
Sesungguhnya perasaan ia begitu kalut. Kesedihan juga begitu terlihat jelas di raut wajahnya.
Telah duduk di kursi belakang mobil Putra Mahkota dan berlalu pergi meninggalkan perusahaan Xu menuju ke wilayah timur negara NC sembari mempelajari isi dari Naskah yang diberikan oleh Laki-laki yang ia cinta, Gadis itu terlihat begitu keras berusaha agar nantinya rencana yang telah disusun rapi oleh Putra Mahkota mampu ia laksanakan tanpa kendala.
Perjalanan panjang tak lagi melelahkannya, saking berusaha kerasnya ia untuk memahami peran yang ia terima. Bahkan untuk berhenti beristirahat serta menghirup udara luar sekalipun, gadis tersebut menolak keras dan hanya duduk sembari melahap potongan sandwich dan terus mempelajari lembaran kertas dari Laki-laki yang ia cinta.
Perlahan-lahan mobil menepi di tempat tujuan yang di minta gadis itu untuk mengunjunginya kepada Supir Putra Mahkota. "Terima kasih." Ucap Zili mulai membuka pintu sebelum pintu berhasil dibuka oleh Supir karena memang saat itu ia ingin segera mengunjungi tempat tujuannya.
"Berhati-hatilah, Yang Mulia." Supir tersebut membungkuk, memberi hormat ketika melihat Zili telah keluar dari dalam mobil.
Haru, perasaannya sungguh bahagia karena meskipun hanya seorang Supir tetapi ucapan Laki-laki itu mampu memberikan sedikit semangat ke dalam hatinya. "hm." Angguk Zili, tersenyum senang memandang Laki-laki yang terlihat begitu menghormatinya. "Sekali lagi, terima kasih, Paman." Lanjut ucap Gadis itu mulai melangkah kaki sembari memasukan naskah ke dalam tas selempang yang ia kenakan, meninggalkan Laki-laki yang terlihat kebingungan melihat raut wajah sedihnya, padahal pikirnya, gadis tersebut telah menemui Putra Mahkota dan seharusnya raut wajah gadis itu terlihat bahagia seperti biasanya.
**********
Telah terbiasa menerima penghinaan, baginya juga tidak masalah jika ia akan menerima penghinaan lagi di tempat terakhir harapan gadis itu menenangkan diri setelah sebelumnya gagal untuk bertemu Putra Mahkota dan juga tidak berhasil menemukan Pemilik Apartemen di rumah laki-laki tersebut padahal mereka berdua adalah tempat bergantung Zili selama ini.
Sebelum pergi melaksanakan tugas, malam itu Zili menolak untuk menginap di Hotel dan juga menolak untuk tinggal di Kediaman Zin. Dia lebih memilih untuk datang mengunjungi tempat tinggal ibunya, meskipun ia sendiri sangat mengetahui bahwa wanita yang telah melahirkannya tersebut, mungkin akan menolak kedatangan gadis itu.
Melangkah kaki, terus melangkah menguatkan dan memberanikan diri. Menaiki anak tangga perlahan-lahan dan berakhir di sebuah koridor ruangan ibunya berada.
Lalu menghela nafas,
__ADS_1
tok tok..
Mengetuk pintu yang tak memiliki tombol pemanggil pemilik ruangan,
kraaaakk..
Pintu terbuka,
Ibu gadis itu tersenyum kecut memandang kedatangan Zili. "Apa yang kau butuhkan..?" Tanya ketus wanita dewasa tersebut, sedikit menambah sayatan didalam hati gadis yang telah kesakitan karena tidak berhasil menemui Putra Mahkota dan menerima tekanan batin dari kedua saudara Laki-laki yang ia cinta tersebut.
Tubuhnya gemetaran, sungguh, sebenarnya saat itu ia sangat takut akan penghinaan lagi namun, hanya ibunya lah yang saat itu ia miliki karena selama hidupnya ia hanya merasa memiliki Putra Mahkota. dan setelah bertemu wanita dewasa dihadapannya, barulah ia merasa memiliki seorang Ibu sebagai tempat untuknya bergantung. "bo.. bo.." Mengepalkan tangan menahan rasa gugup. "Bolehkan aku menginap dirumahmu malam ini saja, Ibu..?" Pinta Zili dengan mata memerah karena takut menerima amarah.
"Aahhh merepotkan saja."Ucap wanita dewasa sontak membuat Zili meneteskan air mata karena tak lagi kuasa menahan rasa sakit didalam hati. Mulai berbalik."Masuklah!." Ucap Ibunya memberi Perintah saat gadis itu mulai pasrah dan akan pergi.
Menutup pintu."Tidak perlu." Ucap wanita dewasa yang mulai melangkah kaki sembari diikuti oleh Putrinya. "Kau sudah makan...?" Terkejut, hatinya yang sakit terasa membaik mendengar pertanyaan dari wanita yang telah melentangkan sebuah tikar bambu di atas lantai.
Hampir pecah tangisannya. Bagaimana tidak...?, sebenarnya gadis itu sangat berharap bisa dekat dengan Ibu kandungnya sendiri seperti kebanyakan orang yang pernah ia temui, hingga hanya mendengarkan perkataan tersebutpun, gadis itu begitu bahagia. "Hmm." Angguk Zili mengusap air mata. Hidungnya mulai memerah, sepertinya juga tersumbat. "Aku sudah makan roti di perjalanan tadi." Lanjut jawab Gadis itu mulai duduk di atas tikar bambu dan melipat kedua kaki ke belakang.
Tersenyum kecut lagi. "Kau kira roti saja cukup untuk mengisi energi tubuh manusia." Ucapan wanita tersebut sedikit membingungkan Zili, dalam hatinya bertanya-tanya, Mungkinkah Ibunya sedang mengkhawatirkannya atau malah menghinanya..?.
"Tapi aku sudah lumayan kenyang." Memandang kepergian Ibunya yang saat itu memasuki sebuah ruangan lain, Gadis itu membalas kalimat wanita dewasa yang kini telah keluar kembali dengan cepat sembari membawa sebuah nampan yang terdapat dua buah mangkuk berisi nasi di salah satu mangkuknya dan sup daging di mangkuk lainnya.
__ADS_1
Meletakan nampan di hadapan Zili. "Makan!" Perintah wanita dewasa, Sungguh membuat tangisan gadis itu pecah karena tak kuasa lagi menahan tangisannya.
"Hiks hiks," menghapus air mata, "hm," angguk Zili begitu patuh. "Aku akan memakannya, Ibu." Jawab gadis itu sembari meraih mangkuk sup yang terdapat sendok di dalamnya dan mencicipi kuah sup buatan Ibunya lalu meraih mangkuk nasi dan mulai melahap di iringi dengan sesekali menuangkan kuah dan daging di sana.
Matanya berubah menjadi merah. "Kenapa kau menangis...?."Tanya wanita dewasa tersebut ikut meneteskan air mata.
"Karena ini pertama kali bagiku untuk mencicipi makanan buatan orang tuaku."Jawab cepat Zili begitu lahap menikmati hidangan didepannya tanpa mempedulikan tetesan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Menghapus air mata, "jadi ayahmu tidak pernah masak untukmu, ya..?." Nada yang tadinya keras kini telah terdengar lembut.
Menelan makanan didalam mulut. "Aku tidak tahu." Jawab gadis itu memandang wajah Ibunya sembari tersenyum bahagia. "Yang kuingat, selama ini ayah selalu sibuk bekerja dan aku bahkan tidak ingat ia pernah melakukan itu kepadaku."Lanjut jawab gadis itu lagi. "Kakek dulunya sering membeli makanan untukku tapi setelah aku menikah, tiba-tiba dia sangat membenciku." Adukannya, begitu terbuka karena merasa nyaman berada di dekat Ibunya. "dulu ketika tinggal sendirian di rumah karena ayah selalu sibuk bekerja, aku lebih sering makan di luar dibandingkan dengan masak sendiri." Gadis itu mulai bercerita dan Ibunya terlihat seperti seorang pendengar yang baik." Lalu ketika ayah dirumah, aku memasak untuknya dan dia menyukai masakanku hingga ketika Ayah tidak bekerja, akulah satu-satunya orang yang selalu membuat makanan di rumah." Lanjut gadis itu bercerita dengan aliran air mata yang terus membasahi pipi.
Melanjutkan menyantap makanannya kembali."Mulai sekarang, kalau kau ingin menikmati makanan orang tuamu, kau bisa berkunjung kerumahku kapan saja." Kalimat Wanita tersebut sontak menghentikan gerakan mulut Zili mengunyah makanannya.
Tangisannya semakin pecah, rasanya sangat lega karena ketika ia merasa tidak memiliki Putra Mahkota, gadis itu masih bisa merasa memiliki seorang Ibu. "Hm" Angguk Zili untuk yang kesekian kali di hari yang sama. "Aku akan mencarimu ketika aku ingin menikmati masakanmu, Ibu."Jawab gadis yang telah menelan makananan didalam mulutnya. "Jadi jangan usir aku ketika aku ingin datang menemuimu"
"Kemarilah!." Perintah ibunya lembut sontak membuat Zili meletakan mangkok di tangan dan bergerak mendekati Ibunya.
"Hiks hiks"
"Maafkan aku." Ucap Ibu gadis itu memeluk tubuh Putrinya.
__ADS_1
"hiks hiks." Menangis di pelukan Ibunya. "Hiks hiks" Sungguh tak mampu menjawab ucapan Ibunya karena air mata yang keluar semakin mengalir deras.