
Indahnya warna biru lautan, menenangkan hati dan membinarkan mata yang memandangnya, ditambah lagi dengan cahaya matahari pagi di ufuk Timur yang baru saja muncul, semakin memperindah suasana di atas kapal pagi hari itu.
Dari jauh, terlihat sebuah gunung tinggi yang mengeluarkan kabut asap di atasnya, mungkin karena gunung tersebut adalah gunung yang masih aktif dan sewaktu-waktu bisa saja meletus jika waktunya telah tiba.
Wuuuuzzzz..
Angin yang berhembus kencang tidak henti-hentinya menerpa tubuh. Memang di Pertengahan lautan, hembusan angin seperti itu sudah menjadi hal yang biasa.
Embun pagi penuh dengan kesegaran dan kesejukan, tetapi embun pagi di sana lebih mampu membuat tubuh menggigil kedinginan dibandingkan dengan angin malam yang berhembus kencang.
Tubuh mereka telah terbiasa dengan kedinginan yang mampu menusuk tulang. Kedinginan luar biasa seperti ketika berada di musim salju namun salju sendiri bahkan tak sedikitpun muncul di sana.
Wuuuuuuzzzzzz
Keteeeeeepaaaaakkk...
Angin-Angin kencang yang berhembus dari arah timur mampu membuat gelombang air laut, gelombangnya menerpa mengenai dinding luar Kapal Pesiar milik pribadi tersebut.
Dua orang terlihat berdiri di atas kapal dan masih saling memandang di antara cahaya-cahaya lampu pada tiang-tiang kecil yang mulai berpadaman.
Perlahan-lahan cahaya Matahari mulai menghangatkan tubuh kedua orang yang saling berhadapan tersebut.
__ADS_1
“Suamiku.” Zili tanpa ragu lagi menjawab pertanyaan Pangeran Istana yang kelihatan aneh menurutnya pada pagi yang baru saja tiba itu.
“Murahan.” Hina laki-laki tersebut terlihat begitu geram hingga berbicara sekalipun gigi-giginya yang putih bersih tampak saling menyatu dan beradu. Ucapan laki-laki tersebut juga sontak menyentakan hati Zili yang mendengarkannya hingga mata gadis itu langsung memerah dan dia tertegun kesakitan lalu menundukan kepala. “ Seorang bangsawan kelas atas yang bahkan memiliki jabatan tinggi sebagai Putri Mahkota ternyata mudah sekali tubuhnya dicemari banyak lelaki.” Laki-laki itu mulai mendekati namun Zili melangkah mundur, menghindar dengan cepat. “Kenapa?, Jangan pura-pura polos kalau pada akhirnya kau hanyalah wanita murahan.” Hatinya yang kesal mungkin bertambah kesal karena sikap Zili yang menjauhinya. Laki-laki tampan yang sungguh mampu membuat banyak hati wanita terpikat itu bahkan mulai tersenyum pahit karena hatinya yang mungkin sakit. “Pada akhirnya wanita biasa memang sangat mudah jatuh hati kebanyak lelaki, sama halnya denganmu yang mudah sekali memberikan tubuh cuma-cuma kepada mereka.”
“Pada akhirnya seorang laki-laki bangsawan, bermartabat dan terhormat hanya akan menyukai wanita yang diakui dan terkenal serta hebat dipandangan banyak manusia, sukapun mereka pada wanita biasa, mereka akan membuang perasaan mereka jauh-jauh. Lalu apa masalahnya jika wanita biasa mudah jatuh cinta pada banyak laki-laki? Mereka hanya memilih orang terbaik diantara terbaik yang mau menerima mereka apa adanya.” Ucapannya terhenti ketika Putra Mahkota telah muncul dari bawah tangga Kapal Pesiar di sana diikuti oleh Pelindung Putra Mahkota Shin Ji dan juga Pangeran Negeri Sakura “Shin’A, sudah berkali-kali kukatakan padamu, berhentilah mengganggu istriku.”Lanjut laki-laki tampan berdagu runcing itu, Wajahnya yang mempesona bertambah mempesona dengan cahaya jingga matahari yang menyinarinya di pagi hari itu.
“Hm.” Pangeran Istana tersenyum remeh karena melihat wajah pucat Zili . Mungkin ia berpikir bahwa gadis itu sedang ketakutan apabila rahasianya dibongkar oleh laki-laki tersebut. “Jadi kau kira aku menyukainya karena dia telah hebat, begitukah?” Tebak Pangeran Istana sedikit kesal dengan pemikiran Putra Mahkota.
“Wanita murahan sekalipun jika dia terkenal dan hebat, Laki-laki terhormat sepertimu sekalipun akan menggilainya. Walau dia telah menikah, dia tetap akan menjadi berlian tak ternilai harganya dimata kebanyakan laki-laki. Maka dari itu sekarang kau mengganggu wanitaku, bukan?, Alasan apa lagi yang masuk akal kalau bukan karenanya?” Sindir tajam Putra Mahkota sembari meraih lengan atas Zili dan memeluk tubuh gadis yang mulai lemah karena kurang beristirahat itu. “Dulu kau menolak menikahinya bahkan untuk bertemu dan berbicara padanya sekalipun, kau tidak sudi. Sekarang, hm..” Senyuman hina Putra Mahkota mulai menghiasi bibir hingga hati panas Pangeran Istana bertambah panas ketika Putra Mahkota mengangkat wajah pucat Zili dan kepalanya yang mulai pusing lalu mengecup bibirnya sejenak kemudian mengangkat tubuh gadis itu ke atas kedua tangannya. “Kau malah mengganggunya, tidak bisakah kau lihat dia sangat lelah dan butuh beristirahat?,” Ucap Putra Mahkota dengan nada keras, tidak menyukai. “Minggirlah dan aku katakan sekali lagi padamu, berhentilah mengganggu istriku!” Ancam Putra Mahkota lalu melangkah menuju pintu masuk kapal, meninggalkan Pangeran Istana yang telah dihampiri Pangeran Negeri sakura.
Sementara itu, Pelindung Putra Mahkota Shin Ji terlihat menghela nafas berat dan berwajah pucat ketika mendengarkan Sindiran temannya tersebut.
Sepertinya ia merasakan sakit yang mendalam karenanya.
********
Matannya sayu,
Lagi dan lagi ia merasa tidak berguna karena hanya bisa mendapatkan perlindungan dari Putra Mahkota.
Bahkan tubuhnya yang lemah karena ia sendiri tidak mampu menahan rasa lelah membuat ia berakhir di kedua tangan Putra Mahkota yang selalu mengangkatnya.
__ADS_1
“Maaf, Shisou.” Gumam Zili merasa bersalah karena kebaikan dari Putra Mahkota selalu ia khianati dengan berhubungan pada laki-laki lain.
“Untuk apa?” Tanya Putra Mahkota yang telah menuruni tangga masuk disambut begitu sopan oleh semua awak kapal di sana.
Gadis itu menghela nafas berat, begitu tajam pendengaran Putra Mahkota hingga gumaman pelannya mampu ia ketahui. “Maaf karena telah menjadi wanita murahan untukmu.” Lanjut gadis itu dengan nada lemah, tak lagi berdaya, mengejutkan Putra Mahkota yang masih memandang ke arah depan namun tampak menghentikan langkah kaki sejenak.
Sepertinya ia merasa sangat bersalah karena telah membuat wanita miliknya berpikiran buruk tentang dirinya sendiri. “Aku akan segera mengakhiri segalanya.” Ucap Putra Mahkota tegas lalu kembali berjalan, “Kamar?” Dan bertanya tentang keberadaan kamar yang akan ia tempati kepada salah seorang pelayan di sana. “Tidurlah!” Perintahnya kemudian beralih kepada Zili sembari mengikuti langkah seorang pelayan yang menunjukkan arah kamar VIP untuknya.
Perlahan-lahan mata Zili tertutup mematuhi perintah namun pikirannya selalu terbebani dengan rasa bersalah atas pengkhianatan yang telah ia lakukan selama ini.
Pengkhianatan yang memenuhi pikiran hingga gadis itu memimpikan rasa bersalahnya tersebut di dalam tidur yang tak tenang, “Hiks Shisou maafkan aku, maafkan aku telah mengkhianatimu, hiks..hiks maafkan aku yang murahan ini. “ Ucapnya berkali-kali ketika tubuhnya telah mendarat di atas kasur.
Segera selimut ia tarik menutupi sebagian tubuh wanita miliknya yang telah terbaring, setelahnya ia meraih remote AC dan mengatur suhu ruangan di kamar tersebut.
Kamar super nyaman dengan penampakan pemandangan laut yang luar biasa dari balik jendela kaca mulai ia tutup dengan kain gorden agar kenyamanan tidur wanita miliknya terjaga.
Kasur yang lembut dengan kain sprei berwarna merah yang menutupinya semakin menambah kenyamanan di dalam kamar tersebut tetapi sayang, sepertinya kenyamanan tersebut tidak mampu mengurangi kegundahan hati Putra Mahkota.
“Aku akan mengakhirnya dan kau tidak lagi perlu meminta maaf padaku.” Ucap Putra Mahkota untuk yang kedua kalinya sembari membungkuk mengelus rambut Zili dan mencium mata gadis itu yang teraliri air mata.
Setelahnya ia mulai berbalik untuk menemui pemilik kapal namun jari kelingkingnya tergenggam tangan Zili, “ Tuan,” Panggil gadis itu mengejutkan Putra Mahkota, “Tuan, Siapa sebenarnya yang aku cintai, hiks?” Tanya Zili dalam tidurnya, mungkin gadis kini tengah memimpikan laki-laki pemilik apartemen di dalam tidurnya.
__ADS_1
Genggam tangannya terlepas, lalu tangan Zili mulai mengudara di samping kasur, “Xu’i.” Jawab Putra Mahkota mulai berbalik lalu mengangkat tubuh Zili kembali, masih dengan Selimut yang menutupi tubuh gadis itu dan meletakan tubuh wanita miliknya ke pertengahan kasur, “Hanya Xu’i saja yang boleh kau cintai, maka dari itu, aku akan mengakhiri segalanya.” Ucap Putra Mahkota mengurungkan niat untuk pergi dari kamar tersebut lalu naik ke atas kasur dan berbaring miring, menahan kepala dengan tangan serta menyentuh keseluruhan wajah Zili dengan tangannya yang lain.