Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Rencana yang tak diketahui


__ADS_3

Pangkalan Militer Pusat Angkatan Laut di desa Sun merupakan Pangkalan Angkatan Laut terbesar milik Negara NC.


Ratusan Kapal Perang berukuran sedang tampak mengelilingi dua buah kapal induk berukuran besar, beberapa kapal selam juga tampak berada di pinggiran pantai.


Kapal-kapal perang berukuran kecil tak kalah memenuhi tempat luas di sana.


Frigate, Battle Cruiser, stealth, destroyer, dan jenis-jenis kapal perang lainnya mengisi penuh hingga hampir menguasai penuh pinggir lautan yang sangat lebar di sana.


Di sebuah atap gedung Militer Angkatan Laut bercatkan warna Putih, dua orang tampak berdiri memandang hiruk pikuk keramaian di bawah gedung dari kejauhan.


Hanya mereka berdua saja,


Seorang dari mereka tampak menyandar di pagar atap, membungkukan tubuh sembari tetap memandang keramaian dari kejauhan.


Seorang lain tampak berdiri sembari mengantungi kedua tangan, matanya yang tajam tertuju pada seorang gadis yang sedari tadi tak pernah terlepas dari pandangannya. Sesekali senyuman lembut menghiasi bibir, sesekali juga ia terlihat menghela nafas berat.


“Konyol, 50 kapal perang hanya untuk 500 Tentara Militer, Bukankah itu ide yang sangat gila?, Sekalipun itu Xu’i, aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal gila seperti wanitanya.” Seorang yang bersandar di pagar mulai melepaskan genggaman kedua tangannya yang menyatu sebelumnya. “ Sedikitpun, aku tidak melihat ada yang spesial dari wanita itu, Bagaimana mungkin Xu’i begitu nekad menjadikannya pengganti memimpin Tentara Militer?” Dia terlihat kecewa, dahinya mengkerut dan mulai berpikir. Laki-laki yang pandai menggunakan bahasa Negara NC itu, kini juga tampak memandang ke arah satu orang yang sama dengan pandangan mata laki-laki di sampingnya.


“Dia bukan berasal dari Tentara Militer sebelumnya.”


“Benarkah? Ehhh..” Laki-laki yang usianya mungkin jauh lebih tua dibandingkan laki-laki di sampingnya tampak terkejut, Meskipun demikian ia tetap tenang dan hanya menoleh sejenak ke arah temannya itu lalu mengalihkan pandangan kembali.


Senyuman kecurigaan mulai tampak menghiasi bibirnya.


“Hm.” Jawab laki-laki di sampingnya mulai membungkuk dan mengeluarkan tangan dari kantung celana, menyandarkan tubuh di pagar atap sama halnya dengan laki-laki di sampingnya. Rambutnya mulai bergerak terkena hembusan angin, 5 buah emas murni berbentuk bintang di bahu seragam Militer kebanggaan Klan Co yang ia kenakan, memantulkan cahaya sinar Matahari. “Dia dianggap bodoh dan selalu bergantung kepada keluarga kerajaan, meskipun telah mencetak beberapa penghargaan, tetap saja sebagian orang tidak mengakui usahanya karena menurut mereka, dia memasuki Istana tanpa berusaha sedikitpun.” Jelas Laki-laki tersebut lagi, kali ini sedikit menoleh ke samping karena orang yang ia pandang dari jauh mulai berjalan diikuti beberapa Pejabat Militer Tinggi.


“Ehh Pantas saja.”


“Kau bisa menebaknya?” Tanya laki-laki yang tak lain adalah Pangeran Istana kepada seorang laki-laki lain, laki-laki yang telah hampir sebulan lamanya berada di Negara NC. Seorang Pangeran, Putra dari Kaisar Negara Jepang.


“Kau sudah menyelidikinya?” Tanya balik laki-laki yang mungkin berusia lebih dari 20 tahunan tersebut kepada Pangeran Istana yang mulai membalikan tubuh dan menyandarkan pinggang di pagar.

__ADS_1


“Tentu saja, dan aku sangat kagum padanya.” Jawab laki-laki tersebut bersamaan dengan Pangeran Negeri sakura yang telah membalikan tubuh sama halnya dengan Pangeran istana lalu melipat kedua tangan di dada.


“Berpura-pura menjadi bodoh untuk menutupi kecerdasan, mungkin bisa menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan musuh dengan cepat.”


“Da yo?” (Ya kan?) Jawab Pangeran Istana mulai tertawa kecil di siang hari itu.


********


Hembusan angin laut menerpa kulit tubuh, helaian poni rambut terlihat terlepas dari jepit rambut yang mengkait.


Bendera Negara tampak berlenggak lenggok di atas kapal induk besar, Ratusan Tentara Militer silih berganti masuk dan keluar dari kapal-kapal sembari membawa beberapa perangkat persiapan perang.


Sangat ramai,


Siang itu, Zili tampak sedang berdiri dengan sesekali menandatangani lembaran dokumen dan mendengarkan laporan seorang Jendral Tinggi Angkatan Laut.


Berkali-kali gadis itu di buat kebingungan dengan adanya laporan masuk yang tiba-tiba datang tetapi ia berusaha keras memahaminya. “Lapor Yang Mulia, Seluruh Pakaian selam telah masuk ke dalam semua kapal sesuai perintah.” Kali ini seseorang datang lagi setelah sebelumnya seorang lain juga memberikan laporan penyelesain tugas yang bahkan Zili sendiri tidak memerintahkan mereka untuk melakukannya.


Zili menganggukan kepala, ia memerintahkan tentara yang telah melapor kembali ke posisinya sembari mengambil buku catatan kecil lalu mulai menuliskan peralatan yang tiba-tiba harus dibawa bersama mereka menuju ke markas lawan.


“Lapor Yang Mulia, 200 Tentara Militer telah diberangkatkan sesuai Perintah.” Betapa gemetaran tangan Zili, ia yang ingin menorehkan goresan tinta mulai menutup kegelisahannya dengan mengurungkan niat menulis laporan dan menyimpan kembali buku catatan kecilnya.


“Hm, Laporan diterima,”


Jendral tinggi di samping Zili terkejut, “ Yang Mulia, Mungkinkah anda telah mengatur rencana ini secara diam-diam?” Tanyanya tidak menyangka bahwa Tentara akan di berangkatkan tanpa pemberitahuan kepadanya terlebih dahulu.


“Tentu saja.” Jawab Zili berusaha tetap tenang, “Maaf Jendral, aku hanya berjaga-jaga.” Lanjut gadis itu mulai membaca kembali sebuah kertas laporan di tangannya.


Jendral tua berpangkat tinggi menghela nafas berat, ia memahami maksud ucapan Zili yang tidak mempercayainya bahkan laki-laki tua itu merasa mungkin Putri Mahkota sedang mencurigainya sebagai mata-mata musuh.


“Lapor Yang Mulia, 3 Unit Kapal selam telah diberangkatkan sesuai Perintah, 45 Prajurit telah dikirim bersamanya.”

__ADS_1


“ Lapor Yang Mulia, 1200 Tentara Militer dari desa Shen telah tiba, Mereka menunggu kehadiran anda.”


“ Lapor Yang Mulia, ...


Laporan demi laporan hari itu dia terima, laporan yang ia sendiri tidak pernah memerintahkannya. Ratusan lembar dokumen kini berada di atas meja kerja. Di gedung Militer Angkatan Laut desa Sun, gadis itu masih berada.


“Zili, kenapa kau membuat rencanamu sendiri tanpa pemberitahuan?” Dewa Kemenangan yang baru saja tiba tampak kesal dengan Zili. “Bagaimana mungkin kau mengatakan hanya akan membawa 500 Tentara Militer dengan 50 kapal perang namun pada kenyataannya 2000an lebih Prajurit telah kau kerahkan?” Lanjut laki-laki itu marah, tak habis pikir dengan rencana tak berpendirian dari gadis di hadapannya.


Zili menghela nafas berat, ia mengetahui dengan pasti bahwa semua perintah itu bukan ia yang menugaskannya. ” Haruskah aku mengatakan padamu bahwa aku tidak mempercayaimu agar lebih jelas kau memahami maksud dari semua yang kulakukan ini?, “ Zili menghela nafas sembari terus berpikir. “Manusia bisa dengan mudah bergerak jika diperintahkan tetapi tidak dengan kapal yang harus dikendalikan, jadi sewaktu-waktu aku ingin merubah rencana, aku hanya perlu memberikan perintah kepada Prajurit yang sedang bersiaga.”


“Zili kau..?”


“Kembalilah Sa’i!, Aku berharap kau tetap menganggapku bodoh sama halnya dengan pejabat tinggi lainnya.” Lanjut gadis tersebut lalu memfokuskan diri membaca laporannya kembali.


“Zili,“ Pelindung Putra Mahkota Shin Jo datang memasuki ruangan, ia memandang sekilas ke arah wajah Dewa Kemenangan yang tampak sedang menahan kekesalan.


“Apa lagi?”


“Sesuai Perintahmu, Kini kita telah berhasil mengepung tempat persembunyian Yellow Sprayer di daratan, Kau benar-benar hebat Zili,” Puji laki-laki itu mengejutkan Zili dan juga Dewa Kemenangan.


“Ahh baguslah. “Jawab gadis itu tidak sedikitpun merasa senang sembari mengambil sebuah Tablet android dan melihat Video pengepungan markas musuh dari dalam layar tablet Tersebut.


“Kenapa kau tampak tidak bahagia?, bukankah kau telah melakukan hal besar?, kalau ada kau, pasti, shin Ji, sandi dan hiks..” Laki-laki remaja itu mulai mengusap air mata tangisannya tetapi tidak dengan Zili yang hanya bisa diam, menahan rasa sedih di hatinya hari itu. “Xu’i pasti selamat.”


Gertakan gigi gadis itu terdengar, ia mengingat kembali setiap bait kata yang diucapkan Pemilik Apartemen di Perkebunan buah Tin saat itu. “Tentu saja, selama aku masih hidup, maka kita pasti akan membawa mereka kembali jadi,..” Menggenggam erat tangannya yang sedang gemetaran. “ Tetap Jagalah aku, karena saat ini seseorang sedang berjuang melalui diriku.” Lanjut gadis tersebut semakin mengejutkan Dewa Kemenangan.


Dia telah berubah, pantas saja, pikir laki-laki itu sembari berjalan keluar dari ruangan dan mulai memeriksa pesan di jam tangannya.


Sebuah pesan dari Putri Mahkota baru saja masuk ke dalam Akun Aplikasi Militer di jam tangan miliknya, padahal dia dan gadis itu baru saja bertatap muka dan tidak sedikitpun tangan gadis tersebut memegang jam tangan ataupun memberikan perintah secara langsung kepadanya.


Dari sana ia mulai menyadari sesuatu bahwa Dia menerima perintah dari satu orang yang sama. “ Yang Mulia.” Panggilnya mulai meninggalkan tempat lalu berhenti karena seseorang tampak berjalan menuju ke arah ruangan Zili dengan keadaan marah diikuti oleh orang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2