Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Bertugas II


__ADS_3

Wuuuuzzzzzz....


Kobaran api yang begitu besar bergoyang-goyang menyambar setiap bangunan terdekat.


Pepohonan bonsai yang tumbuh tertanam juga ikut terlalap olehnya hingga api semakin melebar.


Suara sirene mobil-mobil pemadam api terdengar menambah hiruk pikuk, kepanikan dan ketegangan di tempat tersebut.


Para Polisi mulai bergerak berhamburan tak tentu arah, mencari-cari pelaku yang sengaja membakar tempat tersebut dan juga korban yang mungkin bisa diselamatkan.


“Benar tuan, Tim pemadam kebakaran telah datang dan sekarang sedang melakukan tugas pemadaman.” Suara seorang pejabat tinggi terdengar melaporkan.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya suara seorang dari balik headset milik laki-laki yang terlihat sedang berdiri memandang kebakaran hebat di belakang para petugas pemadam kebakaran.


“Sangat tipis kemungkinan para tahanan selamat dari kebakaran kali ini, tuan.” Jawab laki-laki tersebut melaporkan situasi yang saat itu sedang terjadi.


*********


Dua buah pistol telah menggantung di salah satu paha gadis itu, pistol tersebut dapat diambil melalui kantung celananya yang berlubang. Rompi anti peluru terlihat telah tertutupi seragam berwarna kuning, kebanggaan Klan Zin yang ia kenakan.


Dia menghela nafas, lalu tersenyum senang.


Malam yang dulunya sepi, kini berubah menjadi sangat ramai.


Baru kali ini ia merasakan semangat bekerja sama dengan banyaknya orang-orang cerdas di sana.


Beruntung atau bahkan tidak, ia sama sekali tidak mempedulikannya, yang terpenting, ia bisa begitu bersemangat melakukan tugas bersama para pejabat tinggi yang akan setia bekerja untuk Putra Mahkota di masa depan.


Binatang-binatang buas telah hilang dari dalam tembok, regu pertama telah memasuki gerbang rumah.


Regu ketiga terlihat tetap bersiaga setelah menyelesaikan tugas mereka, menunggu perintah selanjutnya dari pimpinan mereka saat itu.


Regu kedua mulai bergerak secara diam-diam dari pintu yang berhasil didobrak Lord Breeder tadinya.


Cuuuuupp...


Doooor.....


Doooorrr


Suara tembakan senapan dan pistol terdengar ricuh.


Di depan Pintu gerbang, sangat ramai perkelahian terjadi.


Baaaakkkk...


Bukkkkkk....


Buaya-buaya muara di dalam kolam yang mengelilingi rumah terlihat berkeluaran mengejar para pejabat tinggi regu pertama yang saat itu telah bergerak cepat di atas tembok, memancing semua penghuni rumah untuk keluar dari sarang mereka.


“Masuk!” Perintah untuk regu kedua di keluarkan.


“Dilaksanakan.” Perintah tersebut dengan cepat diterima oleh regu kedua yang mulai memasuki tembok dengan hati-hati agar pergerakan mereka tidak diketahui.


Gadis itu berlari lebih cepat dibanding pejabat lainnya.


“Lewat pintu belakang, pastikan tidak ada seorangpun yang mengetahui kedatangan kalian masuk ke dalam rumah!” Perintah Pelindung Raja terdengar dari balik headset warna putih yang Zili kenakan bersamaan dengan suara ketikan keyboard laptop dan suara sebuah printer berbunyi dari balik headset hitam yang juga sedang gadis itu kenakan.


Kesunyian malam terpecah dengan keributan di depan rumah, suara dedaunan kering terdengar ketika kaki memijakinya.


“Regu Zero segera datang bergabung.”

__ADS_1


‘Zero.’ Gumam Zili dalam hati ketika ia telah membuka pintu belakang rumah yang terkunci menggunakan kawat besi lalu mengantungi kawat tersebut di kantung bagian depan seragam setelah pintu berhasil ia buka.


“Mereka masih di tengah perjalanan.” Suara Dewa Kemenangan terdengar memberikan laporan saat itu. Sepertinya saat ini ia sedang berada di dalam perkelahian, mengingat dialah pemimpin regu pertama saat itu.


“Ke kiri, Ruang bawah tanah ada di sebelah kiri, setelah menuruni tangga ruangan gelap.” Ucap Pelindung Putra Mahkota Shin Ji memberitahukan kepada Zili yang telah sampai di rumah tersebut terlebih dahulu.


“Berhati-hatilah Zili!” Ucap Penasihat Putra Mahkota mengingatkan.


“Hm, baiklah.” Jawab Zili mulai melangkah perlahan-lahan, mencari keberadaan CCTV di sana setelah meraih sebuah pistol dari kantung celananya yang lebar.


Krkkkkkk....


Pelatuk telah ditarik dan berbunyi.


Perlahan-lahan gadis itu menuju ke arah kiri setelah menembaki satu persatu CCTV di sudut ruangan tersebut lalu menemukan sebuah tangga menurun ke bawah menuju ke ruangan yang gelap bersamaan dengan kedatangan Pelindung Putra Mahkota Shin Ji dan Penasihat Putra Mahkota di belakangnya.


“Pasang kamera IP di kantungmu!” Penasihat Putra Mahkota memberikan sebuah kamera kecil yang berbentuk kotak dan memiliki pengait pada bagian belakangnya kepada Zili.


“Ini?” Segera benda kecil yang tiba-tiba menyala berwarna merah ketika berada di kegelapan ruang bawah tanah, ia kaitkan di kantung seragamnya pada bagian depan. Benda tersebut membuat Zili sedikit penasaran.


Senter jam telah menyala di kegelapan ruangan yang tampak memiliki dua jalur di sana. “Ayahku akan memantau kita dari kamera itu.” Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang menjawab mulai mengambil jalur ke sebelah kiri. “Aura, setelah sampai ikuti kami!, Nona Shira, Shin Jo dan Yu’a, pilihlah jalur kanan!” Lanjut laki-laki itu menentukan jalur kepergian mereka.


“Hm.” Jawab semua orang dari balik headset bersamaan, menerima perintah yang telah dikeluarkan Pelindung Putra Mahkota.


**********


Drrrrrrtttt...


Sebuah pesan telah masuk ke dalam layar ponsel miliknya.


Pesan rahasia itu dengan segera dibuka oleh laki-laki tua yang duduk di kursi kerjanya saat itu.


“Sudah dimulai ya?” Ucap laki-laki tua tersebut lalu mencari nama di kontak ponsel miliknya kemudian menghubungi nama yang dia maksudkan dengan segera.


“Royan, Kelompok Elite kita bertambah. Segera sambut kedatangan pengikut Putra Mahkota yang baru saja tiba!” Ucap laki-laki tua tersebut memberi perintah yang mungkin ditujukan kepada Putranya.


“Ada tugas lain?” Tanya suara laki-laki dari balik Ponsel.


“Siaga.” Jawab laki-laki tersebut lalu memutuskan panggilan dengan segera kemudian membuka pesan masuk lainnya kembali.


*********


“Yang Mulia,”


Seorang laki-laki berpakaian hitam terlihat menyapa Pangeran Istana yang sedang berdiri di atas sebuah atap rumah. Laki-laki itu terlihat membungkukkan tubuhnya dengan sangat hormat. “Sudah sangat lama anda tidak memanggil saya, adakah yang bisa saya pastikan untuk anda?” Tanya laki-laki tersebut yang berdiri di belakang Pangeran Istana negara NC.


“Wanita rusia itu, benarkah kau telah memastikan bahwa dia mati bunuh diri?” Tanya Pangeran Istana dengan raut wajah curiga yang menghiasinya. Laki-laki itu terlihat memandang jauh ke bawah yang di penuhi rumah-rumah salah satu desa di negara NC.


“Benar Yang Mulia. Tetapi sepertinya dia tidak hanya bekerja sama dengan kita saja. Ada seseorang lain yang lebih dia percayai hingga rencana membunuh Putri Mahkota gagal pada malam hari itu.”


Jelas laki-laki yang kini telah mengangkat wajah ketika Pangeran Istana telah berbalik ke arahnya.


“Kau, bisakah kau cari tahu satu hal untukku?” Tanya Pangeran Istana yang telah melihat kobaran api tinggi berada jauh dari tempatnya berada.


“Tentu saja, Yang Mulia. Apapun itu, akan saya lakukan yang terbaik untuk anda.”


*********


Duupppp....


Duuuuppp...

__ADS_1


Lampu-lampu di koridor bawah tanah mulai menyala setelah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji menghidupkan kontak listrik di sana.


Tak jauh dari tempat mereka berada terdapat jalan buntu yang tertutupi dinding tebal.


“Xu.” Ucap Penasihat Putra Mahkota memberitahukan bahwa dinding tersebut merupakan pintu darah dari Klan Xu.


“Kemungkinan besar Kakek Yatto telah membawa kelompok musuh membuat tempat persembunyian untuk Yuan melalui jalur ini di masa lalu.” Tebak Pelindung Putra Mahkota Shin Ji mengira-ngira.


Laki-laki itu mulai datang mendekati dinding perlahan-lahan.


WUuuuzzz...


Braaaaakkkk...


“Hampir saja, hampir saja.” Gumamnya pelan mengelus dada ketika melihat sebuah lubang diisi dengan pisau-pisau yang terlihat sekali kilauan tajamnya tersinari lampu-lampu di sana.


“Ini?”


“Jebakan?” Jawab Penasihat Putra Mahkota merasa lega karena Pelindung Putra Mahkota berhasil lolos dari jebakan yang hampir saja membunuh nyawanya, mengingat ada begitu banyak ujung-ujung runcing pisau yang terlihat berdiri naik di bawah lubang sana.


“Pantas saja kakek Yatto tidak membiarkan aku dan Shin Jo masuk waktu itu, Shin Jo berhati-hatilah!”Ingatkan Pelindung Putra Mahkota Shin ji kepada saudaranya sendiri.


“Aku menemukan Pintu lain tetapi bukan pintu darah.” Laporkan suara Pelindung Putra Mahkota Shin Jo dari balik headset milik mereka.


“Di sini ada jebakan, berhati-hatilah dengan di sana!” Laporkan Penasihat Putra Mahkota tentang keadaan di tempat ia berada.


Lubang yang menghalangi langkah cukup lebar saat itu, bahkan mereka sekalipun mulai berhati-hati jika harus melompati lubang tersebut dikarenakan takut akan ada jebakan lainnya.


“Aku yang akan melompat duluan.” Ucap Zili menawarkan diri.


“Jangan gegabah!”Larang Penasihat Putra Mahkota mulai berbalik mencari-cari sesuatu lalu menemukan sebuah tong sampah yang cukup besar tak jauh dari sana dan berjalan mengambil benda tersebut.


Benda di tangan ia lemparkan ke seberang lubang.


Buuuukkk...


Cucucucuppp...


Cucuucuccppp...


Sontak semua mata memandang terkejut ketika melihat di seberang lubang, puluhan tombak keluar dari dinding begitu cepat setelah tong sampah berhasil jatuh di lantai sana.


“Penuh dengan jebakan.” Gumam Putri Keagungan yang sudah bergabung bersama mereka sedari tadi ketika melihat tombak-tombak saling beradu dan terkadang menabrak dinding di hadapannya lalu terjatuh di atas lantai serta terkadang menggelinding masuk ke dalam lubang jebakan di sana.


“Apa yang harus kita lakukan?”


Pelindung Putra Mahkota Shin Ji mulai kesulitan berpikir, sementara orang-orang dari balik headset juga hanya diam saja, memikirkan cara.


“Aku tahu.” Jawab Zili mengejutkan semua orang.


Gadis itu mulai mendekati kontak listrik yang tadinya digunakan untuk menghidupkan lampu-lampu di sana dan meraba-raba dinding yang terbuat dari keramik di koridor itu.


“Zili, Apa yang kau lakukan?”


“Wall Display.” Jawab gadis itu setelah berhasil menemukan sebuah tombol di dinding yang tersembunyi lalu menekannya.


Sebuah laci dinding yang berisikan keyboard mulai terbuka.


“Ka..kau bisa menggunakan Wall Display?”Tanya Pelindung Raja terkejut dengan benda yang di temukan gadis itu.


Begitupula dengan orang-orang di sana dan orang orang yang mendengarkannya. Sepertinya mereka tidak menyangka bahwa gadis itu lebih banyak mengetahui banyak hal tentang teknologi dibandingkan dengan mereka yang selama ini lebih banyak belajar keahlian Klan dibandingkan dirinya.

__ADS_1


“Aku..” Menghela nafas lalu tertegun sejenak.” Pernah melihat seseorang menggunakan Wall Display di masa lalu dan juga pernah melihat Putra Mahkota melakukan hal yang sama.” Gumamnya sedikit pelan mengingat kembali kenangannya bersama Pemilik Apartemen yang mampu menyiksa hati.


__ADS_2