
“Hampir saja, Hampir saja aku mati.” Pengawal Rahasia Putra Mahkota berdiri tepat di tepi danau kecil dengan genangan air yang sangat jernih, dia mulai meraih sebuah lencana yang tergantung di balik kemejanya lalu memandang sebuah peluru tampak terjepit di dalamnya.
“Bodoh, Kenapa tidak akui saja?” Seorang laki-laki keluar dari balik pohon besar lalu berjalan mendekati danau sembari memandang laki-laki yang telah melangkah kaki, Plungg... dengan membuang Lencana ke dalam danau di sampingnya
“Ini pertama kali baginya,” Jawab laki-laki yang kini telah berjalan menghampiri laki-laki yang tak lain adalah Shen Shi Yun di sisi lain danau.
“Maksudmu?”
Tanya Shen Shi Yun yang terlihat memulai kembali langkahnya setelah Pengawal Putra Mahkota mendekati dan terus berjalan melewati semak belukar menuju ke Helikopter yang telah menunggu mereka di bagian lain Pulau tersebut.
“Pengalaman pertamanya takut kehilangan wanita yang dia cintai.” Lanjut jawab Pengawal Putra Mahkota masih terus berjalan sembari menyingkirkan tumbuh-tumbuhan menjalar di depannya.
“Pengecut sekali.” Ucap Shen Shi Yun sedikit kesal sembari membantu laki-laki yang telah memasuki usia dewasa tersebut, menyingkirkan tumbuhan menjalar di depan mereka.
“Xu’i bukanlah manusia sempurna, ada kalanya dia juga merasakan takut namun tidak ingin ada orang yang mengetahuinya. Tidak masalah bagiku kehilangan pekerjaan ini, tapi tetap saja, sangat berat rasanya meninggalkan Xu’i sendirian dengan rasa takut kehilangan wanitanya.” Laki-laki itu terlihat menghela nafas dalam, lalu mulai berjalan tegak kembali setelah melalui kesulitan langkah di semak belukar pulau tersebut.
“Dia benar-benar tidak mempercayai wanitanya.” Shen Shi Yun ikut menghela nafas, semestinya dia mengetahui perasaan yang tengah dialami Putra Mahkota saat ini, namun tetap saja, dia lebih menyukai laki-laki itu untuk jujur agar dapat mengetahui reaksi wanita yang dia anggap tidak pantas untuk bersanding dengan temannya tersebut meskipun dia sendiri tidak membenci Zili tetapi dia lebih mengutamakan kebahagiaan Nura dibandingkan dengan wanita lainnya.
“Bukan tidak percaya, dia hanya berjaga-jaga pada banyak hal. Terkadang, karena terlalu banyak kebohongan yang menumpuk, membuat manusia semakin berat untuk mengungkapkan kebenarannya. Sama halnya dengan Xu’i yang juga punya sisi kelemahan tersendiri, Terlebih lagi, Xu’i pernah menyakiti wanitanya ketika mereka tidak saling mengenal namun tinggal di satu atap yang sama, dan juga, Xu’i lebih baik dibenci dibandingkan dengan tidak dipercayai oleh wanitanya sendiri, dan yang paling dia takutkan adalah wanitanya menganggap aku benar-benar Tuannya meskipun gadis itu tahu bahwa Xu’i lah Tuannya tetapi tetap saja, wajahku ini pasti mengingatkannya pada masa lalu. Xu’i sungguh ingin wajahku menghilang dari pandang Istrinya. Xu’i pasti juga menyadari bahwa dirinya pengecut karena terus menerus membiarkan wanitanya merasa bersalah pada dirinya sendiri selama ini, maka dari itu, ia membagi beban wanita itu dengan berpura-pura membunuhku.”
Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah helikopter yang telah mendarat di pinggir lautan.
Pooooommmmm.. Poooommmm...
Suara penanda kapal telah berlayar mengarungi samudra mulai terdengar.
“Berakhir.”
“Sedikit lagi segalanya akan berakhir, Selamat Tinggal, Xu’i.” Ucap Piluh laki-laki tersebut mengenang kembali masa-masanya bekerja bersama Putra Mahkota selama ini.
************
Cuuuccccuuuupp...
Duaaaammm...
Duaarrr...
“Hormaaaaatttt, Mulai.”
Teeettt toweeetttt toweeettt..
__ADS_1
Duuuuarrrrr...
Cuucccccppp...
SELAMAT DATANG KEMBALI,
PUTRA MAHKOTA KAMI.
Tulisan kembang api tersebut tampak mewarnai langit pada malam hari itu.
Di tepi lautan,
Ribuan Tentara Militer tampak berbaris rapi dan memberi penghormatan penuh ke arah kapal yang akan segera berlabuh.
Atraksi Pesawat tempur tak kalah menambah kericuhan malam hari di Pusat Pangkalan Militer Angkatan Laut saat itu.
Suara terompet dari para Prajurit Militer turut serta menyambut kepulangan Putra Mahkota yang telah berhasil menyelamatkan penduduk asli Klan Xu dan juga bayi-bayi penduduk Negara NC yang selama ini menghilang, dengan nyaringnya.
Sambutan hangat juga datang dari para Keluarga Kerajaan yang telah berdiri menunggu kedatangan para Pahlawan Bangsa.
Mulai menuruni tangga, para pejabat tinggi Militer segera datang menghampiri dan berbaris rapi di tepi karpet merah yang telah di sediakan di bawah tangga Kapal untuk menyambut kedatangan Putra Mahkota yang mereka cinta.
Seragam hijau yang mereka kenakan secara serentak, semakin menambah kegembiraan malam hari itu namun sayang, tidak dengan hati Zili yang teramat kecewa.
Tidak peduli Putra Mahkota meninggalkannya dengan berjalan lebih dahulu, yang dia pikirkan hanyalah kematian pemilik Apartemen karena perbuatannya.
Tangisan haru mulai terdengar,
Kebahagiaan akan kepulangan Putra Mahkota membuat tangisan semua orang di sana pecah, hingga tangan lain para prajurit Militer menghapus air mata yang jatuh di pipi sebagian dari mereka.
Penghormatan terus di berikan,
Ratu Bayangan dan Ratu Negara segera berjalan cepat menghampiri Putra Mahkota begitupula dengan Kakek dan Nenek Putra Mahkota yang langsung datang mendekati.
Raja Negara dan Raja Bayangan serta Penasihat Raja hanya berdiri memandang mereka dari jauh.
Pelukan erat berkali-kali diterima Putra Mahkota diiringi dengan isak tangis yang menggema, Sungguh, Putra Mahkota merasa gerah, namun apa daya, dia hanya bisa membiarkan saja keluarganya memeluk tubuhnya.
Sementara itu, Zili hanya diam memandang Putra Mahkota dan lainnya di sambut dengan hangat oleh keluarga mereka masing-masing, seperti Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang dipeluk erat oleh Ayahnya, Pelindung Raja, serta ibu dan saudaranya yang tampak sedang menangis bersama.
Begitupula dengan Putri Kelincahan yang disambut hangat oleh nenek kakeknya, dan Penasihat Putra Mahkota dengan adiknya, Ann Soni dan juga kedua orang tuanya.
__ADS_1
Serta Putri Keagungan yang dihampiri Seorang gadis yang pernah ia temui, Ou Nura dan juga kedua orang tua mereka, serta kakek dan nenek mereka.
Lalu terakhir, Pangeran Negeri Sakura yang datang memberikan salam Penghormatan kepada kedua pemimpin Negara dan penasihat Raja.
Hanya dialah satu-satunya orang yang tetap berdiri dan telah menghentikan langkah.
Tetap berdiri agar semua orang tidak menyadari keberadaanya dan membiarkan mereka melepas kerinduan terhadap Putra Mahkota yang telah ia khianati ketulusannya, Pikir gadis tersebut seperti itu.
Suara isak tangis terdengar memenuhi pinggiran pelabuhan malam itu.
Ahhh benar,
Dia mulai menyadari seorang lagi yang tak terlihat di sana.
Lalu menoleh ke arah kapal kembali,
Gadis itu melihat Pangeran Istana tampak berdiri, sedikit membungkuk, menyandarkan kedua tangan di lantai empat dinding pembatas kapal sembari terus melihat kehebohan yang terjadi di bawahnya. Namun tiba-tiba pandangan laki-laki tersebut mulai melirik ke arah Zili.
Sontak gadis itu membuang wajahnya.
Gadis itu mulai berpikir bahwa mungkin karena Pangeran Istana tidak ikut andil dalam penyerangan musuh kali ini, maka dari itu, laki-laki tersebut memilih untuk tetap berdiri di sana dan tidak berbaur, bergabung dengan kemenangan yang bukan hasil dari kerja kerasnya.
Jelas sekali, ia melihat perbedaan yang cukup mendalam antara dia dan laki-laki tersebut.
Menurut gadis itu, dia hanyalah seorang gadis yang tidak tahu diri padahal berasal dari bangsawan biasa, sementara Pangeran Istana lebih memahami posisinya, dan tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari hasil yang bukan miliknya.
Dia membenci dirinya sendiri,
Zili.
Dia sangat membenci dirinya sendiri malam itu, jadi apapun hinaan yang di lontarkan Pangeran Istana telah ia terima dengan lapang dada.
Wajah yang murung, tiba-tiba terkejut,
Sebuah tangan telah meraih tangan gadis itu, membangunkannya dari lamunan,
“Maaf terlambat, Nenekmu ini masih sangat sulit bergerak maka dari itu, ibumu jadi kesusahan membawaku pergi menemuimu.” Suara seorang wanita tua membuat Zili sontak mengeluarkan air mata.
Tangannya yang teraih Putra Mahkota segera terlepas setelah laki-laki itu membawa Zili mendekati ibunya yang tampak berdiri sembari di belakang kursi roda neneknya. Gadis itu juga melihat ketua Klan Zin segera datang menghampirinya.
“Syukurlah kau selamat.”Ucap ibu gadis itu lalu memeluk hangat Putrinya yang telah menangis haru akan kedatangan keluarganya.
__ADS_1
Semua orang menyaksikannya, bahkan mata Putra Mahkota mulai sedih karena merasa bersalah begitupula dengan Pangeran Istana yang sedari tadi memandangi Zili namun tak sedikitpun bergerak untuk mendekatinya, karena dia telah mengetahui segala yang terjadi di pulau makam Claya siang tadinya.