
Di dalam mobil, ia hanya duduk terdiam,
Pertanyaan yang dilontarkan bibinya sekalipun hanya ia jawab seadanya hingga wanita di sampingnya bosan dan tidak lagi berniat mengajak laki-laki tersebut berbicara.
Hari itu, ia melihat dengan jelas apa yang dilakukan Putra Mahkota di kedalaman hutan sebuah pulau pertengahan Samudra.
Setelah menemukan foto Claya yang telah kusam di atas sebuah makam kuno dan mulai di kelilingi oleh para Pejabat Tinggi Negara, laki-laki yang telah bosan itu mulai melangkah kembali menuju kapal dengan memutar jalur arah hanya untuk melihat-lihat suasana pulau tersebut.
Ia terus berjalan semakin jauh masuk ke dalam dan memandang suasana hutan yang menurutunya tidak ada sesuatu yang menarik, namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena tanpa sengaja laki-laki tersebut mendengar tangisan keras Zili di sana.
“Aku yang salah kenapa kau harus membawa keluargaku dalam kesalahan yang telah kuperbuat?” Segera ia mendekati tangisan tersebut dan menemukan tiga orang di sana.
DOoooorr..
Suara tembakan memecahkan keheningan hutan hingga burung-burung di atas pohon mulai berhamburan ke udara karena terkejut dengan kerasnya suara tembakan tersebut.
Ia segera menoleh ke bawah bukit, berniat untuk memberikan pertolongan namun ternyata orang yang tertembak masih hidup dan tampak berdiri di pinggir danau.
Matanya membelalak menyadari sesuatu,
Lalu memandang ke arah Putra Mahkota yang telah mengangkat Zili ke atas bahu.
“Konyol.” Ucap Pangeran Istana mulai melangkah kaki mendekati lalu menghalangi jalan Putra Mahkota hingga laki-laki yang ia halangi menghentikan langkah.
“Minggir!” Perintah Putra Mahkota marah karena langkahnya terhalangi.
__ADS_1
“Kau, Tuannya bukan?”
“Bukan urusanmu.” Putra Mahkota mulai melangkah kembali dengan mencari jalur lainnya.
“Ahhh, pantas saja selama ini aku merasa ada yang aneh karena dia berani melawanku, ternyata dia itu adalah kau.”
Sindir Pangeran Istana namun diabaikan Putra Mahkota yang tetap berjalan menuju kapal. “Kau pasti menyamar karena tidak pernah mempercayainya, bukan?” Ucapan Pangeran Istana sontak mengejutkan Putra Mahkota yang langsung menghentikan langkah. “Kau juga menyamar karena ingin mencari kelemahannya lalu setelah mendapatkannya, kau akan gunakan kelemahan itu untuk mengancam ibuku,” Tebak laki-laki tersebut dengan pemikirannya yang tajam. “ Di masa lalu, kau sebenarnya tidak pernah mencintainya, kau hanya ingin membuatnya hebat lalu mendapatkan sanjungan dari ibuku karena kesuksesanmu itu. Benarkan apa yang kuucapkan?” Lanjut Pangeran Istana berbalik dan memandang kepala Zili di belakang Punggung Putra Mahkota.
“Berhentilah ikut campur urusan orang!, omonganmu terlalu kosong untuk dipercayai.” Putra Mahkota mulai melangkah kembali dengan perasaan piluh yang menyakiti hati, rasa bersalah semakin dalam menyelimuti.
“Ah Sakitnya, Pasti dia sangat kesakitan kalau sempat dia tahu,..” Sindir Pangeran Istana lagi dengan senyuman kesal yang menyayat hati. “ Ternyata selama ini dia hanya dimanfaatkan untuk menarik perhatian Ratu Negara oleh suaminya sendiri. Berjuang mati-matian hanya untuk menaikan nama baik laki-laki yang dia cinta, hahaha Bagaimana menurutmu jika dia tahu kenyataan pahit itu?, Dia tidak menerima apapun darimu selama ini, yang ia dapatkan malah penghinaan banyak orang karena berani menikah denganmu lalu setelah berjuang mati-matian, dia menerima kenyataan pahit kembali bahwa suaminya ternyata memanfaatkannya karena dia sangat disayangi oleh wanita yang dicintai suaminya. Lalu setelah terkumpul kelemahannya yang telah berselingkuh dengan laki-laki lain, dia dipaksa menerima hukuman berat oleh Negara kemudian mau tidak mau, Ratu Negara yang sangat menyayangi wanita itu mengeluarkannya dari sana dengan memintamu untuk memaafkannya, Gochaa..” Spekulasi Pangeran Istana berhasil membuat Putra Mahkota berbalik dan memandangnya dengan tatapan penuh amarah. “Putra Mahkota yang mencintai Ratu Negara, berhasil mendapatkan seluruh keinginannya.”
“Sampai kapanpun omonganmu akan tetap dianggap kosong baginya.” Ucap Putra Mahkota dengan menahan emosi yang membara mengingat bahwa laki-laki di hadapannya adalah Putra dari adik ayahnya.
“Hm, Bagaimana kalau waktu yang akan mengungkapkannya? Aku pastikan dia akan pergi meninggalkanmu dengan luka dalam yang takkan pernah bisa kau obati sedikitpun.”
Langkahnya terhenti.
Di dalam ruangan pribadi Putra Mahkota Sekolah High Raise, gadis itu memandang Pelindung Putra Mahkota Shin Ji sedang duduk membaca buku di lantai sembari menyandarkan punggung di lemari buku sisi kanan ruangan tersebut, sementara itu di sisi kiri ruangan, Pelindung Putra Mahkota Shi Jo terlihat mulai duduk dari baringannya di atas sofa dan Penasihat Putra Mahkota, Ann Sandi mulai muncul dari belakang kursi tempat biasa Putra Mahkota duduk.
“Aura.” Panggil Penasihat Putra Mahkota yang telah menyadari kehadiran Putri Keagungan di sana. “Xu’i tidak ada di sini.”
“Aku tidak sedang mencari Xu’i.” Jawab Putri Keagungan mulai melirik ke arah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang tetap duduk membaca buku tanpa reaksi sedikitpun walau ia tahu bahwa maksud kedatangan Putri Keagungan adalah untuk berbicara dengannya.
“Oh begitu.”
__ADS_1
“Ahh tidak biasanya kau datang mencari Shin Ji, kukira kau bahkan tidak akan pernah sedikitpun menemuinya.” Ucapan Pelindung Putra Mahkota Shin Jo sontak mengejutkan Putri Keagungan.
“Hahaha iyakan, mana mungkin Shin Ji bodoh ini disukai oleh wanita sehebat dirimu.” Begitupula dengan ucapan Penasihat Putra Mahkota yang semakin menambah keterkejutan di dalam hati gadis itu.
“Konyol, aku bahkan bisa mencari wanita yang lebih hebat dari dia.” Ucap Pelindung Putra Mahkota Shin Ji mulai membuka suara dengan nada keras karena merasa kesal di dalam hati.
Ucapannya sungguh menyakiti hati Putri Keagungan yang masih berdiri di depan pintu yang terbuka.
“Huh, Yang konyol itu dirimu yang masih merasa hebat padahal dekat dengan wanita saja selama ini tidak pernah kecuali hanya Aura dan Anna.” Ejek Penasihat Putra Mahkota begitu senang, menambah rasa kesal di dalam hati Pelindung Putra Mahkota Shin ji.
“Akui sajalah kau itu tidak laku.” Tambah Pelindung Putra Mahkota Shin Jo, mengejek.
“Memangnya kau pernah laku?”
Kali ini Pelindung Putra Mahkota Shin Ji berdiri karena tidak tahan lagi mendengar ejekan teman-temannya.
“Ahh dulu..” Mulai mengingat masa lalu, “Wanita Rusia yang mati bunuh diri itu,” Raut wajahnya mulai tampak bersedih mengingat kesalahannya di masa lalu.
“Oh wanita itu, menurutmu, benarkah dia mati bunuh diri karena malu?” Penasihat Putra Mahkota mulai menyadari sesuatu.
“Aku sangat penasaran karena saat itu, Shin’A sempat berencana untuk membunuh Zili, mana mungkin dia bisa melakukannya begitu saja tanpa bantuan orang lain?” Tebak Pelindung Putra Mahkota Shin Ji ikut penasaran.
“Sudahlah jangan dipikirkan lagi, hei Aura, kau ingin berbicara dengan shin ji sebelum dia pergi ke Mongolia, bukan?” Pelindung Putra Mahkota Shin Jo mulai berdiri dan melangkah keluar ruangan tersebut.
“Hm,” Angguk Putri Keagungan yang telah melangkah mendekati Pelindung Putra Mahkota Shin ji bersamaan dengan Penasihat Putra Mahkota yang telah berjalan di sampingnya,
__ADS_1
Lalu menepuk bahu gadis itu, “Sayangilah dia dengan benar, Bukankah kau tunangannya?” Ucap laki-laki tersebut menasihati semakin menambah keterkejutan gadis yang mulai terpikirkan perbuatannya selama ini.
Laki-laki tersebut terus melangkah keluar lalu menutup pintu dan membaca buku dengan menyandarkan punggung di depan pintu yang telah tertutup itu.