Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Memulai Misi baru


__ADS_3

Malam penuh kesedihan telah berlalu, pagi yang cerah menyemangati hatinya.


Banyak hal yang terjadi malam itu dan juga banyak kisah yang menjadi bahan percakapan antara Zili dan Ibunya.


Mengingat kebersamaan dengan Ibunya dengan begitu bahagia sembari berjalan memasuki sebuah gedung bertingkat tiga,


Kemudian Menghela nafas, "huh." Lalu tersenyum mengubah mimik dan raut wajah, gadis itu mulai berakting sesuai naskah pemberian Putra Mahkota.


Langkahnya terhenti. "Aku harus meriasmu." Suara seseorang terdengar mendekat.


Menolah ke samping, "Bibi.." Panggil Zili ketika melihat Stylist ternama, Lu arra yang sedang menyamar mengenakan Bucket Hat, topi bulat yang biasanya digunakan untuk bersantai dan kacamata hitam mengait di kedua telinga wanita yang telah datang mendekati Zili dan meraih tangan gadis itu.


Menarik tangan Zili dan membawa gadis tersebut berjalan menuju ke arah parkir tempat mobilnya berada. "Buka!." Perintah wanita dewasa tersebut kepada supir yang sedang berdiri menunggu kedatangannya.


Pintu terbuka, sungguh, gadis itu begitu terkejut ketika melihat dua orang gadis lainnya berada di dalam mobil dan Salah seorang dari mereka terlihat sangat berbeda.


"Ahh menyebalkan." Ucap seorang gadis yang tak lain adalah Putri Kelincahan. Gadis itu mulai turun dari mobil Alphard milik Stylist ternama Lu arra lalu berjalan meninggalkan Zili.


Sementara gadis lainnya terlihat sedang memakai kacamata dan duduk di kursi paling belakang sembari memainkan jari-jari tangan di atas keyboard laptop miliknya.


Masuk ke dalam mobil, "Ambil ini." Putri keagungan melemparkan sebuah headset untuk Zili. "Kau ini menyebalkan sekali." Ucap geram Putri Keagungan masih memainkan jari-jari tangan bersamaan dengan Zili yang telah meraih headset darinya dan meletakan di lubang telinga.


"Zili, kemana saja kau ini...?." Suara dari balik headset terdengar khawatir.


Mengenali suara tersebut, "Sa'i, maaf..


"Lupakanlah." Sepertinya Dewa Kemenangan sangat tidak ingin mendengar ucapan penyesalan dari gadis itu. "Karena kau telah bergabung, segera berikan kami perintah." Pinta Dewa Kemenangan sontak menegunkan gadis itu,


Mengingat naskah yang diberikan Putra Mahkota. "Tetap ditempat," Jawab Zili mulai memberi perintah. "Setelah aku berhasil melaksanakan tugasku, aku akan memanggil kalian kembali." Lanjut gadis itu menguatkan diri karena saat itu, dialah Pemimpin dari kelompok pencari keberadaan musuh.


Terdengar menghela nafas dari balik headset, "Baiklah," Jawab Dewa Kemenangan sedikit kecewa."Kami menunggu kabar selanjutnya darimu." Lanjut Laki-laki tersebut sembari menutup panggilan.


Memandang ke arah Stylist ternama yang telah


masuk ke dalam mobil luas dan membuka peralatan riasnya. "Bibi, tolong buat aku sedikit berbeda," Pinta gadis itu, sangat mempercayai wanita berbakat di hadapannya.


"Serahkan saja semuanya padaku." Jawab Stylist


ternama yang mulai mengoleskan sesuatu ke pipi


wajah Zili.


***********


Tersenyum ceria,


Perkenalan diri yang disambut hangat serta


mengingat semua tempat kerjanya, telah usai sudah.


Hari pertama, masih belum menunjukan taring

__ADS_1


mereka. Hari kedua, memulai drama nyata yang diberikan oleh Putra Mahkota.


Saling menyapa, saling tersenyum lembut, "Kau


berasal dari Klan mana...?." Tanya Zili kepada Putri Kelincahan yang saat itu telah berias seperti Seorang gadis culun dan mengenakan kacamata.


"Klan Ou." Jawab gadis yang ditanya terlihat


berpura-pura lemah. "ba.. ba..ba..


"Oi Karyawan baru," Belum sempat menjawab


pertanyaan, beberapa karyawan mulai datang


menghampiri kedua gadis itu. "Memuakan sekali


melihatmu mendekati Kepala Keuangan begitu


manja." Ucap seorang dari mereka, terang-terangan mengatakan perasaan iri karena peran Putri Kelincahan yang begitu nyata.


Suara langkah kaki seseorang mengejutkan orang-orang di sana.


Berlari cepat," Ketua Ou," Mendekati kepala


Keuangan. "Tolong bawa aku bersama," Pinta putri Kelincahan memegang lengan Kepala Keuangan Bank Cabang Zin. "Entah mengapa rasanya sangat tidak nyaman bersama mereka." Adukan gadis itu sontak mengejutkan semua orang di sana terkecuali Zili.


Memandang tajam kearah seluruh karyawan disana, "Apa yang telah kalian lakukan kepadanya...?," Tanya Laki-laki yang berwajah lumayan tampan tersebut.


"Tapi ucapan mereka sangat menakutkan." Adukan kembali Putri Kelincahan menambah amarah ke dalam hati Tiga orang karyawan Bank yang berada disekitar Zili saat itu.


Melepaskan tangan Putri Kelincahan dari lengannya,"Kalian semua, ikuti aku ke ruanganku!" Perintah Kepala Keuangan lalu bergerak cepat menuju ke ruangan yang sedikit jauh dari posisinya berada, diikuti oleh Zili dan ketiga karyawan Bank lainnya.


*********


Hari Ketiga.


Sungguh, tidak seorangpun dari karyawan yang menghampiri Putri Kelincahan sebelumnya, berani berbicara lagi dengan gadis itu, mengingat kejadian sehari yang lalu ketika Kepala keuangan mengancam akan memecat mereka.


Namun sayang, Putri Kelincahan semakin berulah dengan berpura-pura jatuh di atas lantai dekat dengan seorang karyawan diantara ketiga karyawan sebelumnya, yang saat itu tampak sedang duduk dan mengerjakan tugas di depan meja kerja.


"Apa salahku...? Hiks." Tangisan palsu berlinang jatuh membasahi pipi Putri Kelincahan. Zili yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.


"Aku tidak melakukan apapun kepadamu." Ucap


target incaran Putri Kelincahan begitu khawatir saat itu.


"Benar, aku tidak melihatnya melakukan apapun."


Seorang karyawan lain mulai membela wanita itu.


Masih menangis dan mulai berdiri, "Kalau begitu,

__ADS_1


mengapa Lututku memerah dan mengeluarkan


darah..?." Keluh Putri Kelincahan disaksikan begitu banyak Karyawan diruangan kerja tersebut.


"Aku bilang, aku tidak melakukan apapun, brengsek." Target Putri kelincahan mulai terpancing emosi.


"Aku yang merasakannya, tentu saja Kau hanya


mencari alasan." Jawab gadis itu begitu terlihat menyedihkan.


Berdiri geram, "Wanita sialan, " Meraih kepala Putri Kelincahan dengan emosi, Pertengkaran sesama wanitapun dimulai saat itu. Putri Kelincahan tampak tersenyum lucu, tipis, menyenangi peran yang diberikan untuknya.


Bergerak sesuai rencana, "Aku akan memanggil


Kepala Keuangan." Teriak Zili mulai berlari.


"Jangan lakukan itu, hooiii." Seorang dari karyawan disana mencoba untuk menghentikan langkah lari Zili namun sayang, ia tak kuasa mengejar gadis itu.


Tidak memakan waktu lama,


Kepala Keuangan mulai melangkah kaki memasuki ruangan kerja yang diisi begitu banyak meja-meja komputer di dalamnya. "Berhenti bertengkar!." Bentak marah laki-laki tersebut lalu mulai datang menghampiri kedua wanita yang tampak saling menarik rambut.


Lucu sekali, pikirnya.


Saat itu Putri Kelincahan bahkan hampir tak


kuasa menahan tawa karena menurutnya sangat


aneh bagi orang sekuat dia melakukan hal seperti itu dengan warga negara biasa.


Melepaskan tangan dari rambut Target incaran, "Dia mendorongku." Tuduh Putri Kelincahan dengan segera. "Lalu ketika aku bertanya alasannya, dia malah menarik rambutku." Lanjut gadis itu lagi penuh dengan ucapan palsu.


"Kau melakukannya lagi...?." Tanya marah Kepala


keuangan dengan mata merah membara.


"Ketua, bukan begitu.."


"Minta maaf!"Menyela kalimat karyawannya dan


memberikan perintah. "Segera minta maaf atau tulis surat pengunduran dirimu sekarang juga." Lanjutnya memerintah diikuti dengan ancaman.


Menahan rasa sakit hati, "Maafkan aku, Nona." Ucap wanita dihadapan Putri Kelincahan terlihat jelas merasa kesal namun tertahankan.


**********


Menghitung uang.


Selembar, dua lembar, tiga lembar seratusan neceri. Putri Kelincahan yang berdiri di dalam Toilet kantor, memberikan uang tersebut kepada Zili. "Terima kasih telah memanggil Kepala Keuangan untukku." Ucap gadis tersebut setelah Uang tiga ratus neceri diterima oleh gadis di hadapannya.


Tersenyum senang, "Tidak masalah, " Jawab Zili sedikit melirik kearah Pelindung Putra Mahkota Shin ji, yang saat itu ditugaskan untuk merekam kegiatan mereka. "Kapanpun kau membutuhkanku, asalkan ada ini." Mengangkat lembaran uang ditangannya. "Aku akan melakukan apapun itu jenis perintah." Lanjut gadis itu berpura-pura.

__ADS_1


__ADS_2