Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB My majesty 33


__ADS_3

Rambut lurus panjang tanpa ikatan sepunggung badan terhembus kipas angin tinggi dihadapannya. Kacamata berwarna putih dikenakan menutupi mata.


Ruangan berdinding sebuah apartemen kecil terisi hanya beberapa peralatan rumah tangga. Kulkas, televisi, serta sebuah lemari kaca hias dan lainnya.


Sesekali seorang gadis yang tengah duduk diatas sofa memakai kacamata putih kesayangannya membalikan lembaran buku teori akutansi.


Didepan gadis itu sebuah meja dengan tumpukan buku buku sejenis sama telah tersisi kan beberapa bagian yang menandakan ia telah selesai membaca beberapa buku dari tumpukan buku buku tersebut yang selalu diberikan ayahnya untuk ia pelajari.


"Kreeek kreeek kreeeek "


suara bel pintu apartemennya berbunyi.


Gadis itu menghentikan bacaannya. Dengan tidak lagi membawa buku ditangan ia beranjak pergi menuju pintu yang tidak jauh dari tempat duduknya tadi.


Tanpa melihat siapa yang datang berkunjung melalui celah lubang kecil pintu. Ia yang mengetahui bahwa tidak mungkin akan ada orang yang berkunjung ke rumahnya kecuali bibinya membawa kedua ratu negara tidak lagi perlu mengkhawatirkan sesuatu.


Terlebih lagi, khusus hari itu ia telah memesan Makanan via online yang mungkin pengantarnya telah tiba.


Gadis yang tidak lain adalah Zin Zili'A perlahan memutar gagang pintur rumah. Seperti biasa untuk jaga jaga ia hanya membuka sedikit dari pintunya dan hanya mengeluarkan setengah tubuhnya melihat keluar pintu.


Zili membelalak mata, nafasnya tidak lagi beraturan. Ia terpaksa membuka penuh pintu rumah menimbang tamu yang tiba tiba mengunjunginya.


Berkali kali Zili menelan ludah, menahan rasa lumayan takut didalam hatinya. Hampir 2 bulan telah berlalu semenjak liburan kelulusan SMP dimulai, ia tidak pernah lagi melihat wajah tamu yang mengunjungi rumahnya tersebut.


Di pandang olehnya, seorang laki laki seusia dengan gadis tersebut sedang berdiri disamping seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang yang usianya lebih muda setahun darinya sedang berada dihadapan zili yang masih tertegun menatap mereka berdua.


"Ya..yang mulia"


Sontak zili terkejut saat Laki laki yang tidak lain adalah Shin'A dengan tubuh teramat kurus seenaknya masuk kedalam ruangan zili Diikuti dengan gadis berambut gelombong dengan senyuman mengejek kearahnya.


"Tutup pintumu"


Shin'A membalikan badannya memerintah Zili sesuka hati.


Hati gadis itu sebenarnya sangat tidak ingin menuruti perintah Laki laki yaang telah berada didalam ruangannya tapi apa daya. Berkali kali dia mencoba melawan dimasa lalu, ia tetap tidak pernah berhasil menghadapi laki laki yang banyak dipuja puja masyarakat negara tempat ia tinggal.


Dengan ragu ragu Zili menutup pintu. Perlahan lahan Shin'A mendekat kearahnya. Langkah kakinya membuat jantung zili berdegup kencang mengingat terakhir kali berjumpa, Shin'A mendapatkan tamparan keras dari ibunya.


"Kreek"


Shin'A memutar kunci pintu setelah ia berhasil berada dihadapan Zili. Gadis dengan rambut bergelombang dengan santainya duduk diatas sofa sembari melipat kedua tangan didada serta kakinya memandang senang kearah Zili dan Shin'A.


CO seyin, dialah gadis itu. Kekasih hati Pangeran istana yang terkenal dengan kecantikan nya yang luar biasa. Ia termasuk gadis paling cantik nomor ketiga yang diakui oleh masyarakat NC.


Itu terbukti atas kemenangannya diajang Putri kecantikan negara NC serta bakat istimewanya yang menduduki peringkat ketiga hampir mengalahkan putri Istana Sun liyu'a yang saat itu hanya mendapatkan peringkat kedua dikalah kan oleh seorang gadis yang kecantikan serta kecerdasannya tidak dapat diragukan lagi.


"A.. apa yang anda lakukan yang mulia?"


Tanya Zili gelagapan.


"Mengunci pintu"


"Untuk apa anda mengunci rumah saya?"


"Tentu saja untuk balas dendam atas apa yang telah kau lakukan padaku"


Shin'A tersenyum kecut mengingat kelaparan yang ia rasakan saat terpenjara didalam ruang bawah tanah klan Sun selama sebulan karena ketahuan orang tuanya telah menjahili zili selama disekolah.


"Paak'" sebuah tamparan melesat dipipi zili, seketika gadis itu jatuh kelantai dengan darah menetes diatas lantai ruangan tersebut.


Sangat sakit, itu yang ia rasakan. Ayah nya bahkan belum pernah memukul wajahnya seperti yang Shin'A lakukan selama ini.


Belum merasa puas dengan pukulannya, Shin'A menarik tangan zili untuk berdiri. Air mata gadis itu menetes keluar jatuh kepipi meskipun demikian tampaknya Shin'A tidak merasa kasihan.


Zili masih memegang rasa sakit dipipinya, berkali kali didalam hatinya berteriak mengatakan apa salah yang ia perbuatan hingga ia harus mendapatkan perlakuan sekeji itu.


Shin'A menarik siku zili yang sedang memegang pipinya. Dengan cepat ia membawa gadis itu kedekat dinding, lalu ia mengalihkan tangannya menuju kepala Zili dan membenturkannya ke dinding yang dekat dengan Pintu tersebut.


"Aaakh. " zili mengerang merasa sakit. Kepalanya berdarah, tetesan darahnya mengalir kepipi kirnya hingga menetes keatas lantai. zili jatuh terduduk lemas, saat itu ia merasakan hawa membunuh dari dalam diri Pangeran istana yang sedang berdiri memandang benci kearahnya.


Air mata terus berjatuhan membasahi wajah. Karena tangisannya, ia harus bernafas melalui mulut karena hidungnya tidak lagi mampu menghirup udara.


Zili menyandar kepala serta tubuh nya didinding. Pandangan matanya mengarah kelantai. Tubuhnya gemetaran merasa sakit yang hampir tak tertahankan.Ia tidak lagi mampu menatap Shin'A ataupun Seyin yang sedang merasa senang melihat penderitaannya.


NTah apa yang membuat seyin juga ikut membencinya serta senang melihat ia menderita. Yang ia ketahui saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuktikan perlakuan kejam shin'A kepadanya.


"Zili, kenapa kau mengunci pintu ?"


Suara seorang laki laki mengejutkan seisi ruangan.

__ADS_1


Shin'A tersenyum kecut mendengar suara teman orang tuanya begitupula dengan seyin yang langsung berdiri dengan meneteskan obat mata klan Xu .


Seyin mendekat kearah Zili membantunya berdiri namun Zili menolak tepat setelah shin'A membuka pintu dan menatap ayah zili masuk keruangan tersebut.


"Paman, tolong lah zili, dia sangat membenci keputusan sepihakku hingga berencana mau bunuh diri lagi"


Ucapan Shin'A mengejutkan Zili dan ayahnya sekaligus. Zili tidaak menyangka bahwa pangeran istana berdalih membohongi ayahnya hanya karena tidak ingin diketahui perbuatannya.


"Ayah, aku tidak.."


"Zili" bentak Lian kesal melihat perilaku putrinyanya.


"Percayalah padaku ayah" suara lemah zili tidak memiliki tenaga lagi untuk bertahan karena pandangan matanya mulai gelap.


*****


Zili terjatuh diatas tanah sebelum ia sempat menutup mobil milik Shen shi huan. Ingatan terakhir seketika muncul berbalut rasa takut tidak tertahankan.


Setelah ia tidak sadarkan diri, ia mengetahui dari ayahnya bahwa hari itu juga Shin'A pergi bersama Seyin menuju ke jerman.


Bahkan setelah ia terbangun dari tidurnya diatas kasur rumah sakit, ayahnya masih tidak mempercayai bahwa Shin'A yang telah memukulnya malahan ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa beberapa minggu lagi pesta pernikahannya dengan putra mahkota dilaksanakan tanpa meminta persetujuan darinya terlebih dahulu.


"Yang mulia pangeran Shin'A, apa yang menyebabkan anda datang kemari?"


Pertanyaan Huan sangat ingin diketahui jawabannya oleh zili yang masih gemetar ketakutan memeluk tubuhnya. Ia yang sudah tidak lagi ada hubungan dengan pangeran istana merasa aneh mengapa remaja laki laki itu muncul kembali kehadapannya.


Zili sangat mengetahui bahwa Shin'A sangat lihai menipu orang terlebih lagi sudah berpuluh puluh kali ia menipu Ayah nya agar percaya dengan omong kosong yang selalu ia lontarkan bahwasannya Zili selalu dekat dengan dia disekolah.


" tentu saja Aku ingin bertemu dengan sepupu ipar"


"Yang mulia, mengapa anda bisa tahu bahwa putri mahkota akan datang ke rumahku?"


Pertanyaan huan membuat shin'A tersenyum tipis. Tanpa menjawab remaja laki laki itu lalu menarik tangan Zili yang langsung ditepis oleh gadis itu.


"Ja..jangan.. sen..tuh aku" ucap Zili gelagapan.


"Hmmm, ada apa dengan sepupuku sayang ini, harusnya kau senang bertemu denganku"


Shin'A mencoba mengambil pergelangan tangan Zili untuk ikut dengannya namun sayang tangannya dihentikan oleh pelayan laki laki yang sedang menunggu didepan rumah ketika mereka tiba tadi.


"Yang muliaku, tidak seharusnya anda memaksa orang yang tidak ingin ikut bersama anda"


Pelayan laki laki tersebut tersenyum kecut, dengan segera Hai win membantu zili berdiri dengan meletakan salah satu tangannya melingkar punggung atas gadis itu dan mengenggam lengan atasnya.


Shin'A menghempaskan tangan Pelayan laki laki tersebut, namun ia terkejut tidak menyangka, genggaman tangan pelayan tersebut ternyata mampu meninggalkan bekas ditangannya.


"Kau...?"


"Yang mulia, aku hanyalah pelayan biasa"


"kau berani menipuku?"


"Anda juga berani menipu ratuku"


"Siapa kau?"


"Yang mulia, silahkan pergi dari tempat ini kalau tidak ingin saya laporkan perbuatan anda"


"Hmmm. Rein kah?"


"Anda menyadarinya "


"Siapa lagi orang yang paling dipercaya ibuku kalau bukan kau"


"Anda sudah tahu, bahkan ratuku sudah mulai curiga dengan keberadaan anda, harusnya anda takut dan pergi dari sini"


"Hahahaha" tawa shin'A menggelega. " kenapa aku harus takut, aku sudah bilang ke ayah bahwa aku tidak jadi pergi kejerman sebagai gantinya, aku akan membantu rakyat NC yang sedang kesusahan"


"Omong kosong"


"Laporkan saja, aku tidak peduli. Aku datang kemari hanya ingin menemui Sepupu iparku, apa yang harus dipermasalahkan"


"Dengan menyewa pelayan dan memutuskan tinggal dirumah orang, bahkan anda mencari tahu keberadaan Putri mahkota"


Shin'A mulai melangkah mendekat kearah Rein, lalu mengarahkan wajahnya tepat didekat laki laki yang baru saja tamat kuliah tersebut.


" jangan suka ikut campur urusan orang" bisiknya dengan senyuman nakal tersungging dibibir.


Rein tersenyum tipis mencurigai pola tingkah pangeran istana. Disisi lain , huan yang kebingungan melihat situasi saat itu,hanya bisa berdiri diam dan tidak menyangka lagi bahwa orang setinggi Tuan Co rein salah satu orang paling dibanggakan Klan Co mau berpura pura menjadi seorang pelayan.

__ADS_1


Shin'A berjalan menghampiri zili yang masih takut gemetaran. Dengan sigap ia mengambil pergelangan tangan gadis itu untuk membawanya masuk kedalam rumah.


"Yang mulia, kunci..."


"Tidak perlu, rumah kayu seperti ini saja harus pakai kunci" belum lagi Huan menyelesaikan perkataannya Shin'a sudah lebih dulu menyela.


"Aku tidak mau" tolak Zili saat tangan Shin'a sudah memegang tangannya. Ia tidak juga mau melangkahkan kakinya mengikuti remaja laki laki tersebut. Berkali kali ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman shin'A tapi tidak mampu.


"Jalan"


"Aku mau pulang"


"Jalan kubilang"


"Tidak mau"


Dengan geram Shin'a mengangkat tubuh Zili yang kurus dan menaikannya diatas bahu.


"Hei apa yang kau lakukan?" teriak Zili tidak menerima perilaku tidak sopan pangeran istana.


"Astaga, dia istri orang loh" gumam Hai win dalam hati melihat sikap pangeran istana yang menurut nya keterlaluan.


Rein dengan cepat melangkahkan kaki mengikuti Shin'A, ia masih ingin menyelidiki maksud dari pangeran istana yang terus menerus membuntuti putri mahkota atas perintah dari ratunya.


"Buuuuk". Engsel pintu lepas. Pintu yang terbentuk dari papan pun jatuh masuk kedalam rumah.


"Astaga pintuku" gumam Huan dalam hati kesal pintunya didobrak dengan kaki oleh pangeran istana.


Berkali kali zili memohon kepada Shin'a untuk melepaskan dia tapi tampaknya remaja laki laki tersebut mengabaikan begitu saja permohonannya.


"Karena kau yang paling rendah kedudukannya disini, maka kau adalah pelayan kami" ucap Hai win seenaknya kepada huan yang hanya pasrah dikelilingi orang orang tinggi negara Nc tersebut.


Apalagi ia juga mengetahui, Hai win merupakan Putri Klan Co yang sangat dibanggakan oleh kakeknya, ketua klan co.


*****


Ruangan rumah kecil dengan lantai hanya bersemen pasir biasa ditempati oleh tiga orang laki laki dan dua orang perempuan remaja.


Ruangan kosong tanpa Kulkas ataupun ac didalamnya hanya sebuah kipas tinggi terkadang membuat seisi rumah kegerahan.


Malam belum tiba, matahari sore masih menyinari tempat tersebut. Rumah papan yang berdiri ditengah hutan tanpa ada tetangga satupun disampingnya terkadang membuat takut Zili yang sedang duduk diatas tikar bambu biasa karena tidak ada satupun kursi didalamnya.


Bahkan hanya ada dua buah kasur single yang berada disatu kamar, karena rumah tersebut hanya memiliki satu ruangan kamar dan satu ruangan dapur serta kamar mandi berada dibelakang rumah.


"Aku mau pulang aku mau pulang aku mau pulang" gumam zili dalam hati sembari memeluk kedua kakinya yang dilipat kedada serta menyembunyikan wajahnya.


Berkali kali hai win memanggil namun ia merasa tidak mendengar siapapun. Saat itu zili tengah mengingat semua perlakukan kejam Shin'A terhadap dirinya selama hidup.


Terlebih lagi, saat ini dia ragu, apa mungkin nyawanya akan lolos dari kematian seperti saat saat sebelumnya.


"Yang mulia, sedari tadi belum makan" ucapan Hai win yang dilontarkan gadis itu berkali kali diabaikan zili. Bahkan ketika ia mencoba menyentuh lengan tangan gadis itu, tangannya selalu ditepis.


Shin'A berjalan keluar dapur membawa sepiring nasi beserta Ayam Hutan goreng yang ditangkap huan sejam yang lalu.


"Makan"


Perintah Shin'A dengan suara keras sembari meletakan piring tepat dihadapan Zili.


Zili tidak peduli, ia tetap tidak ingin beranjak dari posisinya.


"Makan kubilang?"


Ucapan Shin'A diabaikan oleh gadis yang masih belum bisa menghilangkan rasa takut didalam hatinya.


"Ada apa denganmu,?"


Shin'A melepaskan kedua tangan Zili secara paksa, sontak gadis itu terjatuh diatas tikar.


Semua orang didalam ruangan terkejut tidak percaya melihat kondisi Zili yang mengerikan.


"Absence seizure" Ucap seisi ruangan bersamaan.


Zili, pandangan matanya kosong, ia tidak lagi mampu menyadarkan dirinya sendiri karena rasa takut didalam hatinya telah memuncak.


"Sadarlah" teriak Shin'A mulai khawatir


"Yang mulia" teriak huan dan Hai win bersamaan.


"Astaga, mentalnya sudah terganggu. "gumam Rein dalam hati tidak menyangka bahwa putri mahkota akan menderita dengan keadaan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2