Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Kekacauan di Bandara


__ADS_3

Tidak ada lagi sapaan atau hanya sekedar balasan mata memandang. Bahkan ketika berjalan beriringan sekalipun dirinya dan Mantan Presiden Sekolah Teknologi tidak saling berbicara. Mereka hanya terus berjalan di belakang Putra Mahkota dan di depan Pelindung Putra Mahkota Shin Ji serta Pangeran Istana.


“Ramai sekali.” Gumam Putri Keagungan yang tampak sedang berjalan beriringan dengan Zili di samping kanannya. Sementara itu Mantan Presiden Sekolah Teknologi telah mengambil jalan dengan jalur yang berbeda. Mungkin ia akan menemui seseorang di salah satu tempat di bandara tersebut.


Hari itu, mereka telah kembali ke negara setelah menemukan beberapa bukti dan memprediksi rencana musuh untuk mengetahui keberadaan markas mereka.


Di keramaian hiruk pikuk bandara.


“Yang Mulia,..”


“Yang Mulia, astaga tampan sekali.”


“Putra Mahkota, aahhhh..”


“ Pangeran Istana juga ada, ya ampun, sedang bermimpikah aku?”


Dengan teriakan nyaring para penghuni Bandara Internasional NC yang kebanyakan diisi oleh para calon penumpang pesawat terbang serta pujian-pujian yang terus dilontarkan dengan pandangan mereka hanya tertuju kepada Putra Mahkota dan Pangeran Istana, Zili hanya bisa menghela nafas berat sembari terus berjalan mengikuti langkah lebar Putra Mahkota yang saat itu sedang berjalan sembari membawa koper di tangan dan menjawab panggilan dengan tangan lainnya yang memegang ponsel.


Di karenakan mereka pulang ke negara NC secara tiba-tiba dan juga tanpa pemberitahuan terlebih dahulu maka persiapan penjemputan mereka juga tidak dilaksanakan dengan baik.


Hanya beberapa polisi penjaga bandaralah yang mungkin saat ini sedang menjaga keamanan mereka ditambah dengan kedatangan para tentara militer angkatan udara yang terlihat mulai bersiap siaga.


Bandara semakin ramai, orang-orang mulai berdatangan dengan begitu cepat dari segala penjuru arah hanya untuk melihat Putra Mahkota dan Pangeran Istana negara mereka.


Suara-suara yang sangat berisik menyebabkan Putra Mahkota terpaksa memutuskan panggilan yang tadinya sedang berlangsung lalu dengan langkah lebar berjalan ke arah pintu keluar bandara yang sangat ramai di penuhi oleh para penduduk negara tersebut.


Mata Zili memandangi punggung Putra Mahkota.


Ia mulai mengingat segala kejadian selama mereka berada di Negara Mongolia.


Seperti sikap Putra Mahkota terhadap Mantan Presiden Sekolah Teknologi, juga perubahan teman laki-lakinya tersebut yang tidak pernah ia sangka bahwa selama ini laki-laki itu membencinya serta Perkataan yang dilontarkan Pangeran Istana di Bandara Internasional Negara Mongolia waktu itu yang terus menerus terngiang di benaknya.


Di balik senyuman getir, ia bergumam dalam hati.


Pikirnya, ada banyak hal yang ia tidak mengerti dari laki-laki yang kini telah berhenti melangkah karena begitu ramai penduduk NC, tidak memberikan jalur lewat untuk mereka pergi dari sana.


Terkadang perubahan sikap laki-laki itu juga sangat membingungkannya. Seperti Sikap yang tiba-tiba menjadi sangat baik kepadanya lalu tiba-tiba berubah menjadi acuh dan tidak mempedulikannya.


Ada saat dimana gadis tersebut merasa bahwa Putra Mahkota yang ia kenal bukanlah Putra Mahkota yang sesungguhnya ia kenali selama ini. Laki-laki tersebut bahkan lebih sering diam dan berpikir lalu mengabaikan Zili, padahal saat itu gadis tersebut berada tepat di sampingnya.


Lagi, gadis tersebut mulai merasa bahwa ia sedikitpun tidak memiliki tempat di dalam hati laki-laki yang tengah mengenakan kemeja extra limited edition berwarna biru keungu-unguan yang mengkilat dan berlengan pendek hingga lengan-lengan di ototnya mampu terlihat oleh pandangan mata dengan jelas dan hal tersebut semakin membuat daya tarik tubuhnya menjadi lebih mempesona.


Gadis itu sesungguhnya telah menyadari bahwa laki-laki yang kini sedang ia lindungi karena gadis tersebut adalah Pengawalnya, memang benar menyembunyikan banyak hal darinya. Sekalipun ia sangat ingin mengetahui tetapi karena hidupnya yang telah terbiasa terabaikan di masa lalu, membuat dirinya teguh hanya untuk tetap diam dan membiarkan Putra Mahkota menutup rapat rahasia yang ia sembunyikan tersebut.


“Ahhhhh...”


Mata Zili membelalak lebar ketika tiga orang wanita dengan nekadnya menerobos para polisi dan tentara militer penjaga keamanan.


Mereka berlari kencang menuju ke arah Putra Mahkota yang masih berdiri dengan memainkan tangan di layar ponsel, mengetik pesan.


“Yang Mulia..”

__ADS_1


Para Polisi dengan segera bergerak menghalangi mereka, hal tersebut membuat penjagaan menjadi berantakan.


Seorang laki-laki kurus, berwajah pucat mulai keluar dari dalam kerumunan yang tak terlalu di jaga ketat tersebut. Ia berlari cepat menuju ke arah Putra Mahkota yang masih fokus pada pekerjaannya dengan membawa pisau di tangan.


Doooorr...


Baakkkkkk....


Pelindung Putra Mahkota bergerak cepat menendang tangan laki-laki tersebut dengan kakinya bersamaan dengan peluru yang telah melesat ke arah Putra Mahkota dan berhasil memecahkan Ponsel yang telah digunakan untuk menghalangi peluru mengenai kepala laki-laki tersebut.


Aahhhh..


Teriakan ketakutan para penduduk NC di ketegangan tempat mulai terdengar sangat ricuh.


Kebanyakan dari mereka terduduk dan sebagian lainnya lari kocar-kacir meninggalkan tempat.


Cuuuupppp...


Pangeran Istana yang membawa koper melemparkan benda tersebut melayang ke samping Putra Mahkota.


Koper yang melayang berhasil menghalangi peluru dari tembakan jarak jauh seorang Sniper yang telah mengincar kepala saudara laki-laki tersebut.


Sementara Zili tampak sedang bersiaga, Pelindung Putra Mahkota dan Putri Keagungan mulai berlari sangat cepat menuju ke arah sumber tembakan tadinya, mencari keberadaan musuh yang telah sengaja mengincar nyawa teman mereka.


Penglihatan dan perdengaran di pertajam,


Putra Mahkota melepas gagang koper dan membuang ponsel yang telah rusak lalu memasukan tangan ke dalam kantung dengan tetap berdiri tenang. Sementara itu, para Polisi dan tentara militer segera memeriksa keadaan di sana setelah memborgol tangan laki-laki yang tadinya berniat menusuk tubuh Putra Mahkota.


“Yang Mulia..”


“Ahhh..”


Tidak peduli dengan tatapan marah Putra Mahkota, mereka yang telah mendekat lalu berusaha memeluk tubuh laki-laki tersebut, tapi belum sempat menyentuh tubuh. Tangan Pelindung Putra Mahkota dan Putri Keagungan yang telah kembali, menarik leher bagian belakang ketiga wanita tersebut dan menghempaskan tubuh mereka, melayang jatuh dengan keras.


“Hm Konyol.” Senyuman kecut terhias di bibir Pangeran Istana yang telah melangkah kaki meninggalkan tempat bersamaan dengan Zili yang langsung berdiri, menahan sakit dan berusaha keras menyembunyikan rasa sakitnya agar Putra Mahkota tidak khawatir.


“Aku hanya ingin memeluk Putra Mahkota sekali saja.” Teriak salah seorang dari mereka tanpa rasa bersalah lalu berdiri dan berusaha bergerak cepat kembali menuju Putra Mahkota namun tangan Pelindung Putra Mahkota Shin Ji telah menghalanginya dan menghempaskan tubuhnya jatuh ke atas lantai lagi.


“Jadi kau yang memerintahkan mereka untuk membuat kekacauan di tempat ini?” Bentak marah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji bersamaan dengan seorang Sniper dan seorang pemegang pistol yang telah berhasil diborgol oleh beberapa Polisi pengaman di sana setelah menerima tendangan dan pukulan keras dari kedua teman Putra Mahkota.


“Aku tidak peduli akan dihukum mati sekalipun, sekali saja, sekali saja biarkan aku memeluk Putra Mahkota sebelum aku mati. Penyakitku ini tidak bisa disembuhkan dengan obat dan cara apapun.” Pinta wanita itu begitu memelas membuat Zili serta orang-orang di sana begitu marah.


“Hanya ada satu penyakit yang sulit disembuhkan oleh obat-obatan Xu sekalipun. Kau mau memeluk Putra Mahkota dengan membawa penyakit HIV Aids mu itu?” Bentakan marah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji semakin keras. “Sungguh tidak tahu malu.” Makinya teramat geram ingin sekali memukul jika saja tidak mengingat bahwa orang di depannya adalah wanita.


“Selama ini aku menganggap semua laki-laki yang tidur bersamaku adalah Putra Mahkota, itu artinya Putra Mahkotalah yang menyebabkan aku menderita penyakit ini, benarkan semua? Benarkan apa yang kukatakan?”Teriak wanita yang telah berdiri itu marah, wanita cantik yang mengenakan pakaian mahal di tubuh serta perhiasan mewah di lehernya.


“Brengsek..” Kemarahan Putri Keagungan semakin bertambah segera ia berjalan untuk memukul wajah wanita tersebut.


“Hentikanlah!” Tetapi langkahnya terhenti setelah mendengar Perintah tenang dari Putra Mahkota.


“Shisou.”

__ADS_1


“Xu’i?” Gadis itu bahkan mulai berbalik marah memandang Putra Mahkota yang melarangnya memberi hukuman kepada wanita itu.


“Siapa yang menginjak kakinya?” Tanya Putra Mahkota masih dengan tenang memandang satu persatu dari ketiga wanita tersebut di hadapan semua orang di sana.


“Di saat seperti ini kau malah memikirkan wanitamu?” Gumam Pelindung Putra Mahkota Shin Ji kecewa, ia bahkan sempat memandang Zili dengan perasaan kesal.


“Shisou, apa yang kau katakan?” Tanya Zili juga merasa kecewa.


“Dia sudah gila.” Ungkap Putra Mahkota mengejutkan semua orang di sana. “Wanita penyakitan itu sudah tercuci otaknya. Tetapi berbeda dengan wanita yang sengaja menginjak kaki Putri Mahkota.” Lanjut Putra Mahkota mulai berjalan mengeluarkan tangan dari kantung celana, mendekati dua orang yang masih terduduk di lantai dengan tubuh mereka yang gemetaran.


“Yang Mulia, kau datang ingin memelukku.” Ucap seorang wanita yang telah berdiri namun tubuhnya kini dalam penjagaan ketat polisi penjaga keamanan.” Lepas!, aku ingin memeluk Putra Mahkota.” Teriaknya keras sembari meronta-ronta.


Tatapan mata Putra Mahkota mengingatkan Pelindungnya akan masa lalu laki-laki tersebut. Segera laki-laki itu menghalangi langkah temannya untuk mendekati kedua wanita yang sedang terduduk ketakutan di sana. “Aku yang akan menghukumnya mati nanti, jadi serahkan saja padaku.” Ucap Pelindung Putra Mahkota Shin Ji berusaha keras meyakinkan hingga mengejutkan semua orang di sana.


“Menghukum mati hanya karena menginjak kaki Putri Mahkota.” Bisik pelan begitu banyak orang di sana mulai khawatir.


“Minggir!” Perintah Putra Mahkota dengan suaranya yang masih tenang, namun tatapannya begitu menakutkan sembari mendorong bahu samping temannya untuk tidak menghalangi langkah.


“Tidak Xu’i, biarkan aku saja yang melakukannya.”


Halangi lagi Pelindung Putra Mahkota dengan terus berusaha berdiri di depan Putra Mahkota.


“Perlukah aku mengulangi perintahku?” Ucap Putra Mahkota kali ini terlihat sekali tatapan kebencian di dalam bola matanya.


Tubuh Pelindung Putra Mahkota mulai menggigil, Putri Keagungan bahkan hanya bisa berdiri dengan kakinya yang juga menggigil karena sangat takut jika tunangannya mendapati masalah.


“Aku mohon Xu’i.”


Pinta Pelindung Putra Mahkota lagi dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


“Ahhhh sakit sekali hiks..hiks.. Shisou aku tidak tahan lagi, kakiku rasanya ingin patah kalau tidak segera di obati.” Kali ini, Zili yang membuka suara dari belakang tubuh Putra Mahkota.


Tubuh gadis itu juga mulai gemetaran, ikut merasa takut ketika melihat semua teman-teman Putra Mahkota ketakutan.


“Shisou, Tolong aku hiks tolong aku, bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau akan selalu datang jika aku membutuhkanmu di depan banyak murid High Raise? Shisou aku sangat membutuhkanmu.” Teriak Zili berusaha keras membantu Pelindung Putra Mahkota Shin Ji menghalangi langkah Putra Mahkota.


Mulai berbalik, tanpa menjawab pertanyaan Zili laki-laki itu segera datang menghampiri wanita miliknya masih dengan tatapan yang mampu menegangkan suasana di sana.


Matanya yang tajam memandang mata Zili yang sayu.


Perlahan-lahan gadis itu mendekat dengan kaki sakit yang sengaja ia pincangkan meskipun ia bisa berjalan dengan baik.


“Aku tidak menyukai aktingmu itu.” Ucap Putra Mahkota mengejutkan Zili hingga gadis itu menghentikan langkah.


Segera laki-laki tersebut menarik tangan Zili untuk pergi dari sana, meninggalkan ketegangan yang masih terasa menakuti hati.


Semua orang yang tadinya duduk ketakutan, mulai berdiri membuka jalur jalan untuk mereka lewat sembari menunduk, memberi hormat.


“Kalian,” Bentak teramat marah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji setelah kepergian Putra Mahkota dan Istrinya. “Siapa yang memerintahkan kalian untuk membuat Putra Mahkota marah?” Tanyanya keras hingga mengepalkan kedua tangan erat karena menyadari bahwa ada sekelompok orang yang berniat untuk membuat Putra Mahkota terlihat kejam di pandangan mata seluruh penduduk NC dengan melukai wanita yang di cintai laki-laki tersebut.


“Sayang sekali gagal, padahal hampir saja dia membunuh orang di depan rakyatnya.“ Laporkan seseorang yang terlihat berdiri kecewa dengan mengenakan sebuah headset yang ia sentuh menggunakan ujung jari telunjuk di balik tembok yang tak jauh dari keberadaan Pelindung Putra Mahkota.

__ADS_1


__ADS_2