sesekali ia tersenyum, sesekali ia menggelengkan kepala, tampak perasaan haru menghiasi wajahnya.
Begitu cantik ia terlihat ketika bahagia.
Perlindung putri mahkota berbalik arah, pergi menuju mobilnya dan membiarkan wanita yang dicintai bersama penduduk desa.
Iya benar sekali.
Laki-laki tersebut jelas mengetahui bahwa Desa itu memang merupakan desa tempat bermain putra mahkota sewaktu masih kecil.
*******
Senyuman mengembang begitu mempesona. Laki-laki berbaju hitam berjalan diantara kolam-kolam ikan bawal merah yang sesekali terlihat melompat menangkap mangsa.
Dia terlihat sedang Mendengarkan suara keributan dari balik headset yang dikenakan.
“Benarkah kau Xu’i?”
Suara seseorang menghentikan Langkah kakinya.
Dia adalah Penasihat putra mahkota, ann sandi yang sedang berdiri dibelakang laki-laki tersebut.
“Menurutmu?”
Laki-laki tersebut mulai melangkah kaki kembali.
“Aku bertanya serius”
“Menurutmu aku menjawab bercanda”
Terus berjalan, laki-laki berbaju hitam meninggalkan penasihat putra mahkota yang menggelengkan kepala tidak menyangka.
Seseorang mendatanginya yang masih berdiri memandang punggung laki-laki tersebut.
__ADS_1
“Sudahlah, terima saja kenyataan bahwa Xu’i telah berubah” ucapnya lalu berjalan cepat mengikuti langkah kaki laki-laki berbaju hitam yang telah hilang dipandangan mata begitu cepatnya.