
Suara gemuruh helipkopter terdengar memekik ditelinga. Putra mahkota berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun sejak saat keberangkatan mereka.
Berkali-kali Zili menyebut Panggilan Shisou terhadapnya, tetap saja ia tidak mempedulikan gadis itu.
SHin ji dan sandi yang duduk disana menghela nafas berat tanda sedang mengkhawatirkan sahabatnya. Sandi yang mengemudi helikopter bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Shin ji menyerahkan Tas parasut kepada Putra mahkota. Ia menerimanya lalu meletakan di punggung Zili tanpa berkata.
ZIli tersentak, namun menerima perlakuan putra mahkota, ia sangat takut remaja laki-laki dihadapannya akan marah lagi jika ia menentangnya
Putra mahkota mengkaitkan perekat di atas perut Zili. Gadis itu sontak menahan nafas karena jantungnya yang tidak berhenti berdetak.
Dag dig dug. Bahkan diantara keributan Suara helikopter, zili mampu merasakan degup jantungnya.
Setelah selesai membantu Zili, putra mahkota melanjutkan untuk dirinya sendiri.
“Schpozie, jamur Tettura” SHin ji memberikan Kertas yang berisi bahan-bahan Pembuatan obat penanganan ternak kepada putra mahkota. Tidak lupa ia melipat ukuran kertas menjadi kecil hingga muat masuk kedalam jam tangan putra mahkota. “hati-hati dengan bahan tersebut. Itu sangat beracun” ucap Shin ji lalu menjatuhkan Tas yang besar . berisi makanan dan pakaian serta beberapa kain penghangat untuk Putra mahkota dan Zili bertahan hidup di tengah-tengah desa mati.
“Kau kira aku bo...
“Aku hanya mengingatkan” sela Shin ji diantara kekhawatirannya. Tampak parasut tas bahan makanan dan pakaian telah terbuka dengan sendirinya.
“Hati-hati” Sandi terlihat masih tidak terima dengan Keputusan Sahabatnya.
“Tenang saja” putra mahkota menarik tangan Zili menjatuhkan diri mereka bersamaan diudara dengan ketinggian rata-rata.
“Xu’i” rasa khawatir tampak dari wajah Shin ji. Melihat putra mahkota telah menarik tali parasut milik Zili. Lalu beberapa saat kemudian, parasut miliknya juga mengembang.
Pandangannya penuh dengan rasa takut ketika Sahabatnya telah menghilang masuk diantara kabut tebal Hutan yang mengelilingi desa mati.
__ADS_1
Desa nenek moyang yang tidak lagi berpenghuni selama berabad-abad tahun sejak virus menyerang negara mereka yang masih belum terbentuk.
Helikopter berlalu menjauh, pergi meninggalkan putra mahkota dan zili yang telah menapakkan kaki diatas tanah.
Suasana mencekamkan terlihat sangat jelas. Berbagai rambatan rumput liar memenuhi rumah-rumah didesa yang tampak tua.
Angin sejuk dan dingin namun lebih dingin dari desa-desa lain yang pernah Zili kunjungi. Setelah melepaskan parasut mereka. Putra mahkota melepaskan jaket yang ia kenakan lalu menyelimutinya ketubuh zili..
“Shisou”
“Pakailah, apa perlu aku juga yang mengancingkannya?”
“Bukan itu, tapi...
“Aku bilang pakai, kenapa kau selalu saja menentangku?”
Zili menganggukan kepala, ia melihat putra mahkota melangkah kaki memasuki semak belukar meninggalkan Zili yang dia perintahkan tetap berada ditempat melalui isyarat tangannya.
“Karena mulai sore, sebaiknya kita istirahat saja terlebih dahulu di satu rumah disana” putra mahkota menunjuk kesebuah rumah yang tidak terlalu banyak rumput liar yang menutupinya.
Zili menganggukan kepala setuju. Ia terus melangkah mengikuti putra mahkota menuju kearah satu rumah panggung yang terbuat dari papan Kayu jati. Bahkan warna merah dari pohon tersebut, tidak termakan oleh usia yang telah beratus tahun lamanya berdiri tegak disana.
Putra mahkota membersihkan Rumput liar tanpa rasa takut didalam hatinya. Sementara Zili dengan ragu membantu membuang rumput yang telah jatuh diatas papan setelah putra mahkota menariknya kebawah.
******
Paaaaaakkkk
Raja negara tampak sangat santai menerima tamparan dari ratu negara yang baru saja kembali dari liburannya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, bagi raja negara yang sangat mencintai dan dicintai ratunya menerima tamparan yang tidak seberapa karena memang ratu negara tidak sanggup menampar kuat kewajah laki-laki yang sangat dia cinta.
“Apa kau gila?”
Raja negara hanya menganggukan kepala menjawab pertanyaan penuh emosi ratu negara, ia bahkan sempat memeluk istrinya karena rasa rindu nya yang teramat dalam padahal baru dua hari ditinggalkan.
“Aku merindukanmu” ucapnya manja.
“Aku tidak peduli, Shin, bagaimana kau bisa setega itu terhadap Zili?”
“Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur kuputuskan, salahkan dirimu sendiri kenapa memaksa pergi hari itu” tanpa melepaskan pelukan raja negara dan bahkan membalas pelukannya. Ratu negara terlihat sangat kacau hari itu.
“Ayo kita pergi mencari mereka”
Raja negara tersenyum senang, dia yang memang sangat gerah duduk disinggasana istana ingin sekali liburan bersama istrinya meskipun ditempat berbahaya sekalipun.
Raja negara juga sangat mengetahui bahwa Istrinya memiliki Darah Spesial Jenis berbeda Hasil penelitian Kakek wanita itu dimasa lalu kepadanya.
Yang menyebabkan darahnya bisa membuka semua pintu Klan Negara NC dan membuat kekebalan tubuhnya terhadap Virus BLoody-V tidak berpengaruh dengan senang hati menyetujui ajakan wanita sangat ia cintai.
“Oke” jawabnya masih mendekap tubuh ratu negara penuh kelembutan.
********
bantu like bantu vote.
buat nambahin semangat author dalam menulis.
kalau dibantu, pasti author bakalan update cepet udah gitu bisa juga banyak.
__ADS_1
oh iya jangan lupa mampir ke karya lain author ya
hey liat aku bos.