
Tulisan bahasa aneh terlihat jelas di layar dinding, ingin ia melanjutkan gerakan jari-jari tangan sesuai dengan tombol-tombol yang biasa di tekan Pemilik Apartemen di masa lalu tetapi sangat takut bila terjadi sesuatu kembali kepada orang-orang di tempat tersebut.
Wajahnya pucat pasi, ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan saat itu, mengingat mereka kini telah terjebak di koridor dengan jeruji besi dan dua buah lubang yang berisikan puluhan pisau-pisau tajam berwarna putih mengkilat di sana.
“Itu benar bahasa asli Klanku, hanya saja, ada begitu banyak bahasa ilmiah yang tak kupahami.” Suara Putri Teknologi terdengar, mungkin gadis itu melihatnya dari kamera kecil yang terpasang dan mengait di kantung seragam berwarna kuning milik Zili.
“Sudah kubilang dia tidak mungkin bisa melakukannya, kenapa kalian semua malah bersikeras?, sekarang tunggu saja Xu’i datang?” ucap kesal Putri Istana dari balik headset pada masing-masing telinga semua orang pejabat militer yang bertugas.
“Xu’i?, bagaimana dengannya?” tanya Penasihat Putra Mahkota bermaksud untuk menanyakan reaksi Putra Mahkota dari balik headset berwarna hitam yang Zili kenakan.
Zili yang tertegun dengan mata memerah hanya bisa menggelengkan kepala, memberitahu bahwa dia tidak mendengar sedikitpun suara Putra Mahkota kecuali hanya suara ketikan keyboard saja.
“Aku akan menghubungi Xu’i agar dia datang saat ini juga.”
“Tidak, aku bisa melak...”
“Jangan konyol,” sela Putri Istana semakin marah mendengar penolakan Zili, “kenapa kau bisa sesombong itu padahal telah membuat mereka terkurung di sana?” lanjut gadis itu dengan suara kerasnya yang menggelega.
“Perlu waktu yang cukup lama menunggu Xu’i datang dan juga, musuh pasti akan lari dengan jalur lain jika mereka mengetahui penyerangan kita karena kami terlalu lama berada di sini.” Jelas Penasihat Putra Mahkota berpendapat, sepertinya semua orang di sana terlihat menyetujui perkataan laki-laki tersebut dari helaan nafas berat yang terdengar.
“Benarkah kau bisa melakukannya Zili?” tanya Pelindung Raja kembali, meminta keyakinan kepada gadis yang menjadi satu-satunya harapan mereka pada saat itu.
“Aku..”
“Aku percaya padamu.”
“Aku percaya padamu, Zili.”
Dua suara terdengar menyemangati gadis itu secara bersamaan.
“Aku percaya padamu, jadi lakukanlah dengan benar.” Suara dari balik headset berwarna putih terdengar melanjutkan kalimatnya kembali.
Sementara suara dari balik headset berwarna hitam telah berhenti.
“Shisou, Suho.” Ingin sekali gadis itu menangis, bertubi-tubi ia telah mendapatkan dukungan dari banyak orang di hari yang sama. Tidak pernah terpikirkan oleh gadis itu sebelumnya untuk mendapatkan kepercayaan oleh seorangpun dari mereka karena ia telah terbiasa terabaikan di masa lalu, “berdirilah di besi itu!, berpeganglah padanya!” gadis itu mulai memberikan perintah dengan menahan air mata haru agar tidak jatuh membasahi pipi.
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Zili.”
__ADS_1
Pertanyaan Pelindung Putra Mahkota serta panggilan Mantan Presiden Sekolah Teknologi masih belum terjawabkan. Sepertinya gadis itu hanya fokus mengingat tombol-tombol yang sering ditekan Pemilik Apartemen ketika mereka berdua pernah terkurung di ruang mengerikan yang berisi banyak penjara saat ingin menyelamatkan Ayah gadis itu dan Penasihat Raja di masa lalu.
Kenangan indah yang mencengkamkan masuk menusuk ke dalam hati Zili, membuatnya rindu terhadap sosok yang selalu menyemangatinya di masa lalu namun kini telah pergi jauh.
Dengan menghela nafas, gadis itu tetap berusaha fokus mengingat setiap kata bahasa NC yang tertuliskan di layar dinding pada masa lalu lalu membandingkannya dengan tulisan layar dinding di depan mata, berusaha keras menghilangkan semua kerinduan hati untuk menyelamatkan mereka dari kesulitan saat itu.
“Zili,”
“Jika semua lantai ini menghilang, bagaimana mungkin musuh berhasil masuk ke dalam?, meskipun jebakan, pasti akan ada satu lantai yang mungkin tersisa untuk mengendalikan semua jebakan di sini.” Jelas gadis itu memberikan pendapat.
“Be.. be.. benar juga.” Ucap Penasihat Putra Mahkota mulai melangkah mendekati jeruji besi dan melihat dengan seksama bentuk benda tersebut. “Ahh benar, lihatlah sisi vertikal dan horizontal pembuatan jeruji ini, mungkinkah ini sengaja dibuat agar kaki bisa bertahan di bagian sisi besi horizontal dan tangan kita juga bisa menggenggam di besi horizontal yang ini?” Jelas laki-laki tersebut mulai berpikir sembari menunjukan satu besi mengarah ke samping yang menyatu pada besi-besi lain di bagian paling bawah dan besi menyamping lainnya di bagian pertengahan jeruji besi yang kebanyakan besi-besi tersebut berdiri ke atas.
“Benar,” Pelindung Putra Mahkota mulai mengangkat kaki lalu memasukannya ke dalam salah satu lubang yang berada di pertengahan dua besi yang berdiri naik lalu mendaratkan kaki pada besi menyamping di bagian paling bawah kemudian menggenggam besi menyamping lainnya di pertengahan jeruji besi tersebut. “Beginikah yang kau maksud, Zili?” tanya laki-laki yang tak lagi menginjak lantai dengan satu kaki yang melayang ke udara dan kaki lain telah bertahan di atas besi lalu kedua tangan menggenggam erat besi di pertengahan jeruji.
Segera Zili menoleh ke arah Pelindung Putra Mahkota, “Hm, benar.” Jawab gadis yang kini telah memiliki kepercayaan diri kembali.
Semua orang di sana mulai mengikuti perilaku Pelindung Putra Mahkota Shin Ji.
“Kami percaya padamu,”
“Kuserahkan padamu,”
“Berusahalah Zili.”
“Hm.” Angguk Zili penuh keyakinan, “aku akan melakukan yang terbaik.” Yakinkannya tanpa keraguan lagi dan mulai memainkan jari-jari tangan sesuai dengan jari-jari tangan Pemilik Apartemen di dalam ingatannya.
Gruduududukkk..
Cuucucucucppppp...
Lantai-lantai mulai tergeser ke samping, memperlihatkan lubang besar yang dipenuhi pisau-pisau tajam, kecuali lantai tempat Zili berdiri.
Lantai di bawah jeruji besi yang menahan tubuh ketiga pejabat tinggi juga menghilang hingga mereka sedikit khawatir jika jeruji besi tersebut jatuh ke lubang di bawah mereka.
Satu persatu jeruji besi lain mulai muncul dan turun dari atap-atap ruangan tersebut hingga memenuhi seluruh bagian koridor, memisahkan koridor tersebut menjadi beberapa ruangan.
Tombak-tombak mulai keluar dari dalam dinding yang saling berhadapan di setiap ruangan yang terpisahkan oleh beberapa jeruji kecuali dua dinding tempat Zili berada. Saat itu memang gadis tersebut tengah di apit oleh dua jeruji besi di kedua sisi sampingnya.
Tombak-tombak tersebut bahkan keluar dari dinding tempat ketiga pejabat tinggi berada hingga mereka semua berusaha keras untuk menghindari tombak-tombak yang meluncur lurus dengan cepat tersebut lalu setelah tombak menabrak dinding, benda itu mulai jatuh ke dalam lubang di bawah mereka.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu lambat bagi semua orang di sana. Mereka menyaksikan usaha keras Zili dengan kecemasan yang luar biasa, lalu kecemasan berganti dengan kekaguman ketika gadis dengan seragam basah karena keringat yang bercucuran membasahi tubuh terlihat sangat berusaha hingga gigilan tubuh terlihat jelas hanya karena untuk membantu mereka.
GRuuududkkkkk...
Sreeeetttt.....
TAkkkkk...
Haa..haaaa...
Tombol terakhir berbunyi keras.
Nafas Zili terdengar terengah-engah. Karena tidak kuat lagi menahan gigilan di kakinya, gadis itu mulai jatuh terduduk lemah sembari berbalik, menyandarkan punggung di dinding dan melipat kedua kaki lalu menyembunyikan wajah di dalamnya dengan memeluk lipatan kaki tersebut, berusaha keras menenangkan detak jantungnya yang memompa kencang dan gigilan tubuh yang tak kunjung berhenti juga.
Lantai-lantai yang tadinya menghilang, kini mulai terlihat kembali. Semua tombak-tombak di dinding telah di keluarkan dan tak ada lagi yang tersisa. Jeruji besi yang tadinya memenuhi ruangan kini tampak naik ke atas lagi. Koridor di sana, telah kembali seperti semula.
“Kau,” helaan nafas seluruh orang terdengar lega dari balik headset miliknya. “hebat sekali.” Puji Putri Keagungan yang telah datang menghampiri gadis itu.
“Pantas saja Xu’i begitu menyukaimu.” Ucap Penasihat Putra Mahkota yang telah berjongkok,” naiklah!” perintahnya memberikan punggung untuk Zili.
“Tapi,”
“Sudah sudah naik saja.” Ucap Pelindung Putra Mahkota membantu Zili bergerak mendekati punggung Penasihat Putra Mahkota.
“Hebat sekali Zili,”
“Kerja bagus.”
“Ternyata kau bisa berguna juga.” Puji Putri Ketelitian dari balik headset milik Zili hari itu.
“Adikku hebatkan?”
“Dia benar-benar luar biasa.”
“Zili, kerja bagus.” Kali ini suara tenang tersebut terdengar dari balik headset berwarna hitam yang di kenakan gadis di atas punggung Penasihat Putra Mahkota.
“Shisou.” Gadis itu tersenyum haru dan bahagia ketika tubuhnya mulai ikut bergerak karena Penasihat Putra Mahkota telah melangkah, membawanya mendekati pintu darah di depan mata bersamaan dengan Pelindung Putra Mahkota yang telah berkali-kali mengacak-acak rambut gadis itu hingga berantakan dan Putri Keagungan yang terus menerus melontarkan pujian.
********
__ADS_1
😍😍😍
Terima kasih karena telah menunggu. 😢😢😢