Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
shisou, aku merindukanmu...


__ADS_3

Sebuah kantung besar berisi puluhan butiran-butiran pil berada ditangan seorang nelayan. Butiran yang berbentuk seperti mutiara tersebut merupakan Obat pengusir binatang predator.


Ntah bagaimana cara membuatnya tetapi Perusahaan Xu memang sangat berbakat dalam pembuatan obat-obatan tersebut. Perusahaan yang mempekerjakan karyawan-karyawan berbakat yang telah berhasil lulus dengan predikat terbaik di jurusan ilmu kedokteran dan farmasi itu selalu menjadi tujuan dan impian para pemuda-pemudi negara NC.


“yang mulia, jika seperti ini, desa kami akan gagal panen, dan itu sangat mengurangi pendapatan kami, kami juga malu dengan desa lainnya” keluh seorang nelayan yang telah meletakan kantung Obat tersebut diatas tanah.


Seorang lainnya mendekati Zili “yang mulia, saat ini ikan hiu sudah berada diwilayah tambak, tidak ada satupun dari kami yang berani mendekati kapal besi disana” tambahnya mengeluh sembari menunjukan sebuah besi yang berdiri ditengah lautan.


Kapal Besi tersebut berfungsi untuk menahan jangkar yang mengikat obat pengusir ikan buas.


Zili menelan ludah mulai ketakutan “mana mungkin hiu akan mendekati jika ada obat tersebut bersama kalian” jelas Zili mencoba menenangkan diri.


“Tidak seorangpun dari kami yang sanggup berenang kebawah untuk mengikat kantung ini”


“Mengapa tidak tarik jangkar....


“kapal besi tersebut mana mungkin mampu menahan banyaknya orang yang berada disana” sambut seorang nelayan menyela pertanyaan Zili sebelum ia menyelesaikannya.


Berdiri dipinggir lautan setelah meninggalkan danau tempat pelindungnya menyelam. Saat ini Zili tengah dihadapi masalah baru yang sangat menyulitkannya.


Angin laut menghembus rambut gadis yang terurai panjaang dengan belahan samping dan sebuah pita yang melekat belahan dirambutnya tersebut.


memakai gaun formal berwarna merah, warna bendera Klan Xu, membuat wajahnya yang putih berubah menjadi pucat bahkan hingga sampai kebibirnya.


Nafas Zili tidak beraturan, baru kali ini dia mengurus tugas negara yang bahkan belum pernah ia pelajari sebelumnya.


Gadis itu mulai berpikir, betapa beratnya menjadi putra mahkota selama ini. Hanya satu desa saja sudah membuatnya gusar bagaimana dengan ribuan desa diseluruh pelosok wilayah negara NC yang menjadi tanggung jawab putra mahkota sendirian selama ini.


Zili tersenyum kecut “bagaimana kalian mengikat kantung Obat di jangkar selama ini?”tanyanya masih menahan rasa takut untuk bertanggung jawab atas masalah didesa tersebut.


“Tentu saja selama ini kami memiliki putra mahkota bersama kami, setiap pergantian obat, dia selalu menyempatkan waktu datang, setelah selesai, dia berlalu pergi,”


“Benar, jika tidak ada putra mahkota, siapa juga yang berani masuk kedalam air.”


“Tidak akan ada yang mau, kalaupun ada yang mau, mungkin mereka akan mati ketakutan ataupun setidaknya, mereka akan gagal dipertengahan jalan”


“Yang mulia, kami butuh putra mahkota disamping kami”


Seruan keluhan terdengar mengiris hati Zili yang juga sebenarnya sangat membutuhkan putra mahkota. Begitu banyak rakyat yang bergantung kepadanya membuat Zili teramat menyesal, bahkan nafas nya mulai terasa berat. Terdapat tekanan yang begitu kuat dalam dirinya karena menjadi penyebab laki-laki tersebut menghilang.


Zili menguatkan hatinya” baiklah, berikan kantung tersebut kepadaku” pintanya mengejutkan semua orang.


“Yang mulia, bukankah sebaiknya kita panggil tentara Angkatan Laut” saran nelayan lainnya.


“Tidak bisa, mereka akan datang terlambat, jika terus ditunda, ikan hiu akan menghancurkan tambak. Kita tidak tahu kapan ia merasa lapar” seru yang lainnya tidak setuju.

__ADS_1


ZIli menghela nafas “sudah, serahkan saja kepadaku”


“Tapi yang mulia,....


“hubungi pangeran istana jika dalam waktu setengah jam aku belum kembali” ucap Zili lalu menarik kantung besar kepermukaan laut.


“Yang mulia, tabung ren.....


“Tidak ada banyak waktu untuk memakainya, kita harus cepat. Dan Tolong tunggu aku ya” pinta Zili kepada 7 orang nelayan dan seorang pemimpin desa yang masih berdiri dipinggir pantai memandang kepergiannya.


“Yang mulia,...


Seorang nelayan dari mereka bahkan sampai meneteskan air mata. “bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”


*******


Gaun mulai mengapung diatas air, kantung obat yang lumayan berat ia tarik semampunya masuk kedalaman air laut.


Mulai menahan nafas, Zili mengayunkan tangan dan kakinya didalam air. Berenang membawa sekantung penuh obat pengusir ikan predator ditangannya.


Terus membawa menuju kapal besi yang tidak terlalu jauh dari pinggiran laut tempat tambak-tambak ikan berada.


Sesekali ia menelan ludah, menahan rasa takutnya jika sewaktu-waktu dia berjumpa dengan ikan hiu yang memasuki wilayah.


Pandangan mata mulai membesar, benar saja, dua ekor ikan hiu ganas yang besar sedang berenang mendekati tambak. Tampaknya kedua hiu tersebut mencium aroma obat dan menghindari Zili yang tidak jauh dari mereka.


Hal tersebut membuat kelegaan tersendiri pada Zili yang sudah terlaalu ketakutan, saking takut rasanya karena melihat hiu dengan kedua bola matanya sendiri, hingga membuat kaki nya terasa sangat berat untuk diayunkan.


Berat!


Ternyata berat bukan karena rasa takut.


Lagi, untuk kedua kali dalam hidupnya, seekor gurita besar telah menarik kakinya kebawah laut.


Uh...


Bluguk..huk.. blubuh...blubuh


Gelembung air karena nafas nya yang tak lagi tertahan mulai terlihat. Gelembung itu berasal dari air yang masuk kedalam hidung Zili.


Beratnya kantung obat yang belum terikat dijaangkar kapal besi, ditambah tarikan kaki gurita membuat Zili tidak lagi mampu bertahan didalam air.


Bluguk.. huk.... blubuh...


Zili tersenyum, ia merasa mungkin saat itu adalah waktunya untuk mati mengingat tidak ada lagi putra mahkota yang akan membantunya seperti ketika ia berada dilautan desa Xu 50.

__ADS_1


Ingatan putra mahkota terus membayangi Gadis tersebut.


Shisou, aku merindukanmu


Ucapnya dengan menutup mata pasrah.


Tangan Zili ditarik keatas, sementara itu, kakinya yang terlilit Gurita digenggam oleh seseorang.


Dua orang laki-laki tampak sedang berenang menyelamatkan gadis tersebut.


Seorang lagi membawa gadis tersebut kedalam pelukanya sejenak.


Seorang lagi menarik kaki gadis tersebut, menjauhkannya dari orang yaang masih memeluknya dengan bola mata berapi-api karena marah.


Seorang yang memeluknya, mengambil kantung obat yang masih zili genggam erat setelah melepaskan pelukan.


Seorang lagi membawa Zili naik kepermukaan laut.


Membawa Zili menjauh dari seseorang yang tidak ia sukai. Orang yang telah mengikat kantung obat ke jangkar dan orang yang juga tersenyum memandang kepergian Zili bersama orang lain.


Nafas Zili tak beraturan menghirup udara. Kini ia tidak lagi berada Didalam lautan.


Lemas dan lelah, ia merasa seseorang telah menggendongnya dengan kedua lengan tangan.


Shisou,


Apakah kau shisou!


Gumamnya meneteskan air mata merasakan gendongan Putra mahkota seperti yang biasa ia rasakan.


Perlahan-lahan Zili membuka mata.


Senyuman getir menghiasi pipinya.


Ahhh..


Zili tampak tidak menyukainya.


“Turunkan aku” ucapnya lemah.


Pangeran istana yang tampan rupawan dan tidak diragukan lagi tersenyum lega melihat Zili yang terlihat baik-baik saja. “Turunkan aku yang muli....


Kecipuk....


Zili menahan nafas penuh amarah, berkali-kali ia menggeser gigi-gigi yang disatukan geram karena pangeran istana melepaskan begitu saja tangannya sehingga membuat Zili sontak jatuh keatas air dangkal.

__ADS_1


“Kenapa?” pangeran istana tersenyum nakal “kau bilang tadi turunkan bukan?” lanjutnya lagi sembari berjongkok memandang Zili yang masih duduk diatas air mendongak wajah, menatap kesal kearahnya “kenapa setelah aku turunkan kau terlihat sangat marah?” tanya nya membalas tatapan kesal Zili dengan penuh kenakalan.


__ADS_2