Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB,my majesty 46


__ADS_3

Zili berlari menerjang derasnya tetesan hujan, rasa takut kehilangan mulai mengiringi hatinya.


Untuk pertama kali baginya, bisa sedekat itu dengan seseorang berumur sebaya selain putra mahkota.


Zili terus berlari membiarkan air matanya jatuh bercampur hujan, didalam pikiran gadis itu, biarlah tidak memiliki teman asalkan tidak ada seorangpun yang menderita seperti yang ia rasakan.


Suara langit bergemuruh keras, angin berhembus kencang membawa hujan ikut bersama. Malam sangat gelap, bahkan lampu yang menerangi sekolah sudah berada jauh dari posisi Zili berada.


Lapangan kuda yang berada dibelakang Sekolah telah Terlihat, sebuah gudang tempat penyimpanan peralatan berkuda berada tepat didepan mata.


Degup jantung tak karuan, rasa takut bukan lagi menjadi alasan baginya untuk kehilangan Teman.


Dengan langkah gemetaran, Gadis itu perlahan lahan mendekati gudang tersebut. Ia membuka pintu..


“Haaaaa hikss... haaaa” berkali kali air mata ia usap dipipinya. Zili jatuh terduduk menggenggam dadanya dengan kedua tangan “haaaaa hiks haaaa” dia menangis tersendak sendak.


“Kau...”


“Syukurlah, syukurlah tuan baik baik saja”


“Ada apa denganmu?”


Zili masih belum mampu melegakan suasana hatinya, meskipun ia mendapati putra mahkota duduk dengan santai sembari membaca buku.


Ia pun tidak melihat seorang lainnya kecuali putra mahkota disana.


“Haaa, Tuan, aku mohon jangan dekat denganku lagi, tuan aku mohon, aku tidak ingin jadi babu mu lagi”


“Kenapa kau bisa berada disini?”


“Aku melihatnya, tuan terikat dikursi yang saat ini tuan duduki. Tuan, semakin anda dekat denganku, semakin anda akan berada dalam bahaya”


“Dasar lemah...”


“Aku juga tidak ingin lemah, aku juga ingin kuat. Tapi bagaimana caranya. Sebagai tunangan pangeran, aku tidak diperkenankan untuk berlatih fisik, aku tidak punya teman satupun yang bahkan hanya untuk sekedar bicara, siapa yang mau menolongku hiks” zili berkali kali mengusap air mata dipipi.


“Terus?”


“Kapan?” gumam zili dalam hati mendongak kan wajah melihat putra mahkota telah berada didepannya.


“Katakan semuanya?”


“Tuan, aku...”


“Cepat katakan apa yang membuatmu lemah seperti ini?”


“Haaaaaaa.... hiks... haaaa. Shin’A brengsek, tidak punya hati apalagi perasaan. Aku ..aku salah apa? Setiap hari selalu saja, semua orang menghindariku, bahkan guru juga seperti itu. Percuma... percuma belajar. Tidak berguna, percuma dapat nilai tertinggi tidak ada yang mau tahu. Bahkan tidak sengaja bertemu. Dia mempermalukan ku didepan umum. Aku juga pernah dia pukul. Sekarang.. sekarang aku bahkan sudah tidak ada sangkut pautnya dengan dia lagi, tetapi kenapa dia masih saja menggangguku.. tuan...”


Zili sontak terdiam, jantungnya berdegup tidak karuan. Nafasnya tidak beraturan, “tu...” putra mahkota tanpa basa basi menarik tangan Zili, mendirikannya kemudian membawa gadis itu kedalam pelukannya.


Ia memeluk zili dengan satu tangan. Membiarkan wajah gadis tersebut bersandar didada bidang miliknya.


“Lalu”


“Tuan..”


“Selanjutnya apa lagi?”


Zili mencoba melepaskan tubuhnya, namun tangan putra mahkota mendekap kepala zili agar tetap bersandar .


“Tuan..”


“menangislah, katakan semua apa yang membuatmu sedih”


“Haaa... hiks.. haaa.. ibu pergi, ayah sibuk. Diabaikan teman, bahkan sampai tidak bisa pulang semalaman. Sampai dirumah kosong. Aku sendirian selalu sendirian. Tidak ada seorang pun yang menemaniku. Bahkan didunia game mereka bisa tahu kalau aku tunangan Shin’A. Aku.. hiks..”

__ADS_1


“Kau punya putra mahkota, bukan?”


“Tuan”


“Kau punya putra mahkota, jadi jangan pernah bersedih lagi”


“Tapi shisou.. dia pasti membenciku saat ini..”


“Siapa bilang? Tenang saja, aku dekat dengannya. Dia sering menanyakan kabar tentangmu padaku”


“Benarkah?”


“Hm”


Zili terdiam, sejenak ia tersenyum. Air matanya masih keluar namun wajahnya ia usapkan berkali kali ke Kaos polos berwarna Hitam limited edition milik putra mahkota.


“Tuan, anda baik baik saja , seseorang mengirimkan video anda terikat tali”


“Dimana?”


“Maksud anda tuan” Putra mahkota melepaskan pelukannya. Wajahnya mulai berubah, pandangan matanya bahkan terlihat sangat tajam.


“Maksud anda tuan?”


“Video yang kau katakan”


“Ahh iya, sepertinya aku menjatuhkannya”


“Sudahlah, ayo kembali, “


******


Ruangan mewah dan megah terdapat takhta didalamnya. Seorang wanita berdiri dengan wajah marah memandang seorang lelaki remaja dihadapannya.


Laki laki remaja yang dengan santainya memasukan Tangan kekantong celana.


Dia mendesah, menahan marah tak terhingga. Bahkan hingga menggetakan gigi dalam mulutnya.


“Kau yang menculiknya?”


“Buktinya mana?”


“Jawab jujur Shin’A”


“Ibu, mengapa kau menuduhku tanpa bukti”


“Untuk apa kau berada dirumah huan kalau bukan untuk menculiknya?”


“Ibu, hari itu aku hanya bertugas dan tanpa sengaja melihat huan membawa Putri mahkota. Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya?”


“Shin’A, jangan main main denganku”


“Ibu, dia bukan lagi tunanganku, untuk apa aku berhubungan lagi dengannya”


“Setelah aku mendapatkan bukti, kau.. pasti tidak akan kulepas”


“Ibu, kau lebih memilih dia dibandingkan putramu sendiri”


“kau selalu menyakitinya Shin’A”


“Karena dia pantas disakiti” shin’A membalikan tubuh, lalu melangkah kaki, meninggalkan Ibunya yang masih belum siap menyelesaikan perkataannya.


“SHin’A” teriak wanita itu namun laki laki tersebut terus berjalan mengabaikannya, ia tersenyum kecut. Pandangan matanya mulai tajam.


Langkah kakinya tiba tiba terhenti. Ia melihat seorang laki laki berada dihadapannya.

__ADS_1


“Shin’A”


“Ayah, kau juga tidak mempercayaiku”


“Hukumanmu akan sangat berat jika kau terus menerus menyembunyikannya” ucap laki laki itu lalu melanjutkan langkah kakinya, melewati Shin’A masuk kedalam ruangan.


Shin’A mengepalkan telapak tangan. Didalam hatinya, sangat membenci Zili yang telah mendapatkan pembelaan dari kedua orang tuanya.


Rasa ingin memiliki zili semakin membesar didalam hati Shin’A. Memilikinya untuk menghancurkannya.


******


Zili, dengan mengenakan pakaian kemeja laki laki dan rambut palsu pendek telah berada didapur asrama putra.


Ruangan luas penuh dengan peralatan Dapur hari itu tampak sepi. Kebanyakan Para penghuni asrama berlatih karena pertandingan Antar klan negara semakin hari semakin dekat.


Zili menggaruk garuk pipi yang tidak gatal. Melihat Shin ji dengan santai duduk diatas kursi tanpa sandaran.


Ia bahkan baru mengetahui bahwa orang sehebat Shin ji ternyata memiliki hobi bermain game online.


“cuci daging ini”


Putra mahkota memberikan sebuah mangkok berisi potongan daging besar. Dengan langkah cepat, zili segera membersihkan daging tersebut dikran yang tidak jauh dari sana.


“Tuan, sudah selesai”


“Sekarang lihat caraku memasak, perhatikan baik baik”


Putra mahkota mengambil daging tersebut lalu memotong cepat.


Zili memperhatikan dengan seksama semua gerakan putra mahkota. Dia bahkan tidak percaya temannya sangat ahli dalam memasak.


Beberapa menit kemudian, masakannya telah tersajikan.


“Coba?”.


“Hm enak,”


“Sekarang giliranmu, kau sudah memperhatikanku bukan?”


“Baiklah”


Zili melakukan semua seperti yang telah dilakukan putra mahkota. Dia bahkan mampu untuk mengingat semua langkah pembuatannya.


Beberapa menit kemudian, makanan tersaji.


Namun sontak putra mahkota tidak henti hentinya terkejut ketika zili sedang berusaha memasak begitu pula dengan shin ji yang langsung berhenti bermain game.


“Tuan, “


Zili menyerahkan piring yang terisi makanan buatannya. Putra mahkota mencicipinya, lagi lagi dia terkejut. Begitu pula dengan shin ji yang langsung mencoba makanan buatan Zili dan makanan buatan putra mahkota diatas meja.


“Bagaimana?”


“Hmm, kerja bagus”


Putra mahkota mengelus kepala Zili. Ia bahkan tersenyum lembut.


ZIli berbalik untuk mencuci semua peralatan yang tadi ia gunakan untuk memasak. Dia meninggalkan putra mahkota dan Shin ji yang saling bertatapan mata.


“Kau lihat?”


“Hm, dia bahkan sebanding dengan ibumu”


“Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan”

__ADS_1


“Tenang saja, serahkan padaku!”


Putra mahkota tersenyum senang, ia seperti menemukan sesuatu yang sangat menarik.


__ADS_2