
“Kenapa kau melepaskan Anting dan kalungmu?” Sambil menyandarkan kepala dibahu Zili, putra mahkota mulai menanyakan pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab.
Suara jarum jam dinding berdetik telah terdengar ditelinga.
Jam tersebut tampak menggantung didinding ruangan tempat mereka berada.
Setelah memesan makanan serta menyantapnya dengan tidak terlalu berselera dan menyisahkan banyak dimeja, putra mahkota dan zili kembali duduk membaca buku diatas sofa.
Saling menggenggam tangan dan juga saling bercerita, pasangan suami istri tersebut tampak sedang menahan kesedihan didalam hati mereka masing-masing.
Zili tersenyum menutup buku, mengeratkan tangannya didalam genggaman tangan putra mahkota, “shisou, kau ini sungguh tidak adil” ucap gadis itu mengejutkan putra mahkota yang langsung menegakan tubuhnya, menoleh kearah gadis yang berada disampingnya.
Laki-laki itu mulai tersenyum getir “kenapa aku jadi tidak adil...?” tanya nya lagi karena merasa khawatir wanita miliknya akan membencinya.
“Kau bisa mendengar suaraku dan mengawasiku, tapi tidak membiarkanku mendengar suaramu dari jarak jauh,” jawab cepat gadis itu membalas tatapan putra mahkota dan sudah mulai terbiasa. “bukankah itu yang dinamakan tidak adil...?”
“Aahh benar...”
Putra mahkota tersenyum lucu, ia menyandarkan kepalanya lagi dibahu Zili, masih dengan menggenggam tangan gadis itu “kau bisa menghubungiku kapan saja dengan jam tangan yang kuberi padamu bukan maksudku jam tangan pemberian pengawalku” jelas putra mahkota tersenyum tenang berada disamping istrinya.
“Benarkah...?” mengetahui bahwa dia bisa berhubungan meskipun jarak jauh, Zili tampak sangat senang.
“Tentu saja..” jawab putra mahkota sudah tidak berselera untuk membaca buku, ia mulai menutupnya dan menjatuhkan kepala diatas paha kaki Zili “aku akan memberikanmu headset Bluetooth, kau bisa mencari nama X didalam Jam tangan itu untuk menghubungiku”
“X... ya..?” Zili mulai tersenyum lucu ketika mengingat Nama Karakter Virtual putra mahkota. Gadis itu tampak sangat bahagia “baiklah Mr. X “ ucapnya tertawa sedikit geli menatap mata putra mahkota yang juga tersenyum geli hingga sedikit menyipit.
“Aaahhh.. nyaman sekali” ucap putra mahkota mulai memejamkan mata sembari meletakan genggaman tangannya dan tangan zili diatas dada “hanya malam ini saja, mulai besok mungkin akan sangat jarang mendengar suaramu karena Craker yang kupasang tidak berfungsi diluar negara” lanjutnya lagi menjelaskan masih dengan menutup mata.
Sementara tangan Zili yang lain mulai meraih kepala laki-laki yang dia cinta, mengelus rambut lembutnya berkali-kali. “shisou...” panggilnya berhenti sejenak “aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu” ungkapnya sontak membuka mata putra mahkota yang tadinya terpejam.
“Aku tahu “ jawab laki-laki itu sembari memegang pipi Zili yang mulai basah terkena aliran air mata.
*******
__ADS_1
Pagi telah tiba,
Memang sungguh cepat malam berlalu, hingga sepasang kekasih yang tidak tidur sama sekali merasa kesal karena hari perpisahan telah tiba.
Kedua mata yang membengkak membuat putra mahkota membantunya mengompres dengan menggunakan es batu didalam kain.
Seharian dan semalaman berada didalam ruangan, bahkan membuka kaca jendela dipagi haripun tidak mereka lakukan saking tidak inginnya mereka berjauhan pagi itu.
Jam terus berdetik cepat, memperberat perasaan hati putra mahkota yang mulai meletakan es batu diatas meja lalu bergegas pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri karena beberapa menit lagi, helikopter milik negara akan segera tiba dan datang menjemputnya.
“Shisou...”
Tangan Zili meraih tangan putra mahkota, menghentikan langkah kaki laki-laki tersebut.
Putra mahkota menoleh kepala kearah wanita miliknya “kau ingin ikut mandi denganku...?”, tanya nya sontak membuat Zili melepaskan tangannya, menundukan kepala malu sampai membuat putra mahkota tertawa kecil diantara kesedihannya.
Terus gelisah,
Waktu terus bergerak menyudutkan Zili yang sangat enggan menghilangkan bengkak dimatanya.
Jam tangan putra mahkota mulai bergetar,
Benar saja, sesuai tebakan Zili,
Raja bayangan saat itu sedang menghubungi putranya, mungkin dia telah berada dibawah gedung asrama.
Berjalan mendekati kaca jendela, tubuhnya mulai gemetaran karena melihat Beberapa tentara pengawal raja telah bersiaga dibawah, menunggu kedatangan putra mahkota yang saat itu telah keluar dari kamar mandi.
Terus melangkah mendekati wanita miliknya, Aroma wangi ditubuh laki-laki tersebut tercium sedikit menenangkan hati gundah Gulana.
Zili membalikan tubuhnya, menerima pelukan dari putra mahkota yang akan segera pergi.
“Maafkan aku harus meninggalkanmu lagi” ucap laki-laki tersebut mengeratkan pelukan merasakan setiap getaran tubuh Zili yang sedang takut menghadapi perpisahan yang bahkan telah terjadi berulang kali.
__ADS_1
Sekuat tenaga gadis itu menahan perasaan nyeri didalam hati “tenang saja shisou...” ucapnya menyandarkan kepala didada laki-laki yang dia cinta “aku akan selalu memaafkanmu” jawabnya mulai menitihkan air mata.
Jam tangan yang telah dipakai putra mahkota terus bergetar, laki-laki tersebut melepaskan pelukannya lalu meraih headset dari kerah baju “aku akan segera turun kebawah” ucapnya meyakinkan lalu mulai menutup panggilan ditombol belakang headset dan memandang Zili yang sedang tersenyum dengan aliran air mata memenuhi pipi.
“Aku pergi” lagi, untuk kesekian kalinya laki-laki tersebut mengacak-acak rambut Zili, setelah puas, ia mulai melangkah kaki menuju pintu keluar, meninggalkan zili yang masih berdiri penuh dengan kepiluhan.
Terus melangkah hingga berdiri didepan Lift Asrama putri,
“Jangan tinggalkan aku” teriak Zili keluar ruangan mengejutkan putra mahkota yang sontak menoleh kepala kearah wanita miliknya ketika pintu lift terbuka. “pergilah shisou, “ meneguhkan Hati, ia mengubah kalimatnya kembali “berhati-hatilah” lanjutnya lagi lembut sembari tersenyum ceria memandang mata merah putra mahkota.
“Aku pergi” ucap putra mahkota mulai melangkah masuk kedalam pintu Lift.
Gemetaran, gadis itu mulai ketakutan ketika tidak lagi melihat putra mahkota dipandangan matanya.
Mulai melangkah cepat menuju pintu lift yang tampak tertutup, ia menengadah, memandang angka merah diatas pintu ketika Lift mulai bergerak menurun, membawa pergi putra mahkota dari sisinya.
“Shisou...”
Gadis itu menangis tak kuasa, lalu mulai berlari menuruni anak tangga, mengejar kembali laki-laki yang sangat dia cinta.
Pintu lift terbuka, putra mahkota telah berada dilantai bawah, menatap keatap ruangan, ia tampak enggan melangkah kaki pergi.
Mulai berbalik untuk memasuki lift kembali.
“harus berapa lama lagi aku menunggumu...?”suara raja bayangan memaksa putra mahkota kembali berbalik, melangkah pergi meninggalkan wanita miliknya yang tadi sedang menangis mengantar kepergiannya.
Terus berjalan keluar pintu gedung, mendekati helikopter yang tengah menunggu kedatangannya, Menoleh kepala sejenak memandang jendela gedung lantai empat yang terbuka, lalu memasuki helikopter didepannya, mengikuti raja bayangan yang telah masuk terlebih dahulu dan meninggalkan Raja negara serta ketua Klan Co yang sedang berdiri menatap kepergian mereka.
“Shiiiisssssoooouuuu......
Teriak Zili berlari kencang keluar gedung mengejutkan semua orang disekitarnya, begitu pula putra mahkota yang langsung berdiri dipintu helikopter memandaang wanita miliknya dari bawah karena helikopter yang ditumpanginya sendiri telah naik keatas udara. “shiiiissssoooouuuuu....” teriak gadis itu lagi masih tetap berlari mengejar helikopter putra mahkota tetapi tangannya berhasil diraih raja negara, menghentikan langkah larinya mengejar putra mahkota yang telah pergi menjauh tak terlihat dipandangan mata.
Hanya helikopterlah yang tampak terbang mengudara “shiiisouu hiks... shisou....”
__ADS_1