
Terlihat jelas kekaguman di bola matanya.
Bahkan kedua tangan gadis itu digenggam erat di depan dada saking kagumnya ia kepada Putra Mahkota.
Sungguh, sedikitpun matanya tak teralih untuk terus memandang.
Setiap mata selalu tertuju pada gerakan Putra Mahkota, baik laki-laki itu sedang berjongkok melihat tempat penyimpanan baterai ataupun berdiri, berbicara dengan pejabat tinggi.
Perilakunya sontak mengundang perhatian Zili dan juga Pengusaha Kebanggaan Negara.
Sepertinya kedua orang tersebut sedang menahan rasa cemburu di dalam hati.
“Berikan aku laptop!” perintah Putra Mahkota yang langsung mendapatkan laptop dari tangan Ilmuwan Berbakat.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Ilmuwan Berbakat, mengikuti langkah kaki Putra Mahkota yang kini telah duduk di atas lantai dan meletakan laptop di atas kursi yang tingginya setara dengan dada laki-laki tersebut.
Pandangan mata gadis itu masih mengikuti gerakan Putra Mahkota, “Nura!” panggilan Pengusaha Kebanggaan Negara sontak membangunkan dirinya dari lamunan dan keinginan hati untuk memiliki laki-laki tersebut.
Dari tempat lain, Sepertinya Zili memahami perasaan gadis itu, perasaan tersebut pernah ia rasakan dan bahkan sampai saat ini sebenarnya masih ia rasakan. Gejolak hati yang begitu mengharapkan Putra Mahkota untuk menjadi miliknya, seutuhnya.
Zili hanya bisa menundukan kepala, mulai merasa tidak percaya akan dirinya sendiri lagi. “Hoii, Jalan!” Suara Shen Shi Yun yang terdengar marah, mengejutkannya.
Zili yang menyadari perilaku diam dari dirinya sendiri, segera menoleh ke arah Shen Shi Yun dan melihat raut marah di wajah laki-laki tersebut dengan pandangan matanya yang tertuju kepada Pengusaha Kebanggaan Negara dan Ou Nura di sana.
“Kaa.. kau cembur..eemmmm....”
“Kau ini bicara apa?”
Dengan cepat Shen Shi Yun menutup mulut Zili dari belakang.
Masih dengan memandang marah terhadap dua orang yang saling mengobrol di sampingnya, laki-laki tersebut membawa Zili mendekati Putra Mahkota.
Sementara itu, Zili terlihat sedang berusaha keras melepaskan tangan Shen Shi Yun dari mulutnya.
“Emmm Shi.. Emmm..”
“Banyak bicara.” Ucap Shen Shi Yun tidak juga melepaskan tangannya dari mulut gadis tersebut.
************
“Huuuuaaam...”
Suara uapan mulut terdengar hingga ke telinga.
“Peta satelit, aku ingin melihat posisi jalur kereta api ini melalui permukaan bumi di atas langit.” Masih bergulat cepat di atas keyboard laptop di hadapannya, Putra Mahkota menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan Ilmuwan Berbakat.
“Jadi begitu ya, baiklah, aku akan membantu.” Segera Ilmuwan Berbakat berdiri untuk menemui saudaranya dan meminta laptop dari saudaranya tersebut.
“Huh, akhirnya anda datang, Yang Mulia.”
Suara yang tadinya menguap kini terdengar kembali.
Masih terlihat sedang sangat sibuk dengan laptopnya, “aku tidak tahu, orang yang selalu berpihak pada Shin’A dan sama sekali tidak pernah dekat denganku, ternyata sedang menunggu kehadiranku.” Putra Mahkota dengan santainya melontarkan sindiran lalu menoleh ke arah Penasihat Pangeran Istana yang telah duduk tidak jauh dari tempat laptopnya berada. “Hm, ternyata bawahan Shin’A bisa terluka juga.” Setelah melontarkan kalimat sindiran itu, Putra Mahkota dengan cepat memfokuskan diri ke depan layar laptop kembali.
__ADS_1
“Hm,, kalau bukan karena lukaku ini, mungkin wanita anda akan mendekam di rumah sakit berbulan-bulan lamanya.” Balas sindir Penasihat Pangeran Istana yang terlihat duduk sembari melipat kedua tangan ke dada dan meletakan salah satu kaki ke atas kaki lainnya.
“Hmm, jadi begitu ya.”
Swwiiippp...
Buuuukkkkkkk...
“uhukkk.. Uhukkk...”
Braaaaakkkkkk...
Haaa..
Semua mata dibuat terkejut dengan perilaku Putra Mahkota yang tiba-tiba kecuali Penasihat Pangeran Istana yang tampak santai membaringkan tubuhnya kembali ke atas kursi dengan satu tangan di bawah kepala dan tangan yang lain di atas dada.
“Apa yang kau lakukan Xu’i?” tanya keras Ilmuwan Berbakat yang telah berdiri membersihkan darah di mulut dan memegangi perutnya yang sangat sakit, jauh di gerbong lain setelah menerima tendang keras dari Putra Mahkota dan merobohkan pintu penghubung dua gerbong kereta api di sana.
“Hm,” Senyuman remeh Putra Mahkota menandakan sesuatu, “aku hanya sedang menguji kesigapanmu sebagai bawahan terhormatku.” Jawab Putra Mahkota dengan wajah datar dan dingin serta tatapan tajam yang mampu dimengerti oleh para pejabat tinggi yang mengenali sifatnya.
Tak jauh dari Putra Mahkota yang kini telah melangkahkan kaki, Shen Shi Yun yang telah melepaskan tangan dari mulut Zili dan Zili yang sedang memegang tangan Shen Shi Yun karena tadinya berusaha melepaskan diri, hanya bisa diam terpaku, memandang perilaku aneh Putra Mahkota yang tiba-tiba saja terjadi itu.
“Ahhh,,” Pengusaha Kebanggaan terlihat salah tingkah ketika Putra Mahkota datang mendekatinya, segera ia menyembunyikan Ou Nura di belakang tubuh untuk menghindari kemungkinan yang terjadi.
“Sepertinya aku tidak pernah mengutus wanita itu bergabung di reguku.” Ucap Putra Mahkota yang telah berdiri di depan Pengusaha Kebanggaan Negara sembari mengantungi kedua tangan di dalam kantung celana.
Tinggi mereka sedikit saja berbeda, mungkin karena faktor usia mereka yang juga sedikit jauh berbeda, “dan lagi, mungkinkah orang sepertiku akan membiarkan wanita bodoh yang tidak mengerti keahlian klan Shen bergabung?, Menyusahkan, bukan?” lanjut Putra Mahkota, mencecar terus-menerus laki-laki di hadapannya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Keluar!” lalu memberikan perintah dengan nada menekan namun tetap terlihat begitu tenang.
“Ahh, Xu’i, Bukankah saat ini aku sedang bertugas sebagai pelayanmu?” Shen Shi Yun segera datang mendekat lalu memeluk bahu Putra Mahkota setelah memberikan tas ransel kepada Putri Kelincahan yang tetap berdiri dengan detak jantungnya yang kencang.
“Hm, begitukah?” Putra Mahkota melirik ke arah Shen Shi Yun sejenak. “Lalu?”
“Tentu saja aku hanya ingin menjadi pelayanmu saja dan tidak ingin menjadi pelayan dari wanitamu, jadi biarkan saja dia tetap di sini dan melayani wanitamu.” Jelas Shen Shi Yun dengan senyuman yang begitu licik mengembang dan diarahkannya untuk Pengusaha Kebanggaan Negara yang terlihat memandang laki-laki tersebut dengan mata kebencian.
“Xu’i, bukankah itu berlebihan?, Nura datang untuk membantuku menggantikan Aura..”
“Lalu apakah aku memerintahkannya?”
Sela cepat Putra Mahkota sembari mengisyaratkan Shen Shi Yun untuk mengambil gadis yang terlihat gemetaran di belakang Pengusaha Kebanggaan Negara tersebut. “Jika aku tidak memerintahkannya maka...”Buuukk..
“Uhukkk uhukkk..”
Tubuhnya naik ke udara sejenak lalu mendarat dengan cepat. Laki-laki itu kini terlihat berdiri membungkuk dengan salah satu tangan menahan perut yang sakit setelah menerima tendangan lutut kaki dari Putra Mahkota.
Baaaaakkkk...
Braaaakkkk...
Kemudian ia melayang jauh menabrak pintu gerbong dan masuk ke gerbong lain yang berbeda dengan gerbong Ilmuwan Kebanggaan negara berada. “Jangan pernah membuat keputusan sesuka hatimu,” karena Putra Mahkota telah melayangkan tendangan berputar lalu melangkah begitu cepat mendekatinya,“.. aku, benar-benar membencinya,” Baaaakkkk.. dan menendang tubuhnya yang terbaring di sana.
“Aaaakkhhh..” Pengusaha Kebanggaan Negara terdengar mengerang kesakitan ketika tumit sepatu kulit berwarna hitam milik Putra Mahkota mendarat di punggung telapak tangannya.
“Dan akan terus menyiksamu.”Bukkk... lalu kaki yang lain menendang dagu wajah hingga kepala laki-laki yang terbaring miring tersebut sontak bergerak ke belakang.
__ADS_1
“Aaaaakkkh.. “ Dan dia mengerang begitu kesakitan.
“Lawan!, aku memberikan kesempatan untukmu melawan, maka lakukanlah!” Putra Mahkota melepaskan kaki dari telapak tangan laki-laki yang terbaring kesakitan tersebut lalu bergerak sedikit menjauh.
“Xu’i,”
Pengusaha Kebanggaan Negara memandang kesal ke arah Putra Mahkota, sepertinya ia ingin sekali melawan saat ini, namun dia lumayan mengenal sifat dari laki-laki tersebut dan mengurungkan niat untuk melakukannya.
“Baiklah kalau kau tidak ingin melawan...”
“Ahhh benar, aku dengar dia lebih memilih mati asalkan Putri Mahkota negara ini mati.” Teriak Penasihat Pangeran Istana dari kejauhan begitu santainya ia memprovokasi keadaan.
“Hm, jadi begitu ya?” Baaaaaakkk.. Baaakkkk, buuukkkkk.. berkali-kali Putra Mahkota menendangi tubuh Pengusaha kebanggaan negara yang terlihat membungkuk menahan rasa sakit tendang dari Putra Mahkota. “Menangislah!, Kubilang menangis!” Baaaakk,,
“Uhukk.. uhukkk..” Semakin lama, semakin terasa keras tendangan tersebut ia terima.
“20%, ..” Baakkk...” 30%,”Bukkkk... “ 40...”
“Aku akan meminta maaf,” gumam pelan Pengusaha Kebanggaan Negara menahan perih, “ Maafkan aku Zili.” Teriaknya keras agar Zili mampu mendengarkannya.
“Kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja?”
Suasana yang tadinya bersahabat, kini berubah menjadi penuh dengan ketegangan yang menggetarkan hati. Bahkan Penasihat Pangeran Istana yang tadinya terbaring santai, saat itu terlihat tertegun melihat perilaku kejam Putra Mahkota.
“Ahhh Xu’i, bukankah itu sudah cukup?” bisik Shen Shi Yun yang telah mendekati Putra Mahkota dan menghentikan gerakan cepat kaki laki-laki tersebut. “Kau tidak ingin wanitamu semakin menjauhimu, bukan?” lanjut laki-laki tersebut berbisik.
“Ckkk..” Putra Mahkota mengangkat tangan lalu mendorong tubuh Shen Shi Yun menjauhinya. “Kau kira aku peduli?” Baaaakkkk... lalu menendang Pengusaha Kebanggaan Negara kembali.
“Ahhh benar,” gumam Shen Shi Yun yang telah menyadari bahwa di pandangan mata Zili, kini Putra Mahkota bukanlah lagi orang yang lembut setelah semua rahasia temannya tersebut terungkap. “Zili, jangan diam saja bodoh!” teriak keras Shen Shi Yun menyadarkan Zili dari ketegangan dan rasa takutnya.
Baaaakkk.. “Berisik sekali.”
“Uhuuukk uhukkk..” Karena teriakannya tersebut, Shen Shi Yun terpaksa menerima dengan lapang dada tendangan kaki Putra Mahkota untuknya, hingga ia bergeser mundur ke belakang dan berada sedikit menjauh.
“Haa, bosan.” Keluh Putra Mahkota yang telah menghentikan tendangan karena tidak adanya perlawanan.
Laki-laki itu segera berbalik dan melihat banyaknya mata yang memandang dirinya penuh dengan ketakutan.
“Mungkinkah ada kamar istirahat di tempat ini?” tanya Putra Mahkota begitu santai, masih berdiri di samping Pengusaha Kebanggaan Negara yang terluka lumayan parah.
“Aku melihatnya, di utara, gerbong ke empat dari tempat ini.” Jawab Pengusaha Kebanggaan Negara yang mulai terbaring terlentang dengan helaan nafas lega berkali-kali karena Putra Mahkota telah berhenti menyerangnya, “aku melihat ruang kesehatan di sana,” lanjut laki-laki yang sedang membersihkan luka di wajah dengan ibu jarinya tersebut.
“Xu’i, bukankah sebaiknya kau membantuku menyalakan kendali benda ini?” Kali ini Ilmuwan Berbakat yang membuka suara dengan santai, seperti tidak pernah terjadi sesuatu di tempat tersebut.
“Bagaimana dengan alat-alat mekanik?” tanya Putra Mahkota yang telah berjalan mendekati laptopnya kembali, melewati Zili yang masih berdiri, memandangnya dengan perasaan berkecamuk yang tercampur aduk, antara takut, bersalah, sedih ataupun kagum. Entahlah, dia juga sangat tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini.
“Aku akan mengeceknya dulu, Yang Mulia.” Mantan Presiden Sekolah Teknologi segera berlari menuju ke gerbong pengemudi kereta api untuk menemukan benda-benda yang dipertanyakan Putra Mahkota.
Sementara itu, Putra Mahkota telah duduk kembali di depan laptopnya yang menyala, diikuti oleh Ilmuwan Kebanggaan Negara dengan mengambil laptop yang tadinya terjatuh karena tendangan Putra Mahkota secara tiba-tiba lalu membuka laptop tersebut dan menyalakannya, membantu Putra Mahkota mengerjakan tugas.
“Tidak usah dipikirkan lagi!” Putri Kelincahan terlihat datang dan mengacak-acak kepala belakang Zili lalu berlalu pergi mendekati Putra Mahkota dan duduk di sisi samping lain dari laki-laki tersebut yang masih kosong.
Ketegangan telah berakhir, kini semua pejabat tinggi mengerjakan tugas mereka kembali.
__ADS_1
“Bukankah ini semua karenamu?” suara gadis terdengar melontarkan sindiran untuk Zili.
Zili yang telah terlepas dari ketegangannya, mulai menghela nafas lega lalu berjalan mendekati gadis yang tadinya melontarkan sindiran. “Hm benar karena aku, tapi aku bahagia, dan tidak menyangka bahwa suamiku ternyata begitu mencintaiku.” Balas sindir Zili, mengejutkan gadis yang telah memandang kepergian Putri Mahkota Negara NC menuju ke gerbong pengendali kereta api untuk membantu Mantan Presiden Sekolah Teknologi di sana.