
Tiang-tiang kayu yang terpasang lampu-lampu berwarna kuning di depan rumah para penduduk desa, menerangi langit malam berbintang pada malam itu.
Meskipun berada ditempat terpencil, tetapi pemerintah setempat sepertinya telah meletakan kabel aliran listrik ke desa tersebut pada masa itu.
Malam yang teramat dingin, menyebabkan kantuk yang luar biasa hingga Putra Mahkota sekalipun mulai merasa pusing karena tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat.
Sementara itu, Zili dan yang lainnya tampak sedang mempersiapkan hidangan lezat untuk sarapan mereka di pagi nanti yang bahan-bahannya telah mereka bawa dari kota dan bahan lainnya mereka dapatkan dari hasil ternak penduduk desa.
Memang, negara Mongolia dari dahulu hingga masa itu, dikenal dengan negara peternak terbesar di seluruh dunia, bahkan kualitas ternaknya hampir setara dengan kualitas ternak milik penduduk Klan Ann di Negara NC. Mungkin saja sebenarnya nenek moyang negara NC di masa lalu merupakan penduduk asli negara Mongolia hingga mereka memiliki keahlian berternak yang sama.
Sambil menunggu laporan dari Penasihat Raja tiba, Putra Mahkota berniat untuk istirahat sejenak di dalam rumah Kepala Suku. Namun niatnya tiba-tiba terurung karena laki-laki tersebut tanpa sengaja menoleh ke arah samping, tempat dimana Mantan Presiden Sekolah Teknologi berada.
“Jauhi Zili!” Perintah Putra Mahkota tegas sembari menutup laptopnya yang masih menyala agar Aplikasi penarik jaringan tetap aktif saat itu.
Perintah Putra Mahkota sedikit mengejutkan laki-laki di sampingnya tetapi tidak dengan Pangeran istana yang berada di belakang laki-laki itu dan memunggunginya.
Putra Mahkota yang menghadap ke arah depan, mulai berdiri dan berbalik menghadap ke pintu rumah lalu berjalan untuk masuk ke dalam rumah tersebut kembali, meninggalkan laptopnya di sana.
“Aku sudah bertunangan, sama sekali tidak terpikirkan olehku untuk menyukai Zili sebagai seorang laki-laki kecuali hanya sekedar berteman saja.” Tolak laki-laki yang kini telah berdiri dan berbalik menghadap punggung Putra Mahkota yang telah menghentikan langkah kaki.
Senyuman kecut mulai tersungging dibibirnya yang tipis dan sedikit memanjang, “Pahamilah posisimu, Atau aku akan membuatmu terlihat buruk di mata istriku.” Ancaman Putra Mahkota yang telah berbalik kembali, semakin menambah keterkejutan di dalam hati laki-laki tersebut, sementara itu, Pangeran Istana tampak masih santai duduk di atas alas bambu sembari memainkah jari-jari tangan di atas keyboard dengan telinganya yang terpasang tajam, mendengarkan obrolan mereka pada malam hari itu.
“Yang Mulia, anda terlalu jauh dalam berpikir...”
“Aku tidak menyukai Istriku dekat dengan lelaki manapun, bahkan dengan saudaraku sendiri.” Ucapan tegas Putra Mahkota terdengar mengandung makna sindiran hingga Pangeran Istana mulai mengembangkan senyuman kecut tanda ia tidak menyukai.
“Aku tidak bisa memutuskan hubungan pertemanan kami tanpa alasan yang jelas, sungguh, maafkan aku Yang Mulia, Zili sudah banyak menolongku dan aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan tiba-tiba menjauhinya tetapi Aku bisa melaksanakan perintah anda apabila anda sendiri yang mengatakan kepada Zili untuk menjauhiku.” Lanjutnya menolak sembari menuangkan ide atas permasalahan mereka yang saat itu sedang terjadi.
“Hm,, Jadi kau ingin aku terlihat buruk di mata istriku?”
“Maka abaikan saja perintah anda tadi dan biarkan segala hal berjalan apa adanya.” Sepertinya laki-laki tersebut sangat keras kepala untuk tidak menuruti perintah dari Putra Mahkota negara NC.
“Tidak, aku tidak menyukaimu karenanya aku tidak bisa membiarkanmu terus menerus dekat dengan Istriku. Kembalilah pulang ke rumahmu dengan sendirinya hari ini juga!, Aku akan mencari ahli teknologi lainnya untuk membantu pekerjaan kami.” Perintah lain Putra Mahkota karena mulai merasa gerah dengan penolakan yang dilakukan laki-laki di hadapannya.
__ADS_1
“Aku pergi ke jerman meninggalkan tunanganku, sebagai hukuman atas sikap egoisku, aku diperintahkan untuk membantu anda. Jika anda ingin aku pergi maka aku mohon, katakanlah langsung kepada kakek Shu bahwa anda yang menginginkan aku pergi dengan alasan kecemburuan anda yang tidak masuk akal itu agar aku tidak merasa bersalah lagi kepada keluarga tunanganku.” Masih menolak, Ucapan laki-laki tersebut sungguh membuat kemarahan Putra Mahkota semakin bertambah hingga mata laki-laki itu mulai memerah.
“Aku bilang aku tidak mau,” Bentak keras Putra Mahkota hingga menggema disertai dengan senyuman licik yang tiba-tiba saja muncul di bibirnya, “Aku tidak suka jadi jangan paksa aku, Kau paham?” Tambahnya lagi membentak mengejutkan laki-laki di hadapannya tetapi sepertinya Pangeran Istana mengerti maksud dari laki-laki tersebut hingga senyuman kecut di bibirnya semakin mengembang lebar dan dia semakin tidak menyukai Putra Mahkota.
Suara bentakan Putra Mahkota yang keras juga berhasil membuat seluruh penghuni rumah kepala suku berhamburan keluar,
Beruntungnya rumah tersebut tidak terlalu dekat dengan rumah-rumah tetangga lainnya, hingga hanya kemungkinan kecil saja teriakan Putra Mahkota itu terdengar oleh para penghuni rumah lain.
“Xu’i, ada apa denganmu?” Tanya Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang telah keluar rumah dan berjalan mendekat.
“Berikan saja padanya!” Perintah Putra Mahkota membingungkan laki-laki di hadapannya dan juga Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang telah menerima pelukan bahu dari laki-laki tersebut.
“Yang Mulia, Maksud anda?”
Tanya Mantan Presiden Sekolah Teknologi begitu bingung bercampur dengan rasa penasaran.
“Kenapa kau pura-pura bodoh?” Putra Mahkota mulai berbalik, melepaskan tangan dari bahu Pelindung Putra Mahkota sembari tersenyum tipis melihat Zili memandang ke arahnya dengan raut wajah penuh kekahwatiran. “ Bukankah baru saja kau menawarkan wanita cantik asal Jerman untukku?, Aku sungguh tidak menyangka bahwa kau sangat berniat menghancurkan hubunganku dengan istriku, Mungkinkah kau sebenarnya sangat menyukai istriku?” Laki-laki itu mulai melangkah mendekati Zili saat itu. “Hah, Kenapa kau bisa berteman dengan orang sepertinya?” Lanjut Putra Mahkota bertanya penuh dengan kebohongan kepada Zili.
“Suho..”Panggil Zili terlihat begitu kecewa.
Mantan Presiden Sekolah Teknologi mulai tersudutkan, ia yang dipandang dengan tatapan sedih oleh Zili mulai merasa serba salah karena baru sadar bahwa saat itu ia telah melakukan kesalahan besar dengan melawan perintah Putra Mahkota negaranya.
“Shin’A, kau mendengarnya bukan?, atau jangan-jangan kaulah yang sebenarnya menyuruh laki-laki itu untuk memberikan wanita lain untukku?”
Kali ini bahkan Pangeran Istana ikut merasa tersudutkan karena tidak memiliki bukti atas ucapan Putra Mahkota, di tambah lagi, semua orang pasti akan lebih mempercayai ucapan laki-laki yang sangat licik tersebut menurutnya dibandingkan dengan ucapannya pada malam hari menjelang pagi hari itu.
“Aku mendengarnya, benar, Ahhh kesal sekali.” Pangeran Istana yang tadinya masih duduk kini menutup laptop secara tiba-tiba dengan keras lalu meninggalkan benda tersebut begitu saja di alas bambu kemudian berjalan dengan langkah lebar memasuki rumah.
“Suho, Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaanmu.” Ucap Zili yang masih berdiri di depan pintu. “Jadi aku mohon, jangan tawarkan apapun yang akan membuat Putra Mahkota marah.” Lanjut gadis itu membuat Putra Mahkota kesal mendengarkannya.
Sepertinya Putra Mahkota berharap Zili marah dan kecewa kepada teman laki-lakinya tetapi sayang, reaksi gadis itu malah berbeda.
“Maaf,” Ucap Mantan Presiden Sekolah Teknologi berusaha menenangkan Zili lalu berjalan ke arah Putra Mahkota yang telah membelakanginya. “ Sebenarnya yang kusukai adalah Putra Mahkota bukan dirimu.” Jawab laki-laki tersebut mengejutkan semua orang di sana, hingga mata Putra Mahkota sedikit melebar dan dia berbalik kembali dengan menatap tajam ke arah laki-laki tersebut.“ Walaubagaimanapun Putra Mahkota yang cerdas ini lebih baik bersama wanita yang lebih cantik dan lebih hebat dibandingkan denganmu, jadi aku berusaha menghancurkan hubungan kalian, Ahh sudahlah, aku menyerah saja. Zili maaf, aku tidak bisa berteman denganmu lagi. Aku tidak pantas menjadi temanmu jadi kau tidak perlu berbuat baik padaku dan bicarapun seperlunya saja.” Lanjutnya lagi memutuskan pertemanan secara sepihak, ucapannya sungguh merubah hati Putra Mahkota yang tadinya kesal menjadi senang.
__ADS_1
“Jadi kau mengakui kesalahanmu?”Tanya Putra Mahkota yang telah dihampiri laki-laki itu.
“Ya Yang Mulia, Maafkan aku.” Jawab laki-laki tersebut sembari tersenyum senang dibalik hatinya yang sedih karena telah kehilangan Zili sebagai teman terbaiknya.
“Baiklah kalau begitu, aku memaafkanmu.” Ucap Putra Mahkota sembari memeluk bahu laki-laki tersebut lalu berbalik, berjalan beriringan dengannya masuk ke dalam rumah.
“Wahh anda sangat berbesar hati, Yang Mulia.” Puji laki-laki tersebut mulai santai berbicara dengan Putra Mahkota, melewati Zili yang telah merasa lega dengan akhir pertengkaran mereka berdua namun tetap saja hatinya merasa sangat kecewa.
“Benarkah?” Dengan senyuman licik karena telah menyingkirkan musuh begitu mudah, Putra Mahkota mulai meraih ponsel di kantung jaket yang tiba-tiba bersuara.
“Tentu saja.”
Jawab laki-laki tersebut bersamaan dengan Putra Mahkota yang telah melepaskan pelukan bahu laki-laki di sampingnya serta menghentikan langkah dan menjawab panggilan masuk dari Penasihat Raja.
“Bagaimana?” Tanya Putra Mahkota bersamaan dengan dua Laptop yang telah berada di tangan Pelindung Putra Mahkota dan satu laptop yang masih tertinggal di alas bambu. Segera Zili mengambil benda tersebut bersama dengan Putri Keagungan yang telah menggulung alas bambu di atas tumpukan salju.
“Benar, ada belasan orang di desa Ou yang telah terinfeksi Virus dan pencernaan mereka mulai terganggu hingga seorang dari mereka juga telah bermuntahkan darah.” Jelas Penasihat Raja sungguh mengkhawatirkan Putra Mahkota dan orang-orang yang mendengar jawaban tersebut karena suara dari dalam ponsel yang keras mampu terdengar hingga ke telinga mereka.
“Pasti, Mereka sedang berencana membuat Klan Ann dan Klan Ou saling berseteru.” Tebak yakin Putra Mahkota dengan tatapan matanya yang begitu tajam memandang ke arah depan.
“Kejadian ini sudah terjadi beberapa hari sebelum kalian pergi ke Mongolia, mungkin saat ini Yuan telah berada di NC,” Tebak Penasihat Raja begitu yakin dengan pendapatnya lalu panggilan terputus dan Putra Mahkota yang merasa marah mulai menggenggam erat ponselnya hingga retak kemudian melepaskannya jatuh ke atas tumpukan salju.
“Kenapa kau tidak memberitahukan kepada pihak kerajaan kalau penduduk desa Ou sedang terserang Virus?” Bentak marah Pelindung Putra Mahkota Shin Ji kepada tunangannya. “Bukankah kakekmu adalah Ketua Klan?” Tambahnya lagi penuh emosi hingga membuat tubuh Putri Keagungan yang memegang gulungan alas bambu gemetaran.
“Jangan menyalahkannya!, Keluarganya tidak pernah mempercayai dan mengakuinya jadi dia tidak akan mungkin mengetahui segala hal yang terjadi di desa Ou.” Mata Pelindung Putra Mahkota terbelalak melebar, jantungnya juga berdegup kencang ketika mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Putra Mahkota.
“Dia yang sangat hebat ini tidak pernah diakui keluarganya?” Rasa bersalah perlahan-lahan memasuki pikiran dan hati laki-laki tersebut.
“Karena kau tidak pernah mencari tahu, maka jangan pernah bertanya. Sudahlah, aku tidak ingin ikut campur masalah kalian, hari ini juga kita kembali ke NC!” Perintah Putra Mahkota mulai meraih salah satu laptop dari tangan Pelindung Putra Mahkota dan berjalan menghampiri penterjemah bahasa suku untuk memberitahu bahwa mereka akan segera pergi dari desa tersebut.
Salju yang turun, jatuh menghalangi pandangan Pelindung Putra Mahkota dan Putri Keagungan yang saling beradu,
Zili yang tadinya terkejut mendengar penderitaan yang dialami Putri Keagungan selama ini, hanya terdiam dan mulai melangkah masuk, meninggalkan mereka berdua di luar rumah.
__ADS_1
Semua orang mulai masuk membiarkan Pelindung Putra Mahkota dan tunangannya berdua saja.
“Jangan Kasihani aku!” Pinta Putri Keagungan terlihat jela kesedihan di dalam bola matanya.