
Langkah kaki lebar menapaki koridor istana,
Raut wajah penuh kepuasan terlihat jelas disana.
Sungguh, putra mahkota bukanlah orang yang pantas untuk Diremehkan begitu saja.
Bahkan sampai saat ini, musuh sekalipun tidak berani memperlihatkan diri kembali karena kekalahan mereka sebelumnya.
Jam tangan menunjukan angka 11,
Matahari hampir berada pada puncaknya.
Bergetar,
Sepertinya seseorang sedang menghubungi putra mahkota.
Meraih Headset dikerah kemeja yang terlipat “yang mulia..” seru seseorang dari balik headset milik putra mahkota “yang mulia putri mahkota menghilang..” Laporkan Orang tersebut terdengar begitu panik dan gelisah.
Memutuskan panggilan, tanpa menjawab sepatah katapun kalimat dari bawahannya, Kelihatannya putra mahkota mengetahui dengan pasti keberadaan wanita miliknya saat itu.
Terus melangkah,
Wajah kepuasannya tiba-tiba berubah menjadi wajah penuh dengan kesedihan.
Rasanya kecewa,
Tetapi ia tidak mungkin menyalahkan wanita miliknya karena dialah penyebab utama masalah yang kini sedang ia hadapi.
Mendekati mobil pribadinya, membuka pintu “Xu’i..” panggil seseorang,
Menoleh kearah sumber suara. “Aku tidak punya banyak waktu” ucap putra mahkota begitu mengabaikan panggilan Putri Istana yang baru saja Tiba Di Halaman Istana setelah sebelumnya ia ditugaskan pergi Kewilayah Timur Laut, Desa Co untuk memimpin pembagian Obat antigila yang berhasil di racik Perusahaan Xu kepada penduduk Lorong bawah tanah yang kini telah keluar dari Lorong tersebut dan berhasil mengambil kembali Harta milik mereka dari tangan para Musuh.
Membuka Pintu lalu masuk kedalamnya,
“Xu’i tung....”
Mobil putra mahkota telah Melaju,
Meninggalkan putri istana yang lagi dan lagi, selalu diabaikan oleh laki-laki tersebut.
Menghela nafas kecewa, putri istana mulai berbalik kearah pintu Koridor istana.
“Kau baik-baik saja...?” suara seseorang terdengar, mata Gadis itu mulai berkaca-kaca melihat Pangeran Xu dihadapannya.
__ADS_1
“Paman Hiks..” panggil gadis itu begitu perih karena sikap Dingin putra mahkota “sampai kapan Xu’i akan terus bersikap seperti itu kepadaku..?” Lanjutnya menanya, begitu kuat sekali keinginannya hanya untuk sekedar berbicara kepada putra mahkota, tetapi sungguh, laki-laki tersebut bukanlah orang yang mudah untuk diajak Bicara oleh orang yang tidak ia sukai, terlebih lagi seorang wanita.
Melangkah mendekati putri istana, “suatu hari nanti..”memeluk tubuh Gadis yang menangis tersebut “pasti, aku akan membuatnya berbicara padamu..” ucap laki-laki tersebut memberi janji.
*********
Langkah kaki terus bergerak maju menapaki trotoar jalan,
Perlahan-lahan, ia mengenang kembali saat-saat kebersamaan dengan laki-laki pemilik Apartemen.
Sesak,
Sungguh, gadis itu sangat merindukannya.
Saking rindunya, ia bahkan berani pergi dari Rumah pribadi Putra mahkota tanpa Seizin untuk pertama kali dalam hidupnya.
Bayang-bayangan pemilik apartemen Terus menerus hadir didalam matanya, berjalan beriringan dengan gadis itu, dan berada disampingnya.
Tidak lama, bayangan tersebut tiba-tiba menghilang.
Menoleh kearah samping, lalu menghentikan langkah kaki,
Zili mulai memandang kembali bayang-bayang laki-laki pemilik apartemen sedang mengangkat dirinya yang masih menyamar dengan satu tangan disamping pinggang.
Panggil gadis itu sungguh merindukan Pemilik Apartemen, mulai melangkah kaki lagi dan terus melangkah hingga akhirnya sampai ketaman kota,
Gadis itu mulai tersenyum pahit ketika melihat bayang-bayangan pemilik Apartemen sedang berbaring, memainkan game dengan ponselnya.
Sungguh sangat merindukannya hingga membuat gadis itu melangkah mendekati Kursi Taman yang kosong lalu duduk disana.
“Kau sudah dengar...?” suara seorang pengunjung Taman terdengar hingga ketelinga Zili “putra mahkota menggugat Pangeran Istana atas pembunuhan berencana yang dilakukan pangeran istana untuk putri mahkota..” lanjut ucap pengunjung taman tersebut menggetarkan hati Zili.
“Benarkah...?” tanya seorang pengujung lain yang terlihat duduk tak jauh dari posisi Zili berada “pantas saja putra mahkota sangat marah dan memanggil Mesin malaikat maut untuk menghancurkan istana” Tebak pengunjung tersebut mengingat kembali hari dimana hujan peluru terjadi.
Tertegun, masih duduk dikursi taman, sembari mendengarkan percakapan dua orang pengunjung Taman “benar..” jawab pengunjung pertama yang membuka suara “Karena keluarga kerajaan menolak menghukum Pangeran istana,..” lanjut pengunjung tersebut “tentu saja putra mahkota tidak dapat menerimanya,”
“Jadi bagaimana dengan putri mahkota...?” tanya Pengunjung yang duduk disebelahnya cepat “bukankah putri mahkota dikabarkan telah mati..?” lanjutnya bertanya.
“Ku dengar putri istana masih hidup, ..” jawab temannya tersebut “dan yang mati itu adalah orang lain yang wajahnya hampir mirip dengan putri mahkota..” lanjutnya menjawab.
“Astaga..” terkejut mendengar ucapan temannya “jadi semua itu adalah Ulah pangeran istana..?” lanjutnya lagi bertanya.
Melirik sedikit kearah Dua pengunjung yang berada disamping kanannya “sepertinya begitu, buktinya saja, putra mahkota berani melepaskan jabatannya demi mencari keadilan untuk putri mahkota” lanjut jawab temannya, semakin menggetarkan hati Zili yang merasa aneh dengan berita tersebut.
__ADS_1
Masih tidak habis pikir dengan Berita tersebut “kenapa Pangeran istana begitu nekad ingin membunuh putri mahkota..?” tanya temannya tersebut semakin penasaran.
Mulai berbisik, “aku dengar, itu karena Putra mahkota menolak menikah dengan putri kecantikan, Lu ayya, ..” lanjut Jawab Pengunjung taman masih terdengar hingga ketelinga Zili “ pangeran istana begitu menyayangi Saudaranya hingga berani berbuat nekad merencanakan pembunuhan dan juga membohongi keluarga kerajaan dengan kematian putri mahkota.”
“Benar – benar keji “ hina seorang dari mereka “pantas saja putra mahkota begitu marah dan menggugat Pangeran istana” Lanjutnya merasa kesal dengan perilaku pangeran istana yang diberitakan.
Tidak dapat menerima penghinaan atas pangeran istana, Zili mulai melangkah kaki mendekati kedua pengunjung taman tersebut “Bukankah pangeran istana dihukum karena mencintai putri Kecantikan..?” suara seseorang sontak mengejutkan zili dan menghentikan langkah kaki. “Baru saja kabar itu diberitakan di TV NC “ lanjut seorang yang tiba-tiba muncul, bergabung dengan percakapan mereka.
“Benarkah..?” tanya seorang dari mereka “dia mencintai saudaranya sendiri, wahh luar biasa.” Lanjutnya lagi tidak menyangka “lalu kenapa putra mahkota marah hari itu...?” tanyanya merasa keheranan.
“Aku dengar karena Musuh negara tiba-tiba muncul mencari keberadaan putri mahkota,” jawab pengunjung yang baru saja datang.
“Lalu kenapa harus mengeluarkan Hujan peluru..?” tanya seorang lainnya sangat penasaran.
Mulai memperkirakan jawaban “mungkin karena Human machine berkumpul di Kota Ini, “ Tebaknya melanjutkan.
“Aneh sekali..” lanjut jawab yang lain masih kurang yakin dengan jawaban si pengunjung baru.
Karena tidak ingin mendengar percakapan lagi, Zili mulai melangkah kaki pergi dari tempat tersebut, membawa berbagai pertanyaan didalam hatinya.
Pikirnya, pantas saja keluarga kerajaan memberikan hukuman kepada pangeran istana, ternyata itu semua karena perbuatan putra mahkota.
Shisou,
Panggil gadis itu mulai mengingat putra mahkota kembali setelah sebelumnya hanya memikirkan pemilik apartemen tempat ia tinggal ketika ia mengenakan topeng samaran.
Terus melangkah, tidak berniat untuk kembali, gadis itu berjalan hingga kakinya terhenti didepan sebuah gedung Tua yang tampaknya baru saja Direnovasi.
Mungkin, hujan peluru dari texchi Grim reaper milik putra mahkota, menjadi penyebab utama kerusakan gedung yang kini telah berubah menjadi lebih Bagus dibandingkan dengan sebelumnya karena hasil ganti rugi dari Pihak pemerintah kepada pemilik gedung tersebut.
Telah berubah,
Semuanya berubah,
“Zili..” panggil pemilik gedung, Menyebut Nama gadis itu “ahh bukan..” mulai memberi hormat, “maksud saya, yang mulia putri ...”
“Zili saja..” sela gadis itu tidak ingin Wanita tua dihadapannya berbicara formal “aku tidak ingin kesulitan jika banyak orang yang mengenaliku nanti nenek.” Lanjut gadis itu, ucapannya mampu dipahami oleh pemilik gedung yang terlihat telah berumur.
Tersenyum senang karena menurutnya gadis itu masih belum berubah “ apa yang menyebabkan Kau datang kemari..?” tanya wanita tua tersebut “bukankah Apartemenmu telah dijual dan bahkan saat ini telah kosong kembali karena pemilik barunya telah pergi..?” lanjut wanita tua tersebut menggetarkan hati gadis itu.
“Mungkinkah Dia berniat untuk menjual apartemen itu..?” tanya Zili yang mulai berniat untuk membeli apartemen tersebut.
“Sayang sekali, ..” jawab cepat wanita tua “pemiliknya tidak ingin ruangan tersebut dijual” lanjutnya mengecewakan Zili yang tadinya berharap banyak.
__ADS_1