
Bank Negara NC – NC National Bank (NCNB), merupakan Bank terbesar dinegara NC yang telah memiliki puluhan juta nasabah.
Terdapat Dikota A, bagian Barat daya desa Sun 1, Bank tersebut dipimpin oleh ketua Klan Zin, Zin Zidan, kakek dari putri Mahkota, yang akan mendatangi Bank tersebut Beberapa kali dalam Seminggu.
Duduk, membaca setiap Laporan yang menyibukannya.
Laporan yang Mungkin ia akan bawa kekediamannya, jika ia Belum mampu untuk menyelesaikan pekerjaannya nanti.
Baaaamm...
ketua Klan Zin mulai dikejutkan dengan kedatangan mentri keuangan yang tiba-tiba membuka pintu paksa, masuk dan tidak ada seorang pegawai maupun penjaga bank yang berani menghalanginya.
Baaaaammm..
Menutup pintu dengan keras “kau sengaja, iya kan ayah..?” bentak emosi Mentri keuangan yang telah berdiri dihadapan Ayahnya.
Tersenyum kecut, meletakan lembaran kertas penting diatas meja “benar” jawab santai ketua Klan Zin “sekarang, aku tidak perlu lagi berpura-pura” lanjut laki-laki tua tersebut mengubah senyuman kecut menjadi senyuman pahit.
Terkejut mendengar ucapan ketua Klan Zin, “Ayah,..” panggilnya “jadi selama ini kau sudah tahu tentang Kemampuan mengingat cepat milik Zili..?” lanjutnya lagi bertanya masih tidak menyangka.
Tersenyum pahit “ cucuku telah memiliki Suami yang akan selalu melindunginya sekarang, “ mengingat semua kesalahannya yang begitu menyayat hati “jadi kau tidak perlu lagi menjauhkan dia dengan ibunya” lanjut ketua Klan Zin mulai meraih kembali kertas miliknya.
Mengepalkan tangan “aku tidak melakukannya untuk melindunginya” tertegun, berusaha mengendalikan amarah mengingat masa lalu “aku melakukannya karena aku tidak ingin putriku memiliki sifat buruk seperti ibunya” lanjut mentri keuangan mulai mengeraskan suara.
Membanting kertas marah, hingga giginya menyatu karena geram “aku tidak pernah bisa bersamanya lalu Kau sebagai ayah...” mulai berdiri dengan mata memerah “kapan kau pernah memperhatikan Zili..?” tanya laki-laki tua tersebut begitu sesak mengingat Keadaan Cucunya selama ini.
Membalas tatapan mata marah ketua klan Zin “Ayah, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku selama ini..?” tanya laki-laki dewasa tersebut begitu penasaran “sebenarnya dimana ibuku..?” bentaknya lagi sungguh mengharapkan jawaban.
*********
Sehari lagi,
Pekerjaannya sebagai seorang penagih hutang akan berakhir.
Setelah kembali dari Tempat tinggal ibunya, Zili mulai duduk diatas sofa ruang istirahat bersama dengan putra mahkota yang mulai meraih buku dari tangan supir pribadi laki-laki tersebut.
Memang setelah memasuki rumah ketua Klan Zin, putra mahkota memerintahkan Supirnya untuk mengambil salah satu Buku yang selalu ia bawa dibagasi mobil.
Jadi, tidak perlu sulit baginya untuk menemukan buku baru karena ia sendiri selalu mempersiapkan buku-buku yang masih belum ia selesaikan bacaannya.
Menoleh sejenak kearah Zili yang mulai meraih segelas teh Lemon dingin diatas meja, lalu menyedot pipet disana. Putra mahkota mulai mengembangkan senyuman senang karena merasa lega dengan keadaan Zili yang mulai membaik.
__ADS_1
Beberapa orang pelayan yang telah menyediakan makanan dan minuman ringan, mulai keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan putra mahkota bersama Zili berdua saja.
Ahhh..
Betapa beruntungnya mereka bisa melihat wajah putra mahkota secara langsung.
Begitulah perasaan para pelayan disana.
Salah seorang dari mereka bahkan tanpa sengaja menabrak dinding, saking tidak ingin Matanya terlepas untuk memandang wajah putra mahkota.
Mulai mengusap dahi nya yang sakit, pelayan yang menabrak dinding tadi dengan segera keluar dari ruang istirahat dan menutup pintu.
“Huh” menghela nafas lega, lalu mulai menoleh kepala memandang putra mahkota “shisou, terima kasih banyak telah menemaniku pagi ini” ucap gadis itu masih memandang wajah samping putra mahkota yang terlihat membaca barisan bukunya. Menutup buku karena tidak mampu memfokuskan diri sementara ia hanya berdua saja bersama Dengan Zili.
Putra mahkota mulai berjongkok dihadapan gadis itu, dicelah sempit antara meja dan kursi Sofa. “Shisou apa yang kau lakukan..?” tanya Zili memandang kepala putra mahkota yang tertunduk dihadapannya.
Mulai bergerak turun “tetap disana” perintah putra mahkota mulai mengangkat kepala dan meraih wajah Zili dengan salah satu tangannya.
Saling memandang,
Keduanya saling menelan saliva mereka.
Tersenyum senang, akhirnya mulai terbiasa memandang mata Zili, putra mahkota mulai mendorong tubuhnya naik lalu mencium salah satu mata gadis itu, hingga membuat Zili tak kuasa menahan detak jantungnya yang kencang dan berakhir dengan menjatuhkan tubuh telungkup diatas sofa.
Hingga membuat laki-laki tersebut berdiri serba salah.
Mungkin dia berpikir bahwa saat itu yang dilakukannya merupakan sebuah kesalahan sehingga membuat wanita miliknya marah “maafkan aku” ucap putra mahkota tetapi sayang, ia tidak mendengar jawaban dari Zili yang saat itu tidak lagi bisa mendengar Ucapan putra mahkota saking Malunya ia karena sikap Lembut laki-laki yang mampu membuat detak jantungnya memompa kencang.
Karena tidak berhasil membuat Wanita miliknya berbicara padanya kembali,
Putra mahkota mulai menghela nafas berat lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju kemobilnya untuk mengganti wajah dan meminum obat pengubah suara. Begitu berharap untuk bisa berkomunikasi lagi dengan Wanita yang saat ini masih terbaring telungkup diatas sofa.
********
Menghela nafas berat memandang tubuh belakang wanita yang dia cintai “hooi..” panggil putra mahkota kepada Zili yang sedang terbaring telungkup diatas Sofa.
“Tuan..” sontak gadis itu bangkit dari baringannya “haaa..” ucapnya sedikit kesal memandang putra mahkota yang telah menyamar. “kenapa kau ada disini..?” tanya gadis itu keheranan “dimana guruku..?”
“Mana kutahu..?” jawab santai putra mahkota sembari duduk disamping Zili yang telah memperbaiki posisinya “kenapa kau menyembunyikan Dirimu..?”tanya putra mahkota sedikit sedih.
“Menyembunyikan diri..?” mengenyitkah dahi kebingungan “maksudmu menyembunyikan wajah..?” tanya balik gadis itu.
__ADS_1
“Hmm” angguk putra mahkota menoleh kepala kearah Zili sedikit tertekan.
“Rasanya DUUUUUAAAAAMMM ...” ucapan gadis itu sontak mengejutkan putra mahkota karena kebingungan.
“Duuuuaaammm..?” tanya putra mahkota penasaran.
“Aahhh..” malu-malu menyembunyikan wajah dengan menundukan kepala “ketika mata Guruku memandang mataku..” ucap gadis itu mulai menjelaskan “rasanya jantungku ini ingin meledak duaaaammm..” lanjut jelas gadis itu membuat kesedihan putra mahkota menghilang berganti dengan rasa Lucu yang tidak ada henti-hentinya.
“Benarkah..?”
“Tentu saja karena aku sangat mencintai Guruku.” Jawab cepat Zili “dan kau tidak boleh cemburu.”
“Ahh bagaimana ini..” putra mahkota mulai berpura-pura “rasanya sakit sekali hatiku karena menahan cemburu..”
“Sudah kubilang tidak boleh cemburu” jawab gadis itu cepat lalu berdiri mencari keberadaan putra mahkota.
Haaaa...
Meraih tangan gadis itu.
“Tuan...”
Memeluk wanita miliknya. “Jangan begini, bagaimana kalau guruku mengetahui perbuatanmu...?” Gadis itu mulai melepaskan diri dari dekapan putra mahkota.
“Biarkan saja..” jawab cepat putra mahkota “biarkan saja yang penting aku bahagia.”
“Jangan lakukan ini brengsek..” masih belum terlepas dari dekapan putra mahkota “lepaskan Tuan..” pinta gadis itu berusaha keras melepaskan diri namun tak kuasa.
Tersenyum lucu melihat tingkah Zili “jangan bergerak atau aku akan menciummu”
“Apa kau bilang..?” Begitu tidak terima, Zili mulai menoleh kepala kebelakang.
Menyadari bahwa Wanita miliknya sedang menatapnya “sekarang aku akan menciummu..” ucap putra mahkota nakal lalu mendekati wajah Zili.
“Berhenti berhenti berhenti..” teriak keras Zili mengalihkan kepalanya kedepan “Dasar laki-laki brengsek” makinya tetap berusaha untuk melepaskan diri.
Pintu terbuka.
Seseorang tiba-tiba muncul diruang istirahat tempat mereka berada “apa yang kalian lakukan..?” suara orang tersebut mengejutkan Zili dan putra mahkota.
Sungguh tidak menyenangi, putra mahkota begitu kesal dengan gangguan yang terus menerus datang ketika ia sedang bersenang-senang “keluar.” Perintah putra mahkota mengejutkan Zili dan si pendatang.
__ADS_1
“Ah maaf, aku salah masuk “ ucap si pendatang yang tak lain adalah putri ketelitian, Zin Ziya.