Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
masih ingin hidup


__ADS_3

Ruangan luas tampak dipenuh dengan Komputer dan barang-barang yang jatuh berceceran, bahkan beberapa dari mereka hancur serta rusak total tak lagi bernilai harganya.


Lembaran kertas berhamburan memenuhi setengah bagian lantai, begitupula dengan ratusan pena serta pensil yang tadinya tersusun rapi diatas meja kini telah jatuh Berserakan.


Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh yang berada diruangan tersebut, sesekali terdengar Hembusan nafas berat menahan kelelahan yang semakin menyiksa.


Kipas angin yang berada dilangit-langit ruangan tidak mampu menghilangkan kegerahan, hingga sampai membuat basah rambut pangeraan istana yang telah bergerak begitu lama menghadapi lawan.


Hembusan nafas terengah-engah menahan sakit, meskipun demikian, mantan ketua klan Co berhasil meraih obat antibiotik dan menelannya perlahan.


Duduk menyandar dinding menahan perih dimata yang teramat parah sembari memandang Temannya bergerak cepat melawan dua orang Petinggi negara.


Baaaaak...


Uhuk uhuk...


Dewa kemenangan bergerak mundur, menyemburkan air setelah menerima kepalan tangan diperutnya “yang mulia, kekuatannya bahkan hampir setara dengan anda.” Ucap dewa kemenangan kepada putra mahkota yang masih terdengar sibuk menggerakan jari-jari tangan, menutup akses pintu-pintu keluar dan pintu-pintu masuk beberapa ruang bawah tanah lain dipulau tersebut agar para musuh tidak berdatangan dan masuk keruangan tempat mereka berada. “bagaimana mungkin saya bisa mengalahkannya..?” keluh dewa kemenangan, sepertinya dia telah menyadari kenyataan bahwa kekuatannya tidak sebanding dengan laki-laki tua yang sedang bergerak cepat menyerang pangeran istana.


Terdengar mengeluarkan suara remeh “ hanya perlu hancurkan Human machine yang tersisa, setelahnya, tugasmu kuanggap selesai” ucap putra mahkota tampak tidak memberikan sedikitpun kelonggaran hanya untuk membiarkannya lari sementara waktu ditengah-tengah rasa lelah dan juga tubuh yang dipenuh dengan rasa Ngilu karena telah berkali-kali menerima serangan guru putra mahkota.


Menghembuskan nafas sejenak, Dewa kemenangan memandang Zili yang sedang berlari kencang menuju Ke robot nura, dengan segera ia juga melakukan hal yang sama tetapi dengan cara memutar Arah, agar ketika Guru putra mahkota menyerang Zili, masih ada kesempatan baginya mendekati Robot nura disisi arah yang berbeda.


Baaaaakkk...


Pukulan tertahan pangeran istana ketika guru putra mahkota mencoba menyerang Zili.


Buuuuukkk..


Akhhh....


Pangeran istana bergerak mundur karena gerakan tangannya kalah cepat dengan guru putra mahkota yang berhasil memukul Bahu laki-laki tersebut.


Berjongkok menunduk dibawah kaki guru putra yang tadinya terangkat, Zili mulai berhasil melewati Tubuh laki-laki tua tersebut menuju kearah Robot nura,


Guru putra mahkota mencoba menendang Zili dari belakang tapi dengan sigap pangeran istana berhasil menghalangi Tendangan laki-laki tersebut dan dengan terpaksa ia harus terpental jauh keudara.


“Hancurkan atau dia mati saat ini juga”


aAaakhhhhh...


Sakit, rasanya sangat sakit ketika Leher tercekik satu tangan dan kepala atas digenggam penuh tekanan dengan tangan lainnya.

__ADS_1


“Sa’i...” teriak pangeran istana yang telah berdiri mendarat keatas lantai, menghentikan gerakan kaki dewa kemenangan yang tadinya akan menendang kepala robot nura.


Geram, karena Zili berada ditangan Guru putra mahkota, dewa kemenangan merasa Gadis itu menghalanginya menyelesaikan tugas dari putra mahkota.


“Yang mulia..?” tanya Dewa kemenangan, meminta perintah antara menendang robot nura atau menolong Zili yang sedang mengerang kesakitan karena cekikan dileher kepala, bahkan Dengan mudah, guru putra mahkota bisa saja mematahkan leher zili hingga gadis itu mati ditempat seketika jika laki-laki tersebut melanjutkan Kakinya untuk menghancurkan robot tersebut.


“Hancurkan ...” perintah putra mahkota tanpa belas kasihan.


Sedikit tertegun karena harus membiarkan seseorang mati hanya karena untuk menghancurkan robot nura “tapi yang mulia...”


“Biarkan saja dia mati” ucap putra mahkota tidak peduli “ Jasanya akan dikenang selalu oleh negara” lanjut laki-laki tersebut begitu cepat memberi perintah tanpa pikir panjang.


“Hancurkan Sa’i..akhh..” ucap Zili lembut dari jauh dengan senyuman getir karena merasa hidupnya akan berakhir mati tanpa melihat putra mahkota terlebih dahulu. “tidak masalah bagiku asalkan aku bisa berguna bagi negara ini akkkhh” lanjut gadis itu lagi memejamkan mata, menahan rasa tangis didalam hati karena hari itu, ia sangat merindukan kenangan bersama putra mahkota.


Menguatkan diri nya sendiri dan menghilangkan perasaan takut dengan mengingat perkataan putra mahkota.


DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH BILANG KAU TIDAK SANGGUP LAGI, SELAMA AKU MASIH HIDUP, JANGAN PERNAH TAKUT KEPADA SIAPAPUN DAN APAPUN KARENA AKU AKAN SELALU MELINDUNGIMU.


Shisou...


Tetesan air mata mulai mengalir deras mengingat perkataan putra mahkota yang telah memberikan begitu banyak kekuatan untuknya.


Memejamkan mata sejenak, Sa’i mulai mengangkat kaki bersamaan dengan kepala Zili yang mulai dipaksa menengadah.


Baaaakkk


Buuukkkk...


“Brengsek...” maki pangeran istana kesal,


“Kau melanggar perintah...” bentak putra mahkota marah ketika pangeran istana menghalangi dewa kemenangan menghancurkan Robot nura.


“Shin’A...” dewa kemenangan berkali-kali mundur kebelakang karena menahan Serangan pangeran istana yang begitu membabi buta, ia bahkan sempat terpukul kebelakang dan menahan rasa sakit saking kuatnya pangeran istana sekarang tidak seperti pada pertandingan antarklan sebelumnya.


Baaaakkk..


Pangeran istana menendaang Punggung dewa kemenangan cepat, hingga laki-laki tersebut maju membungkuk kedepan. “Buka pintu brengsekkkk” maki pangeran istana begitu emosi karena sikap putra mahkota yang begitu keterlaluan. “aku mohon Buka pintunya...” teriaknya keras sangat memohon.


“Buka...”


Suara seseorang tiba-tiba masuk bergabung dipanggilan mereka.

__ADS_1


“Ibu...” panggil pangeran istana ketika mendengar suara ratu negara.


“yuanna..” panggil putra mahkota sedikit tersenyum remeh mendengar Suara wanita yang dia kagumi.


“Kau sengaja ingin membunuh putraku, iyakan Xu’i..?” tebak wanita yang tampak kesal dengan sikap putra mahkota.


“Hm..” putra mahkota terdengar Meremehkan “putramu yang bodoh itu memang pantas mati” jawabnya begitu santai. “Sebagai hukuman karena telah menyakiti hidup wanita milikku selama ini” lanjut laki-laki tersebut terang-terangan.


“Buka kubilang..” perintah Ratu negara untuk kedua kalinya “atau aku akan mengatakan kepada Zili semua perbuatan kejammu” ancam wanita itu membuat Putra mahkota menggertakan Gigi geram, dia bahkan tampak tidak lagi bisa menolak perintah mendengar ucapan ratu negara tersebut.


Druuuukk..


Pintu terbuka..


Buuuuukkk...


Pangeran istana menendang punggung Guru putra mahkota hingga membuat laki-laki tua tersebut melepaskan Zili dari tangannya.


Baaaaakkk...


Sekuat tenaga ia memukul mundur dada laki-laki tersebut lalu menarik tangan Zili lari bersamanya menuju pintu keluar.


“shin’A...”


Zili yang tadinya mulai memejamkan mata, mulai membukanya, memandang punggung pangeran istana yang sedang berlari didepannya.


Tidak begitu saja membiarkan Mereka pergi, guru putra mahkota bergerak cepat menuju kearah mereka.


“Kau masih ingin hidup..?” Tanya lembut pangeran istana memandang kearah Zili.


Tetesan air masih mengalir begitu deras “aku masih sangat ingin hidup” ucap Zili tampak sangat berharap, membuat pangeran istana tersenyum lembut lalu berhenti sejenak dan mulai memeluk tubuh Zili.


“Maka hiduplah dengan bahagia, tanpa nama” ucap laki-laki tersebut kemudian melemparkan tubuh gadis itu keluar pintu, membiarkan dirinya terhempas jatuh, menabrak dinding karena harus menerima tendaang guru putra mahkota hingga terluka dan berdarah.


Uhuk.. uhukk..


“Shin’A....” teriak Zili mulai melangkah mendekati.


“Pergilah” pinta pangeran istana “aku mohon jangan menghalangiku menjalankan misi” pinta laki-laki tersebut sembari berdiri dengan cepat menghalangi guru putra mahkota mendekati Zili.


Baaaaaaakkk..

__ADS_1


Kraaaaaakkkk..


Robot terakhir patah karena kelengahan Guru putra mahkota. Dewa kemenangan tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan menendang Benda tersebut hingga hancur berserakan menabrak dinding.


__ADS_2