
Berdiri memandang keatas langit melalui dinding kaca gedung sekolah, dinding kaca yang Bisa memperlihatkan suasana luar dari dalam Gedung tetapi tidak bisa memperlihatkan suasana dalam dari luar gedung. Jenis dinding kaca itu biasa disebut dengan mirror glass, jenis dinding kaca yang mampu menjaga privasi Pemiliknya tanpa harus menggunakan tirai untuk menyembunyikan isi didalam gedung pengguna kaca tersebut, sore itu, Zili menatap langit penuh dengan kerinduan.
Shisou, kapan kau kembali?
Tanya gadis yang mulai berjalan Di koridor melengkung, memiliki dinding penghalang pendek yang dapat memperlihatkan lantai bawah dari atas gedung tersebut.
Tampaknya saat itu zili berada dilantai paling atas, hal itu terlihat jelas dari lengkungan atap gedung yang begitu apik hingga mampu memperlihatkan awan putih diatas langit dengan sangat jelas.
Memeluk beberapa buku ditangan, juga mengenakan jubah praktek putih, Zili baru saja keluar dari ruang laboratorium komputer sekolah.
Hari yang menenangkan, gadis itu bahkan tidak perlu khawatir dengan adanya gangguan karena menurutnya para Murid-murid sekolah teknologi sangat ramah dan juga sopan kepadanya.
Padahal ada beberapa murid yang seumuran dengan Zili tetapi mereka tetap saja memberi hormat dan berlaku sopan mengingat jabatan serta kedudukan Zili sebagai putri mahkota yang begitu tinggi.
Telah usai aktivitas sekolah, Zili mulai melangkah perlahan-lahan menuruni tangga semen yang berwarna putih.
Tenang, bahkan tidak seperti suasana Sekolah biasa dimana ketika sekolah berakhir semua murid akan berteriak kegirangan dan kesenangan karena rasa lelah belajar mereka telah berakhir. tampaknya memang ada yang aneh dengan murid-murid sekolah teknologi.
Mereka terlihat tidak memiliki semangat dan gairah hidup, baik itu ketika istirahat ataupun pulang sekolah atau bahkan ketika Berada didepan komputer yang mungkin saja bisa mereka gunakan untuk bermain game, mereka sungguh tidak terlihat merasa senang sedikitpun
Pikir Zili,
Selama ia berada didesa Co, sekali saja mereka tampak terlihat sedikit bahagia, itupun ketika melihat paangeran istana yang menunggunya didepan asrama putri.
Tidak ingin banyak bertanya, karena ketika didekat Zili pun, teman-teman sekelasnya cenderung diam dan hanya fokus mengerjakan tugas, atau bahkan setelah Makan siang, mereka tampak begitu tidak berselera hingga hanya mengambil sedikit bagian saja, padahal makanan kantin kelas khusus sudah digratiskan untuk mereka tanpa harus membayar lagi.
Terus menuruni tangga, hingga berdiri diloker penyimpanan barang pribadi. Zili mulai meletakkan ID card - kartu identitas muridnya ketombol kunci pembuka pintu, lalu melepas jubah putih yang ia kenakan, kemudian meletakan jubah yang telah ia lipat tersebut serta buku dipelukannya kedalam Loker miliknya dan menutup pintu kembali.
Terlihat dari jauh, tiga murid perempuan yang menyapa Zili tadi pagi sedang berjalan dengan wajah tertunduk dan sungguh teramat menyedihkan.
Berjalan beriringan, mereka bahkan tidak menyadari keberadaan zili yang mulai mendekati mereka.
“Eemmm..
Ragu-ragu Zili ingin menyapa “kalia...
“ya.. yang mulia..
Panggil seorang dari mereka yang sontak berhenti melangkah diikuti oleh kedua temannya.
Seorang dari mereka berjalan menunduk dihadapan Zili, tubuhnya yang lebih tinggi tampak menutupi tubuh Zili yang lebih rendah darinya
“maafkan saya yang mulia” ucap gadis tersebut dengan wajahnya yang bahkan mampu membuat Zili merasa iba.
Zili tersenyum lembut memandangnya “sudah lupakan saja” ucap gadis itu mencoba menenangkan.
“Saya juga yang mulia...
Ucap siswi yang lebih pendek.
“ucapan Saya juga sudah kelewatan yang mulia” ucap orang terakhir.
__ADS_1
“Hmmm..
Zili menggelengkan kepala “sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan lagi” jawab Zili mencoba menenangkan lagi “lebih baik sekarang kita kembali saja dulu” ajaknya yang langsung dianggukkan ketiga orang tersebut.
Mereka mulai melangkah kaki kembali, memasuki jalanan pavling block “yang mulia, bukankah sebaiknya kita mengadakan pesta penyambutan kedatanganmu?”
Haaaa...
Tersentak,
Hati Zili bahkan mulai merasa sedikit senang mendengar ucapan tersebut,
Selama hidupnya yang tidak pernah sekalipun dihargai orang, bagaimana mungkin ia tidak bahagia dengan ucapan tersebut.
Terlebih lagi, belum pernah sekalipun orang lain selain keluarga kerajaan yang menyambut kedatangannya begitu lembut seperti mereka.
“Mungkinkah hal itu bisa dilakukan?” tanya Zili mulai berharap.
“Kenapa tidak?”
Jawab seorang disamping Zili.
“Yang mulia malam ini, biarkan kami masuk keruangan anda” saran seorang lain yang tubuhnya lebih pendek.
“benar, kami akan membawa teman-teman lain untuk mengunjungi rumah anda, mereka pasti sangat senang menerima undangan dari anda” saran orang terakhir yang berjalan dibelakang Zili.
“Baiklah” ucap Zili menyetujui,
Perasaan itu membuat matanya mulai berkaca-kaca.
Terus berjalan,
Zili yang tadinya tertunduk sejenak mulai memandang jauh kedepan.
Langkah nya terhenti ketika melihat sekumpulan murid-murid sekolah teknologi baik laki-laki Maupun perempuan berdiri berdesak-desakan sembari diam-diam mencoba mencuri gambar.
Shin’A
Mungkinkah dia lagi?.
Gumam zili didalam hatinya mulai berjalan perlahan-lahan, mengikuti tiga temannya yang lebih dulu berlari karena pikir mereka, mungkin akan melihat pangeran istana lagi disatu hari yang sama.
Beberapa pengawal militer tampak berjaga-jaga.
Melihat mereka, Zili mulai mengernyitkan dahinya.
Pikirnya, bagaimana mungkin Pangeran istana membawa pengawal sebegitu banyaknya, sementara ia biasanya hanya dikawal oleh seorang tentara saja yang kadang bertindak sebagai supirnya.
Atau juga penasihat pangeran istana yang saat ini jarang terlihat bersama dengan laki-laki tersebut karena harus menyelesaikan tugas dari negara.
Memang, sejak Kejadian penyerangan musuh dihari ulang tahun pangeran istana, sebagian besar Pejabat tinggi mulai sibuk untuk membereskan masalah.
__ADS_1
Terus melangkah, mendekati kerumunan.
Zili mulai berjinjit melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian banyak Siswa tersebut.
Berusaha keras karena berada ditempat paling belakang, dia mulai melompat...
“Haaa....
Putra mahkota tersenyum lembut memandang Zili yang sejenak berada diudara. Dia yang tadinya sedang membaca sesekali melirik kepenjuru arah mencari keberadaan wanita miliknya, mulai menutup buku.
“Shi..
Ingin sekali ia menangis saking rindunya ia kepada putra mahkota yang sudah lebih dari seminggu lamanya tidak ia temui. “shisou..
Panggilnya lalu memasuki kerumunan untuk bertemu laki-laki yang ia cintai.
Sangat berdesakan, bahkan tubuh Zili mulai terjepit saking ramainya orang yang ingin melihat Putra mahkota.
Tampaknya bukan hanya Para siswa, ada beberapa penjaga Asrama dan guru-guru sekolah yang juga ingin melihat laki-laki nomor satu kebanggaan negara tersebut.
Sluuuuppp..
Haaaa...
Tangan Zili tertarik,
Mudah saja bagi putra mahkota mengeluarkan Zili dari keramaian karena ketika melangkah, para siswa sudah menyingkir dari jalannya.
“Shisou...
Panggil gadis itu sungguh bahagia.
“Maaf menunggu lama”
“emmm...
Geleng Zili cepat, menatap sejenak lalu menundukkan kepala karena merasa malu bertatap mata dengan putra mahkota.
“Yang mulia..
Tiga orang siswi yang berjalan bersama Zili tadi mulai datang menghampiri.
Sempat dihalangi pengawal putra mahkota tetapi tampaknya putra mahkota yang mengetahui bahwa mereka adalah teman-teman Zili melalui crackr yang selalu didengarnya, membiarkan mereka mendekat.
“Salam hormat kami yang mulia calon Raja negara NC” seru mereka bersamaan membungkuk tunduk disamping putra mahkota yang memang sangat dihormati.
“Tegaklah”
Perintah putra mahkota mulai menoleh kepala “apa yang kalian perlukan hingga berani datang mengganggu?” mulai menyindir, meskipun dengan suara lembut tapi tampaknya dalam hati, putra mahkota sangat tidak menyukai tingkah tidak sopan mereka.
“Pesta penyambutan Putri mahkota, ..
__ADS_1
Seorang dari mereka terang-terangan meminta hingga mampu membuat Zili sontak terperanjat tidak percaya “kami menginginkannya, yang mulia”