Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, my majesty 39


__ADS_3

Angin malam menghembus masuk dari sebuah lubang jendela yang terbuka. Ruangan yang biasanya tersusun rapi tiba tiba menjadi berantakan.


Gaun putih selutut kaki kotor penuh dengan debu. Di atas lantai, semua barang barang rumah tangga berserakan.


Buku buku dan pakaian sekolah juga ikut serta didalamnya. Sang pelayan tiba tiba tidak pernah lagi datang kerumah.


Zili, terbaring telungkup diatas sofa menangis terisak isak. Seminggu telah berlalu, ia tidak lagi memiliki pelayan. Ia juga harus pasrah memakan makanan yang selalu dibeli ayahnya dari luar.


Kadang setiap pagi ayahnya akan membuatkan makanan sebelum pergi bekerja namun tetap saja makanan buatan pelayan lebih terasa nikmat baginya.


Hati zili semakin merasa kesepian. Tidak hanya dirumah, kesepian selalu saja menyelimuti dimana pun ia berada,bahkan sekolah menjadi tempat paling terasa.


"Ayah pulang"


Zili berdiri dengan wajah bengap penuh dengan air mata. Mata merah hidung tersumbat. Rambut berantakan tidak terikat. Gaun putih penuh dengan debu.


Ia memandang ayahnya yang tengah mengenakan seragam kerajaan bintang tiga membawa sebuah tas yang dijinjing disalah satu tangannya dan beberapa buku ditangan lainnya.


Pria separuh baya itu melepas kedua sepatu dan kaos kaki lalu meletakannya dirak sepatu balik pintu setelah meletakan sebentar tas yang dia bawa diatas lantai. Dia mengambil tasnya lalu berjalan mendekati putrinya.


Pria yang tidak lain adalah Lian tampak sudah biasa melihat kemarahan putrinya. Ia dengan begitu sabar menyisihkan senyuman lembut meskipun tidak dibalas oleh putri semata wayangnya tersebut.


"Aku tidak mau sekolah, aku mau ketemu bibi pelayan" teriak Zili meluap luap penuh emosi.


Lian memeluk putrinya erat setelah meletakan barang barang yang ia bawa keatas meja.


"Zili..."


"Tidak mau dengar, tidak mau dengar, ayah aku mau ikut kakek saja ke desa Zin"


"Tapi sudah ada zihen disana"


"Kenapa semua orang tidak menginginkanku ayah.. haaaa... hiksss hiksss.. ayah aku tidak mau sekolah.. ayah dengar, pangeran istana sangat jahat.. ayah, dia selalu... ayah... ayahh..." sontak Zili terkejut ketika ia tiba tiba terjatuh keatas lantai karena tidak mampu menopang tubuh ayahnya yang tiba tiba terjatuh menimpahnya.


"Ayah.. ayah... ayaaaah....."dengan cepat zili mengambil ponsel ayahnya lalu menghubungi teman ayahnya.


******


Zili berdiri dengan rasa takut setengah mati, ketakutan akan kehilangan ayahnya. Satu satunya orang yang menyayanginya.


Dia berdiri dikoridor Rumah sakit istana, setelah beberapa saat yang lalu berbicara dengan Ou natto, teman dekat ayahnya yang merupakan penasihat raja, salah satu pejabat paling tinggi dinegaranya.


Dihadapan Zili, berdiri anak laki laki lain seumuran dengannya. Dia adalah Sun Shin'A. Anak laki laki itu tersenyum senang, meremehkan keadaan menyedihkan Zili yang menggenggam gaun kotor yang ia pakai dengan kedua tangannya.


"BLoody-V, .... " shin'a mulai berbicara "ayahmu terserang virus penghisap darah dan sangat sulit disembuhkan"


Sontak zili terkejut setengah mati. Ia Memang pernah mendengar virus mematikan tersebut dari televisi, dia ingat sekali bahwa virus tersebut hanya bisa disembuhkan oleh obat terlarang dari klan Xu. Obat yang hanya mampu bertahan selama 3 hari.


Virus yang telah masuk kedalam tubuh perlahan lahan mengisap Darah si penderita. Membentuk gumpalan darah didalam tubuh. Semakin laama semakin membesar karena darah yang dihisapnya.


Tidak butuh lama, orang yang terserang virus tersebut akan mati perlahan lahan karena kehabisan darah meskipun donor darah telah diberikan sebanyak apapun. Dan akhirnya virus tersebut akan mati dengan sendirinya setelah orang yang terserang telah mengering kehabisan darah.


Atau yang lebih parahnya, jika ia telah menemukan penampung lainnya, yang akan ia masuki melalui bagian lubang manapun dari tubuh manusia. Virus tersebut akan semakin ganas dan mematikan serta mampu berkembang lebih banyak lagi jika tidak segera dimusnahkan menggunakan obat terlarang dari klan Xu.


"Ibu dan ayahku pergi keluar negeri untuk menyembuhkan pasien lain disana, paman idris juga pergi ke Indonesia karena nenekku terserang virus yang sama. Dan saat ini tidak ada yang mampu menyembuhkan ayahmu. "


Jantung Zili semakin berdegup kencang, ketakutan kehilangan ayahnya semakin menjadi jadi."aku.. aku mohon..tolong selamatkan ayahku.. tolong selamatkan ayahku," zili jatuh terduduk menangis memohon teramat menyedihkan dikaki Shin'A


"Aaaah.. iya benar, ada satu orang yang bisa menyembuhkan paman lian.. tapi... mana mungkin dia mau membantumu.. kau..hm.. siapa baginya?"


"Aku mohon.. aku mohon yang mulia.. aku mohon. Apapun itu akan aku turuti.. aku mohon tolong mintalah kepadanya untuk menyembuhkan ayahku."


"Ahhh.. enak saja. Tidak mau"


"Hiksss.. aku mohon.. hikssss... aku mohon..haaa hiks tolong lah tolong.."


"Menyedihkan, hah Kasian sekali.. baiklah . Aku akan memintanya menyembuhkan ayahmu, tapi ... apapun yang kuperbuat padamu selama disekolah, jangan pernah kau adukan pada siapapun.. kalau tidak..."


"Iya iya.. iya aku tidak akan mengadu lagi"


Shin'A tersenyum senang meninggalkan Zili setelah ia melihat Putra mahkota kecil diikuti puluhan dokter dibelakangnya berjalan menuju keruangan Lian dirawat malam itu.


*******


Zili berdiri dibawah sebuah gedung tua tinggi menatap sebuah jendela kaca disalah satu ruangan gedung tersebut.


Kaca jendela yang tertutup mengingatkan ia pada dirinya sendiri yang selalu duduk menyandarkan tangan dan kepala memandang keluar jendela.


Memikirkan nasib menyedihkannya dimasa lalu yang selalu sendirian.


Seperti biasanya, tampaknya Lian sedang berkerja dan tidak mungkin berada diapartemen.


Seminggu lebih telah berlalu sejak ia berada dirumah sakit kota A wilayah barat daya, desa sun. Dan kini, akhirnya zili telah pulih kembali.

__ADS_1


Rasa nyeri telah hilang tak tersisa. Bahkan dengan salep buatan perusahaan Xu. Luka tembakkan dibetis kakinya pun tidak lagi berbekas.


Perusahaan Xu yang bergerak dibidang farmasi dan obat obatan memang sangat terkenal hingga keluar negeri pada masa itu. Tidak heran ada banyak pemerintah dinegara lain yang menginginkan kontrak kerja sama dengan negara NC.


"Sudah selesai?"


Zili menoleh kepalanya , ia melihat Shin ji sudah berada tepat disampingnya, remaja laki laki itu tengah berdiri sembari memasukan kedua tangan dikantung jaket abu abu bertopi yang ia kenakan. "kenapa?" tanyanya ketika melihat wajah sedih Zili.


"Maaf, aku belum masuk..."


"Aaah, sudah kuduga, kau pasti melamun lagi"


"Haaaah"


"Sudahlah jangan dipikirkan kata kataku, kita tidak punya banyak waktu, pakaianmu, nanti beli saja dikota Kecil desa Shen"


"Tapi... "


"Hmm,, merepotkan"


"Baiklah,,, shisou? Bukan maksudku.."


Zili mulai merasa sedih mengingat setelah terakhir kali bertemu, putra mahkota tidak lagi datang mengunjunginya dirumah sakit.


Saat itu, ia lagi lagi menyesali ucapan cerai yang dinyatakannya terakhir kali bertemu.


"Xu'i?"


"Hm" angguk zili.


"Dia sibuk, untuk sementara, selama di sekolah Shen, aku yang akan menjagamu"


"Tapi kau kan..."


"sudah jangan banyak tanya, ayo pergi"


"Tunggu,.. "


"Apalagi?" tanya Shin ji kesal setelah ia berjalan beberapa langkah menuju mobilnya.


"Ratu yuanna, bagaimana kabarnya?" tanya Zili yang belum bertemu dengan ratu negara NC lagi dalam jangka waktu lama.


Selama dirumah sakit, Mertuanya, Ou nanalah yang selalu menjaganya, bahkan ayahnya hanya datang beberapa kali mengunjunginya begitu pula dengan Mertua laki lakinya, Xu idris yang hanya sekali datang untuk mengunjunginya.


"Keluarga kerajaan saat ini sangat sibuk, Virus Bloody-V tiba tiba muncul banyak sekali dinegara jepang.. ahhh sudahlah, dijelaskan juga kau tidak akan paham"


"Hm" shin ji tersenyum kecut memandang punggung zili yang tengah berjalan menuju tempat parkir mobil.


******


Perjalanan yang menyita waktu selama sembilan jam telah berakhir. Meskipun tidak memiliki waktu untuk sekedar berhenti dikota kecil perbatasan Desa Xu dan Desa Shen, zili masih memiliki beberapa pakaian ganti dikamar asrama miliknya.


Setelah berjalan tanpa mempedulikan bisikan murid murid perempuan Sekolah shen yang mungkin membicarakannya dikoridor asrama. Zili akhirnya sampai keruang kamarnya yang luas.


Dia tersenyum, memandang sprei kasur yang telah berganti. Aroma pewangi ruangan Tercium menenangkan dihidungnya. Ia merasa bahagia, akhirnya alat penciuman tubuhnya, tidak lagi mencium bau obat obatan rumah sakit yang menyengat.


Ntah seseorang mungkin mengetahui kedatangannya, saat ia masuk kekamar, terlihat Ac telah menyala.


Sebelum naik keatas kasur empuk, ia berjalan mendekati meja kayu disudut ruangan depan kasur. Sebuah meja dengan dua kursi kayu yang menyertainya.


Diambil olehnya remote AC, ia lalu menekan tombol off pada remote tersebut.


AC telah mati, keinginannya memandang keluar jendela sangat kuat. Ia ingin sekali menghirup udara malam yang penuh dengan zat karbondioksida.


Dilihat oleh zili, beberapa murid perempuan masih duduk mengobrol di tengah lapangan Asrama putri. Lapangan tempat biasa para murid murid berjogging dipagi hari.


Sayup sayup, angin membawa suara mereka terdengar hingga ketelinga Zili, ia yang berada dilantai dua tersebut, diam diam mencuri obrolan para remaja perempuan dari atas.


Didalam hatinya, ingin sekali bahkan menggebu gebu untuk sekedar bergabung dengan kumpulan murid perempuan yang berada dalam pandangan matanya.


Namun sayang, pikirannya sadar, tidak akan mungkin ada orang yang akan mengajaknya bergabung bersama. Terlebih lagi dimasa lalu, sering kali ia menerima pengabaian dari banyak murid perempuan disekolah.


"Kau lihat bukan?"


"Hanya memandang saja sudah buat jantung ku berdegup kencang"


"Jiwa kewanitaanku meronta ronta"


"Aaaah.. sekali saja. Memegang jari kelingkingnya pun tidak masalah"


"Jangankan jari.. berdiri didekatnya saja tidak apa apalah, yang penting bisa bersamanya"


"Putra mahkota memang sangat tampan, enak nya kalau jadi Putri mahkota"

__ADS_1


zIli tersenyum geli, ia merasa sedikit senang dicemburui.


"Baik putra mahkota ataupun pangeran Shin'A, yang mana saja tuhan.. berikan satu untukku"


Wajah zili berubah menjadi sedih mendengar nama Shin'A disebut. Ia merasa sangat takut untuk bertemu kembali dengan remaja laki laki tersebut.


"Kau ini, saat ini kita bicara tentang putra mahkota, kenapa bisa lari kepangeran shin'A sih?"


"Ya, soalnya, pangeran Shin'A juga tidak kalah tampannya dengan putra mahkota, meskipun aku lebih suka putra mahkota"


"Iya iya aku juga mikir sama"


"Kau lihat tadi ketika ia jalan masuk asrama? Aaaahh.. langkah kakinya saja membuatku tergila gila"


"Shisou disini?" gumam zili dalam hati. Perasaan menyesal dalam dirinya menyuruh ia bergerak menemui putra mahkota untuk sekedar meminta maaf kepadanya.


Dengan cepat ia menutup jendela. Berlari terburu buru menuju kepintu untuk segera mengunjungi asrama putra sebelum waktu kunjungan ditutup mengingat pukul 11 malam seluruh pagar asrama baik putra maupun putri tidak lagi terbuka.


*******


Gedung tinggi bertingkat lima serta memanjang kesamping dan melebar kebelakang tampak terang dengan lampu lampu berwarna putih dibanyaknya balkon ruangan tersebut.


Sebuah pagar lumayan tinggi melingkari Gedung tersebut dengan beberapa kawat tajam berada diatasnya.


Jalanan aspal yang terbuat dari campuran semen dan pasir ditumbuhi bunga bunga terompet disamping jalanan tersebut yang dihiasi beberapa lampu warna warni.


Disamping jalanan tersebut juga berdiri dua buah tiang lampu yang akan dimatikan setelah waktu kunjungan berakhir.


Tidak seperti biasa, pagar asrama putra yang hanya dijaga oleh beberapa penjaga asrama kini telah dijaga oleh dua tentara negara yang berasal dari klan shen.


Mereka memakai seragam berwarna hijau lumut tanpa bintang satupun dibahu mereka maupun Pin yang menandakan bahwa mereka hanyalah prajurit tingkat bawah.


Zili berdiri dihadapan dua orang prajurit penjaga pagar yang sedang berdiri menyandar pintu gerbang.


Dengan remehnya, mereka mengabaikan Zili begitu saja, melipat kedua tangan mereka dan saling berhadapan menjaga gerbang serta menutup mata tidak ingin melihat Zili.


"Aku sangat ingin bertemu putra mahkota."


"Sudah dibilang berapa kali, putra mahkota tidak ingin bertemu dengan siapapun"


"Tahu malu sedikit dong" tambah lainnya.


"Sebentar saja"


"Keras kepala sekali sih, putra mahkota sedang sibuk, jadi tidak ada alasan bertemu dengan mu"


"Sadarlah, kau ini bisanya merepotkan orang saja. Kembalilah ke asrama mu sana" usir salah satu dari mereka.


"Wing.. wing.. ponselmu ponselmu berbunyi" suara nada dering salah satu ponsel tentara penjaga pagar berbunyi.


Bergegas ia mengambil ponselnya ditas selempang yang ia letak dipos penjaga.


"Hallo" jawabnya setelah panggilan ia terima. Ia sejenak melirik kearah Zili yang masih berdiri dipintu gerbang kemudian pergi menjauh dan masuk kedalam lapangan Asrama.


Zili lelah, ia telah menyerah untuk menemui putra mahkota ditambah dengan waktu yang sudah larut malam, ia memutuskan untukkembali keasrama.


"Tunggu," penjaga yang tadi menerima panggilan ponsel tiba tiba menghentikan langkah kaki zili yang telah berjalan beberapa langkah menjauh.


Ia memutar tubuhnya, hatinya mulai merasa sedikit memiliki harapan untuk berjumpa dengan gurunya.


"Iya..."


"Masuklah, yang mulia akan segera Turun. Tunggu saja dilapangan Asrama"


"Benarkah? Tapi..."


"yang mulia baru saja menghubungiku dan memintamu untuk menunggunya, "


"Apa mungkin shisou sedang melihatku dari atas ya?" gumam zili dalam hati merasa kurang yakin dengan ucapan laki laki tersebut.


"Mau tidak,? Kalau tidak mau ya sudah.."


"Baiklah,aku akan menunggu didalam lapangan"


******


Gelap,, suara beberapa murid laki laki terdengar dari bawah. Angin malam berhembus masuk kedalam pori pori tubuh zili yang saat itu lupa mengenakan jaket.


Ia yang memakai kaos hitam biasa dengan celana kulot biru tua panjang berkali kali memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan.


Ditambah lagi, tiba tiba tiang lampu lapangan asrama putra mati yang semakin membuat Zili merinding beberapa saat.


"Shisou lama sekali,, shisou.." ucap Zili lalu berjalan menuju sebuah kursi kayu panjang disamping lapangan. "sudah 10 menit menunggu, apa mungkin mereka menipu ku?" Tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Zili duduk, wajahnya menghadap kearah gedung asrama putra. Berharap dengan sangat putra mahkota akan segera datang. Hatinya tiba tiba merasa gelisah dan tidak tenang.


"Target terkunci" sebuah lampu led merah tiba tiba tampak muncul dibelakang kepala Zili. Lampu led tersebut berasal dari senapan penembak jitu jarak jauh M7B NC Co product.


__ADS_2