Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
rasa sakit bertubi-tubi


__ADS_3

Suara dentuman Blackhole beberapa kali terdengar. Suara jeritan musang dan kokokan ayam meramaikan suasana hutan yang tadinya sunyi.


Suara tapakan kaki berkericik didauanan kering. Dua orang remaja telah berdiri disamping putra mahkota. Salah seorang ingin berlari mendekati namun seorang yang lain menahannya agar tidak menerima hinaan dari remaja laki-laki yang tidak pernah menghargai perasaan perempuan.


“Xu..Xui, kau baik-baik saja bukan?”


Tanya khawatir putri istana yang telah bertemu dengan putra mahkota. Berkali-kali, ia mencoba melepaskan tangannya dari pengeran Xu namun setiap satu tangan telah lepas, tangan lain teraih lagi oleh laki-laki disampingnya. “paman” teriaknya marah.


“Yu’a, belajarlah menahan diri. Lihatlah situasi saat ini” bisik pangeran Xu yang melihat pertengkaran lisan putra mahkota dengan pangeran istana.


“Haaa, sayang nya aku tidak pernah menganggap nya sebagai perselisihan” tak menjawab pertanyaan putri istana, putra mahkota malah mulai mencibir pangeran istana “sejujurnya, putra raja sedikitpun tidak pantas menjadi rival yang perlu diperselisihkan, keahliannya bahkan hanya sebatas dibawah standar” cibirannya menyakitkan.


Bahkan putri istana yang memberontak tersentak terdiam. Dia mulai sadar pada dirinya sendiri, beruntung dia tidak langsung lari kearah putra mahkota, kalau tidak, tenty ia juga akan mendapatkan cibiran yang sama.


“tidak pantas menjadi rival tapi kau malah mengambil apa yang harusnya menjadi milikku” semua orang kecuali putra mahkota sontak terkejut. Mereka dibuat diam tak berkutik mendengar ungkapan pangeran istana yang mengakui Zili adalah tunangannya.

__ADS_1


Padahal sebelumnya, ia sangat membenci jika sedikit saja orang-orang menceritakan tentang Gadis tersebut.


Putra mahkota menahan tawa”pfffttt” terus ia tahan hingga ia tak mau lagi menahannya “hahahahahahaha” tawanya terlepas menggelega. “hahhahahaha”dia tertawa lagi.


Suasana tegang di kedalaman hutan. Tak seorang pun yang berani berucap kecuali hanya putra mahkota dan pangeran istana “kalau kau mau, ambil saja kembali tunanganmu itu, aku akan menceraikannya hari ini juga” ucapan putra mahkota semakin membuat terkejut semua orang.


Bahkan zili sendiripun merasakan sakit luar biasa diulu hatinya, hingga tak kuasa menahan tangis. Air matanya semakin deras mengalir. Ia duduk lemas, menahan suara sedihnya setelah tangan pangeran istana melemah karena ucapan putra mahkota. “kau lihat, dia bahkan sampai menangis karena menyukaiku” tambah putra mahkota lagi. “sejujurnya, tidak nyaman bagiku selama ini untuk melindunginya, tapi mau bagaimana lagi, karena ibumu sangat menyukainya, aku jadi tidak memiliki pilihan.”


Putra mahkota melempar daun talas yang telah berisi batang jamur dari kantongnya. Menyerahkan perlindungan zili kepada pangeran istana. Ia lalu berdiri, memutar tubuh untuk segera pergi.


Sontak semua orang terkejut, bahkan putra mahkota sampai berbalik memasang wajah yang teramat marah Melihat keadaan Zili yang melemah.


belum selesai ia menangis karena rasa sakit mendengar ucapan putra mahkota, kini ia kembali menahan rasa malu dan sakit hati karena dorongan pangeran istana. Yang membuatnya terjatuh keatas tanah.


Zili mencoba berdiri, tapi kakinya terkilir.

__ADS_1


Bukan pelan, ternyata pangeran istana mendorongnya begitu kuat hingga kaki Zili menatap pepohonan. Bahkan tubuhnya berguling direrumputan beberapa kali karena tenaga laki-laki tersebut yang lumayan kuat hingga membuat kulit-kulitnya tergores dedaunan tajam.


Pangeran Xu bergerak cepat membantu Zili berdiri.


Menangis sejadi-jadinya pun tidak berguna. Pergi kearah putra mahkota pasti akan semakin dipermalukannya. Itu lah yang ada dipikiran Zili hari itu.


Pangeran xu mencoba menopang tubuh gadis yang telah berdiri melemah. Wajahnya tergores berdarah hingga menetes bercampur dengan air mata.”pergilah” kata Zili lemah sembari mendorong tubuh pangeran Xu.


“Tapi kau terluk...


“Pergilah, aku mohon” suara Zili lirih menahan rasa sakit dan malu yang kian membesar.


Zili melangkah kaki perlahan-lahan, berjalan pincang setelah lepas dari bantuan Pangeran Xu.


“Akhhhh...

__ADS_1


Rasa sakit tak tertahan, hampir saja membuat tubuhnya tak seimbang.


__ADS_2