
“Menangislah..”
“Tidak mau..”
“Menangislah..”
“Kubilang tidak mau ya tidak mau.”
“Menangis saja, sini..” putra mahkota melentangkan kedua tangannya, berhenti melangkah didepan Gedung pangkalan Militer Negara.
Geram, hingga ia juga ikut menghentikan langkah “Si brengsek pengkhianat ini..” Maki Zili terang-terangan, didepan banyaknya tentara penjaga Gedung disana, lalu melangkahkan kaki mendekati Putra mahkota “Kau kira aku akan jatuh lagi kedalam perangkapmu” Lanjut Zili tidak lagi dapat menahan kekesalan yang bercampur dengan kerinduan mendalam.
Terkekeh sejenak, lalu menurunkan kedua tangannya “perangkap ya..” tersenyum Nakal “Sini sayang, jatuhlah keperangkapku dan menangislah” meraih Tangan Zili dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
Menginjak kaki putra mahkota “Lepaskan brengsek..” Maki Zili lagi. meskipun terinjak, tetap saja putra mahkota masih menahan tubuh wanita miliknya didalam pelukan.
“Menangislah..”
“Kubilang tidak ingin menangis ya tidak ingin.” Jawab Zili mencoba melepaskan diri tetapi tak kuasa melakukannya.
Menghela nafas Sejenak, melihat sifat keras kepala wanita miliknya “Lihat ..” ucap putra mahkota mulai melepaskan tubuh Zili “tubuhmu saja sudah menggigil, air matamu juga memenuhi kelopak mata.” Lanjut putra mahkota yang telah menyadari keadaan wanita miliknya.
Menghempaskan tangan putra mahkota yang berada di kedua lengan atas Zili “kubilang padamu..” memandang marah kearah putra mahkota yang sedang menyamar “Aku tidak akan pernah menangis lagi didepan orang lain kecuali Didepan Guruku” ucap gadis itu penuh Emosi.
“Oh.” Jawab putra mahkota santai “Jadi begitu..” lanjut laki-laki Tersebut, meletakan kedua tangan dibelakang kepala dan Mulai melangkah lagi, mengikuti Zili yang telah melangkahkan kaki terlebih dahulu.
Berbalik, menghadap kearah putra mahkota kembali “benar begitu” jawab zili cepat “dan kau tidak boleh lagi memaksaku untuk menangis” lanjut gadis itu mulai mengalihkan pandangan kearah mobil putra mahkota. “shisou..” panggil gadis itu mulai berlari cepat menuju Mobil laki-laki yang dia cinta.
Menurukan kedua tangan dari belakang kepala, putra mahkota mulai berjalan cepat mendekati Zili yang terlihat kecewa karena tidak ada lagi Gurunya didalam Mobil sana.
“Dimana putra mahkota..?” tanya Zili kepada supir pribadi putra mahkota yang terlihat sedang berdiri didepan pintu mobil bagian belakang.
__ADS_1
Membukakan pintu mobil untuk Zili “ putra mahkota memiliki urusan yang harus ia selesai dan memerintahkan saya untuk mengantar anda kembali kekediaman Xu, yang Mulia” Jawab Laki-laki tersebut, sedikit melirik kearah putra mahkota yang dia kenali, dan memahami Tugas yang harus ia kerjakan.
Mulai masuk kedalam Mobil,
Putra mahkota yang sedang menyamar juga mengikuti gadis itu “kenapa kau ikut masuk, brengsek..?” maki Zili lagi sembari mengangkat salah satu kaki, mendorong paha kaki putra mahkota untuk melarangnya ikut masuk kedalam mobil.
“Hmm” senyuman nakal tidak henti-hentinya menghiasi bibir remaja laki-laki tersebut, meraih kaki Zili “kakimu ternyata Mulus juga” Puji Nakal putra mahkota sembari menggenggam pergelangan kaki Zili dan melepaskan sepatu haknya kemudian melempar benda tersebut masuk kedalam mobil, dan jatuh disudut lantai mobil tersebut.
Bertambah geram, Zili mulai Mengayunkan Kakinya namun sayang, lagi-lagi ia tak kuasa melakukannya “lepaskan brengsek..” maki Zili lagi tidak henti-hentinya dibuat emosi dengan perilaku putra mahkota. “Tuan Supir..” panggil Zili berteriak “bisakah kau tolong Singkirkan pengkhianat ini...?” pinta Zili masih dengan kakinya yang terangkat dan berada didalam genggaman tangan putra mahkota.
Tidak bergeming dari posisinya, malahan laki-laki tersebut berdiri membuang wajah, takut menyaksikan perilaku junjungnnya “Maaf yang mulia,..”Jawab Supir pribadi putra mahkota “Tuan shi An telah diberi tugas untuk menjaga anda.” Lanjut laki-laki tersebut mengejutkan Zili hingga gadis itu membelalak mata.
Menghentikan diri untuk meronta-ronta, Zili mulai bersikap tenang kembali dan menundukan kepala “begitu ya..?” ucapnya mulai sadar akan posisi bahwa dia hanyalah orang biasa yang akan selalu menerima perintah.
Merasa ada yang aneh dengan Wanita miliknya “Tentu saja..” jawab putra mahkota mulai melepaskan kaki Zili dan masuk kedalam Mobil miliknya “lalu kau tidak boleh sedih..” ucap putra mahkota mengelus kepala Zili dan sedikit mengacak-acak rambutnya.
Hati gadis itu begitu nyaman dengan perilaku laki-laki yang telah duduk disampingnya bersamaan dengan pintu mobil yang telah ditutup oleh supir pribadi putra mahkota “Tuan, Mungkinkah kau tahu dimana Guruku berada saat ini...?” tanya Zili berusaha keras agar rasa Cintanya kepada putra mahkota yang sedang menyamar tidak muncul kembali.
“Mana ku tahu” jawab santai putra mahkota sembari melipat kedua tangan dan kedua kakinya, duduk tegak dan mulai memandang kearah depan.
“Hm” jawab putra mahkota, tersenyum geli melihat tingkah Zili, dan ia terlihat Sungguh menyukai Gadis itu “kau ini menggemaskan sekali.”
“Kau ini bicara apa..?” bentak Zili masih tidak ingin memandang mata putra mahkota.
“Aku bicara tentang betapa menggemaskannya dirimu ini” Lanjut jawab putra mahkota semakin memperlebar Senyuman gelinya, memandang perilaku salah tingkah Zili yang terlihat sedang menyandarkan kepala dibelakang Kursi supir pribadi putra mahkota.
“Berhentilah Bercanda..” bentak Zili mulai menoleh sesaat kembali lalu membuang wajah lagi.
“Aku tidak sedang bercanda” jawab cepat putra mahkota, begitu bahagia melihat kemarahan wanita miliknya.
Membuang wajah kearah jendela kaca “sudahlah lupakan” Ucap gadis itu mengalihkan pembicaraan “tuan, kenapa kau melakukannya..?” tanya Zili mengingat kejadian Diruang rapat beberapa saat yang lalu bersamaan dengan Mobil yang mulai melaju.
__ADS_1
“Karena aku ingin melakukannya” jawab cepat putra mahkota, masih menolehkan wajah kearah Zili.
“Aku bertanya serius..” ucap Zili sangat kesal.
“Aku juga menjawab Serius.” Jawab cepat putra mahkota lagi, begitu senang menimbulkan kekesalan kedalam hati Zili untuknya.
“Tuan..” bentak Zili mulai menoleh kepala kearah putra mahkota, dan pandangan mereka saat itu tidak sengaja saling beradu,
Degup jantung tak lagi tertahankan, mulai tertegun, putra mahkota menelan Salivanya,
Menunduk kepala sejenak.
Haaaa...
Sungguh, putra mahkota mulai menarik tubuh zili dan membawa gadis itu kedalam pelukannya lagi.
Perasaannya mulai berkecamuk “brengsekk..” maki Zili memecahkan ketegangan mereka “apa yang kau lakukan..?” ucap gadis itu mulai melepaskan diri dan putra mahkota melepaskannya.
Tersenyum nakal “maaf tidak sengaja.” Jawab putra mahkota begitu senang dengan kemarahan Zili yang membuat keinginan hati untuk mencium gadis itu menghilang seketika.
“Bagaimana kalau guruku tahu perbuatan kita...?” Bentak Zili mulai gemetaran sedikit melirik kearah Supir putra mahkota yang tetap tenang mengendalikan mobil Junjungannya.
“Maaf, aku tidak suka mengadu yang mulia” ucap cepat supir putra mahkota menegaskan diri dan menyampaikan bahwa Zili tidak perlu mengkhawatirkannya.
“Bukan begitu maksudku..” sepertinya Zili mulai merasa bersalah kepada laki-laki yang mengendarai mobil saat itu.
Semakin dibuat senang “karena dia tidak suka mengadu” ucap putra mahkota memandang Zili yang terlihat menundukan kepala “bagaimana kalau kita mengulangi kembali pelukan kita tadi...?” Ucapnya memberi Saran.
“Si brengsek ini,” Geram, sangat geram “DASAR”
paaaaaakkkk..
__ADS_1
Bentak Zili bersamaan dengan pukulan tangan mendarat Dipipi putra mahkota untuk yang kesekian kalinya,
Mengejutkan putra mahkota, hingga rasa senang laki-laki tersebut semakin bertambah.