Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majety 43


__ADS_3

Suasana hiruk pikuk kantin sekolah terdengar ricuh. Murid murid klan shen berhamburan menuju kantin untuk membeli makanan murah yang hanya dibuat terbatas saja.


Dibagian tempat lain, tampak tidak terlalu ramai, ruangan kantin bersih terlihat beberapa murid murid spesial klan shen yang sedang duduk mengobrol sembari memakan makanan pesanan mereka.


Zili memejamkan matanya, ini pertama kali baginya untuk masuk kekantin kelas spesial.


Dia merasa canggung dan sedikit khawatir. Khawatir akan mendapati penolakan.


Rasa tidak percaya diri telah mendarah daging didalam tubuhnya. Bayangan akan penolakan karena terbiasa diabaikan selalu menghantui perasaan gadis tersebut.


“Apa apaan ini?” seseorang menarik tangan Zili, kotak bekal yang ia bawa jatuh bersamaan dengan kartu Makan kelas spesial didepan pintu kantin.


“Ikut”


“Kalian mau apa?” tanya zili melihat tiga orang siswi yang membuatnya bertanding lari dengan putra mahkota sedang menarik kedua lengannya.


Zili tertegun, lagi dan lagi, ia harus bersiap siap menerima pembulian. Bahkan kali ini, bukan dari perintah pengeran istana.


Suara ramai tiba tiba menghilang, ruangan toilet tertutup rapat. Zili terlempar jatuh keatas lantai Toilet.


“Terkunci lagi” keluhnya sudah biasa.


“kruuukk” suara perut telah berbunyi. Dia belum memakan bekal sedikitpun saat pergi menuju kantin kelas spesial.


Tiba tiba pintu terbuka, tujuh murid laki laki memasuki toilet. Zili tertegun ketakutan. Matanya mulai memerah.


“Wiii ada wanita”


“ngapain wanita ditoilet laki laki”


“maaf salah masuk” zili bergegas melangkah kaki keluar namun tangan kekar seorang laki laki menghalanginya.


“Haaah, tolong, saya mau keluar”


“Ehh..kalau sudah masuk mana boleh keluar” laki laki lain mendorong Zili jatuh.


“Enaknya diapain ya”


“Hahahah” tawa mereka kesenangan.


“Bagaimana kalau kita buang air di...”


“Aku mohon biar kan aku pergi” pinta zili berdiri namun salah seorang dari mereka mendudukan nya kembali dengan menekan bahunya.


“Hahahaah”


“Seru”


“Sangat seru”


“Aku mohon..” air mata zili jatuh tidak kuasa menahan tangis.


“Mana boleh”


“Mana boleh kalian bilang?”


“ Bummm ... baaaakkk” suara pintu jatuh berbunyi. Engsel pintu terlepas.


“Siapa?” Tanya salah seorang dari mereka.


Putra mahkota berdiri tersenyum senang didepan pintu toilet, “tidak kenal, SUN SHIN SA’I ya?”


“Sa’i...”


“Sa’i... Sa’i.. Dewa kemenangan dari klan Sun, i.. itu kau?”


“Hmmm” jawab putra mahkota menaikan alisnya keatas.


“Pergi ayo pergi” mereka bergegas pergi namun kaki putra mahkota melintangi pintu. Melarang mereka untuk keluar.


Putra mahkota bersandar didinding tempat pintu yang telah rusak, melipat kedua tangannya dan menaikan kaki menghalangi tujuh siswa laki laki yang ingin pergi.


“Mana boleh” ucap putra mahkota.


“Maafkan kami tuan”


“Mana boleh”

__ADS_1


“Maa... maafkan kami tuan” pinta mereka tunduk kepada putra mahkota.


“Maa.. naa... bo.. leh”


“Tolong tuan, apapun akan kami lakukan bila anda melepaskan kami tuan”


“Hmm.. mana yang tadi mendorong putri mahkota”


“Dia”


“Dia”


“Dia”


“Dia”


“Dia”


“Dia”


Keenam siswa menunjuk kearah seorang siswa yang telah melancarkan air seni di celananya.


“Aah sudahlah pergi sana” ucap putra mahkota memberi jalan melihat jijik dengan Celana basah seorang dari mereka.


“Sa’i?” ucap Zili merasa bingung karena sebelumnya tidak mengenal sa’i.


“Kau tidak kenal sa’i”


“Iya, maaf tuan, kalau saya tahu anda adalah petinggi klan Sun, saya tidak akan berucap kasar kepada anda” zili berdiri menundukan kepala merasa bersalah kepada putra mahkota yang tengah menyemar.


“Pfffft” putra mahkota menahan tawa, namun zili tidak mempedulikannya, dia khawatir nama baik putra mahkota akan tercoreng jika mengetahui sikap tidak sopannya kepada Sa’i.


“Ayo pergi kekantin”


“Tapi kartu...”


“Ini” putra mahkota memperlihatkan kartu makan gratis.


“Tuan”


“Iya tuan “


“Hm boleh boleh.. panggil saja aku tuan. Karena aku memang tuanmu” ia lalu melangkah pergi diikuti oleh zili.


*****


Hari telah berganti, putra mahkota semakin dekat dengan Zili, ia bahkan sempat membantunya berlatih menembak diatap Gedung sekolah.


Makan siang telah tiba. Putra mahkota keluar dari ruangan pribadi setelah sebelumnya sempat pergi sebentar meninggalkan kelas, dia membawa sesuatu ditangan.


Ia tiba tiba melangkahkan kakinya setelah melihat kerumunan siswa ditoilet kemarin siang tengah bercanda riah bersama di koridor sekolah.


Senyuman nakal lagi lagi tersungging dibibir putra mahkota.


“Hoi” panggil putra mahkota.


“Tu.. tuan” jawab mereka bersamaan.


“Kemari”


Dengan langkah takut ketujuh siswa tersebut mendekati putra mahkota.


“ya.. tuan, apa yang bisa kami bantu”


“Ambil kotak bekal putri mahkota” sontak semua siswa terkejut merasa aneh dengan permintaan putra mahkota.


“Tapi..”


“tunggu apa lagi”


“Iya tuan” dengan segera mereka masuk kedalam kelas khusus.


Mereka mendekati zili ragu ragu yang baru saja mengeluarkan kotak bekalnya.


Zili merasa khawatir dengan kedatangan mereka.


“Kalian mau apa lagi?” tanya zili merasa takut.

__ADS_1


“Maafkan kami yang mulia” dengan cepat mereka menarik kotak bekal dari tangan zili lalu berhamburan pergi.


“Kotak bekalku” Zili menghela nafas, rasa kesal karena tidak makan makanan buatannya semakin menjadi jadi.


Putra mahkota tersenyum lucu. “tuan ini” salah seorang dari suruhan putra mahkota memberikan kotak bekal kepada nya.


“Untuk kalian”


“Yang benar?”


“Hm”


Dengan hati riang gembira tiada tara, mereka pergi membawa kotak bekal kekelas mereka.


Putra mahkota memasuki kelas spesial, dia melihat zili sedang memandang keluar jendela, menekuk siku, bersandar diatas meja menahan pipi kanannya.


Putra mahkota menggeser kursi lalu duduk disebelah depan Zili. Zili terbangun dari lamunannya, memandang Kaget kearah putra mahkota yang sedang membuka kotak bekal diatas meja miliknya


“Tuan”


“Makan ini”


“Ah.. tidak usah tuan..”


“Makan saja”


“Tapi ini milik tuan”


“Kubilang makan ya makan”


“Baa.. baaa baiklah” zili mengambil sendok , ia memandang kotak bekal luar biasa dihadapannya.


Daging sapi berbumbu hitam mengisi salah satu ruang dibagian kotak tersebut. Dibagian lain terisi sayur setengah matang yang berwarna warni indah dipandang mata.


Nasi yang tidak terlalu banyak, terdapat telur gulung diatasnya.


Zili mengambil potongan daging sapi tersebut lalu melahapnya.


“Emm.. enak sekali” rasa nikmat pecah kedalam mulutnya.


“ hmm.. begini caranya memasak”


“tuan, Klan sun memang ahli dibidang masakan tapi saya tidak menyangka, makanan yang anda masak bahkan rasanya sungguh luar biasa.”


“Baguslah kalau kau suka” putra mahkota tersenyum lembut memandang kearah zili yang dengan lahap memakan bekal darinya.


“Tuan, bisakah anda mengajari saya cara membuat masakan ini!” zili menunjuk keruang kotak bekal yang telah kosong.


“Beff blackpaper”


“iya, saya ingin sekali membuatkannya untuk putra mahkota. “


“Haah” putra mahkota sontak terkejut melihat wajah sedih zili.


“Kenapa kau ingin membuat makanan untuk putra mahkota?”


“Itu karena putra mahkota sangat baik kepada saya, dialah satu satunya orang yang selalu mempercayai saya. Saya sungguh merasa bersalah atas ucapan bodoh saya. Namun belum sempat meminta maaf, dia sudah pergi dan saya tidak lagi dapat menemuinya.”


“Hmmm”


“Bagaimana?”


“Baiklah”


“Tapi.. dimana anda bisa mengajarkan saya”


“Kalau itu, tenang saja, aku yang akan mengurusnya”


“Sungguh?”


“Hm” angguk putra mahkota.


Siang itu, zili merasa sangat bahagia, dia bisa berbicara begitu banyak lagi dengan seseorang setelah sekian lama tidak bertemu putra mahkota.


ZIli dengan segera kembali menghabiskan sisa makanan didalam kotak bekal.


Putra mahkota memandang terus menerus wajah zili. Sesekali dia tersenyum lembut melihatnya namun sesekali wajahnya berubah menjadi merah.

__ADS_1


__ADS_2