
Mata sayunya berkedip-kedip,
Setelah keluar dari dalam lorong di bawah bukit, cahaya sinar matahari mengenai wajah dan sedikit membuat perih di mata.
Pagi itu, Zili terlihat berjalan lunglai menundukan kepala, mengikuti langkah kaki laki-laki tua di hadapannya dengan di kelilingi belasan orang yang menjaga.
Wuuuuzzzz...
Hembusan angin menerpa tubuh, helaian rambut yang terlepas dari ikatan tali, bergoyang-goyang mendekati wajah.
Kricicickkk kricicickkk..
Sebuah aliran air di dalam sungai kecil yang di penuhi bebatuan besar, terdengar memecahkan suasana hening di sana. Terkadang, segerombolan ikan-ikan air tawar terlihat berenang karena disamping dangkal, air di dalam sungai tersebut juga sangat jernih.
Laki-laki tua berputar arah, menaiki puncak bukit yang di penuhi rerumputan llalang dengan bunga-bunga putih yang hampir mirip seperti kapas.
Di sekitaran bukit, terdapat beberapa pohon-pohon bercabang dan beraneka ragam jenisnya. Pepohanan tersebut tidak terlalu tinggi dan tidakpula terlalu pendek.
Wuuuuzzzz...
Perlahan-lahan rasa lelah mulai berkurang karena detak jantung telah kembali normal, getaran di tubuh juga telah menghilang.
Haa..
Zili menarik nafas, tangannya yang tidak terikat saat itu menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi mata.
Bukkkk,,
Doooorrrr...
Greeesekeekeekek..
“Zili!”
Lari,
Gadis itu berlari kencang menuruni bukit ketika tadinya ia berada hampir di pertengahan area tersebut setelah berhasil menjatuhkan seorang bawahan dari laki-laki tua dan merampas pistolnya lalu menembakan sebuah peluru yang hampir mengenai salah seorang musuh.
Zili yang berhasil lolos saat itu terlihat melompati sungai melalui bebatuan dengan sangat lihai.
“Zili!” tanpa diperintahkan, semua penjaga bergerak cepat mengejar langkah lari gadis itu yang sangat cepat.
Gresekkk greseekkk greseeekkk..
Suara dedauan pada langkah kaki Zili terus terdengar, gadis itu kini mulai memasuki hutan bakau.
Pepohonan bakau yang pendek dengan batang-batangnya yang menjalar, mengganggu langkah lari namun tempat tersebut mengingatkan gadis itu pada sesosok orang yang sangat ia rindukan.
Orang yang pernah berada bersamanya di tempat tersebut pada masa lalu, orang tersebut adalah Pemilik Apartemen, “Hiks, “ Air mata Zili terbang melayang terbawa angin, sembari berlari, gadis itu mengusap air mata yang tersisa di mata dengan menggenggam sebuah pistol di salah satu tangan.
Tubuhnya kini mulai membungkuk, Zili juga mulai memperpelan laju langkahnya karena batang-batang pepohonan bakau sangatlah licin.
Terkadang ia tersenyum tipis ketika melihat seekor kepiting merah melewatinya, terkadang ia tersenyum pahit, mengingat semua kepedihan yang selama ini telah ia rasakan.
Keeeceepaaakkkk...
WUuuuuuuzzzzz...
Lautan di depan mata, angin membuat air laut membentuk ombak dan membawa ombak tersebut menyapu pasir putih, pinggiran pantai.
Lautan di sana sangat luas.
Pulau lainpun terlihat sangat jauh di pandangan mata.
Cippaaaakkk...
Sepi sekali, tidak ada seorangpun di sana dan dia tidak mengenali tempat tersebut sebelumnya.
Pandangan matanya menoleh ke arah samping kiri, lalu menemukan tebing tinggi yang membentang luas hingga ujung mata memandang, sementara di samping lain serta depan gadis itu hanya terdapat lautan berwarna biru yang membinarkan mata karena airnya yang jernih kadang memperlihatkan karang-karang serta bebatuan kerikil berwarna-warni.
Tidak banyak waktu lagi untuk memutuskan, hari itu gadis tersebut hanya memikirkan cara untuk selamat dan menemui Putra Mahkota untuk mendengar penjelasannya.
Ia bukan tidak mempercayai perkataan laki-laki tua yang mungkin menurutnya merupakan ayah dari Raja Bayangan dan Ratu Negara, hanya saja, dia lebih mengikuti semua perkataan yang dilontarkan Pemilik Apartemen selama ini, untuk tidak percaya dengan perkataan orang begitu mudah tanpa mencari bukti dan kebenarannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Zili mulai berlari kembali setelah sebelumnya langkah gadis itu terhenti.
Beruntungnya jam tangan Putra Mahkota ia kenakan saat itu.
Gadis itu segera mengaktifkan GPS, sangat berharap seorang pejabat tinggi akan mencari tahu posisinya berada meskipun ia sendiri tidak yakin jika seseorang mungkin akan mencarinya menimbang biasanya hanya Putra Mahkotalah yang peduli padanya dan kini laki-laki tersebut sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Dia tidak terlalu ahli dalam bidang panjang tebing, juga sangat jarang berlatih bidang tersebut, namun dibandingkan dengan berenang yang akan membuatnya semakin berada dalam bahaya, gadis itu tidak memiliki pilihan lain selain hanya terus memanjat.
“Ihkkk,” Seluruh tenaga ia kerahkan, sesekali gadis itu mengeluarkan tali dari jam tangan, mengarahkan kepada sebuah pohon yang tumbuh di pertengahan tebing yang tinggi, lalu berdiri di atas batang pohon kemudian memanjat ke puncak tebing yang tidak terlalu jauh lagi.
Kraaakkk.. tanah yang ia pijak runtuh, hampir saja ia terjatuh jika saja tangannya tidak meraih ujung batu lancip di dalam tanah.
Terus berusaha bergerak dengan satu tangan mengangkat tubuh dan tangan yang lain meraih gundukan tanah.
“Ikkhh, Haaa..”
Mata gadis itu terbelalak ketika sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya dan membawa tubuh gadis itu naik.
“Kau ringan sekali?”
Gertakan gigi Zili terdengar keras, gadis itu bahkan tak kuasa lagi melawan karena tangannya kini terpelintir ke belakang dan pistol yang telah ia sembunyikan di dalam kantung celana berhasil diambil oleh laki-laki tua di belakangnya.
“Kakek, lepaskanlah aku!” Pinta Zili dengan nada yang teramat lelah.
“Ini adalah wilayah kekuasaanku, kemanapun kau lari, aku pasti akan menemukanmu.” Laki-laki tua segera melepaskan tangan Zili dengan sedikit mendorong tubuh gadis itu maju ke depan.
Setelah tangan terlepas, gadis itu memijat pelan lengan atasnya karena merasa sedikit sakit.
Diatas tebing yang tandus dan hanya dipenuhi beberapa rerumputan dan pepohonan, pemandangan indah lautan semakin membinarkan mata. Di pertengahan lautan juga terlihat sebuah pulau yang sepertinya ia ketahui.
XU 50.
Gumam Zili dalam hati, mengingat dengan rasa perih ketika ia pernah menyeberangi pulau tersebut bersama Putra Mahkota di masa lalu hanya untuk berlatih renang.
Zili berbalik, memandang laki-laki tua dan melirik sejenak ke arah tiga orang bawahan laki-laki tua tersebut yang datang mendekatinya.
“Jika berlari pasti ditemukan maka,...”
Zili menunduk sejenak, menarik nafas lalu mengangkat kepala.
“Aku hanya perlu melukaimu.” Kedua kalimat tersebut terlontar secara bersamaan.
Bakkkkkk Bukkkkk..
Tendangan keras berhasil menjatuhkan seorang bawahan laki-laki tua ke bawah tebing.
Wuuuuzzzz...
Bawahan yang lain mulai menyerang namun karena kecepatan lari Zili yang kencang, serangan tersebut hanya mengenai angin.
Baaakkk..Kaki Zili terangkat tinggi lalu mendarat keras di atas bahu salah seorang bawahan yang lain.
“Akkhhh.” Hingga laki-laki itu jatuh terduduk melipat kaki dan mengerang kesakitan.
BAaakkk..
Serangan tangan berhasil di tepis, Dooorrr...
Tembakan pistol jarak jauh juga berhasil dihindari.
Zili, bukanlah gadis lemah seperti di masa lalu.
“Saat ini aku telah mengerti alasan mengapa Putra Mahkota selalu menyuruhkan untuk mengangkat kepala,”
Baaakkkk...
“Heee...hm,” Pukulan menyamping yang dilakukan laki-laki tua berhasil Zili tepis dengan mudah.
Baaaaaaakk...
Gadis itu segera berjongkok dan berusaha menendang dari bawah namun berhasil dihindari oleh laki-laki tua.
Karena tidak ingin terus-menerus diserang secara berkelompok, ketika melihat salah seorang bawahan laki-laki tua yang masih mengerang kesakitan, Zili segera menghampiri dengan cepat lalu melompat tinggi dan menendang laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut hingga ia terjatuh lalu gadis itu mulai menyeimbangkan diri agar tidak jatuh ketika ia berada tepat di pinggir tebing.
__ADS_1
Bawahan yang lain datang menyerang, Segera Zili turun ke bawah setelah mengarahkan tali jam tangan pada dahan pohon terdekat hingga membuat laki-laki yang menyerang terkejut lalu gadis tersebut naik dengan cepat.
Bakkkkk,, kemudian menendang punggung laki-laki yang tidak bersiaga karena masih terkejut dengan perilaku Zili tadinya.
Baaaakk.. dan menjatuhkannya ke bawah jurang.
AKkkhhh..
Kehadirannya yang tak di sadari berhasil memukul perut Zili hingga membuat gadis itu mundur ke belakang beberapa langkah.
“Lalu apa alasannya?”
Baaaakkk..
“Uhukkkk... “
Buuukkk...
Zili terjatuh, lalu segera berdiri.
Berulang kali wajahnya terpukul hingga membentuk goresan luka dan berdarah.
Baaakkkk...
“Agar aku bisa melihat kesekitarku dan menemukan musuh yang mengintai meskipun kehadiran musuhku terkadang tidak mampu kusadari.” BUuukkkk..
Zili berhasil menepis serangan laki-laki tua dari belakangnya lalu berbalik menendang laki-laki tua tersebut dari sisi samping, dengan memutar tubuhnya.
“uhuuukkk, ternyata uhuk, tendanganmu keras juga.”
Zili mulai bergerak mendekat namun sayang langkahnya terhenti ketika laki-laki tua menodongkan pistol tepat di hadapannya,
Dooooorrr...
Peluru melesat mengenai tipis wajah Zili hingga tetesan darah keluar dari sana ketika gadis itu hendak bergerak tadinya.
“Curang, bukan?”
“Tidak ada kata curang jika bukan berada di dalam pertandingan.” Jawab santai laki-laki tua yang telah menghapus darah di tepi bibir.
“Kakek, aku percaya satu hal yang tidak kau percayai,”
“Maksudmu?” tanya laki-laki tua memandang Zili yang tampak sedikit kesakitan dan memegang perutnya.
“Keberuntungan itu ada, dan dia datang dari tuhan, jadi aku tidak perlu takut mati, yang perlu kulakukan hanyalah waspada dan berhati-hati.”
Segera Zili bergerak cepat meskipun ia tahu bahwa dirinya mungkin akan tertembak mati.
Doooorrr..
Tangggg...
Cuuuppppp...
Dua peluru saling beradu, hingga terjatuh menjauh ke atas tanah.
Sebuah peluru lain melesat maju lalu menjatuhkan pistol di tangan laki-laki tua.
Mata Zili sayu dan berkaca-kaca.
Drudurrurdurukk..
Sayup-sayup angin kencang mampu menghilangkan suara helikopter di atas langit.
Baaakkk..
“Shi Yun!” Gadis itu tidak lagi mempedulikan laki-laki tua yang kini sedang menerima pukulan dari seorang remaja laki-laki yang baru saja tiba, melainkan hanya memandang seorang laki-laki yang telah berdiri di depan mata.
“Haaa, Shi..” Mata gadis itu berkaca-kaca, gigi-giginya bergertak menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dalam hati kembali, “ .. Shou!” Panggil gadis itu mulai bergerak selangkah lalu dua langkah.
“Maaf, aku datang terlambat.” Suara Putra Mahkota terdengar ke telinga lalu menghilang cepat terbawa kencangnya angin yang menerpa tubuh mereka.
Sementara itu, Shen Shi Yun tampak berada jauh membawa laki-laki tua pergi dari sana dan helikopter juga berlalu mendarat sedikit jauh.
__ADS_1
“Shi.. hiks Shi.. hikss.” Zili jatuh terduduk, tangannya memegang dada yang teramat sakit, lalu dia menangis sejadi-jadinya. “Hiks.. haaa... hiks hiks haaa hikss .. Haaa.. “
Gadis itu menunduk, terus menangis. Angin yang kencang bahkan mampu membawa air matanya untuk ikut terbang bersama. “Jangan mendekat!” teriaknya keras ketika mendengar langkah kaki Putra Mahkota yang terbawa oleh angin hingga ke telinga,” Jangan mendekat!, Aku.. Aku.. aku hanya ingin hidup normal,, hiks hikss.. haaaa...hiks..” Ucapan Zili sontak menghentikan langkah kaki Putra Mahkota dan mengingatkan laki-laki tersebut pada dirinya sendiri di masa lalu.